Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup
Seowon hanya menatapnya sekilas. Tanpa tuntutan. Tanpa keluhan.
Dan akhirnya Jongdae bersuara, rendah... tapi cukup tajam:
"Kamu udah dapat jawabannya... kemarin."
Seowon mengangguk.
Tak ada amarah. Hanya sorot mata yang tenggelam dalam sesuatu yang tak bisa disebutkan.
Tatapan yang mengandung pemahaman, dan juga kengerian—seakan ia menemukan kebenaran yang tidak ingin ia tahu sejak awal.
Lalu Seowon menghela napas. Pelan.
Matanya melirik Seungjo yang kewalahan di konter.
Senyum kecil menghias bibirnya, lirih... seperti akhir dari lagu sedih yang lama tak selesai.
"Aku mengerti."
Dan Jongdae merasa semakin bingung. Mengerti? Mengerti apa? Mengapa Seowon begitu tenang saat Jongdae sendiri bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan?
Gadis itu lalu berdiri.
Suara gesekan kursi terdengar kecil, tapi menghentak. Jongdae ikut bangkit, spontan. Matanya mengikuti setiap gerak Seowon, takut kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pertahankan.
Seowon membalik tubuh dan Jongdae, dengan suara lirih seperti anak kecil yang merasa bersalah, memanggil:
"Seowon..."
Gadis itu menoleh dan sorot matanya... penuh kasih sayang yang nyaris tak tertahankan.
Tatapan yang—tanpa Jongdae sadari—sudah lama ia rindukan lebih dari apapun.
Jongdae menunduk sejenak, lalu dengan suara pelan:
"Boleh... aku nganter kamu sampai depan?"
Seowon tidak langsung menjawab. Ia menatap Jongdae lama. Sepersekian detik yang terasa seperti seabad. Lalu mengangguk... dan tersenyum.
Mereka berjalan menuju pintu Dalbit tanpa kata.
Tak ada yang perlu diucapkan, karena semua sudah disampaikan lewat mata dan jeda dan saat mereka sampai di ambang pintu, Seowon berhenti. Ia membalik tubuh, menghadap Jongdae sekali lagi.
Suaranya lembut, tapi tajam seperti mata jarum:
"Jaga kesehatan, ya."
"Dan kamu harus baik-baik saja."
Kemudian Seowon pergi. Meninggalkan Jongdae dengan perasaan yang tak punya nama, dan langit Jeonsa yang mendung seakan ikut mengerti bahwa sesuatu sedang hancur pelan-pelan di dalam hati seorang pemuda.
Jongdae kembali memasuki Dalbit seperti orang yang baru saja keluar dari mimpi panjang—bukan mimpi yang indah, tapi mimpi yang penuh teka-teki dan perasaan yang belum sempat diberi nama. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan agar dirinya tak larut dalam kabut pikiran sendiri, tapi langkahnya terasa berat.
Ia menatap bar dan kembali berdiri di balik konter, tapi kehampaan itu belum sepenuhnya pergi.
Kenangan Seowon yang baru saja berlalu masih menempel di ujung pikirannya seperti embun yang tak kunjung kering. Namun, kenyataan datang lebih cepat dari yang ia kira—dalam wujud Seungjo yang mendekat dengan wajah kusut dan rambut berantakan seperti baru saja kalah dalam perang kecil melawan pesanan yang tak henti-henti.
"Hei, pangeran melankolis! Kau masih bisa bikin kopi atau perlu aku carikan violin dulu?"
Nada suara Seungjo jenaka, ekspresinya berlebihan seperti biasa, tapi itulah yang membuat Jongdae teringat:
dunia tidak berhenti hanya karena hatinya sedang lelah.
Realita tetap berjalan, pelanggan tetap datang, dan Dalbit tetap menuntut ritmenya sendiri.
Ia tersenyum kecil, tipis, lalu menyingsingkan lengan seragamnya kembali.
"Maaf... aku sempat keluar tadi."
"Tahu. Tapi kamu belum sempat lari dari shift kerja."
Kalimat Seungjo menguncang Jongdae kembali ke tempatnya—di mana ia masih harus menjadi pekerja, bukan tokoh utama dalam drama hidupnya sendiri. Mereka kembali sibuk, mengisi gelas-gelas dengan espresso dan uap susu, mencetak struk, dan menyapa pelanggan yang bahkan tidak tahu bahwa ada dunia yang runtuh di balik senyuman barista muda itu.
Tapi di tengah semua itu, ponselnya bergetar.
Sekali. Getaran pendek.
Jongdae tidak langsung mengecek, tapi rasa penasaran itu lebih cepat dari logikanya.
Ia mengambil ponsel dari saku apron, membuka layar, dan sejenak detak jantungnya berhenti.
Satu pesan. Dari Seowon.
Tangannya terasa dingin, tapi matanya terpaku pada tulisan yang muncul:
"Terima kasih sudah memberi waktu padaku... meski singkat, aku bisa menatapmu lebih dekat hari ini."
Hatinya terhenti sesaat, lalu mulai berdetak pelan—bukan karena panik, tapi karena sesuatu yang lebih lembut. Sesuatu yang nyaris menyerupai harapan.
Getaran kedua datang.
Satu pesan lagi muncul.
"Lihat ke arah jendela, dekat pintu depan."
Jongdae menoleh, refleks dan matanya langsung menemukan sosok itu—Seowon.
