Chapter 13: Peluang Akhir Pekan
Jarum jam sudah melewati angka tiga tiga puluh saat Jongdae menyadari kelasnya hanya menyisakan dirinya sendiri. Bangku-bangku telah kosong, papan tulis penuh coretan kapur yang setengah terhapus, dan suara-suara siswa lain sudah lama hilang ditelan lorong. Kinam tak ada sejak jam terakhir berakhir. Tidak di kelas, tidak di ruang Student Council, bahkan tidak di loker belakang tempat mereka biasa menggantung jas seragam saat musim dingin. Jongdae menarik napas pelan. Entah kenapa, keheningan yang biasanya nyaman sore itu terasa seperti ruang kosong yang akan segera diisi oleh sesuatu yang tak bisa ia prediksi. Dengan langkah lambat, Jongdae akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia menyampirkan tas di bahu, melewati koridor yang teduh oleh cahaya sore, dan berbelok menuju tangga yang menuju lantai bawah.
Di situlah ia melihatnya.
Jo Anna duduk di tangga, membungkuk sedikit, kedua tangannya memegangi sisi kanan perutnya. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya, dan dari kejauhan, tubuhnya tampak bergetar halus.
Jongdae buru-buru menuruni beberapa anak tangga. “Anna…? Hei, kamu kenapa?”
Anna tidak langsung menjawab. Suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar. “Perutku… sakit…”
Wajahnya tampak pucat. Mata yang biasanya jernih itu kini sedikit berkaca, dan ada garis-garis kelelahan yang tak biasa di sudut bibirnya yang tertutup rapat. Jemarinya mencengkeram rok seragamnya, menahan rasa nyeri yang jelas tak bisa ia sembunyikan. Ini seperti dulu, saat Anna pingsan di tengah latihan Taekwondo.
Jongdae panik, namun tetap berusaha tenang. Ia berjongkok di hadapan gadis itu. “Kamu butuh bantuan? Kamu bisa jalan sedikit?”
Anna menggeleng lemah, kemudian meringis. Suara erangannya pelan, tapi cukup untuk membuat Jongdae merasa seperti seluruh tangga itu runtuh di bawah kakinya.
Ia membuka tasnya, menaruhnya di lantai, lalu memindahkannya ke depan tubuhnya. Jongdae lalu membelakangi Anna, menepuk pelan punggungnya. “Naik. Aku gendong ke ruang kesehatan.”
Anna membeku di tempatnya.
Angin dingin di lorong sepi itu seperti berhenti mengalir. Suara-suara dunia terasa menjauh, menyisakan denyut jantung yang berdetak lambat di telinganya.
Ia memintaku naik ke punggungnya. Ia akan menggendongku.
Dalam benaknya, berbagai rasa berloncatan tanpa aba-aba. Malu. Bingung. Tersentuh. Tak percaya. Ada sesuatu yang menghangat dan mengganggu sekaligus di dalam dada. Apalagi tatkala punggung itu diam menunggu, tak tergesa, seolah tahu Anna sedang membereskan ribuan detak yang tak karuan di dalam dirinya.
“Anna…” ujar Jongdae pelan, “nggak apa-apa. Aku bantu. Pelan-pelan aja.”
Suaranya bukan paksaan, tapi ada ketulusan yang cukup untuk membuat Anna perlahan menaruh tangan di bahu Jongdae. Dengan hati-hati, ia naik ke punggung pemuda itu. Tubuhnya ringan, tapi bukan karena beratnya yang kecil—melainkan karena Jongdae membawanya seperti membawa sesuatu yang ia lindungi, bukan sekadar ditopang. Langkah-langkah Jongdae menuruni tangga pelan, satu per satu, tanpa suara lebih dari denting sepatu mereka yang menyentuh anak tangga. Di tangannya, Anna menggenggam erat seragam Jongdae dan dalam diam, ia tahu: bukan rasa sakit di perutnya yang membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Anak-anak tangga mereka lewati satu per satu, pelan dan penuh kehati-hatian. Jongdae menuruni tangga seolah tengah membawa sesuatu yang rapuh di punggungnya—dan memang benar. Di balik bahunya, Jo Anna memeluknya dalam diam, tubuhnya gemetar halus, napasnya terdengar berat. Sesekali terdengar gumaman kecil dari bibirnya, nyaris seperti keluhan yang tak ingin benar-benar didengar.
“Hari pertama…” ucap Anna lirih, hampir hanya seperti desir angin di telinga Jongdae. “Tiba-tiba kram.”
Jongdae mengangguk kecil, memastikan langkahnya tetap stabil meski degup jantungnya tak menentu. “Naari juga begitu,” tuturnya perlahan. “Kalau sudah haid, bisa seharian cuma rebahan. Kadang aku cuma duduk di depan kamarnya, nungguin kalau-kalau dia butuh apa-apa.”
Tak ada jawaban dari Anna. Tapi di dalam dirinya, sesuatu bergerak. Hangat, ragu, dan samar-samar menyentuh bagian yang belum pernah dijangkau oleh siapa pun. Jongdae mungkin tidak sadar, tapi ucapannya tadi meninggalkan jejak—sebuah perhatian yang tak ia kira akan terasa begitu dalam saat sakit merayap di tubuhnya.
Mereka berbelok di tikungan tangga.
“Kalau Naari ada di gedung lain, kayak kamu sekarang…” Jongdae melanjutkan, nada suaranya lirih, seperti bicara pada diri sendiri. “Aku nggak tahu siapa yang bisa bantuin dia.”
Anna masih diam. Tapi dalam diamnya, ia mendengar suara Jongdae lebih jelas dari sebelumnya.
“Maaf, mungkin bakal sedikit sakit kalau turun tangganya agak goyang,” tambah Jongdae hati-hati.
Tubuh Anna ikut berguncang pelan setiap kali mereka menuruni satu anak tangga. Tapi ia tidak mengeluh, hanya menggenggam bagian depan seragam Jongdae dengan lebih erat, mencoba menahan rasa nyeri yang masih datang dan pergi tanpa ampun.
Tak jauh dari sana, di sudut lorong yang sedikit tertutup bayangan, berdiri sosok yang terdiam sejak tadi. Lee Kinam, tersembunyi setengah tubuhnya di balik dinding, memandangi pemandangan yang tak pernah ia bayangkan.
Itu… Jongdae?
Ia menggendong Jo Anna. Dengan hati-hati. Dengan ekspresi yang tidak biasa. Ada sesuatu yang lain di wajah Jongdae—bukan sekadar panik atau kepedulian biasa. Dan Anna… bersandar di punggungnya, seolah tempat itu adalah satu-satunya tempat berlindung dari segala nyeri.
