Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti
Langit sore bergelayut tenang di atas Jeonsa High School, seolah ikut bersyukur karena hari itu jam pulang dipercepat. Jam dinding di ruang kelas 11-4 baru saja berdetak melewati angka dua ketika sebagian besar siswa sudah mulai mengemasi tas mereka. Lorong-lorong sekolah yang biasanya ramai pada pukul empat kini sudah lebih lengang. Di tengah kelas yang mulai kosong, Geum Jongdae dan Lee Kinam masih tinggal. Mereka kedapatan jadwal piket hari itu—paling akhir dari nama-nama dalam daftar mingguan yang menempel di papan pengumuman. Saat teman-teman lain sudah melangkah pergi, mereka berdua sibuk dengan tugas sederhana: menyapu lantai, merapikan meja, dan mengumpulkan sisa-sisa kertas ulangan.
“Hey, kalian,” suara ringan datang dari ambang pintu. Salah satu anggota Student Council, seorang gadis dengan rambut dikuncir rendah dan clipboard di tangan, melangkah masuk. “Kelas kalian pernah pinjam buku cetak dari ruang Student Council minggu lalu. Bisa dibantu balikin? Banyak banget, berat juga.”
“Bisa,” jawab Kinam cepat, lalu melirik Jongdae. “Bisa, kan?”
Jongdae mengangguk ringan, menyimpan sapunya ke pojok dinding.
Setelah gadis itu pergi, Kinam bersandar pada gagang sapu sambil menatap Jongdae dengan ekspresi jahil. “Ngomong-ngomong, Dae... gimana kencan pertamamu dengan si manis Anna?”
Jongdae mengangkat wajah, lalu menunduk lagi untuk menyapu remah keripik di bawah meja. “Berjalan dengan baik. Aku senang.”
“Tapi kenapa suaranya kayak orang habis kalah main catur?” Kinam menajamkan nada, lalu menyilangkan tangan. “Serius, Dae. Kamu kelihatan... kayak orang habis ditanya ‘kita ini sebenernya apa sih?’ dan gak bisa jawab.”
Jongdae tersenyum tipis. “Nggak seseram itu. Kami cuma ngobrol, minum cokelat, dia juga bilang suka racikanku.”
Kinam mengangguk pelan, lalu pura-pura merenung. “Oke, jadi kamu bikin cokelat, dia suka, kamu senang. Tapi kenapa rasanya kamu bukan cowok yang habis dari kencan, tapi habis dari rapat keluarga?”
Jongdae terkekeh. “Kami memang nggak banyak bicara. Tapi aku suka caranya mendengarkan.”
Kinam memutar bola matanya, lalu kembali menyapu bagian belakang kelas sambil bersenandung kecil. Selama setengah jam berikutnya, mereka berdua bekerja dengan ritme yang tenang. Kinam menggeser bangku-bangku ke tempat semula, Jongdae menyapu dan membuang sampah ke tempat pembuangan di dekat tangga. Jendela terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari sore menyinari lantai ubin yang mulai bersih.
Kelas 11-4 kini sunyi, hanya suara sapu menyisir lantai dan bangku-bangku yang diseret perlahan.
Setelah memastikan semuanya rapi, Kinam mengambil tumpukan buku cetak yang ditinggalkan Student Council tadi. Ia berjuang sedikit dengan beratnya, lalu menyikut lengan Jongdae.
“Temenin, yuk. Masa aku kayak tukang buku keliling sendirian.”
Mereka berjalan bersama menyusuri lorong sekolah yang mulai sepi. Lantai koridor berkilau terkena cahaya senja, memantul di kaca jendela yang berderet rapi.
“Aku nggak ngerti ya, kenapa si Hamin tiap istirahat selalu makan roti sobek isi stroberi. Dia anak laki-laki, tapi rasa-rasanya hidupnya kayak karakter utama princess,” celoteh Kinam sambil menyeimbangkan buku di pelukannya.
“Dia juga pakai pelembab bibir, kan?” Jongdae menimpali.
“Pelembab? Minggu lalu aku lihat dia pakai sheet mask sambil ngerjain tugas seni!” Kinam tertawa geli. “Dan jangan mulai bahas si Eunjae yang nyium-nyium highlighter warna pastel kemarin. Aku beneran takut kalau besok dia bawa spidol wangi durian.”
Jongdae tertawa kecil, dan untuk sejenak suasana menjadi ringan. Tapi saat mereka hampir sampai di ujung lorong tempat ruang Student Council berada, tawa mereka perlahan meredup.
Ruang Student Council biasanya tertutup rapat. Tapi kali ini, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara halaman dibalik dan bunyi kursi yang sedikit bergeser. Jongdae dan Kinam saling pandang. Kinam meletakkan buku-buku di atas bangku terdekat lalu mendorong pintu perlahan.
Di dalam, seseorang duduk sendirian dengan kepala tertunduk, wajahnya sebagian tertutup oleh helaian rambut yang jatuh. Seragamnya rapi, pita di lehernya tidak bergeser sedikit pun.
Geum Jongdae menahan napas.
Itu Ryu Seowon.
Tubuh Jongdae seketika membeku.
Ia berdiri mematung di ambang pintu ruang Student Council, napasnya tersangkut di ujung dada. Di depannya, gadis itu—duduk dalam diam, dengan jari-jari yang meringkuk di atas meja kayu tua. Cahaya matahari sore menyelinap dari kisi jendela, jatuh tepat ke pipinya yang pucat, seolah dunia tahu hanya satu wajah yang perlu diberi sorotan saat ini.
Ryu Seowon.
Jongdae sempat bertanya-tanya apakah dunia sengaja mempermainkannya hari itu. Mengapa harus hari ini? Mengapa harus sekarang, ketika dadanya masih sesak oleh kekhawatiran tentang Yuri, ketika hatinya masih belum selesai berpikir untuk berpaling?
Dan justru saat itu pula, hatinya mengingat betapa ia rindu.
Rindu yang menggigil seperti angin dingin akhir musim gugur yang menyusup dari sela-sela seragam, rindu yang tak sempat dirangkai dalam pesan singkat atau sapaan ringan di koridor sekolah. Rindu yang berpendar lembut namun menyakitkan, seperti cahaya temaram yang menyentuh luka lama.
Bibir Jongdae sempat terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Ia hanya memandangi Seowon dalam diam, menyadari betapa dunia tiba-tiba terasa lambat dan sempit, seolah ruangan itu hanya milik mereka berdua. Ada jarak yang terbentang—bukan sebatas langkah kaki, tetapi rentang waktu, diam, dan kesalahpahaman. Dan di antara jarak itu, mereka berdiri, saling melihat namun tak benar-benar saling menyapa.