Berdiri di luar, dengan angin yang memainkan helaian rambutnya,
ia melambaikan tangan dengan gerakan kecil, senyum tipis menghias wajahnya,
senyum yang tak memaksa, tak memohon, hanya menyapa... dan melepaskan dan sebelum Jongdae sempat berpikir untuk membalas lambaian itu, Seowon telah membalik tubuh dan melangkah pergi, perlahan, tenang—seolah kehadirannya tadi memang hanya dititipkan sebentar saja pada waktu.
Jongdae berdiri, terpaku.
Setengah tak percaya, setengah tak siap.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin mengejar, tapi tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang tak kasat mata dan saat pintu Dalbit kembali menutup, membiarkan angin sore masuk sesaat lalu lenyap,
Jongdae sadar akan satu hal.
Bahwa waktu yang diberikan padanya dan Seowon tadi—semua percakapan, tatapan, bahkan keheningan di antara mereka—tak pernah cukup untuk menggantikan masa-masa yang telah hilang. Tak cukup untuk menyembuhkan yang retak, atau menyatukan yang tercecer.
Tapi justru di situlah luka dan keindahannya berada. Bahwa mereka pernah saling menggenggam dalam diam, meski dunia tidak pernah benar-benar memberi cukup waktu untuk itu.
Waktu yang tak pernah cukup.
Untuk dirinya dan Ryu Seowon.
***
Malam menuruni Jeonsa dengan langkah ringan, meninggalkan udara yang mulai mengembun di balik jendela Dalbit. Setelah kunjungan Seowon yang masih berbekas di dadanya, Jongdae dan Seungjo melanjutkan sisa waktu kerja dengan percakapan ringan yang sesekali dibumbui tawa pendek. Dalbit terasa lebih tenang dari biasanya—seperti ruang yang baru saja ditinggalkan oleh sesuatu yang menyimpan rahasia tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Ketika jarum jam mencapai angka delapan, Dalbit ditutup dengan rutinitas biasa: lampu yang diredupkan, pintu yang dikunci dua kali, dan derit kecil dari papan tanda “CLOSED” yang dibalik oleh tangan Jongdae. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil, dan Jongdae menoleh pelan pada Seungjo.
“Kau langsung pulang?”
“Nggak. Mau mampir beli makan dulu. Mau ikut?”
“Nggak, aku udah janji sama Naari, mau ajak dia makan ramen di tempat Kinam.”
Seungjo hanya tertawa pelan, mengangkat alis dengan gaya yang terlalu santai untuk malam sepanas ini.
“Oh, adikmu yang cerewet itu ‘kan? Cuma kamu yang kuat.”
“Aku harus kuat,” jawab Jongdae singkat, tapi dengan senyum kecil yang jujur.
Mereka berpisah di persimpangan lampu jalan. Seungjo menuju arah jalan besar dengan deretan toko dan lampu-lampu neon yang belum sepenuhnya padam, sementara Jongdae berjalan ke arah berlawanan—menyusuri gang yang lebih sempit dan lebih sunyi, dengan gedung-gedung tua berderet seperti saksi bisu dari ratusan malam penuh lelah.
Langkahnya berhenti di depan gedung apartment yang sudah tua, catnya mulai terkelupas dan pintunya berderit saat didorong masuk. Ia menaiki tangga dengan suara langkah yang berat tapi berirama, sebelum akhirnya sampai di depan unit mereka. Ketika pintu terbuka, aroma kertas, lem, dan sesuatu yang digoreng samar-samar menyambutnya.
***
Ruang tengah terlihat berantakan. Potongan kardus, glitter, gunting kecil, dan pita warna-warni tersebar di lantai, sementara di tengah kekacauan itu duduk Naari dengan rambut dicepol asal-asalan dan wajah yang dikerutkan oleh konsentrasi. Tangannya sibuk mengelem manik-manik ke atas kerangka karton yang belum sepenuhnya berdiri.
Dari arah dapur, terdengar suara mesin jahit yang menyala sebentar lalu berhenti, diikuti suara pelan tapi galak dari Eomma yang berseru,
“Naari! Kau lem itu pakai tangan atau pakai niat, hah?! Lantai sudah kayak toko kelontong pecah!”
“Eomma, ini penting, besok dikumpul! Tanggung!”
“Yang penting itu makan dan tidur cukup!”
Jongdae hanya bisa mengangkat satu alis melihat pemandangan itu—rumah yang tak pernah benar-benar tenang, tapi selalu terasa hidup.
“Aku pulang,” ucapnya akhirnya, pelan.
“Aigoo, anak itu pulang juga akhirnya.” Eomma menyahut sambil menyematkan benang di ujung jarinya. “Di dapur ada makan malam, dikasih sama Im Boksun, ingat? Teman Eomma di pabrik Daegu dulu. Katanya sekarang dia buka warung kecil, eh malah masih ingat Eomma ini.”
Jongdae mengangguk, setengah mendengar.
“Im Boksun... yang pernah bawain beras waktu kita pindahan, ya?”
“Nah! Otakmu nggak karatan, bagus.”
Ia meletakkan tasnya, lalu menghampiri Naari yang masih berjongkok di antara karton.
“Apa ini, rumah-rumahan atau istana Raja Dinasti?”
“Oppa! Jangan injak—itu kepalanya! Hah... penyok!”
Naari merengut, mengangkat karton yang sudah mulai bengkok di satu sisi.
Jongdae pura-pura menyesal sambil mengacak rambut adiknya.
“Maaf... aku pikir itu bagian tembok yang bisa dilipat.”
“Oppa, kamu tuh...! Ini nilai ku dipertaruhkan!”
Eomma kembali dari dapur sambil mengibas kain kecil,
“Geum Jongdae! Kau makan dulu sana, habis itu mandi. Air hangatnya udah kutaruh, jangan sok jadi orang sibuk terus!”