Kinam tidak tahu harus merasa apa. Yang ia tahu, ada sesuatu yang tidak bisa ia uraikan dalam kepala. Sebuah kebingungan yang perlahan mengendap. Langkah kaki Jongdae dan Anna menjauh ke lorong yang mengarah ke ruang kesehatan. Samar, suara pintu terbuka terdengar, disusul sapaan pelan dari guru yang berjaga.
“Kamu kenapa, Jo Anna?”
“Perutnya… kram,” suara Jongdae menyusul, lembut dan hati-hati. “Baru mulai tadi.”
Kinam masih berdiri di tempat, membiarkan percakapan itu mengambang sampai menghilang bersama bayangan Jongdae yang menutup pintu ruang kesehatan.
Di dalam dadanya, pertanyaan-pertanyaan mulai tumbuh—pelan, namun pasti.
Langkah Jongdae terasa ringan setelah memastikan Anna beristirahat di ruang kesehatan. Ruangan itu hangat, dijaga oleh seorang guru perempuan yang langsung mengangguk saat ia datang. Ia tak melihat siapa pun yang dikenalnya di sepanjang lorong, hanya bayangan-bayangan dinding yang bergetar karena cahaya sore yang condong dari jendela tinggi. Ia tidak tahu bahwa seseorang sedang memerhatikannya diam-diam. Tidak tahu bahwa tepat di balik tikungan tangga, ada mata yang masih terbelalak penuh tanya. Ketika Jongdae hampir mencapai pintu utama sekolah, suara seorang perempuan membelah udara dengan ketajaman tak biasa.
“Apa maksudmu kau hanya berdiri dan melihat?!”
Itu suara Moon Jangmi, dan kalimat itu diucapkan seperti palu diketukkan ke lantai kayu. Jongdae otomatis menoleh—tak sepenuhnya—hanya sekilas, cukup untuk menangkap siluet Jangmi berdiri tegap di depan seseorang yang tampaknya… terjebak antara ingin kabur dan harus bertanggung jawab.
“Jawab, Lee Kinam!”
Ada suara gelagapan. Jongdae tak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Kinam, tapi nadanya cukup familiar untuk dikenali: suara seseorang yang sedang kebingungan menjelaskan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ia tak berniat ikut campur. Kakinya terus melangkah ke luar, menyambut udara sore yang mulai berangin. Ia pikir akan berjalan sendiri hingga ke gerbang, menata napas dan mungkin pulang dengan pikiran tenang. Tapi hidup selalu punya cara bercanda.
“Lama banget,” ucap satu suara yang ia kenal sangat baik, ringan tapi matang, seperti tawa yang tahu kapan harus berhenti.
Jongdae menoleh. Seowon berdiri di bawah pohon camphor, bersandar santai seperti tokoh utama yang sedang menunggu giliran masuk dalam sebuah drama.
Ada keceriaan dalam sorot matanya kali ini. Bukan yang meledak-ledak, tapi lebih seperti embun di permukaan daun: tenang, segar, dan sulit untuk tidak diperhatikan.
“Kenapa ekspresimu kayak habis ditampar soal ujian matematika?” Seowon menyipitkan mata, setengah menggoda, setengah ingin tahu.
Jongdae hanya mendengus kecil, wajahnya masih belum bisa sepenuhnya rileks.
“Aku udah bilang ke Kinam,” ucap Seowon dengan enteng.
Langit seperti terhenti selama dua detik.
“…Apa?”
“Aku udah bilang ke Kinam. Kalau aku mau kerja di restoran ramen. Dan dia… setuju.”
Jongdae membeku. Angin sore mendadak terasa terlalu dingin.
“Kau... bilang ke Kinam… sekarang?” ulangnya, hampir tak percaya.
Seowon mengangguk. “Iya. Barusan. Di lantai dua. Ketemu pas keluar ruang Student Council. Langsung aku samperin.”
Jongdae merasa jantungnya mendadak main drum di dalam dada. Satu bagian dari dirinya ingin merasa lega karena itu artinya Seowon benar-benar serius. Tapi bagian lain… takut setengah mati. Takut kalau Kinam menerima bukan karena ikhlas, tapi karena tak bisa menolak Seowon.
“Mereka butuh orang. Salah satu staff paruh waktunya resign. Jadi aku bakal bantu jadi kasir,” ujar Seowon, kali ini terdengar seperti ia mengumumkan sesuatu yang menyenangkan.
Jongdae mengangguk pelan, seperti seseorang yang sedang menelan fakta satu sendok sekaligus.
“Mulai minggu ini, lho,” tambah Seowon riang sambil bersiul kecil. Entah sejak kapan, perempuan itu bisa terlihat sebebas itu. Seperti burung yang akhirnya keluar dari sangkarnya sendiri, bukan karena dipaksa, tapi karena ia memilih terbang.
Dan justru kebebasan itu yang membuat Jongdae makin takut.
Karena apa pun yang ia sembunyikan, semua terasa lebih rapuh sekarang.
Apakah Kinam akan tahu? Apakah rahasianya masih aman?
Tapi Seowon tak menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran yang sama. Ia melirik Jongdae sejenak, lalu berkata santai, “Mau pulang bareng?”
Jongdae sempat diam. Lalu ia mengangguk, pelan.
Dalam hati, ia tahu: ada badai yang sedang tumbuh. Tapi untuk saat ini, langit masih biru dan Seowon masih berjalan di sisinya.
Hari Sabtu sore datang bersama langit pucat dan bau kaldu yang pelan-pelan memenuhi ruang depan restoran. Jongdae datang lebih awal dari biasanya, mengenakan apron hitam yang sudah agak pudar di bagian tali. Meja-meja kayu masih kosong, tapi suara dari dapur sudah terdengar hidup—gemericik air panas, denting panci baja, dan suara berat sang pemilik restoran, ayah Kinam, sedang mengecek persediaan bahan hari itu. Ruangannya kecil, tapi bersih dan terawat. Aroma kaldu daging yang direbus selama berjam-jam selalu menjadi sambutan paling hangat setiap akhir pekan. Jongdae sudah hapal ritmenya—mengisi termos teh, menyeka meja, menyalakan kipas kecil di pojok ruangan. Ini adalah pekerjaan yang tak perlu banyak berpikir—cukup mengikuti alur, dan semuanya akan berjalan.
Tapi tidak hari ini.