Seolah dunia membagi dirinya menjadi dua kutub—Seowon dan Jongdae—dan tak ada yang mampu menjembatani ruang di antaranya.
Suara Kinam memecah keheningan. “Oh, Seowon-ssi! Kamu sendirian?”
Gadis itu menoleh cepat, matanya sempat bertemu dengan Kinam, tapi tak lama kemudian sorot matanya terhenti pada sosok di belakang Kinam. Pada Jongdae.
Sejenak, waktu kembali membeku. Pandangan Seowon seperti membelah Jongdae sampai ke dalam. Wajahnya datar, tapi sorot matanya mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam—keterkejutan, kewaspadaan, dan sisa-sisa perasaan yang belum sempat selesai.
“Wah, kenapa atmosfer-nya mendadak kayak sinetron sore?” seru Kinam tiba-tiba, mengangkat kedua alisnya. Ia menyikut lengan Jongdae, membuat pemuda itu tersentak dan menarik napas pendek.
“A—ah... kita cuma mau balikin buku-buku pinjaman dari kelas,” ujar Kinam ringan, menunjuk tumpukan buku yang dipeluknya. “Lumayan berat, loh. Bisa dibilang ini sumbangan kalori.”
Seowon mengangguk pelan, lalu berdiri. Matanya mengarah pada Jongdae sekilas sebelum akhirnya menunjuk sebuah rak tinggi di sisi kiri ruangan. “Letakkan saja di sana. Di rak sejarah, bawahnya untuk kelas 11.”
Ruang Student Council sore itu tidak ramai—hanya mereka bertiga. Tapi ruangan itu tidak sepi. Ada suara kecil dari kipas langit-langit yang berderit, suara kertas yang tertiup, serta aroma khas ruang Student Council: kombinasi antara kayu tua, lem kertas, dan sedikit harum dari diffuser aroma magnolia yang tergantung di sudut. Beberapa poster jadwal kegiatan terpajang rapi di papan gabus. Foto-foto kegiatan bulan lalu masih menempel, sebagian dicorat-coret dengan spidol warna-warni. Meja utama tampak rapi dengan tumpukan proposal dan folder biru, sementara rak-rak buku di sisi ruangan diisi dengan bahan ajar dan dokumen lama yang dibungkus plastik bening.
Kinam menurunkan buku ke atas meja bundar kecil di tengah ruangan. Jongdae ikut membantu tanpa banyak bicara, sementara Seowon ikut merapikan beberapa buku ke dalam lemari.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Seowon, terburu-buru membawa beberapa buku tinggi, nyaris kehilangan keseimbangan saat berbalik arah. Ia tak melihat Kinam yang bergerak mundur, dan dalam sekejap tubuhnya miring, hampir menabrak.
Refleks Jongdae bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia menangkap lengan Seowon sebelum tubuh itu sempat jatuh.
Buku-buku di tangan Jongdae lebih dulu terlepas dan jatuh ke lantai, suara kerasnya menggema di antara mereka.
Kinam menoleh cepat. “Eh—”
Tapi suara itu tertahan.
Karena yang dilihatnya bukan hanya Seowon yang setengah jatuh. Melainkan Seowon yang kini berada dalam jarak nyaris satu napas dari Jongdae. Tangan Jongdae masih menggenggam lengan Seowon erat. Nafas mereka bertaut, dan untuk sesaat, dunia kembali merapat, menyisakan ruang sempit yang hanya cukup untuk dua orang dengan dada yang sama-sama berdebar.
Tatapan mereka terkunci.
Seowon tidak menarik diri. Jongdae tidak melepaskan.
Ada desir aneh yang melintas di udara, bukan hanya karena kedekatan fisik, tetapi karena kedekatan yang pernah ada—dan belum pernah benar-benar pergi. Seperti gema dalam lorong yang sunyi, perasaan itu kembali, tanpa undangan. Hangat dan menyakitkan sekaligus.
Kinam mengerjap pelan. Entah mengapa, ia juga ikut menahan napas.
Dan dalam keheningan itu, tak ada yang bergerak. Hanya jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kinam berdehem pelan. Ia melangkah mendekat, mencoba mengembalikan irama yang terlanjur kacau. “Ehem. Seru juga ya kalian. Untung cuma aku yang lihat,” katanya, kali ini dengan nada setengah bercanda yang terdengar agak kaku. “Coba kalau Anna yang masuk duluan…”
Tubuh Jongdae menegang.
Seowon menoleh perlahan. “Anna?” tanyanya ringan, nyaris tanpa nada. “Dia akan cemburu, ya?”
Jongdae menahan napas. Bahkan sebelum Kinam menjawab, ia sudah tahu pertanyaannya akan berubah jadi peluru.
Kinam mengangkat sebelah alisnya sambil nyengir. “Yaaa… cemburulah. Kan kemarin mereka baru kencan.”
Seowon tersenyum, tipis saja. Tapi matanya tidak ikut tersenyum.
Jongdae tetap diam. Rasanya jantungnya bukan lagi berdetak, tapi bergemuruh. Penuh suara gaduh yang tidak bisa dijelaskan. Ia ingin mengatakan sesuatu—apa pun—tapi lidahnya seperti terikat oleh simpul yang ia buat sendiri dan di saat seperti itu, diam justru terdengar seperti pengakuan.
Bagi Jongdae, diamnya adalah pengkhianatan kecil terhadap perasaan yang bahkan belum sempat ia rawat kembali.
Bagi Seowon, diam itu mungkin adalah jawaban yang selama ini ia hindari.
Ia tidak tahu.
Tapi ia bisa melihat—bahwa Seowon seperti menyembunyikan sesuatu di balik ketenangan itu.
Sesuatu yang pedih namun sudah akrab.
Seperti luka lama yang sudah terlalu sering disentuh.
Ruang Student Council kembali sunyi. Hanya suara kertas yang bergeser dan tumpukan buku yang mereka tata satu per satu ke rak. Langit di luar jendela mulai kehilangan warna. Matahari sore perlahan turun, dan cahaya yang masuk melalui kisi jendela menguning, menyelimuti ruangan dengan kehangatan yang palsu.
Pada tumpukan buku terakhir, tangan Seowon sempat terdiam di punggung buku bersampul biru tua. Ia menatap lembaran itu sejenak sebelum akhirnya berkata, pelan namun tegas,
“Kalian… benar-benar berpacaran?”