“Iya, Eomma...”
Jawaban Jongdae pendek, tapi ada senyum kecil di ujung bibirnya—senyum yang tidak ditujukan pada siapapun, tapi pada malam itu sendiri, yang meski penuh kelelahan, tetap memberikan ruang untuk pulang.
Dan ketika ia melangkah ke dapur, membuka penutup makanan yang masih hangat—ia tahu bahwa dunianya masih berkeping, tapi tidak hancur. Masih ada yang bisa diselamatkan. Setidaknya untuk malam ini dan itu cukup.
Usai mandi dengan air hangat dan menyantap makan malam seadanya, Jongdae berjalan kembali ke ruang tengah sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Naari baru saja menyelesaikan prakaryanya. Kepingan karton yang tadi berserakan kini menjelma menjadi bangunan kecil menyerupai rumah panggung, lengkap dengan pagar mungil dari tusuk gigi dan bendera warna-warni dari potongan kertas origami.
“Lucu juga,” ujar Jongdae sambil jongkok di dekat karya itu, memperhatikannya dengan senyum geli.
“Ini rumah pohon impian!” sahut Naari dengan wajah bangga, lalu menatap kakaknya, “Walaupun bagian kepalanya sempat penyok.”
Dari sudut ruangan, Eomma masih sibuk dengan jahitan di pangkuannya. Lampu kecil menerangi kain yang ia sulam, kacamata bacanya sedikit melorot di batang hidung.
“Tumben kau pulang cepat, Dae.”
“Tadi gantiin temen yang sakit, kerja di Dalbit.”
“Oh…” sahut Eomma pendek, tidak bertanya lebih jauh, tangannya sudah kembali lincah menjahit garis lurus di atas kain polos.
Tak lama kemudian, suara Naari terdengar nyaring.
“Oppa! Ingat janji, kan? Kita mau makan ramen malam ini!”
Jongdae menoleh dan mendapati adiknya sudah mengenakan jaket puffer berwarna biru muda dengan hoodie putih menyembul dari dalam. Celana training abu dan sepatu kets putihnya terlihat baru dibersihkan, dan rambutnya diikat dua ke samping seperti anak sekolah yang hendak tampil di acara seni. Di tangannya tergenggam dompet kecil bergambar kartun anjing Shiba.
“Siap, Tuan Putri,” ujar Jongdae sambil berdiri. Ia menatap Eomma dan menunduk kecil,
“Kami berangkat ya, Eomma.”
“Jangan pulang kemalaman, dan awasi Naari. Jangan cuma makan kuahnya, suruh habisin mienya juga.”
“Iyaaa…” jawab mereka serempak.
Angin malam menyambut keduanya di luar gedung apartemen, suhu udara tetap menggigit. Napas Jongdae dan Naari beruap ketika mereka berjalan bersama menyusuri trotoar menuju halte. Daun-daun yang tersisa di pohon-pohon pinggir jalan sudah mengering, berderak lembut ketika ditiup angin. Langit gelap dengan bintang samar di balik awan.
Bus kota datang tepat waktu. Mereka naik dari pintu tengah, dan Naari segera menemukan tempat duduk kosong dekat jendela. Interior bus hangat, dilapisi dengan suara radio lokal yang memutar lagu ballad lawas. Jongdae berdiri di dekat Naari, memegangi tiang besi sambil sesekali melirik ke arah adiknya yang menatap lampu-lampu toko dari balik kaca.
Sesampainya di depan restoran ramen milik ayah Kinam, aroma kaldu panas menyambut dari balik pintu yang langsung terbuka ketika bel kecil di atasnya berdenting. Lampu gantung kuning temaram menyinari meja-meja kayu dan suara panci mendidih terdengar dari dapur terbuka di belakang konter.
Kinam menyambut mereka dengan senyum lebar.
“Wah, siapa ini yang datang malam-malam? Pangeran ramen dan adiknya!”
Naari langsung bersembunyi di belakang punggung Jongdae, menunduk malu-malu.
“Dia ini grogi ketemu anak pemilik restoran,” celetuk Jongdae, menyenggol bahu adiknya pelan.
“Oppa…” gumam Naari kesal, pipinya merah.
Kinam tertawa keras dan memberi isyarat agar mereka duduk. Mereka memilih meja kecil di pojok dekat jendela. Jongdae memesan ramen pedas spesial dengan tambahan telur dan potongan daging sapi, sementara Naari memilih ramen keju dengan topping jagung manis dan sepotong kimbap kecil di sampingnya.
Sambil menunggu pesanan datang, Naari memutar kepala menatap sekeliling restoran. Ada sepasang kakek-nenek yang duduk berdua di sudut lain, menikmati mangkuk mereka dengan tenang. Seorang ibu muda menyuapi anak laki-lakinya yang tampak ngantuk. Dinding restoran dipenuhi foto-foto menu lama dan gambar tangan anak-anak pelanggan tetap.
“Oppa...” Naari bersuara pelan. “Nggak apa-apa kamu bolos kerja tapi tetap datang makan sama aku?”
Jongdae terkekeh, mencubit ujung lengan jaket adiknya.
“Aku nggak bolos. Kinam tahu aku kerja di Dalbit hari ini. Tadi pagi aku sudah mengiriminya pesan.”
Naari mengangguk, lalu menggoyangkan kakinya di bawah meja. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang, mengepul dan menghangatkan udara dingin yang terbawa dari luar. Jongdae meniup kuah pedasnya sebelum menyeruput, sedangkan Naari langsung menyendok keju yang meleleh di atas mie dan berkata,
“Hmm... enak banget!”
