')">
Progress Membaca 0%

Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah

Alvianti Purnamasari 10 Sep 2025 11,467 kata
GRATIS

Langit sudah pekat ketika Jongdae dan Yuri berpisah di perempatan jalan. Angin musim gugur menusuk hingga ke tulang, membuat napas Jongdae membentuk uap putih saat ia melangkah cepat menuju apartemen. Langkahnya pelan tapi mantap, menyusuri trotoar yang sudah mulai sepi, hanya ditemani suara roda mobil yang melintas sesekali dan nyanyian jauh televisi dari rumah-rumah yang tertutup rapat.

Kunci beradu dengan pelat logam pintu saat ia membukanya perlahan. Hangat samar dari pemanas ruangan menyambutnya, tapi tak cukup untuk menepis udara dingin yang masih menetap di jari-jarinya.

“Oppa!” seru suara riang dari balik ruang tengah.

Naari muncul dari balik pintu dapur kecil, masih mengenakan hoodie kuning dan legging bergambar awan. Wajahnya cerah, mata membulat penuh antusias.

“Kenapa baru pulang?” tanyanya cepat sambil mendekat.

Jongdae hanya mengangkat tangan, mengayunkan sedikit telapak untuk menjawab, lalu berjalan ke dapur kecil dan mengambil air dari teko yang mengembun. Ia meneguknya pelan, lalu bertanya tanpa menoleh, suaranya terdengar berat:

“Eomma ke mana?”

Naari duduk di sofa emerald pendek, mengayun-ayunkan kakinya.

“Pergi makan-makan bareng pelanggan tetap yang ulang tahun, katanya. Seharian tadi Eomma pilih baju. Terus... dandan. Lucu deh,” ujar Naari sambil terkekeh. “Udah lama banget enggak lihat Eomma berdandan. Terakhir kayaknya sebelum... Appa pergi.”

Jongdae hanya mengangguk. Punggungnya tetap menghadap adiknya. Tapi tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar. Musim gugur terakhir membuat apartemen kecil itu serasa membeku, walau pemanas tua di sudut ruangan sudah bekerja sejak sore. Tirai jendela sedikit terbuka, memperlihatkan langit malam yang nyaris tanpa bintang. Dinding tipis membelah dua kamar tidur kecil dan satu ruang tamu yang disulap menjadi ruang makan sekaligus tempat cuci baju. Bau sabun cuci dan teh dari termos bersatu dalam udara.

Naari berdiri, membuka rice cooker, lalu berbalik.

“Makan, yuk?”

Jongdae menggeleng. “Aku udah makan.”

Wajah Naari mengerucut, bibirnya mencibir kecil. “Tapi tadi Eomma masak sup rumput laut. Dan lauknya banyak.”

Jongdae menatap wajah adiknya yang merajuk, lalu tersenyum tipis. Perutnya sebenarnya masih kenyang, tapi dia tahu—kadang, makan malam bukan tentang lapar. Jadi dia menarik kursi dan duduk di meja makan kecil yang sudah dipenuhi makanan.

Sup rumput laut menguap pelan di mangkuk besar. Ada telur dadar lembut yang digulung rapi, potongan daging ayam kecap, dan sedikit kimchi rumahan di piring kecil. Jongdae mengambil sumpit.

Ia makan perlahan. Tapi matanya terus menatap Naari. Gadis kecil itu sudah besar. Terlalu cepat.

 

Kalau Appa masih ada... mungkin malam seperti ini akan lebih sederhana. Lebih ringan. Kami tidak perlu khawatir soal sewa, soal listrik, soal seragam sekolah yang semakin kekecilan. Aku tidak perlu kerja di akhir pekan. Naari bisa punya waktu untuk jadi anak kecil lebih lama.

 

Ia menatap nasi di mangkuknya. Dingin mulai merayap dari lantai. Tapi di antara rasa hambar yang tak bisa dikalahkan sup manapun, ada sesuatu yang menekan dadanya.

Harus kuat. Aku harus kuat untuk Naari. Untuk Eomma. Untuk semua ini bisa tetap jalan.

“Oppa?” panggil Naari tiba-tiba, membuyarkan lamunan.

Jongdae menoleh. “Hm?”

“Seowon unnie...” Naari menatapnya sambil mengunyah. “Dia nemuin Oppa, nggak hari ini?”

Jongdae membeku. Ujung sumpitnya terhenti di tengah jalan. Ia menatap adiknya dengan sorot heran.

“Seowon? Ryu Seowon?”

Naari mengangguk cepat, mulutnya masih penuh.

“Iya, yang anak Student Council. Senior. Unnie cantik yang suka pakai sepatu warna biru muda. Dia senior kelasku. Waktu itu, sebelum liburan musim dingin, dia nyamperin aku di depan perpustakaan. Kukira nyari Oppa.”

Jongdae semakin fokus, dadanya berdebar tak karuan.