Kinam terdiam, matanya mengarah pada Jongdae, menanti jawaban. Tapi yang pertama bicara justru dia sendiri. “Mungkin sebentar lagi,” ujarnya sambil tersenyum, lalu menyikut Jongdae seperti biasa.
Namun kali ini Jongdae tak tertawa.
Ia memotong, suaranya keluar lebih cepat dari pikirannya. “Kami hanya teman.”
Mata Jongdae tidak berpaling. “Aku dan Anna… bukan apa-apa.”
Kinam mengerutkan dahi. “Hah?”
Tapi tak ada yang menjawabnya.
Tatapan mereka terarah pada Seowon yang kini berdiri dengan tenang di depan rak, tak banyak bicara, namun wajahnya seperti menyimpan musim penuh badai. Tidak ada marah, tidak ada tersenyum. Hanya diam yang mengendap, seperti gerimis yang belum jatuh.
Jongdae tak sanggup menatapnya terlalu lama.
Karena Seowon, dalam diamnya, menyuarakan sesuatu yang lebih keras dari kalimat apa pun. Karena bagi Jongdae, perempuan itu adalah satu-satunya orang yang mampu membuatnya ingin jujur bahkan sebelum sempat ia sadar bahwa ia sedang berbohong.
Kinam mengusap belakang lehernya. Merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sempit dan udara menipis. “Kayaknya… aku pamit duluan ya. Ada tugas yang belum kukerjain.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan keluar, langkahnya cepat, seolah ingin menjauh dari sesuatu yang tak ia mengerti tapi tahu akan menyakitkan jika terlalu dekat.
Kini, tinggal Jongdae dan Seowon.
Bersisian dengan rak buku. Dipisahkan oleh satu langkah, dan dinding yang lebih tinggi dari apa pun yang pernah mereka bangun bersama.
Sunyi kembali menyelimuti, tapi tak ada yang bisa benar-benar menenangkan.
Karena pada akhirnya, bukan keheningan yang paling menyakitkan—melainkan apa yang tak pernah sempat diucapkan.
Ketika langkah kaki Kinam menjauh dan nyaris tak lagi terdengar, menyisakan Seowon dan Jongdae yang pilu. Mereka bersitatap tapi tak ada satupun yang mengeluarkan kata. Jongdae seolah ditelanjangi Seowon hanya dari tatap matanya, dan itu membuatnya sulit bernapas.
Seowon bergerak, ia melangkah untuk merapikan buku dan tasnya. Di belakangnya, Jongdae memberanikan diri membuka suara—bukan dengan kelembutan, tapi dengan desakan getir yang selama ini ia tahan.
"Itu kau 'kan? Susu pisang itu? Semuanya?"
Suara Jongdae lirih, tapi tegas. Ada nada menuntut di balik kalimatnya. Seowon tidak menjawab. Ia terus menunduk, berusaha menjaga ketenangan yang mulai retak dalam dadanya.
"Kenapa harus memberikannya sembunyi-sembunyi? Kenapa tidak langsung saja?"
Masih, Seowon memilih diam. Tapi diamnya bukan ketenangan, melainkan amarah yang disembunyikan—amarah pada dirinya sendiri, atau mungkin pada Jongdae, yang kini berdiri menatapnya dengan luka yang menyala di mata.
"Kau tidak seharusnya melibatkan Naari."
Itu membuat Seowon bergerak. Gerakan kecil, tapi tajam, seolah tubuhnya bereaksi sebelum hatinya bisa menenangkan kembali.
Jongdae berusaha tenang, tetapi sorot matanya menyimpan tekanan. Seowon menoleh perlahan. Senyuman muncul di bibirnya, getir dan tipis, seperti seseorang yang berusaha menerima luka yang ia tahu tak bisa ia hindari. Senyum yang tidak mencoba menyembuhkan, tapi memberi ruang untuk bertahan. Senyum yang tidak menyalahkan siapa pun, hanya mengerti bahwa mungkin cinta seperti mereka memang tidak bisa utuh… tapi bisa terus menunggu.
"Kau meminumnya? Semua susu pisang itu?" tanyanya, lembut tapi penuh perhitungan.
Jongdae tidak menjawab. Tetapi dari rautnya, Seowon tahu jawaban itu tidak perlu diucapkan. Ia menatap mata Jongdae, lama, lalu mengangguk pelan seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
"Mungkin aku terlalu banyak memberimu susu pisang... sampai kau muak."
Itu adalah kalimat yang menampar Jongdae paling dalam—bukan karena maknanya yang lugas, tapi karena kejujurannya yang pahit. Ia tak sanggup menjawab, tak sanggup menyangkal.
Seowon bergerak lagi. Perlahan, ia mengambil tasnya, membereskan sisa barang di meja, lalu berjalan menuju pintu. Meninggalkan Jongdae di dalam sunyi yang memekakkan. Sunyi yang tak cuma menyakitkan, tapi membuatnya merasa seperti tenggelam dalam ruang tanpa pintu keluar.
***
Pagi itu, Jongdae baru saja akan bersiap mengenakan jaket kerjanya saat ponselnya berdering. Nama Pak Noh terpampang di layar, membuat debar kecil muncul di dada. Ia mengangkat dengan suara yang masih serak oleh tidur, namun Pak Noh hanya menjelaskan singkat: Yuri belum datang. Bisa bantu isi shift pagi?
Jongdae terdiam sejenak. “Baik, Pak. Saya segera ke sana.”
Tak lama kemudian, jari-jarinya mengetik pesan cepat untuk Kinam:
Hari ini aku izin kerja di restoran. Disuruh isi shift pagi di Dalbit. Maaf ya.
Ia mengganti jaketnya dengan yang lain—jaket wool tua berwarna abu yang lebih rapi, lebih cocok untuk bekerja di café. Di bawahnya, ia kenakan sweter rajut warna krim pucat dan celana panjang hitam yang agak longgar. Tak lupa, ia mengenakan tas ransel kecil yang sudah agak usang, hadiah lama dari seseorang yang kini samar dalam pikirannya.
Saat keluar dari apartemen, udara dingin menyergap begitu tajam, menusuk hingga ke tulang. Embun beku masih menggantung di tepi jendela dan dedaunan. Udara pagi Jeonsa di antara musim gugur menuju musim dingin tidak pernah bersahabat, terlebih saat langit hanya menyisakan warna kelabu pucat seperti kertas yang kehabisan tinta. Jongdae menuruni trotoar pelan-pelan. Jalanan belum terlalu ramai, hanya beberapa orang tua yang membuka toko lebih awal atau pejalan kaki yang melintas dengan kepala tertunduk, mulut mengepulkan uap. Di tengah keheningan itu, pikirannya melayang—seolah otaknya menolak berjalan dalam jalur yang lurus. Wajah Seowon terpantul di balik embun kaca toko, samar tapi jelas. Tatapan terakhir gadis itu terus menghantuinya. Dingin. Tenang. Tapi juga menyimpan sesuatu yang membuat dada Jongdae seperti ditusuk perlahan dari dalam.