Hari ini, ada yang terasa berbeda sejak ia membuka pintu depan dan menyapa dua staf dapur. Entah apa. Entah kenapa. Hingga akhirnya pintu kembali terbuka. Dengan suara lonceng kecil yang menggantung di atasnya, Seowon masuk. Dia mengenakan kaus putih lengan panjang dengan apron abu gelap yang baru—masih licin, belum ternoda minyak. Rambutnya diikat ke belakang, dan di tangannya, ia membawa tas kecil berisi buku catatan dan kotak pensil. Ia tampak seperti pelajar teladan yang tersesat di tempat yang salah—atau mungkin tempat yang akhirnya ia pilih sendiri.
“Annyeonghaseyo,” katanya sambil menunduk sopan ke arah dapur.
Seketika, semua kepala berpaling. Termasuk kepala Jongdae, meskipun ia tak sepenuhnya berani menatap terlalu lama. Ia sedang membawa nampan berisi gelas—dan jantungnya seperti ikut terguncang di dalam baki itu.
Ayah Kinam keluar dari balik dapur dan menyambutnya dengan suara berat yang ramah, “Kamu Seowon, ya? Kinam sudah bilang. Terima kasih sudah mau bantu. Langsung ke kasir saja, ya—nanti Kim-seonsaeng ajari kamu sistem mesinnya.” Seowon mengangguk dan melirik Jongdae sebentar. Senyumnya tak sebesar biasanya, tapi ada ketenangan yang kontras dengan suasana hati Jongdae yang justru mulai riuh.
Dari meja dekat jendela, Kinam baru keluar membawa baki mangkuk kosong. Ia melihat Seowon, dan untuk beberapa detik, tak berkata apa-apa. Lalu hanya menundukkan kepala sedikit sebagai salam—sopan, tapi… kosong.
Ada jeda. Sejenak Jongdae ingin menyela waktu dan menahannya tetap di udara. Tapi semua kembali bergerak.
Shift dimulai.
Di bawah cahaya lampu gantung berwarna tembaga yang menggantung rendah, wangi kaldu mulai naik perlahan seperti kenangan yang tak pernah selesai dicerna. Dapur ramai dengan suara gemerincing sendok logam dan hiruk pikuk air mendidih, tapi di tengah semua itu, ada kekosongan yang tak terlihat—mengalir pelan dari sela-sela tatapan yang tak saling bertaut. Seowon berdiri di balik meja kasir, mengenakan apron baru yang sedikit kebesaran di pundak. Tangan kirinya sibuk merapikan nota pesanan, tapi tatapannya kerap mencuri waktu. Ke arah Jongdae. Ke arah Kinam. Ke arah apa pun yang bisa memberinya isyarat tentang bagaimana hari ini akan berjalan.
Jongdae menyibukkan diri dengan memotong irisan daun bawang terlalu kecil, seolah hijau segar itu bisa menyelamatkannya dari situasi yang terasa seperti naskah drama tanpa sutradara. Ia tak berani banyak bicara, hanya sesekali mencuri pandang, memastikan Seowon tak terlalu lelah, memastikan Kinam tak terlalu diam. Sementara Kinam, dengan celemek hitam dan name tag ketua kelas yang digantung di ingatannya sendiri, berdiri dekat mesin minuman. Ia tidak mengucapkan sepatah pun sejak menyapa Seowon tadi. Tapi ada satu momen kecil—sangat kecil—ketika ia salah menekan tombol dan minuman melon jadi bercampur soda. Tangannya kaku, bibirnya terkatup, tapi ekor matanya melirik ke Jongdae. Sekilas. Seperti bisikan. Seperti sebuah tanya yang belum sempat dilahirkan.
“Eh, Jongdae… gula cairnya mana?” tanya Seowon pelan, setengah takut, setengah ingin mencairkan udara.
“Laci ketiga dari kiri. Di bawah rak mie cadangan,” jawab Jongdae tanpa menoleh, terlalu fokus pada irisan daun bawangnya yang kini bentuknya menyerupai serpihan salju gugur.
“Oh. Terima kasih.”
Seowon berjalan melewati Kinam.
Kinam tidak bergerak. Bahkan napasnya pun seakan berusaha tidak mengusik. Tiga langkah, dua detik, satu kemungkinan yang tak disebut.
Jam dinding berdetak pelan. Ayah Kinam memanggil dari dapur, menyuruh Jongdae mengantar mie ke meja tiga, dan Seowon mencatat pesanan pelanggan yang baru datang sambil mengangguk canggung ke arah Kinam yang masih diam.
Meja kasir, meja dapur, dan meja pelanggan—semuanya terlalu sempit hari itu.
Terlalu sempit untuk rahasia, terlalu sempit untuk jarak, terlalu sempit untuk tiga hati yang belum tahu harus bersandar ke mana. Namun, seperti kuah yang selalu mendidih sebelum tenang, ada sesuatu yang perlahan tumbuh dari kecanggungan ini.
Bukan konflik.
Tapi kemungkinan.
Waktu berlalu pelan, seperti uap kaldu yang naik dan turun dalam ritmenya sendiri.
Meja demi meja mulai terisi, dan suara sendok bertemu mangkuk menjadi lagu pengiring dari sore yang tak biasa. Tiga orang yang biasanya punya dunia masing-masing kini berdiri di garis yang sama—dapur, kasir, dan lorong antar meja. Seperti segitiga yang belum tahu mana titik yang akan runtuh lebih dulu.
Kinam sibuk mencatat pesanan, wajahnya tenang seperti biasanya, tapi cara ia menekan pena—terlalu dalam—membuat ujung kertas menjadi sobek. Ia menyerahkan nota itu ke Jongdae tanpa menatap, lalu berpindah ke pelanggan lain secepat mungkin.
Jongdae menerimanya dan sempat ragu. Di sudut bawah kertas, ada bekas tinta yang menyebar, hampir seperti huruf… atau mungkin cuma coretan tak sengaja. Ia ingin bertanya, tapi Kinam sudah menjauh.
Seowon berdiri agak jauh dari dapur, menyusun gelas plastik bening ke dalam rak. Ia sesekali menoleh, mencuri pandang ke arah Jongdae, tapi selalu memastikan tak ada siapa pun yang sedang memperhatikan. Saat matanya bertemu dengan Jongdae dalam satu momen yang terlalu cepat untuk disebut kebetulan, ia tersenyum kecil. Jongdae tidak membalas. Tapi ia berhenti mengaduk kuah untuk satu detik lebih lama dari seharusnya.
“Kamu salah campur kuahnya,” ujar Kinam pelan, tiba-tiba sudah berdiri di samping Jongdae.