Malam itu berjalan ringan. Naari bercerita panjang soal teman-teman kelasnya, tentang guru baru yang aneh, hingga akhirnya dengan mata berbinar, ia mengatakan,
“Aku masuk klub musik, Oppa! Aku jadi pegang gitar. Tadi latihan perdana!”
Jongdae menatapnya, mendengarkan dengan seksama. Ada rasa yang tak bisa ia ungkap dengan kata. Di tengah segala kekacauan dalam hidupnya, ada kilasan hangat yang memancar dari wajah adik kecilnya yang sudah tidak kecil lagi. Ia sadar, meski tak selalu ada dalam setiap momen penting Naari, meski ia sering terlambat pulang dan tak banyak berbicara, ia akan terus mengusahakan yang terbaik. Seperti yang dulu Appa lakukan. Ia akan menjaga Naari, menjaga rumah, menjaga harapan yang perlahan tumbuh kembali.
Meski lelah, meski terbatas waktu—ia akan tetap ada.
Dan malam itu, dengan mangkuk ramen hangat dan tawa ringan yang memenuhi ruang kecil restoran, Jongdae merasa… cukup.
Untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.
Mangkuk mereka telah kosong, sisa kuah yang menggenang pun mulai mendingin. Jongdae mengambil dompet dari saku jaketnya, bersiap menuju kasir, namun Naari menahan lengannya. Gadis itu memandang kakaknya dengan ekspresi yang berbeda—bukan lagi anak kecil yang baru selesai makan ramen, tapi seseorang yang menyimpan beban kecil di balik tatapan ragu.
“Oppa... soal Eonni Seowon,” ucapnya pelan, nyaris terdengar seperti angin di antara suara hiruk pikuk restoran.
Jongdae menoleh, sedikit mengerutkan dahi. Tapi Naari tetap melanjutkan dengan berani, meskipun suaranya menurun seperti rahasia.
“Hari Jumat kemarin, pas pulang sekolah… dia datang ke gerbang dan ngajak aku pulang bareng.”
Mata Jongdae langsung membulat, meski ia tidak berkata apa-apa. Hatinya tiba-tiba berdegup, ada sesuatu yang mencengkeram kuat di dadanya. Ia tahu… Seowon tidak mungkin kebetulan lewat. Rumahnya berada di arah sebaliknya.
Tapi ia tidak bertanya. Tidak menggali. Ia memilih mendengarkan, seperti sedang menghitung waktu agar tidak kehilangan satu patah kata pun dari adiknya.
Naari bersandar sedikit ke meja, menyipitkan mata.
“Pas jalan pulang… dia minta maaf, Oppa. Katanya dia ngerasa bersalah sama aku. Tapi aku enggak ngerti… kenapa dia yang minta maaf?”
Napas Jongdae tertahan, tapi masih belum menjawab.
“Aku enggak tahu Oppa ngapain ke Eonni, tapi jangan galak ke dia, ya,” bisik Naari dengan ekspresi campur aduk, setengah jengkel setengah khawatir. “Soalnya... Seowon Eonni itu udah kayak kakak perempuan buat aku.”
Kalimat itu menusuk diam-diam. Jongdae membeku, memandangi wajah adiknya yang tak bisa berbohong. Sejak kapan Seowon begitu dekat dengan Naari? Sejak kapan ia dianggap keluarga oleh seseorang yang selama ini justru Jongdae sembunyikan dari rumah ini?
Tapi Naari kembali bicara sebelum Jongdae sempat mengatur pikirannya.
“Dan harusnya aku yang minta maaf… waktu itu aku ngomong ke Oppa pakai nada tinggi, aku keceplosan soal Seowon Eonni. Tapi dia enggak salah.”
Jongdae tak tahu harus menjawab apa. Ada yang hangat sekaligus getir di dadanya. Seperti sebuah luka lama yang digosok pelan dengan kasih sayang yang tulus. Hanya diam yang bisa ia beri, saat tangannya perlahan mengepal di atas lutut.
Saat itu, Kinam datang menghampiri sambil membawa struk yang belum disobek.
“Hei, kalian enggak usah bayar. Malam ini traktiran dari pangeran dapur ini.”
“Waaah! Jjang!” seru Naari riang, langsung memutar badan ke arah Kinam dan menjulurkan dua jempolnya. “Oppa yang paling keren sedunia!”
Kinam tertawa, mengacak rambut Naari. Jongdae tersenyum tipis, hendak mengucapkan terima kasih… namun sebelum bibirnya terbuka, ponselnya bergetar. Sekali. Lalu dua kali. Tiga. Hingga terus-menerus.
Ia mengangkat telepon itu, dan suara Seungjo langsung menerpa telinganya.
“Jongdae?! Jongdae, kamu di mana?!”
Nada panik Seungjo membuat jantung Jongdae melompat.
“Aku di restoran—kenapa, ada apa?” tanya Jongdae cepat, nadanya terkontrol, tapi ketegangan mulai merayap ke tengkuknya.
“Tolong—ke apartment Yuri, sekarang. Aku... kami butuh bantuan. Cepat datang ke sini!”
Suaranya tergesa dan parau. Di latar belakang, terdengar sesuatu jatuh keras. Mungkin pecahan barang, atau seseorang terhempas.
“Seungjo—Seungjo! Hei, apa yang terjadi?!”
Tetapi panggilan itu terputus.
Jongdae langsung berdiri. Napasnya memburu, kepanikan merayap tanpa ampun. Ia menoleh ke Kinam, menepuk bahunya dengan tergesa.