Mengapa mereka harus sampai sejauh ini? Mengapa ada begitu banyak kata yang tidak bisa dikatakan?
Langkahnya melambat saat ia melewati toko bunga yang belum buka. Aroma kering dedaunan musim gugur menggantung di udara. Ada suara burung pipit dari pohon ginko di tepi jalan, dan sesekali daun jatuh dari dahan, seperti serpihan kenangan yang terus turun tak diminta.
Kemudian, satu nama lain muncul di kepala: Han Yuri.
Gadis itu seperti kabut musim dingin—datang diam-diam, menghilang tanpa suara. Jongdae sudah terbiasa dengan kehadiran yang tak bisa diandalkan. Tapi pagi ini, firasatnya terasa berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu kosong. Seolah bukan hanya Seowon, tapi juga Yuri sedang perlahan menjauh dari garis hidupnya.
Tangannya merapatkan syal ke leher, menarik napas dalam-dalam. Dalbit sudah terlihat di ujung blok. Toko kopi kecil itu masih sepi, jendelanya berkabut, dan papan "OPEN" belum digantung. Jongdae meraih kunci cadangan dari saku dalam jaketnya, membuka pintu, lalu masuk ke dalam ruangan hangat yang terasa asing karena terlalu tenang.
Hari ini, katanya dalam hati, akan menjadi hari yang panjang.
***
Ketika Jongdae membuka pintu Café Dalbit, aroma kayu hangat dan jejak wangi kopi semalam langsung menyambutnya. Di balik meja kasir, Pak Noh sedang menata ulang barisan cangkir dan teko, sementara seorang wanita berbalut apron hangat berbunga-bunga sibuk menyeka meja dengan lap bersih. Ibu Noh, yang biasanya hanya datang saat akhir pekan.
“Kau datang juga. Terima kasih sudah cepat merespons, Jongdae,” sapa Pak Noh sambil tersenyum kecil, nadanya tulus namun tetap mengandung lelah pagi.
“Selamat pagi, Pak. Selamat pagi, Bu.” Jongdae membungkuk sopan.
Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi, dan angin dingin menyusup masuk bersama sesosok pemuda yang tidak terlalu tinggi berjaket parka hitam dan celana denim gelap. Seungjo, seperti biasa, tampak santai tapi rapi. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu seperti kurang tidur. Di tangannya, tergenggam secangkir kopi dari convenience store—kebiasaannya yang tidak berubah.
“Pagi,” sapa Seungjo ringan, seolah dunia sedang baik-baik saja.
Jongdae hanya mengangguk, memaksakan senyum kecil.
Mereka berjalan ke belakang, ke ruang staf yang sempit dan remang. Dindingnya dipenuhi gantungan jaket, kalender lama, dan rak kecil tempat penyimpanan seragam. Suara Pak Noh dan Ibu Noh samar terdengar dari balik pintu dapur, sementara Jongdae dan Seungjo mengganti pakaian mereka dalam keheningan yang tebal. Hanya bunyi ritsleting dan gesekan kain.
Hening. Seperti ruang di antara dua halaman surat yang belum dibuka.
Seungjo menghela napas panjang, suara napasnya menggema lembut di ruang sempit. Jongdae melirik.
“Kau kenapa?” tanyanya pelan.
Seungjo tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada seragam yang hendak dikenakannya, seolah di balik kain itu ada jawaban yang ia sendiri belum siap ungkapkan. Wajahnya tenang—tenang yang dipaksakan. Jongdae mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa di balik tatapan sabar itu, ada sesuatu yang menekan dari dalam.
“Aku tahu kau nggak bakal pergi sampai aku bicara,” gumam Seungjo akhirnya, menyandarkan punggungnya ke dinding.
Jongdae menunggu tanpa menyela.
“Malam itu, Yuri meneleponku,” Seungjo memulai. Suaranya perlahan tapi jelas. “Awalnya aku kira sesuatu terjadi, karena suaranya pelan… tapi tenang. Terlalu tenang.”
Jongdae menoleh, menajamkan perhatian.
“Aku langsung tanya dia ada di mana, dia cuma bilang di tempat yang aman. Kami akhirnya bertemu di sebuah restoran bulgogi. Bukan tempat mewah—murah, agak tersembunyi, tapi katanya yang paling enak se-Jeonsa,” lanjut Seungjo, tersenyum miris. “Ada bir. Banyak. Dan Yuri mabuk. Berat.”
Jongdae mengangguk pelan, mencoba membayangkan Yuri dalam keadaan itu—suara tajamnya, tawa palsu, luka yang dikubur terlalu dalam.
“Dia mengumpat. Marah. Tapi bukan padaku… bukan padamu, bukan pada Pak Noh. Dia menyebut nama seseorang. Tapi aku nggak bisa dengar jelas. Nama itu hilang ditelan slur suara mabuk. Tapi aku ingat nadanya. Penuh benci.” Seungjo menghela napas lagi, kali ini lebih berat.
“Lalu?” tanya Jongdae, suara pelannya nyaris tenggelam.
“Aku antar dia pulang. Apartemennya…” Seungjo terdiam, menunduk.
“Seungjo?” Jongdae mendekat.
Seungjo menggigit bibir bawahnya sebentar. “Berantakan. Bukan sekadar berantakan karena mabuk. Tapi seperti... ruang yang ditinggalkan oleh badai. Pakaian berserakan, cermin pecah, dan bau alkohol bercampur parfum murah. Di sudut kamar, aku lihat... ada bekas darah. Kering. Di lantai dekat meja belajar.”
Jongdae membeku. Tenggorokannya tercekat.
“Gunting berserakan di lantai. Aku kumpulkan semua benda tajam di sana. Pisau dapur, cutter, bahkan pensil mekanik. Aku... aku sembunyikan semuanya di tasku dan bawa pulang. Pagi-pagi sekali.”
Jongdae tidak sanggup bicara. Dalam bayangannya, darah yang mengering itu menjelma jadi alarm merah yang memekakkan, tapi hanya dalam pikirannya sendiri. Tubuhnya kaku, dadanya berat.
Di dalam kepalanya, bayang-bayang pria tua kembali muncul. Wajah yang dilihatnya sekali, tapi tak bisa dilupakan.