Jongdae terperanjat. “Hah? Oh… iya. Maaf.”
Kinam tidak menyindir. Tidak juga menegur. Ia hanya mengambil sendok panjang di sebelah kompor, lalu tanpa berkata banyak, membantu Jongdae menuang ulang kaldu yang benar. Gerakannya cekatan, tapi ada jeda canggung yang biasanya tak pernah ada di antara mereka.
“Mie-nya harusnya udah direbus, Dae,” kata Kinam, suara pelannya seperti embun di kaca yang belum dilap.
“Oh…”
Jongdae tersenyum kaku. “Aku lagi… agak ngelamun.”
“Kelihatan,” jawab Kinam singkat. Tapi bukan marah. Bukan kesal.
Lebih seperti… kecewa yang tidak tahu arah.
Seowon memperhatikan itu dari meja kasir, sambil menempelkan nota baru. Dari posisinya, ia tak bisa mendengar isi percakapan, tapi ia melihat—sorot mata yang tak lagi sama, bahu yang menjauh, dan tangan Jongdae yang menggenggam sisi meja terlalu erat.
Ia menarik napas perlahan, lalu berjalan ke dapur.
“Aku bantu bawa ke meja, ya?” ucap Seowon pelan, mengambil nampan sebelum Jongdae sempat menjawab.
Kinam langsung menoleh. Sekilas. Lalu kembali menunduk, pura-pura sibuk mengaduk kuah yang sebenarnya sudah pas dan Jongdae, berdiri di antara keduanya, tahu benar:
Ini bukan tentang ramen.
Bukan juga tentang giliran tugas.
Tapi tentang sesuatu yang jauh lebih rumit dari resep mana pun.
Sudah hampir satu jam sejak Seowon mulai bekerja di balik meja kasir, dan Jongdae mulai terbiasa mendengar suara printer struk bersaing dengan gemuruh air rebusan. Tapi yang belum ia terbiasa adalah kehadiran aroma sabun cuci tangan yang biasa ia temukan di kantin sekolah… kini muncul di dapur restoran.
“Apa… sabunnya kamu bawa sendiri?” tanya Jongdae saat melihat botol kecil berwarna mint muda berdiri manis di samping wastafel dapur.
Seowon tak menoleh. “Sabun di sini terlalu keras. Tangan aku bisa pecah-pecah nanti.”
“Oh…” Jongdae mengangguk, mencoba fokus mengiris daun bawang. Tapi dalam hatinya bertanya-tanya—kalau sabun saja ia bawa sendiri, apalagi hal-hal lain yang mungkin Seowon sembunyikan tanpa suara?
Kinam datang membawa nota dari meja tiga. “Ramen satu, nasi gulung dua. Tolong cepat, ya.”
Suaranya biasa saja. Tapi ada jeda aneh sebelum ia menyebut “tolong”. Seperti seseorang yang hampir terpeleset, lalu mengaku hanya sedang berolahraga. Seowon menerima nota dari tangan Kinam dan menempelkannya ke dinding kecil dekat dapur. Saat ia berjalan melewati Jongdae, pundaknya nyaris menyentuh lengan Jongdae, tapi keduanya seperti refleks mundur setengah senti lebih jauh.
“Permisi,” ucap Seowon pelan.
Jongdae tidak menjawab. Ia cuma mengangguk, meski anggukannya seperti ditarik dari ruang lain yang tidak cukup terang.
Kinam memperhatikan dari pojok.
Ia tak berkata apa-apa, hanya sibuk menyusun sedotan di tempatnya. Tapi satu bungkus sedotan terjatuh. Kinam memungutnya pelan, lalu meletakkannya kembali—lurus, rapi, tanpa suara. Seolah keteraturan bisa menenangkan sesuatu yang tak sedang marah, tapi diam-diam tidak nyaman.
“Aku taruh minuman di meja tiga dulu,” kata Seowon, mengambil nampan.
Kinam menawarkan, “Biar aku aja.”
“Tadi juga aku yang bawa,” kilah Seowon, ringan. Tapi bukan bercanda.
Jongdae tak ikut menyela.
Seperti seseorang yang berdiri di tengah dua suara, dan memilih menjadi gema—tak jelas dari mana ia berasal, tapi tetap ada, mengisi ruang di antaranya.
Menjelang malam, restoran mulai sepi. Pintu kaca hanya terbuka sesekali, membawa angin yang menggerakkan daftar menu gantung. Di luar, langit mendung menggantung seperti pertanyaan yang belum dijawab. Di dalam, suara yang tersisa tinggal sendok, napas, dan desah pelan panci besar yang mulai kosong. Jongdae berdiri di dapur, membilas sisa-sisa bahan yang tak terpakai. Ia melirik jam dinding, tapi waktu seperti tidak bergerak sejak lima belas menit lalu. Seperti dirinya.
Seowon duduk di kursi dekat kasir, mencatat sesuatu di kertas kecil. Ia tak memakai apron lagi. Rambutnya diikat ulang, asal, seperti tanda ia sudah mulai lelah. Tapi tangannya tetap rapi saat menulis. Ada keheningan yang aneh mengelilinginya—bukan canggung, tapi semacam jeda yang penuh kemungkinan. Kinam masuk dari gudang kecil, membawa dus tisu. Saat lewat di dekat Seowon, ia menoleh sejenak.
“Kamu beneran kerja hari Minggu juga?”
Seowon berhenti menulis. “Iya. Kalau diizinkan.”
“Oh,” jawab Kinam. Tangannya meletakkan dus ke bawah meja, terlalu hati-hati untuk ukuran benda seringan itu.
“Kamu enggak keberatan?” tanya Seowon pelan, nada bicaranya nyaris netral—nyaris.
Kinam menatapnya sepersekian detik. “Bukan aku yang ngatur giliran.”
Jawaban itu menggantung, seperti lampu di langit-langit yang mulai berkedip, tapi belum padam. Seowon tak membalas. Ia kembali menulis, walau kini tangannya bergerak lebih pelan. Jongdae diam-diam mengamati dari dapur. Ia tahu ritme suara Seowon saat menulis. Ia tahu bahwa sekarang, huruf-hurufnya lebih kecil dari biasanya. Ia ingin bertanya: tulis apa? Tapi ia juga tahu bahwa jawaban itu bukan untuk hari ini.
Tiba-tiba, suara hujan terdengar dari luar. Rintik pertama menempel di kaca jendela, membuat restoran terasa seperti akuarium. Sunyi, tapi penuh gema.