“Terus?” tanyanya lirih.

Naari menyuap satu sendok nasi sebelum menjawab dengan santai, seolah itu hal biasa.

“Terus, ternyata dia ngajakin aku makan di kantin. Kita ngobrol, dia nanya banyak soal Oppa. Tapi... bukan nanya kayak orang penasaran. Lebih kayak orang yang lagi mikir sesuatu.”

            Naari menggigit potongan telur dadar lalu melanjutkan ceritanya. Sambil berbicara, ia sesekali menyuap nasi seperti sedang membaca buku cerita yang ia hafal di luar kepala.

“Waktu itu Seowon unnie nanya, Oppa sibuk ngapain aja sih sekarang?”

Jongdae tak menjawab. Sumpitnya bergerak pelan, tapi sesungguhnya pikirannya sudah jauh—ia menatap Naari sambil berusaha menenangkan sesuatu di dadanya yang berdesir.

Kenapa Seowon menanyakan itu ke Naari? 

Kenapa tidak ke aku langsung? 

Kenapa sekarang, setelah semua... mengambang begini?

Naari meneruskan, suaranya masih ringan.

“Aku bilang Oppa sibuk kerja. Terus aku nanya juga, masa Seowon unnie nggak pernah tanya langsung ke Oppa? Kan kalian satu tingkat.”

Jongdae meneguk air. Tenggorokannya terasa lebih kering daripada sebelumnya. Ia masih menatap Naari, belum ingin berkata apa-apa. Ia tahu Naari belum selesai.

 

Beberapa minggu lalu — akhir musim gugur.

 

            Kantin sekolah dipenuhi riuh rendah suara murid. Sinar matahari sore jatuh miring dari jendela besar, memantulkan kilau hangat pada meja-meja panjang.

Ryu Seowon melangkah tenang ke dalam ruangan itu. Rambut hitamnya yang setengah dikuncir membuatnya tampak dewasa dan lembut di saat yang bersamaan. Beberapa adik kelas laki-laki yang sedang makan terdiam, memperhatikan langkahnya dengan pandangan terkesima. Tapi Seowon tak melihat mereka. Pandangannya lurus menuju satu orang—Naari.

Gadis itu duduk sendiri, mengaduk sup dalam nampan makan siangnya.

“Naari,” panggil Seowon sambil tersenyum.

Naari mengangkat kepala, tampak terkejut. “Unnie?”

“Boleh duduk?”

Mata Naari membulat kagum, lalu dengan cepat mengangguk. Seowon menarik kursi dan duduk di hadapannya, senyumnya tak hilang.

“Aku cuma ingin ngobrol sebentar. Tentang Jongdae.”

Naari tampak bingung, tapi menjawab dengan ringan, “Oppa? Kenapa?”

“Dia sibuk, ya?” tanya Seowon, pelan.

Naari mengangguk cepat sambil mulai makan.

“Iya, kerja terus. Kadang aku sebel. Dia pulang malam terus, jarang banget bisa duduk bareng kayak dulu. Nggak sempet bantu Eomma juga…”

Seowon mendengarkan. Sambil sesekali memutar sendok di nampan makannya, matanya tak lepas dari wajah Naari yang bercerita sambil mengunyah.

“Kerja apa dia sekarang?”

Naari menjawab sekenanya, “Macem-macem, Unnie. Kadang jadi barista, kadang bantuin masak ayam, atau ramen. Pokoknya gitu deh. Kadang juga pulangnya lewat jam sepuluh.”

Seowon menggenggam sendoknya lebih erat. Matanya menunduk. Ada yang menghantam hatinya pelan. Ia tahu Jongdae sibuk, tapi mendengarnya seperti ini dari adiknya sendiri terasa lebih menyakitkan.

Wajahnya tetap tenang. Tapi dadanya berat. Ada sesuatu yang mengusiknya—perasaan bersalah, perasaan ditinggalkan, perasaan tak tahu-menahu tentang orang yang sebenarnya begitu dekat dengannya.

“Dia kerja tiap hari?” tanya Seowon pelan.

Naari mengangguk sambil minum air. “Hampir tiap hari. Sejak masuk semester dua. Nggak tahu deh kenapa. Katanya mau nabung buat sekolah.”

Seowon terdiam.

Jongdae… kenapa kamu nggak pernah cerita?

Wajahnya tetap lembut. Tapi hatinya tercabik, seperti benang-benang kusut yang tak bisa ia urai. Ia menatap Naari, lalu akhirnya bertanya:

“Dia kerja di mana aja?”

Naari sempat membuka mulut untuk menjawab, tapi ragu. Ia meletakkan sendok dan menoleh ke arah Seowon.

“Unnie kenapa nggak tanya langsung ke Oppa? Kan kalian satu tingkat.”

Seowon tersenyum kecil. Tipis. Nyaris tak terlihat.