Ia baru membuka mulut—belum tahu akan mengatakan apa—ketika suara Pak Noh terdengar dari depan:
“Anak-anak! Dalbit buka dalam lima menit!”
Seungjo berdiri lebih dulu. “Kita lanjut nanti, ya?”
Jongdae mengangguk, meski dadanya belum berhenti berdebar. Ia menyusul Seungjo keluar ruang staf, meninggalkan percakapan itu di udara—menggantung, tapi terasa terlalu berat untuk benar-benar diabaikan.
Hari mulai beranjak siang, dan Café Dalbit perlahan dipenuhi aroma espresso dan suara langkah kaki. Pak Noh mengelap tangan di apron sebelum mendekati mereka di balik konter.
“Seungjo, hari ini kau jaga kasir ya. Jongdae, kau bantu di bar. Kita buka sampai jam delapan saja—aku dan ibumu,” katanya sambil melirik istrinya, “harus berangkat ke Sokcho sore ini. Ada urusan keluarga.”
“Baik, Pak,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Dalbit pagi itu tidak terlalu penuh, tapi tidak juga sepi. Mayoritas pelanggan datang dan pergi cepat, memesan kopi untuk dibawa. Ada yang mengenakan mantel panjang dengan topi menutup puncak kepala mereka, sebagian bahkan sudah mengenakan sarung tangan, beberapa dengan masker yang hanya diturunkan saat menyeruput minuman. Di pojok ruangan, dua mahasiswa sibuk mengetik di laptop, sesekali menatap jendela yang dipenuhi embun tipis.
Café Dalbit bukan tempat besar—hanya satu lantai dengan ruang yang memanjang ke dalam. Jendela kaca lebar di sisi depan memamerkan kota Jeonsa yang tertutup kabut musim dingin. Di dalam, lampu gantung kuning hangat menggantung rendah, menciptakan kesan akrab. Rak-rak kayu di dinding dipenuhi buku-buku tua, pot tanaman kecil, dan toples berisi biskuit buatan sendiri. Musik lembut mengalun pelan dari speaker tua dekat pintu masuk—hari itu giliran lagu-lagu jazz instrumental mengisi udara.
Seungjo bekerja di konter dengan ramah, menyapa setiap pelanggan dengan senyum. Ia menyelipkan komentar jenaka, membuat pelanggan yang mengantre tidak merasa kesal. Tangannya cekatan mencatat pesanan sambil kadang membantu Jongdae di belakang konter bar.
Jongdae, mengenakan seragam Dalbit berwarna krem dengan apron hitam, berdiri di depan mesin espresso. Gerakannya cepat dan tenang. Kopi pertama disajikan, kemudian yang kedua. Uap panas naik dari permukaan minuman, aroma kopi segar memenuhi udara. Tangannya bergerak otomatis—mengisi, menekan, menyajikan—seperti mesin yang terlatih untuk presisi dan kecepatan. Tapi pikirannya masih tertinggal di ruang staf pagi tadi.
Lalu, pintu berderit lembut. Bel berdenting kecil saat seseorang masuk.
Sosok gadis dengan mantel berwarna beige muda, rambutnya digerai rapi dengan penjepit berkilau di sisi kanan. Wajahnya cerah, sedikit merona karena dingin. Ia berjalan pelan mendekati konter, dan Seungjo langsung menyapa dengan hangat, nyaris seperti melihat seorang teman lama.
“Anna-ssi!” sapanya. “Lama tak lihat. Mendekati musim dingin begini pasti membuatmu malas keluar rumah ‘kan?”
Jo Anna tersenyum manis, seperti biasa. “Kalau bukan karena aroma cokelat Dalbit, aku sudah bersembunyi di balik selimut seharian,” jawabnya ringan.
“Pesanan seperti biasa?” tanya Seungjo sambil mencatat.
“Umm, satu vanilla latte hangat dan cokelat marshmallow seperti biasa Oh, dan satu cinnamon roll—kalau masih ada.”
“Masih ada. Untung kau datang pagi-pagi,” kata Seungjo dengan nada menggoda yang sopan. “Kalau siang sedikit, Jongdae bisa-bisa menghabiskan semua roti itu sendiri.”
Anna tertawa kecil. “Aku bisa bayangkan.”
Di balik konter bar, Jongdae mendengar semuanya—tanpa sengaja, tanpa niat, tapi telinganya terlalu peka untuk tidak menangkap suara tawa itu.
Tangannya tetap bekerja, tapi pikirannya mulai kabur.
Lalu, selang beberapa pesanan berikutnya, Jongdae mendengar nama itu keluar dari mulut Seungjo. Ia sedang melayani seseorang—suaranya sedikit diturunkan tapi masih bisa terdengar:
“Kopi aren dengan susu almond, ya? Kau tetap suka itu rupanya.”
Diam.
Langkah Jongdae tak lagi secepat tadi. Ia hanya berdiri, memandangi mesin espresso yang mengeluarkan suara lirih, nyaris seperti bisikan samar. Suara gadis itu terdengar menjawab, lembut tapi tak bisa ia tangkap sepenuhnya. Lalu Seungjo tertawa pelan, nada santai seperti tak ada yang istimewa.
Tapi di telinga Jongdae, itu seperti nada sumbang.
Di balik punggungnya, dunia terus berjalan—musik tetap mengalun, mesin kopi tetap berdengung, pesanan tetap datang. Tapi dalam dadanya, ada kegelisahan aneh yang muncul tiba-tiba. Rasanya seperti berdiri di tengah dua jalan bercabang—dan tak satu pun menunjukkan arah pulang.
Hari itu baru dimulai. Tapi Jongdae tahu, waktunya takkan pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang mulai tumbuh di dadanya.
Pesanan demi pesanan selesai tanpa cela. Jongdae bergerak lincah seperti biasa, tanpa melewatkan satu pun detail. Foam di cangkir latte dibentuk presisi, whipped cream disemprotkan rapi, dan minuman-minuman lainnya berderet di atas meja bar, siap diantar. Aroma kopi dan kayu manis berpadu dalam udara hangat Dalbit, sementara antrean yang tadinya mengular mulai surut, meninggalkan ruang yang lebih tenang.
Begitu pelanggan terakhir keluar dengan cup di tangan, Seungjo melepaskan napas pendek dan meninggalkan konter kasir. Ia berjalan pelan ke arah Jongdae yang tengah membersihkan mesin espresso, lalu menyandarkan tubuhnya sebentar di sisi bar.
“Sepertinya Anna-ssi cuma mampir,” katanya dengan suara yang diturunkan, nyaris seperti gumaman kasual. “Pesanannya dibawa pulang, padahal tempat duduk kosong banyak.”