“Payung kamu mana?” tanya Kinam pada Seowon, seolah itu topik paling masuk akal di dunia.
Seowon mengangkat bahu. “Lupa bawa.”
“Jangan pulang sendiri kalau hujan deras. Jalan depan rawan licin.”
“Aku bisa lari,” kata Seowon, tersenyum tipis.
Kinam tidak tertawa.
Jongdae meletakkan piring terakhir di rak pengering, lalu berkata pelan tanpa menoleh, “Aku punya payung.”
Seowon dan Kinam sama-sama diam.
Untuk pertama kalinya hari itu, tak ada yang tahu siapa harus menanggapi lebih dulu.
Restoran sudah tutup setengah jam lalu. Lampu di bagian luar dimatikan, hanya tersisa cahaya temaram dari dalam dapur yang belum selesai dibersihkan. Hujan belum juga reda—masih rinai kecil, seperti sisa gumam dari langit yang tak mau benar-benar mengucap. Jongdae berdiri di dekat pintu, satu tangan menggenggam payung lipat miliknya. Di bawah cahaya lampu jalan yang tembus ke dalam, wajahnya setengah terlihat, setengah dibiarkan buram.
“Kita lewat jalur belakang, ya. Kalau lewat depan, genangan.”
Seowon mengangguk, lalu menarik ritsleting jaketnya. Bukan karena dingin, tapi lebih karena sesuatu perlu dilakukan dengan tangannya. Langkah mereka menyusuri lorong sempit di belakang restoran. Di dinding, sisa air hujan mengalir seperti garis-garis yang belum sempat dihapus. Jongdae membuka payung, lalu menoleh. Seowon berdiri dua langkah darinya, menatap ke arah langit.
“Kamu yakin nggak mau pakai payung sendiri?”
“Kalau sendiri, aku bakal tetap basah,” jawab Seowon ringan.
Jongdae tidak tertawa. Tapi sudut mulutnya bergerak sedikit. Ia mengangkat payungnya tinggi-tinggi, memberi ruang untuk dua orang. Seowon melangkah masuk ke bawahnya, jarak di antara mereka cukup dekat untuk mendengar detak jam tangan, tapi masih menyisakan celah untuk satu pertanyaan yang tidak diajukan.
“Payung kamu kayaknya kecil,” gumam Seowon.
“Kamu juga kecil,” balas Jongdae, setengah sadar bahwa ia baru saja bicara tanpa filter.
Seowon tertawa pelan—tawa yang keluar lebih karena kelelahan daripada geli. Tapi tetap ada sesuatu yang hangat di ujungnya. Mereka berjalan perlahan, menyusuri trotoar sempit yang kosong. Di satu titik, angin membuat payung bergoyang dan air menetes dari ujungnya ke tangan Jongdae.
“Dulu… kamu sering nganterin aku pulang kayak gini juga, ya?” tanya Seowon tiba-tiba.
“Dulu… kita lebih sering nggak bareng,” jawab Jongdae.
Seowon tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil.
Langkah mereka berhenti di perempatan kecil. Lampu merah untuk pejalan kaki berkedip. Hujan masih turun, tapi lebih pelan—seperti menyerah pada malam.
“Aku lewat sini,” kata Seowon, menunjuk ke arah kanan.
Jongdae menoleh, lalu mengangguk. “Aku bisa anter sampai halte.”
“Kalau gitu kamu nanti muter jauh.”
“Nggak apa-apa. Aku juga nggak pengin langsung pulang.”
Seowon menatap Jongdae. Tatapannya bukan pertanyaan, tapi juga belum sampai pada kepercayaan. Lalu ia berjalan lagi. Jongdae menyusul. Mereka tak bicara lagi. Tapi bayangan mereka di trotoar—rapat, nyaris menyatu di bawah payung—mengatakan banyak hal yang belum mereka temukan kata-katanya.
Langkah mereka melambat ketika halte terlihat di ujung jalan. Cahaya lampu halte menyala kekuningan, membuat bayangan mereka jatuh di aspal seperti potongan ingatan yang sedang mengulang sendiri. Payung Jongdae mulai miring ke sisi kanan, menyesuaikan arah angin. Seowon menggenggam sisi jaketnya sendiri—entah karena dingin, atau karena ada sesuatu yang ingin dia tahan. Saat mereka tiba di bawah atap halte, Jongdae menutup payung perlahan. Suara lipatannya terdengar nyaring di antara gerimis yang tersisa. Ia tidak langsung bicara. Tidak juga Seowon. Mereka hanya berdiri berdampingan, menghadap ke jalan yang kosong.
“Aku tahu kamu nggak nunggu,” kata Seowon tiba-tiba, suaranya lirih sekali. “Tapi aku juga belum selesai pergi.”
Jongdae menoleh pelan. Tapi Seowon tidak menatap balik. Ia hanya menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah.
“Kalau kamu lagi lelah, nggak usah nyari aku. Tapi jangan tutup pintu juga. Aku… mungkin masih perlu masuk suatu hari nanti.”
Hening turun seperti tirai yang pelan ditarik.
Jongdae tak menjawab. Bukan karena tak ingin. Tapi karena kalimat itu tidak meminta jawaban. Ia hanya minta tempat untuk tetap tinggal—di pikiran, di sela jadwal yang padat, di ingatan yang belum selesai dibereskan.
Bus belum datang. Tapi Seowon melangkah ke depan, satu kaki ke luar dari atap halte.
“Aku jalan kaki aja. Hujannya udah reda.”
“Seowon,” panggil Jongdae akhirnya, hampir seperti bisikan.
Seowon menoleh, kali ini dengan tatapan yang tenang.
“Kalau kamu datang lagi ke Dalbit…” Jongdae menggantung ucapannya, lalu menghela napas. “Jangan terlalu malam.”
Seowon tersenyum. “Kalau aku datang siang-siang, kamu pasti lagi sibuk.”
“Tapi setidaknya kamu kelihatan.”
“Sekarang juga aku kelihatan.”
Seowon berjalan menjauh sebelum Jongdae sempat menanggapi. Langkahnya ringan, tapi tak terburu-buru. Hujan sudah benar-benar reda. Di belakangnya, Jongdae masih berdiri memegang payung yang tak lagi dibutuhkan dan di dalam dirinya, kalimat Seowon masih jatuh perlahan. Sama seperti air hujan di kerah jaketnya—dingin, jujur, dan tidak bisa dikeringkan dalam semalam.