“Kinam… tolong anter Naari pulang. Ada urusan. Penting banget.”
Wajah Kinam langsung serius. Ia mengangguk cepat, mengerti situasi tanpa harus dijelaskan.
“Ayo, Naari. Kita naik bus ya, Oppamu ada hal darurat.”
Naari menatap Jongdae bingung, tapi tidak sempat bertanya. Jongdae sudah memungut jaketnya dan hampir berlari keluar restoran. Ia nyaris menabrak meja di dekat pintu, mengucapkan maaf sekilas pada pengunjung, lalu menghilang ke dalam malam yang kini terasa jauh lebih dingin dan mencekam.
Di dalam benaknya hanya ada satu kata: Yuri.
Dan wajah Seungjo yang panik, yang memanggil namanya seolah ada sesuatu yang lebih dari sekadar gawat.
***
Jeonsa bukan kota besar yang bersinar sepanjang malam. Ada sisi kotornya, sisi yang menumpuk dalam diam seperti debu di pojok jalan. Seungjo mengenal sisi ini. Ia melewatinya hampir setiap akhir pekan sejak dirinya mulai mengunjungi Yuri lebih sering—kadang untuk sekadar memastikan gadis itu makan, kadang untuk menghindari kenyataan yang lebih sunyi dari kamar kosnya sendiri. Malam itu, seperti biasa, ia berjalan menyusuri deretan pertokoan tua yang catnya terkelupas. Neon toko-toko minuman bersinar nyaring, menyilaukan mata yang letih. Bau alkohol, asap rokok, dan suara tawa serak pekerja yang tetap masuk meski akhir pekan memenuhi udara. Beberapa pria berseragam kusam duduk mengelilingi bangku plastik, botol soju berserakan di atas meja mereka. Tawa mereka terdengar sumbang, tak ada yang benar-benar tertawa dengan hati.
Kota kecil ini punya wajah yang tak dicatat dalam brosur wisata. Di sinilah Jeonsa menampilkan sisi gelapnya, sisi yang membuat orang seperti Yuri bisa hidup tanpa ditemukan. Tapi bagi Seungjo, tempat ini sudah terlalu akrab. Apalagi kedai makan yang selalu ia tuju. Namanya Kedai Ibu Jang, warung kecil berkanopi biru yang mulai berkarat, terletak di pojok jalan yang mengarah ke gang-gang sempit. Kedai itu menjual makanan rumahan sederhana—sup rumput laut, ayam kecap, kimchi jjigae—semua disajikan dalam piring baja yang tak pernah diganti sejak dulu.
“Ahjumma, dua set biasa ya,” kata Seungjo singkat saat masuk. Ia bahkan tak perlu menyebutkan menunya.
“Untuk anak itu lagi?” tanya Ahjumma Jang dengan suara berat dan lembut.
“Iya,” jawab Seungjo sambil mengangguk kecil.
Putra Ahjumma, seorang pemuda pendiam bernama Jang Minsoo, membungkus makanan mereka dengan sigap. Tak ada banyak obrolan, tapi ada pemahaman yang terbangun diam-diam selama beberapa bulan terakhir. Seungjo kadang duduk sebentar, minum teh, tapi malam itu tidak. Ia membayar dan kembali melangkah.
Menuju tempat itu.
Gang yang harus ia lewati seperti jalan yang patah-patah—gelap, lalu terang dari lampu jalan, lalu gelap lagi. Rumah-rumah kecil mengapit di kiri-kanan, beberapa jendelanya memancarkan cahaya merah, musik samar terdengar dari dalam. Wangi yang asing menyelimuti udara. Aneh, seperti parfum palsu dan karpet yang tak pernah dicuci. Seungjo selalu bergidik setiap kali melewatinya.
Tapi bukan jijik yang dia rasakan. Bukan juga kasihan. Hanya… ketegangan, dan kehati-hatian. Sebab ia tahu Yuri tinggal tak jauh dari titik ini, dan ia tahu alasan mengapa.
Yuri tinggal di sebuah rumah sewa bekas klinik. Bangunan dua lantai berwarna kelabu kusam itu awalnya sebuah klinik keluarga kecil yang tutup akibat utang bertahun-tahun lalu. Sekarang, rumah itu milik seorang wanita paruh baya bernama Madam Song, yang tinggal di lantai dasar dan menyewakan lantai atasnya. Unit-unit kecil, sempit, dengan dapur yang menyatu ruang tidur. Seperti kamar rawat inap yang tidak pernah direnovasi.
Unit tempat Yuri tinggal berada di pojok lantai dua, tepat di sisi tangga belakang yang berderit tiap kali diinjak.
Seungjo memasuki gerbang utama dengan hati-hati. Ketika menapaki koridor masuk, seorang pria lewat dari arah berlawanan—langkahnya tergesa, wajah tertunduk. Mantelnya gelap, panjang, seperti berusaha menyatu dengan malam. Tapi ada sesuatu yang membuat Seungjo menoleh: aroma parfum murah yang ia kenal samar. Mungkin karena terlalu sering tercium di lorong ini, atau… dari seseorang yang ia temui sebelumnya?
Mata mereka tak bertemu. Pria itu menjauh, meninggalkan hawa ganjil di udara. Tapi Seungjo tak punya alasan untuk menahan langkah.
Tangannya merogoh saku jaket, mengambil kunci cadangan yang Yuri berikan beberapa minggu lalu.
“Kalau aku nggak bangun pas kamu datang… buka aja sendiri, ya. Aku nggak akan teriak kok.” Kalimat itu melintas di benaknya, diucapkan Yuri saat separuh tubuhnya terbungkus selimut, wajah setengah mengantuk.