Jongdae hanya mengangguk. Tidak banyak komentar.
Tapi Seungjo belum selesai. Ia memiringkan wajahnya sedikit ke arah Jongdae, masih dengan nada santai, tapi kini matanya mencuri tatap ke arah kursi dekat jendela.
“Gadis susu pisang itu juga datang.” Senyumnya muncul pelan. “Biasanya dia bawa susu pisang, tapi hari ini tidak bawa sama sekali.”
Jongdae tak langsung menjawab. Tangan kirinya berhenti setengah jalan menyeka gelas, dan untuk sesaat, hanya suara napas mesin kopi yang terdengar. Ia melirik Seungjo sekilas—tak lama, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.
Bibirnya mengatup rapat, seolah berpikir sebelum bicara. Tapi ia tahu, apa pun yang dikatakan Seungjo barusan bukan sekadar candaan iseng. Ucapannya terlalu halus untuk disebut sindiran, terlalu ringan untuk disebut tuduhan. Tapi efeknya? Konfrontasi yang telak—tanpa perlu suara tinggi atau wajah tegang.
Jongdae kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. Namun ritmenya melambat.
Di sudut matanya, ia tahu siapa yang duduk di dekat jendela. Ia juga tahu siapa yang barusan membawa pulang vanilla latte. Dua titik hidupnya, dua cerita yang ia sembunyikan, bertemu di tempat yang sama, di pagi yang terasa terlalu damai untuk menanggung rahasia seberat itu.
Dan ia berdiri di tengah-tengahnya—dalam diam, dalam peran, dalam kebingungan yang tak bisa dibagi.
“Dae, ini pesanannya Anna-ssi. Tolong antar ya, aku jagain konter dulu. Kayaknya ada pelanggan baru,” kata Seungjo sambil menyerahkan satu cup kopi yang baru selesai diracik.
Jongdae mengangguk pelan, tangannya refleks menerima pesanan itu, tapi matanya tak benar-benar fokus pada benda yang dipegang. Ekor matanya menangkap siluet tenang Ryu Seowon di sudut ruang, duduk rapi dengan buku terbuka di pangkuannya. Gadis itu terlihat tenang—mungkin terlalu tenang—dengan wajah yang tersembunyi sebagian di balik rambut panjangnya yang menjuntai ke depan. Tak banyak gerak. Tapi Jongdae merasa diamnya membidik, seperti sedang membaca dirinya alih-alih lembaran buku.
Ia menarik napas pelan, mencoba menahan debar yang seperti akan melonjak keluar dari tenggorokan.
Jo Anna menyambut kedatangannya dengan senyum hangat dan malu-malu. Sorot matanya cerah, pipinya sedikit memerah seolah ia baru saja lari kecil sebelum masuk ke dalam Dalbit. Jongdae menghampirinya sambil meletakkan cup kopi di atas meja kecil di depannya.
“Tumben ada pesan kopi?” Jongdae bertanya, mencoba terdengar santai.
Anna mengangguk kecil sambil merapikan scarf abu-abu yang melingkari lehernya. “Ini bukan buatku, tapi buat kakakku. Katanya dia penasaran sama kopi Dalbit yang terkenal itu.” Ia tertawa kecil. “Kebetulan kami mau pergi ke luar kota, jadi mampir sebentar.”
Jongdae ikut tersenyum. “Pagi yang pas buat itu. Hati-hati di jalan, ya.”
Ada kehangatan yang mengalir di antara mereka, ringan, lembut, dan sederhana. Sangat kontras dengan udara dingin dan tajam yang menggantung dari sudut meja tempat Seowon duduk.
Anna berdiri, menggenggam cup dengan dua tangan. “Terima kasih, Jongdae-ssi.” Lalu ia menoleh ke arah konter dan melambaikan tangan kecilnya, “Terima kasih juga, oppa!” pada Seungjo, sebelum ia melangkah pergi sambil menyembunyikan senyumnya yang kembali merekah.
Pintu Dalbit berbunyi lembut saat tertutup kembali, dan suara gemerincing gantungan pintu bergema sebentar lalu hilang.
Jongdae belum kembali ke belakang. Matanya menatap nampan yang baru saja diletakkan Seungjo di sisi bar: kopi aren dengan susu almond dan croissant isi tuna.
Ia tidak perlu diberi tahu untuk siapa itu.
Jongdae menatap punggung Seungjo yang kembali sibuk di konter. Sesuatu dalam dirinya terasa seperti kain yang digunting perlahan—rapi, tapi menyakitkan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menambal rasa yang compang-camping, tapi udara tak terasa cukup di paru-parunya.
Dengan langkah hati-hati, Jongdae mengambil nampan itu.
Satu, dua, tiga langkah. Suara sepatu yang bertemu lantai kayu seperti bergema lebih keras dari biasanya. Setiap langkah terasa seperti mengantarkannya ke tepi jurang, tempat di mana dua bagian hidupnya saling tatap dan tak bisa lagi dipisahkan dan di sana, di bawah cahaya matahari pagi yang menembus jendela Dalbit, duduk Ryu Seowon. Masih dengan buku terbuka di tangan, tapi matanya kini perlahan mendongak, menatap Jongdae yang semakin mendekat—dan tidak ada tempat lain untuk bersembunyi kali ini.
Jongdae menaruh pesanan itu di meja, nyaris tanpa suara, nyaris tanpa tarikan napas. Saat itu pula, Seowon mendongak, dan pandangan mereka bertaut di tengah ruang yang riuh oleh kopi, musik lembut, dan detak-detak asing yang tak lagi mereka pahami.
Di atas meja, sebuah buku terbuka. Judulnya berat untuk ukuran anak SMA—buku filsafat yang mungkin akan membuat siapa pun mengernyit—tetapi tidak bagi Seowon. Gadis itu memang selalu membaca dengan tekun, dengan diam yang penuh. Bahkan Jongdae masih mengingat itu: bagaimana mereka dulu berjalan beriringan di antara rak-rak buku tinggi, mencari halaman yang bisa mereka bagi diam-diam, sesekali menyenggol bahu tanpa sengaja, tapi tak pernah mau saling menjauh.
Dan kini, mereka hanya saling diam. Tapi diam itu tidak kosong.
Diam itu penuh kenangan.
Jongdae mematung. Tubuhnya ada di Dalbit, tapi jiwanya sedang ditarik mundur oleh kenangan yang tak pernah padam. Ia ingat bagaimana Seowon pernah memintanya dengan suara lembut untuk menghabiskan Sabtu di jalan Jeonsa, saat musim gugur baru datang dan daun-daun melayang turun ke rambut mereka. Seowon memintanya menyembunyikan hari itu dari dunia, seolah mereka bisa mencuri waktu dari kenyataan.