Jendela belum dibuka seluruhnya, cahaya pagi masih ragu-ragu menyeberangi ubin. Sebagian besar bangku kosong, dan pemanas ruangan di pojok hanya berdengung pelan, seperti suara anak kecil yang sedang menggumam lagu lama. Jongdae datang lebih awal dari biasanya. Bukan karena semangat—lebih karena tidak tahu harus menunda di mana. Ia meletakkan tasnya perlahan, lalu duduk dan membuka kotak pensil hanya untuk memindahkan isinya ke meja. Tidak ada tugas yang belum selesai. Tidak ada catatan yang perlu ditulis ulang. Tapi tangannya sibuk saja, seperti ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sedang melanjutkan hidup.
Dari sudut ruangan, ada langkah masuk yang dikenalnya hampir seumur SMA: Kinam. Pundaknya sedikit turun, rambutnya belum terlalu rapi, dan wajahnya masih setengah pagi—setengah pikiran yang tertinggal di rumah.
“Pagi,” sapa Kinam, pendek, lalu duduk tanpa menoleh. Biasanya ia akan mengomentari sesuatu—sepatu Jongdae yang lecet, atau langit yang mendung. Tapi pagi ini, tidak.
Jongdae mengangguk. Tidak ada keluhan. Tidak ada cerita dan di antara mereka, ada ruang hening yang tidak mereka isi seperti biasanya. Bukan karena marah. Tapi karena keduanya—mungkin untuk pertama kalinya—tidak tahu harus mulai dari mana. Beberapa menit berlalu. Seorang siswa lain masuk, lalu dua lagi. Ruangan mulai terisi. Tapi Jongdae masih merasa seolah hanya dia dan Kinam yang ada di sana, berdiri di antara sesuatu yang belum disebutkan tapi sudah hadir.
Kinam akhirnya bicara.
"Restoran kemarin ramai, ya?" Suaranya ringan, nyaris terlalu ringan.
Jongdae tidak langsung menjawab. Ia menoleh pelan. "Seperti biasa," jawabnya. “Tapi Sabtu sore agak sibuk.”
“Ya.” Kinam mengangguk pelan. “Keliatan.”
Hening lagi. Tapi kali ini, hening yang lebih sempit.
“Dia cepat belajar,” lanjut Kinam, masih menatap ke papan tulis yang kosong.
“Kamu yang ngajarin?”
Jongdae menyandarkan punggung ke kursi.
“Dia udah ngerti banyak hal sebelum aku bilang apa-apa.”
“Oh.”
Satu suku kata yang tidak benar-benar netral.
Lalu Kinam menguap kecil, menyandarkan kepalanya ke lengan, “Hebat juga ya. Udah pintar, ramah, kerja juga rapi. Kayak bukan manusia.”
Ada nada jenaka, tapi juga tidak. Seolah komentar itu dilempar ke udara, bukan untuk dijawab, hanya untuk menguji suhu.
Jongdae menunduk, mengamati guratan pada meja kayunya. “Iya. Dia memang bukan manusia, kadang.”
Lalu keduanya diam lagi. Tapi pagi itu, diam bukan cuma tidak bicara. Diam adalah cara paling aman untuk tidak kehilangan apa pun.
Di sela pergantian jam pelajaran, suara langkah guru keluar dari kelas terdengar lebih lambat dari biasanya. Beberapa siswa berdiri, meregangkan badan, sementara yang lain mulai membuka bekal camilan kecil sebelum waktu istirahat tiba. Jongdae masih duduk di tempatnya, membuka botol air minum lalu menutupnya kembali. Bukan karena haus. Hanya butuh alasan untuk tidak terlihat seperti sedang menunggu sesuatu. Kinam menutup buku catatannya dan berdiri pelan. Ia berjalan mendekat ke arah bangku Jongdae sambil memainkan ujung pulpen.
“Dari semua orang yang bisa diajak kerja bareng…” ucapnya ringan, berhenti di samping meja Jongdae. “Nggak nyangka yang dipilih ayahku justru dia.”
Jongdae menoleh setengah. “Aku juga nggak tahu sebelumnya.”
Kinam duduk di tepi bangku depan, menghadap ke belakang. “Tapi kamu nggak keliatan kaget, kemarin.”
“Nggak sempat,” jawab Jongdae, singkat. “Restoran rame.”
Kinam terkekeh pelan, tapi bukan tawa yang lucu—lebih seperti suara orang yang menemukan sesuatu tapi belum tahu harus senang atau kesal. “Jadi... kamu sama dia udah kenal cukup lama?”
Pertanyaan itu dilempar seperti kelereng—berkilau di permukaan, tapi bisa tergelincir ke arah mana saja. Jongdae mengangkat bahu. “Biasa aja.”
“Biasa aja?” ulang Kinam, kali ini dengan nada nyaris menggoda. “Hmm. Biasa aja sampai bisa jalan bareng malam-malam pulang kerja, ya?”
Jongdae mengangkat matanya, dan menemukan tatapan Kinam yang kosong tapi jelas-jelas tidak tidak tahu apa-apa. Mungkin dia melihat. Mungkin hanya menebak. Tapi tidak mungkin sepenuhnya kebetulan.
“Aku cuma nganter dia sampai halte,” jawab Jongdae akhirnya.
Kinam mengangguk pelan, seolah puas dengan jawaban itu. Tapi ia menambahkan satu kalimat pelan, setengah gumaman, “Ya. Kamu memang paling jago nganter orang... sampai setengah jalan.”
Sebelum Jongdae sempat bereaksi, bel masuk berbunyi. Kinam berdiri, kembali ke tempat duduknya tanpa menoleh lagi.
Selama pelajaran, suara guru terdengar seperti gema di dalam kepala Jongdae. Kalimat-kalimat panjang soal literatur klasik dan makna metafora terdengar seperti gaung yang terlalu jauh untuk disentuh. Tapi yang dekat, justru jarak itu—jarak dari Kinam yang baru. Jarak yang tidak ada di awal semester. Jarak yang tidak diumumkan, tapi dirasakan dan Jongdae tidak tahu apakah ia yang menjauh... atau memang tidak bisa lagi didekati dengan cara yang sama. Ia melirik ke arah Kinam. Sahabatnya itu sedang menulis sesuatu dengan serius, tanpa menoleh. Tidak ada lelucon kecil. Tidak ada kode-kode lewat catatan. Tidak ada embusan napas yang biasanya saling terbaca dan Jongdae tahu, sesuatu sedang bergeser. Perlahan. Halus. Tapi nyata. Seperti seseorang yang mulai berjalan ke arah pintu, tanpa suara, tanpa salam.
Dan ia belum tahu harus mengejarnya... atau membiarkannya pergi.