Malam ini, ia berharap Yuri sedang tidur.
Tapi ketika kunci diputar dan pintu terbuka, harapan itu langsung sirna.
Ruang tengah unit Yuri berantakan. Bantal tergeletak di lantai, selimut terseret ke bawah meja. Beberapa barang berserakan, cangkir pecah di dekat dinding. Lampu menyala setengah redup, seperti habis berkelap-kelip karena korsleting. Suasana sunyi—sunyi yang salah.
Seungjo berdiri terpaku. Hidungnya mencium aroma yang tidak biasa—bukan masakan, bukan parfum, tapi sesuatu yang menusuk, seperti logam dan debu lembap.
Langkahnya terhenti di ambang kamar mandi.
Dan saat ia menoleh ke dalam…
Makanan yang ia bawa terjatuh dari tangannya, wadahnya terguling, nasi tumpah ke lantai. Napasnya tercekat, pandangannya membelalak.
“Yuri…?!”
Suaranya pecah, gemetar.
Histeria menyusul.
***
Jongdae berlari sekuat tenaga, menabrak udara dingin yang menusuk paru-paru, tapi tidak lebih menusuk dari ketakutan yang menyesaki dadanya. Ia naik trem dengan terburu-buru, keringat mengalir di pelipis meski musim gugur belum benar-benar reda. Ia nyaris tak merasa angin menusuk kulitnya—ia hanya merasa waktu berlari lebih cepat darinya.
Yuri pernah memberitahunya alamat apartment itu, setengah bercanda, katanya Jongdae boleh datang kapan saja kalau sedang penat dan ingin kabur dari dunia. Tapi Jongdae tak pernah benar-benar datang. Tempat itu terlalu jauh, terlalu asing.
Malam ini, ia mencari dengan panik—bertanya ke penjaga toko, menyodorkan ponsel dengan alamat yang tertulis di notes. Beberapa orang hanya menggeleng, beberapa menunjukkan arah dengan ragu. Jongdae terus berjalan, seolah langkahnya ditarik oleh suara Seungjo yang memanggil namanya dari ujung dunia.
Ketika akhirnya ia tiba di kawasan itu, ia tertegun.
Deretan bangunan tua menyambutnya. Lampu-lampu jalan berkedip, beberapa padam sepenuhnya. Toko-toko kecil yang kusam berdiri dengan jendela tertutup rapat. Beberapa pintu memancarkan cahaya merah muda, suara televisi menyala tanpa penonton. Bau alkohol dan lembap merayap dari celah jalan. Jongdae memelankan langkah, menatap sekeliling dengan cemas.
Hatiku tidak nyaman. Tempat ini... hangat, tapi bukan hangat yang hidup. Hangat seperti tubuh yang kehilangan nyawa, pikirnya ngeri.
Ia sempat bertanya pada pria tua yang duduk di depan warung yang nyaris roboh. Pria itu menunjuk ke arah sebuah bangunan abu-abu di ujung jalan.
“Rumah bekas klinik? Di situ... Lantai dua. Sering ada anak muda keluar masuk,” ucap pria itu pendek.
Jongdae meneguk ludahnya sendiri ketika akhirnya berdiri di depan bangunan itu. Tua, pucat, catnya mengelupas. Jendela lantai bawahnya dipaku. Tangga tampak curam, seperti lidah ular yang menunggu mangsa. Bau asam menguar dari dalam lorongnya.
Langkah Jongdae terayun perlahan. Hidungnya terasa perih saat aroma bercampur jamur dan sesuatu yang amis masuk tanpa permisi. Ia membuka ponselnya—alamat itu benar. Catatannya menyebut nomor unit dan lantai dua.
Tangga itu berderit saat diinjak. Sunyi menggema, menempel di kulit. Jongdae merasa seolah dunia menahan napas. Lalu ia melihat satu ruangan terbuka—satu-satunya di sepanjang lorong pucat itu. Pintu terbuka lebar, menyisakan lubang gelap seperti mulut yang siap menelan.
Langkahnya mengecil. Napasnya tak lagi teratur. Aroma dari dalam ruangan jauh lebih menyengat, membuat tenggorokannya tercekat.
Satu per satu ruang ditengoknya, napasnya tertahan setiap kali melangkah ke sudut baru. Ia belum menemukan Yuri. Belum melihat Seungjo. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Lalu terdengar suara—samar, rintihan.
Jongdae menoleh cepat, bergegas ke arah kamar mandi. Dan saat ia tiba di ambang pintu, dunia seolah berhenti.
Makanan tumpah berserakan, kantung plastik terburai, sup menggenang di lantai. Kamar mandi penuh air. Genangan itu menyatu dengan noda merah pekat. Jongdae terpaku melihat Seungjo yang terkapar, tubuhnya separuh basah, wajahnya pucat.
“Seungjo…” bisiknya pelan, suara tercekat.
Ia segera menghampiri, memeriksa denyut di leher rekannya. Ada. Lemah, tapi masih ada. Jongdae memanggilnya, mengguncangnya sedikit, tapi Seungjo tak merespons. Saat Jongdae menggeser tubuh Seungjo untuk mencari luka, lengan pria itu tergelincir dari posisinya—dan di sanalah noda darah terlihat. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat Jongdae terdiam.
Pandangan Jongdae kemudian tertumbuk pada Yuri.