Ia juga ingat ketika Seowon datang ke rumahnya, dengan buku di tangan, dan mengatakan ingin membaca di ruang tengah sambil menemani Naari menonton kartun. Jongdae tertawa waktu itu—tawa yang ringan dan tulus—karena Seowon membaca sambil sesekali mengomentari cerita televisi, dan ketika Jongdae menyela dengan gurauan, gadis itu membalas dengan suara manja, mengomel setengah main-main, tapi wajahnya bersinar.
Ia mengingatnya semua. Dan itu menyakitkan.
Tapi tak ada yang lebih menyayat dari ingatan saat pemakaman ayahnya. Rumah duka yang terasa seperti jurang. Jongdae berdiri kaku di antara suara tangis dan ucapan duka cita, tapi ia tidak bisa menangis. Hatinya koyak, tapi matanya kering. Ia hanya mendengar teriakan Naari, histeris, dipeluk erat oleh sepupu mereka, Ahn Minhyuk. Di sudut ruangan, Eomma menangis sendirian, tak sanggup memeluk siapa pun.
Lalu di tengah semua itu, hanya Seowon yang berdiri di sisinya. Tak banyak bicara, tak banyak gerak—hanya menggenggam tangannya dalam senyap, kuat, seolah ia menjadi satu-satunya tempat Jongdae bersandar ketika dunia menolak memeluknya.
Itulah titik baliknya.
Setelahnya, Jongdae berubah. Ia tenggelam dalam kesunyian yang panjang. Tapi Seowon tetap datang, selalu tahu tempatnya bersembunyi. Di taman belakang sekolah. Di belakang gudang olahraga. Di peron stasiun lama yang tak lagi digunakan. Gadis itu selalu menemukan cara untuk menemuinya, meski keduanya harus terus bersembunyi dari dunia.
Seowon tak pernah meninggalkannya.
Dan kini, ketika semua ingatan itu kembali mengalir bagai arus deras yang menampar dada, Jongdae merasa setengah dari dirinya membeku. Jiwanya koyak oleh kenangan yang seharusnya hangat, tapi kini terasa seperti pisau-pisau halus yang menggurat perlahan.
Lamunan itu pecah.
Suara Seowon datang pelan, tapi menembus semua dinding yang coba dibangun Jongdae di dalam kepalanya.
“Jongdae.”
Ia menunduk. Menatap jemari lentik Seowon yang meletakkan buku di sisi kanan meja, menggeser nampan dengan gerakan halus seolah ia tahu betapa rapuh dunia di antara mereka. Dan sorot mata itu—mata yang tidak pernah memaksa, tidak pernah menuntut—memandangnya seperti lautan yang tenang menunggu kapal karam kembali ke dermaga.
Dan lalu, satu kalimat keluar, pelan, sangat pelan, tapi menggema seperti petir kecil di hatinya:
“Bisakah kamu… duduk di sini? Bersamaku?”
Jongdae terdiam.
Suaranya lembut sekali, seolah tahu dunia sedang berputar terlalu cepat dan mereka tak punya banyak waktu. Seolah tahu bahwa satu kursi kosong di hadapan Seowon bisa mengubah segalanya. Dan Jongdae tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Hatinya berdebar, seperti baru saja bangkit dari musim beku. Ada panas yang tak bisa dijelaskan merambat dari tengkuknya sampai ke perut. Bingung, gugup, takut, rindu—semua perasaan itu menumpuk dalam diam, tak menemukan jalan keluar.
Ia ingin lari. Ia ingin bertanya. Ia ingin menyanggah. Tapi lebih dari itu—ia ingin duduk.
Dan justru karena ia ingin, ia takut.
Karena mungkin, yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan.
Tapi dipanggil pulang, ketika dirimu tak tahu apakah kamu masih pantas untuk kembali.
Dari kejauhan, Seungjo mengamati pemandangan yang nyaris seperti adegan dari cerita lama yang tak sempat selesai ditulis. Di balik konter kasir, ia berdiri dengan lengan bersilang dan napas yang sengaja ditahan. Ia tahu momen itu akan datang—dan kini, tanpa bisa ia kendalikan, saat itu terbentang di hadapannya, seperti kenyataan yang menolak lagi untuk disembunyikan. Jongdae, rekan kerja yang selama ini tampak kuat meski sunyi, perlahan memperlihatkan lapisan-lapisan hidupnya yang selama ini tertutup rapat.
Dalbit terasa lebih tenang.
Angin dari pendingin ruangan mengalir pelan, membawa aroma kopi yang samar bercampur vanilla dari diffuser cherry blossom dekat rak buku. Musik lembut dari speaker terdengar seperti alunan piano sore hari, mengisi ruang tanpa mengganggu. Lampu gantung memantulkan cahaya hangat di atas meja-meja kayu, dan hanya ada tiga pelanggan yang tersisa—masing-masing sibuk dengan buku atau layar ponsel. Tak ada suara berisik, tak ada denting sendok yang jatuh. Semua terasa melambat, seolah waktu sengaja memberi ruang bagi dua jiwa yang ingin bicara tanpa suara.
Dan di tengah keheningan itu, Jongdae akhirnya duduk.
Kursi yang kosong di hadapan Seowon kini terisi, dan bagi Jongdae, itu bukan sekadar tempat untuk duduk. Itu adalah pengakuan diam, bahwa ia siap menghadapi sesuatu yang selama ini ia hindari. Seowon, yang menatapnya tanpa desakan, hanya tersenyum tipis dan menggeser gelas kopi aren dingin ke arahnya. Cairan lembut itu tampak mengembun, menyisakan jejak air di atas meja, seolah tahu betapa penting kehadirannya pagi ini.
Tak ada sorot mata dingin seperti kemarin. Tak ada kata yang menyudutkan.
Hanya Seowon. Apa adanya.
Dan justru karena itu, Jongdae merasa dirinya berada di pinggir jurang.
Ada sesuatu yang menggeliat di dalam dadanya—takut, rindu, malu, dan perasaan asing yang membentuk genangan tak bernama.
Ia membuka mulut untuk bertanya, tapi Seowon lebih dulu bicara.
"Minumlah," ucap gadis itu lembut. "Dan makan Croissant-nya juga."
Suara itu... bukan hanya suara gadis remaja. Ada sesuatu yang dewasa dalam nadanya, seperti seseorang yang telah melalui malam-malam panjang tanpa tidur dan tahu betul bagaimana caranya bertahan.