Cahaya siang dari jendela membuat ubin tampak lebih pucat dari biasanya. Jongdae berjalan di sisi Anna, sedikit lebih lambat dari langkah biasanya.
“Terima kasih, ya…”
Suara Anna terdengar kecil, tapi cukup jelas.
Jongdae menoleh. “Yang kemarin,” lanjutnya, tanpa perlu menjelaskan.
“Oh.” Jongdae mengangguk pelan. “Udah mendingan?”
Anna tersenyum, setengah malu. “Iya. Lebih baik dari yang aku kira.”
Jongdae hanya mengangguk lagi. Ia tidak terlalu pandai menanggapi ucapan terima kasih, apalagi jika disampaikan dengan cara yang tulus tapi tidak dramatis. Setelah itu mereka melanjutkan langkah tanpa banyak bicara. Tapi diamnya tidak kikuk.
Lebih seperti... dua orang yang tahu, bahwa rasa nyaman kadang muncul dari ketenangan yang sederhana.
Langkah mereka teratur. Tak tergesa, tak terlalu dekat, tapi juga tidak terasa jauh.
Kantin siang itu ramai seperti biasa—tapi di sudut tertentu, waktu mengalir lebih lambat.
Jongdae dan Anna duduk berseberangan di meja kecil dekat jendela.
Nasi dalam kotak makan mereka sudah berkurang setengah, tapi percakapan tidak pernah benar-benar penuh. Mereka makan sambil diam. Tak canggung, tapi juga tanpa debar yang biasanya hadir di antara dua orang yang sedang menyimpan perasaan.
“Libur Natal nanti,” kata Jongdae pelan, membuka celah. “Kamu ada rencana ke mana?”
Anna menoleh sebentar. “Mungkin ke Sokcho. Kami punya rumah kecil di dekat pantai. Biasanya kami sekeluarga ke sana sebentar, lalu pulang sebelum malam tahun baru.”
Nada suaranya ringan, seperti bercerita tentang tempat yang jauh tapi hangat.
Jongdae mendengarkan, menunduk sedikit sambil menyuap makanannya. Anna melanjutkan, suaranya nyaris seperti narasi dalam buku cerita. Tentang aroma laut yang menusuk hidung, tentang tangan kakaknya yang dingin karena es serut, tentang ayahnya yang selalu memilih jalan memutar demi melihat salju menempel di pohon pinus.
Lalu, tiba-tiba—
“Aku kira kamu makan sama Seowon?”
Suara Kinam muncul dari sisi kanan meja, ringan seperti gumaman, tapi cukup jelas untuk membelah percakapan yang tadi hangat. Jongdae menoleh, begitu juga Anna. Wajah Kinam tidak sepenuhnya menyiratkan keseriusan, tapi ada sesuatu yang tajam di balik matanya. Ia berdiri di sana sambil memegang nampan kosong.
“Barusan aku nyariin Seowon,” lanjutnya, “nggak kelihatan. Kupikir dia ke sini, makan sama kamu.”
Seketika itu, udara berubah tipis. Jongdae menatap Anna. Anna menatap Jongdae. Jongdae menatap Kinam.
“...Aku nggak tahu Seowon ke mana,” jawab Jongdae akhirnya, nadanya datar. “Dan kenapa kamu tanya ke aku?” Kinam tersenyum kecil—tawa setengah jalan. “Bercanda. Kupikir tadi dia yang masuk kelas kita, kayak waktu itu. Tapi ternyata bukan.”
Anna menunduk dalam. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit lebih berat dari beberapa menit lalu. Seperti ada gelembung yang pecah diam-diam.
“Kinam mungkin salah dengar,” kata Jongdae, masih tenang.
Mereka bertukar tatap—sunyi dan panjang. Ada sesuatu dalam mata Kinam, seperti sedang menunggu sebuah pengakuan keluar. Tapi Jongdae hanya membalas dengan sorot bingung, tak ingin membuka pintu yang belum siap ia lewati dan tepat saat keadaan nyaris membeku, terdengar suara keras dari ujung kantin.
“LEE KINAM!”
Moon Jangmi muncul dengan langkah terburu-buru, napasnya cepat, wajahnya kesal.
“Botol airku kamu bawa lagi?! Aku kira ditinggal di ruang kelas—udah setengah mati nyari!”
Kinam terkejut. “Hah? Aku… aku kira itu punyaku!”
“Mana mungkin warnanya peach, Kinam! Peach!” Jangmi menghampiri dengan langkah keras, lalu menatap Jongdae sejenak—pandangan yang tak sepenuhnya marah, tapi cukup menusuk. Seperti mengatakan: aku tahu kamu yang dia cari, tapi aku capek harus pura-pura nggak tahu.
Kinam gelagapan. “Maaf, maaf, Jangmi… aku—aku sungguh nggak sengaja.”
Jangmi sudah berbalik. “Kalau haus, bawa botol sendiri. Nggak usah pakai dalih cari orang segala.” Dengan angin yang belum reda, ia pergi begitu saja.
Kinam menatap punggungnya, lalu mengejarnya pelan, sambil berkata nyaris seperti doa, “Maaf, maaf… Jangmi… tunggu…” Dan ia pun menghilang, mengekor langkah Jangmi seperti bayangan yang terlambat.
Jongdae dan Anna kembali duduk berdua. Suasana jadi diam, tapi bukan karena tak ada yang bisa dibicarakan. Melainkan karena terlalu banyak yang barusan terjadi—dan tidak satu pun dari mereka tahu harus menanggapi dari mana.
Langkah-langkah mereka menyusuri lorong kembali ke kelas terdengar pelan, seolah enggan menyentuh lantai. Jongdae dan Anna berjalan berdampingan, tapi tak benar-benar bersama. Udara di antara mereka terasa ganjil—bukan dingin, tapi juga bukan hangat. Hanya hening yang merambat pelan-pelan, seperti kabut tipis yang membungkus pagi hari sebelum salju turun.
Jongdae menunduk sedikit, pikirannya masih tersangkut pada satu nama yang keluar dari mulut Kinam. Nama yang seharusnya ia sebutkan sejak awal, tapi justru disembunyikannya, barangkali karena takut segalanya berubah. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri—apakah ia telah melangkah terlalu jauh ke dalam hidup Anna? Apakah ia—dengan ketulusan yang setengah-setengah—secara tidak sadar membuat gadis itu percaya bahwa ia lebih baik dari dirinya yang sebenarnya?