Gadis itu tertelungkup di lantai, tubuhnya bersandar tak sempurna di samping bathtub karatan. Kulitnya pucat, basah, rambutnya menutupi wajah. Jongdae merangkak mendekat, menggigil saat menyentuh bahunya, berusaha membalik tubuhnya perlahan. Nafas gadis itu nyaris tidak terdengar.
“Yuri… hei, Yuri….”
Tangannya bergetar saat mencoba mengangkat kepala gadis itu. Tapi kemudian ia melihatnya.
Pisau.
Tertancap di sisi kiri perut Yuri. Darah merembes dari sana, mengalir pelan ke genangan air. Jongdae menatapnya, membeku. Tubuhnya seakan lumpuh, suara hatinya berteriak, panik membanjiri pikirannya.
Apa apaan ini? Apa yang terjadi di sini?!
Samar-samar, dari lorong sunyi itu… terdengar langkah kaki.
Perlahan. Tenang.
Langkah yang tidak tergesa, seolah tak terbebani waktu. Tapi justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan. Jongdae membelalak. Ia buru-buru menyeret tubuhnya ke balik dinding lemari kecil di sisi kamar mandi. Ia mematikan ponsel, menahan napas, menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara.
Langkah itu berhenti di ambang pintu.
Diam.
Seperti mengintai.
Setengah tubuh Jongdae sudah basah, gemetar, bajunya menempel di kulit yang dingin. Tangannya mencengkeram ponsel erat-erat. Ia bahkan tak sadar bahwa napasnya terlalu keras sampai dirinya sendiri ketakutan mendengarnya.
Langkah itu tidak bergerak. Seolah menunggu sesuatu.
Atau… mencari sesuatu.
Jongdae menghitung dalam hati.
Satu…
Dua…
Tiga…
Tapi waktu seolah mengulur, memelintir detik menjadi jarum yang menusuk-nusuk pikirannya. Ia menahan napas, tubuhnya bergetar hebat. Seluruh sendi terasa lemas, jantungnya seperti akan meledak keluar dari dadanya. Tak ada udara yang cukup untuk menenangkan diri, hanya hawa mencekam yang menggerayangi tengkuknya.
Lorong itu sunyi… namun hawa keberadaan itu masih terasa. Seperti tatapan tak kasat mata yang menusuk dari celah-celah tembok.
Pelan-pelan, Jongdae mengintip dari balik lemari. Tidak ada siapa-siapa.
Namun ia tidak bisa percaya begitu saja.
Langkahnya ia atur sepelan mungkin, satu tapak demi tapak ia sisir lantai. Ia berpindah ke ruangan lain yang pintunya separuh terbuka, mencari tempat baru untuk bersembunyi. Di sana, ia menutup pintu pelan-pelan, menahan suara derit yang hampir keluar.
Kakinya gemetar, napasnya belum pulih. Ia menyalakan ponsel—tanpa suara, layar menyilaukan di tengah gelap. Jemarinya mencari nomor darurat… entah itu polisi, entah ambulans, ia tidak peduli. Ia hanya butuh seseorang datang. Sekarang.
Tombol ditekan.
Nada sambung.
Seseorang menjawab.
Jongdae membuka mulut, tapi suaranya tertahan oleh isak dan ketakutan. Ia berbicara—bisikan yang nyaris tak terdengar, terbata, putus asa. Setiap kata seperti dikeluarkan dengan paksa dari tenggorokannya yang tercekat.
“Tolong… alamatnya… rumah bekas klinik… dua orang… luka… ada pisau… tolong cepat…”
Begitu panggilan berakhir, ketenangan yang semu kembali pecah.
Langkah kaki itu lagi. Suara sepatu menghantam lantai dengan irama aneh—teratur, namun berat. Seperti pemiliknya tidak berjalan, tapi menyeret keberadaan gelap bersama setiap langkah.
Jongdae membeku.
Bayangan hitam muncul di bawah celah pintu. Terlihat samar… tapi cukup nyata untuk membuat darahnya membeku.
Bayangan itu diam. Tidak bergerak.
Ia menggenggam ponsel erat-erat, menggigit lidahnya agar tidak bersuara. Cahaya layar berkedip, seolah ingin mengkhianatinya. Jongdae menekannya ke dada, berharap tak ada cahaya yang bocor.
Bayangan itu tidak pergi.
Waktu seakan menunda segalanya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, matanya terpejam kuat. Doa-doa yang tak lengkap keluar dari bibirnya, sementara tubuhnya meringkuk seperti anak kecil.
Lalu…
BRAK!
Suara keras datang dari luar. Benda terjatuh. Derap langkah berisik. Seperti kursi
terlempar, meja terhantam.
Lalu…
“AAARGHH!!”
Raungan berat. Laki-laki.
“LEPASKAN!! AAAH—!”
Teriakan melengking. Perempuan. Panik. Sakit.
Jongdae melompat. Instingnya mendesak—apa pun yang terjadi, ia harus keluar. Ia membuka pintu persembunyiannya, berlari ke lorong.
Dan di sanalah pemandangan itu mengunci langkahnya.
Seorang pria—ia mengenalnya. Bukan nama, tapi wajah. Wajah yang pernah terselip di antara pengunjung Dalbit. Orang yang pernah dilihatnya berbicara pada Yuri di luar, malam-malam, dengan tatapan yang tidak nyaman dilihat.
Pria itu sekarang menarik rambut seorang perempuan muda. Gadis itu menjerit, tubuhnya mencakar dan menendang, tetapi sia-sia. Di tangan satunya, pria itu menggenggam pisau—bukan pisau Yuri. Pisau lain. Besi panjang yang kilau tajamnya memantul dari lampu kusam lorong.