Jongdae terhenyak. Ia belum sempat menelan rasa kaget saat pertanyaan itu menerjang pikirannya: Bagaimana Seowon tahu aku belum makan?
Ia menatap gadis itu. Tak meminta jawaban, tapi hatinya mulai menggugat.
Dan lagi-lagi, Seowon menjawab, seakan membaca isi dadanya tanpa perlu mendengar suaranya.
"Aku tahu kamu belum sarapan. Kamu selalu begitu kalau sedang banyak pikiran."
"Kopi bisa menunggu. Tapi kamu butuh ini dulu."
Kata-katanya lembut, tapi menusuk seperti cahaya pagi yang menelanjangi luka.
Seowon tidak memesan kopi aren dan croissant untuk dirinya. Semua itu untuk Jongdae.
Bukan karena dia ingin mengingatkan, tapi karena ia ingin menjaga. Diam-diam. Seperti selalu.
Dan di sana, dinding Jongdae retak.
Dinding yang dibangun dari rasa lelah, dari kesedihan yang tidak pernah selesai, dari ketakutan bahwa dirinya tak layak menerima kebaikan seperti ini. Ia menunduk, menatap gelas yang kini terasa berat di tangannya.
Mengapa kamu selalu tahu?
Pertanyaan itu hanya berputar dalam benaknya.
Dan jawaban dari hatinya sendiri datang seperti desir yang nyaris tak terdengar: Karena dia belum pernah benar-benar pergi.
Seowon menatapnya lagi, kali ini lebih dekat. Ia mengubah posisi duduk, tegak namun condong ke arah Jongdae. Sorot matanya teduh tapi jelas, seolah ingin memastikan bahwa setiap kata sampai pada tempat yang benar.
"Makanlah, Jongdae."
"Aku akan menemanimu sambil membaca, seperti dulu."
Seperti dulu.
Dua kata itu mengandung banyak luka dan banyak harapan.
Dan bagi Jongdae, kata-kata itu seperti benang halus yang menjahit perlahan bagian dirinya yang mulai robek.
Di luar, langit Jeonsa mulai beranjak cerah dan di dalam Dalbit yang tenang, dua hati saling menatap dalam diam yang paling penuh.
Jongdae menatap croissant tuna itu lama sebelum akhirnya menyentuhnya.
Ia tidak tahu sejak kapan perutnya kosong terasa begitu nyata. Bahkan ketika ia menggigit potongan pertama, rasa asin dari tuna dan kelembutan roti yang masih hangat itu terasa asing di lidahnya. Ia makan, tapi di dalam, ada sesuatu yang patah dan pelan-pelan bergetar.
Seperti orang yang sudah terlalu lama menolak diberi makan oleh dunia, lalu kini dipaksa menerima sedikit kebaikan.
Dan ia merasa... tak pantas.
Kenapa Seowon masih melakukan ini untuknya?
Kenapa masih peduli?
Dari sudut matanya, Seowon menatap Seungjo dan memberi isyarat kecil. Seungjo mengangguk mengerti, lalu sibuk sendiri melayani pelanggan. Kini Dalbit hanya milik mereka. Atau mungkin, sejak tadi memang hanya mereka yang saling mengisi ruang dan suara yang tak diucapkan.
Seowon memperhatikannya makan, dengan tatapan lega.
Tatapan seperti musim semi pertama setelah musim dingin yang panjang—bukan bahagia, tapi melegakan dan Jongdae sadar, kelegaan itu bukan untuk dirinya. Tapi untuk Seowon sendiri.
Bahwa ia masih bisa membuat Jongdae makan, meski dalam diam yang rapuh.
Lalu Seowon bersuara,
"Maaf... soal Naari."
Nada lembut itu seperti angin yang membawa debu luka.
Jongdae mengangkat wajahnya perlahan, matanya menatap Seowon tanpa ekspresi, tetapi hatinya gemetar.
"Aku tahu aku bukan satu-satunya dunia untukmu," lanjut Seowon. "Tapi mungkin aku... sudah terlalu jauh melangkah."
Dan di detik berikutnya, rasa manis kopi bercampur dengan gula aren dan krimer yang diteguk Jongdae berubah getir.
Bukan karena rasanya, tapi karena kata-kata Seowon yang terasa seperti pengakuan dan jarak dalam satu waktu yang sama.
Jongdae meletakkan gelasnya.
Tangannya sedikit gemetar, dan ia bertanya tanpa menahan:
"Kenapa... harus lewat Naari?"
"Kenapa nggak langsung ke aku aja?"
Suaranya pelan tapi penuh luka.
Bukan marah, tapi kecewa.
Bukan benci, tapi terluka.
Lalu hening itu datang.
Merambat seperti kabut di pagi buta, menyelimuti mereka berdua. Dalbit terasa berhenti saat itu, seolah waktu enggan ikut campur. Seolah kedai kecil itu tahu bahwa dua anak manusia di meja ujung sana sedang menata kembali reruntuhan sesuatu yang mereka bangun dengan susah payah.
Seowon menutup bukunya. Anggun. Tenang.
Ia bersandar ke sandaran kursi, menatap ke luar jendela di mana langit Jeonsa mulai mendung. Lalu kembali pada Jongdae, dengan senyum yang terlalu tipis untuk disebut bahagia.
"Aku nggak mau jadi orang ketiga, Jongdae. Antara kamu... dan Jo Anna."
Dan di detik itu, seluruh tubuh Jongdae seperti dirubuhkan sesuatu yang tak kasat mata. Pernyataan itu begitu lirih, tapi bagi Jongdae, rasanya seperti godam yang menghantam dadanya.
Ia ingin menjelaskan. Tapi apa yang bisa ia katakan?
Bahwa Jo Anna bukan siapa-siapa?
Bahwa ia bahkan tak tahu apa yang Jo Anna pikirkan?
Bahwa satu-satunya yang membuat dadanya sesak pagi ini bukan karena Jo Anna... tapi karena Seowon?
Ia ingin berteriak bahwa semuanya salah paham, tapi yang keluar hanyalah diam.
Diam yang berisik di dalam kepalanya, seperti panci kosong yang dijatuhkan berulang-ulang.
Ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Daftar Chapter
Chapter 1: Prolog
173 kata
Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...
7,102 kata
Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...
5,276 kata
Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu
6,005 kata
Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi
6,094 kata
Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...
7,734 kata
Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama
8,481 kata
Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah
11,467 kata
Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti
6,238 kata
Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup
5,144 kata
Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu
5,994 kata
Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan
6,065 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!