Lalu bayangan Seowon datang lagi. Gadis yang ia minta untuk tetap tinggal, meski tahu hatinya sendiri belum pulih dari luka. Jongdae terdiam. Apa yang sebenarnya ia tunggu? Seowon, yang sudah lama bersamanya tapi terus terasa jauh? Atau Anna, yang diam-diam mulai membuka ruang?
Kepalanya penuh. Hatinya kelu. Ia seperti berdiri di simpang jalan yang samar, tanpa tanda arah, tanpa siapa pun yang bisa memberitahunya ke mana ia harus pergi. Ia menghela napas berat—napas yang seperti membawa beban kata-kata yang tak pernah sempat ia ucapkan. Tanpa sadar, langkahnya memperlambat. Ia berjalan di belakang Anna, seperti mengekori bayangan masa kini yang belum tentu jadi masa depan. Anna sempat menoleh, seolah hendak bertanya, tapi sebelum sempat suara itu keluar—
Seseorang memanggil dari belakang.
“Jongdae!”
Suara itu jernih, penuh artikulasi, dan begitu akrab hingga Jongdae tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
Anna berhenti. Ia berdiri tepat di depannya, dan Jongdae akhirnya membalikkan badan.
Di sana, berdiri Ryu Seowon.
Rambutnya tergerai rapi, seragamnya tak kusut sedikit pun, dan wajahnya membawa ketenangan yang sulit diusik. Tak ada sorot marah, tak ada tanda cemburu. Hanya tatapan tenang yang tak bisa ditawar dan kepercayaan diri yang anggun. Ia berdiri bukan untuk menantang, tapi untuk menyatakan sesuatu—Jongdae adalah bagian dari dunianya, dan ia tidak akan mundur diam-diam.
Tatapannya melirik Anna sekilas. Bukan tajam, bukan hangat, hanya cukup untuk memberi tahu bahwa ia tahu. Bahwa ia melihat. Bahwa ia mengerti. Kemudian Seowon tersenyum. Ringan, elegan, dan hampir seperti salam perpisahan yang belum terjadi. Tapi ia tak berkata apa-apa pada Anna. Ia mengalihkan pandang ke Jongdae.
“Kalau hari Minggu nanti,” katanya pelan namun jelas, “kita berangkat bareng ke restoran, bisa?”
Jongdae sempat terdiam. Ia menimbang. Tapi akhirnya mengangguk.
“Jangan telat, ya,” ujar Seowon lagi, senyumnya masih bertahan. “Dan bawa payung. Takut hujan kayak kemarin.”
Jongdae hanya mengusap tengkuk, lalu berbalik menghadap Anna dan di sana—ia melihat sesuatu yang sulit dijelaskan. Wajah Anna tak berubah banyak, tapi matanya seperti tertinggal satu langkah di belakang hati. Seolah ia ingin bertanya, atau mungkin ingin pergi. Tapi ia tetap berdiri. Jongdae membuka mulutnya, ingin menjelaskan sesuatu—apa pun yang bisa menjembatani hening ini—namun sebelum suaranya keluar, Anna lebih dulu bicara.
“Kalian kerja part-time di tempatnya Kinam?”
Nadanya biasa saja, tapi ada halus keraguan di baliknya. Jongdae mengangguk.
“Minggu depan minggu keduanya Seowon kerja di sana.”
Anna menunduk sedikit. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergerak, tapi tak sampai muncul ke permukaan. Wajahnya gelisah, seolah tengah menghitung ulang segala kemungkinan yang tak pernah ia persiapkan.
“Kamu kenapa?” tanya Jongdae, alisnya terangkat sedikit.
Anna menggeleng. Ia tampak ingin bicara—tentang apa yang sebenarnya ia rasakan, atau mungkin hanya ingin tahu satu hal:
Apakah yang ditunggu Jongdae selama ini… adalah Seowon?
Tapi sebelum kalimat itu sempat selesai keluar dari ujung lidahnya, bel tanda masuk berbunyi nyaring, menghempas udara dan memecah ketegangan yang belum sempat dijelaskan. Gerombolan siswa berlarian di lorong, menabrak hening yang hampir menjadi pengakuan. Dan semuanya kembali menjadi serpih. Tak ada yang selesai.
Bel masuk menggema di seluruh lorong, menyapu percakapan yang belum selesai dan pertanyaan yang tertahan. Anna sudah berjalan menjauh ke kelasnya sendiri, langkahnya cepat, tak sempat menoleh. Jongdae hanya bisa menatap punggung itu menghilang di antara kerumunan. Ia menarik napas dan masuk ke kelasnya, tempat Kinam sudah duduk di kursi dekat jendela, membuka buku tanpa membacanya. Suara gaduh siswa lain menyamarkan kekakuan yang menggantung di antara mereka. Jongdae duduk. Canggung. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di luar kelas tapi ikut terbawa masuk.
Beberapa menit berlalu. Guru belum datang. Suara kursi masih berserakan. Tapi suara Kinam tiba-tiba muncul di sela itu semua—pelan, tapi tegas.
"Sejak kapan kamu pandai menyembunyikan orang?"
Jongdae menoleh perlahan.
Kinam tak menatapnya. Matanya masih menempel pada halaman buku yang tak bergerak. Tapi ada senyum tipis yang tidak sampai ke matanya, lebih seperti cerminan kelelahan. Jongdae ingin berkata bahwa ia tidak menyembunyikan siapa-siapa. Bahwa semua ini terlalu rumit untuk dijelaskan hanya dengan satu nama.
Tapi suaranya tertahan. Dan Kinam bicara lagi, kali ini dengan nada yang hampir seperti gumam.
"Aku pikir kamu suka Jo Anna. Tapi ternyata, kamu cuma pintar diam."
Ucapan itu tidak diiringi sindiran. Hanya observasi biasa dari seseorang yang sudah lama duduk di sampingnya, melihat apa yang tak diucapkan. Jongdae tak membalas. Ia hanya menunduk, meremas ujung lengan seragamnya. Entah karena malu, bersalah, atau sekadar bingung pada dirinya sendiri. Kinam menutup bukunya dan berdiri saat guru masuk, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi Jongdae tahu. Seseorang akhirnya menyadari dan entah kenapa, itu justru membuatnya semakin takut untuk jujur.
Daftar Chapter
Chapter 1: Prolog
173 kata
Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...
7,102 kata
Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...
5,276 kata
Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu
6,005 kata
Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi
6,094 kata
Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...
7,734 kata
Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama
8,481 kata
Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah
11,467 kata
Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti
6,238 kata
Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup
5,144 kata
Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu
5,994 kata
Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan
6,065 kata
Chapter 13: Peluang Akhir Pekan
6,104 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!