Jongdae bergerak tanpa berpikir.
“HEY!!” serunya, suaranya pecah oleh adrenalin.
Ia berlari, langkahnya tidak lagi teratur. Tubuhnya lemas, tapi rasa takut dan amarah menggabung jadi satu ledakan.
Ia menerjang.
Tubuhnya menghantam pria itu dari samping. Keduanya jatuh. Pisau terlepas, menciptakan denting nyaring di lantai.
Gadis itu terhuyung, menangis. Jongdae berusaha bangkit lebih dulu, namun pria itu lebih besar, lebih kuat, dan matanya—mata itu—kosong seperti lubang neraka yang tak punya dasar.
Malam belum berakhir.
Dan Jongdae tahu, jika ia mundur sekarang… tak seorang pun akan selamat.
Suara napas Jongdae tercekat di tenggorokan. Tangannya berusaha menahan cengkeraman pria itu yang mulai mendesak pisau ke arahnya. Tenaganya tak sebanding—meski tubuh lawannya kurus, tulangnya keras, gerakannya liar dan penuh kemarahan yang membabi buta. Jongdae mengerang, mencoba melawan, tubuhnya dipaksa menyatu dengan lantai yang dingin dan lengket.
Pisau itu menari di udara, hanya beberapa senti dari dadanya.
Jongdae meronta, kakinya menendang asal, telapak tangannya berusaha mendorong wajah pria itu agar menjauh, tapi sia-sia. Nafasnya putus-putus, pandangannya mulai mengabur. Pisau itu turun perlahan, menembus udara seperti maut yang bersiap mengiris segalanya.
Lalu—suara langkah berisik mengguncang lorong.
Teriakan. Suara lelaki.
“JONGDAE!!”
Pak Noh.
Dari ujung lorong yang gelap, seberkas cahaya menyilaukan mata. Jongdae hanya bisa melirik sekilas, tubuhnya tertahan. Pria itu tak teralihkan—pisau masih di tangannya, lebih dekat dari sebelumnya.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Jongdae menggeram, memutar tubuhnya ke samping. Ia mencoba membanting tubuh lawannya, meski itu hanya memindahkan beban dari satu sisi ke sisi lain. Pisau menyayat lantai, nyaris menyentuh lehernya.
Tiba-tiba—BRAK!
Seseorang menghantam pria itu dari belakang. Tubuh kurus itu terlempar ke samping, menabrak dinding. Pisau terlepas, jatuh berdenting ke lantai. Jongdae terengah, masih telentang, matanya mencoba mengenali sosok yang datang. Besar, cepat, dan asing—seseorang dengan kekuatan besar yang tak sempat ia kenali karena pandangannya buram oleh ketakutan.
Suara langkah berderap memenuhi lorong.
Pak Noh menerobos ruangan Yuri tanpa ragu, meneriakkan instruksi. Orang-orang berseragam putih masuk satu per satu—sigap, cepat, membawa tandu dan tas peralatan medis.
Jongdae menyeret tubuhnya ke dinding, tubuhnya seperti tak lagi miliknya sendiri. Napasnya nyaris habis. Ruang terasa sempit. Dingin. Sunyi, meski keramaian ada di sekelilingnya.
Lalu, terdengar—RAUNGAN.
Suara si pria.
Bukan manusia. Seperti binatang yang dicabik hidup-hidup. Suara itu menyalak, menyayat telinga. Membuat kepala Jongdae berdengung.
Matanya menatap ke depan. Pintu ruangan menganga lebar. Dari celah itu, ia melihat orang-orang berbaju putih bergerak cepat. Satu per satu tubuh diangkat. Ada darah. Ada air. Ada bau karat yang menyesakkan.
Suara-suara mulai menjauh.
Raungan pria itu juga makin kecil, berganti dengan isak tangis dari gadis muda yang tadi ia selamatkan. Suaranya pilu. Hancur. Tapi tak terdengar jelas—semuanya seakan tenggelam dalam pusaran yang membius. Jongdae tetap di tempat, lutut ditarik ke dada. Gemetar tak terkendali.
Ia memeluk dirinya sendiri, tubuhnya meringkuk seperti anak kecil yang tersesat dalam mimpi buruk.
Tiba-tiba, bahunya disentuh. Jongdae terlonjak, menatap ke atas dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi hanya Pak Noh. Sosok itu menatapnya, tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Lalu, perlahan, ia menarik tubuh Jongdae dalam pelukannya.
“Sudah… sudah aman,” bisiknya.
Kata-kata itu seharusnya menenangkan.
Tapi justru membuat Jongdae pecah.
Tangisnya keluar. Berat. Terbata. Ia menyembunyikan wajah di balik lengannya sendiri, berusaha menahan suara, tapi gagal. Tubuhnya terguncang. Isaknya patah-patah, mencemari udara yang seharusnya kini lebih lega.
Wajahnya ada luka, ada darah, tapi belum terasa perih. Lengan bajunya sobek. Kakinya seperti tak punya tulang. Ia bahkan tak yakin bisa berdiri.
Tapi untuk pertama kalinya… ia membiarkan dirinya rapuh.
Di tengah bau darah, di tengah jejak kekerasan dan ketakutan—ia menangis, dan tidak seorang pun menghentikannya.
Daftar Chapter
Chapter 1: Prolog
173 kata
Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...
7,102 kata
Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...
5,276 kata
Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu
6,005 kata
Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi
6,094 kata
Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...
7,734 kata
Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama
8,481 kata
Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah
11,467 kata
Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti
6,238 kata
Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup
5,144 kata
Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu
5,994 kata
Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan
6,065 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!