“Karena ini rahasia. Jangan bilang ke Jongdae kalau aku nanya, ya.”

 

Naari menghentikan suapannya. Wajahnya berubah. Matanya membesar, menyadari sesuatu.

“Ya ampun,” bisiknya. “Harusnya aku nggak cerita soal ini ke Oppa…”

Jongdae akhirnya membuka mulutnya, suaranya rendah tapi tetap tenang.

“Kau bilang di mana saja aku kerja?”

Naari menunduk, tampak bingung. “Nggak… aku nggak sebut nama tempatnya. Cuma bilang kerja macem-macem aja.”

Jongdae menatap adiknya. Rasa getir merayap dari dadanya, tapi ia tak ingin memperlihatkannya. Ia menunduk, menyuap nasi terakhir di mangkuknya, lalu menghela napas perlahan.

Seowon… kenapa semua ini harus kau tanyakan pada Naari?

 

Langit Jeonsa sudah menggantungkan malam yang pekat. Cahaya lampu jalanan masuk samar dari sela gorden jendela apartemen yang tipis, menyentuh dinding kamar Jongdae yang sempit dan penuh jejak hidup yang tumbuh dalam diam.

Jongdae duduk di pinggir ranjang, masih mengenakan seragamnya, hanya jaket yang sudah ia tanggalkan dan gantung di belakang pintu. Tangannya menggenggam ponsel, namun layar yang menyala tak benar-benar ia lihat. Jari-jarinya diam. Tatapannya kosong.

Suara Naari di meja makan masih tersisa di telinganya—tentang Seowon, tentang pekerjaan, tentang lelah yang tak pernah ia ucapkan.

Ia bersandar ke dinding, mendongak. Langit-langit kamarnya tampak buram. Bukan karena cahaya, tapi karena matanya yang terasa berat.

Seowon...

Kenapa semua pertanyaanmu tidak pernah kau tanyakan padaku? 

Kenapa kau harus mencarinya lewat Naari?

Ada sesuatu yang hangat, namun membingungkan. Ada kerinduan yang seperti menuntut penjelasan, namun tak ingin dijawab. Dan di balik semuanya, ada rasa yang terlalu rumit untuk diberi nama.

Apakah kau juga ragu padaku, seperti aku meragukan diriku sendiri?

Pintu kamar diketuk perlahan.

Jongdae menoleh, cepat berdiri dan berjalan membuka.

Naari berdiri di ambang pintu dengan piyama bergambar beruang kecil. Matanya tampak bengkak. Ia memeluk boneka tua yang sejak kecil selalu menemaninya tidur. Wajahnya sedih, tapi tidak menangis.

“Oppa… boleh aku masuk?”

Jongdae mengangguk. Ia menepi dan membiarkan adiknya duduk di ujung ranjang. Ia ikut duduk, tapi tidak terlalu dekat. Ia hanya menatap Naari diam-diam.

Dalam sorot lampu meja belajar yang hangat dan sedikit redup, Jongdae memperhatikan adiknya yang tak lagi sekecil dulu. Naari tumbuh, dan ia baru menyadarinya malam ini. Wajahnya masih polos, tapi ada kedewasaan kecil yang tak bisa diabaikan.

Naari menunduk, lalu membuka suara pelan.

“Maaf ya, Oppa. Aku cerita soal Seowon unnie…”

Jongdae tidak menyahut. Ia hanya menatap adiknya, menunggu kata-kata berikutnya.

“Aku nggak bermaksud bikin Oppa sedih… atau bikin Oppa kelihatan kayak kakak yang nggak punya waktu buat Eomma dan aku. Aku tahu Oppa cuma berusaha gantiin Appa…”

Suaranya tercekat, namun ia lanjut.

“Tapi aku juga sedih, Oppa. Soalnya… Oppa terlalu keras kerja. Oppa jarang tidur… pulang selalu malam…”

Hening sejenak. Jongdae menunduk. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang menusuk, lebih dari apapun yang ia dengar hari ini.

“Aku pernah lihat Eomma nangis pas nyuci seragam Oppa. Waktu itu aku tanya, kenapa nangis? Terus Eomma bilang… Eomma ngerasa gagal jadi ibu. Katanya harusnya Oppa sekolah kayak anak lain, bukannya kerja sampai malam tiap hari.”

Naari mengusap matanya cepat, lalu menatap Jongdae.

“Waktu denger itu, aku juga nangis. Aku tahu… bukan kemauan Oppa. Aku tahu ini semua karena keadaan. Tapi… Oppa juga manusia kan?”

Jongdae masih tak bisa menjawab. Dadanya sesak. Ia tahu semua ini benar. Tapi mendengarnya dari Naari seperti mendengar kenyataan yang selama ini ia kubur di bawah debu harapan.

Kamar itu kembali diliputi keheningan. Hanya suara kipas angin kecil di sudut ruangan yang terus berputar pelan.

Naari menatap lantai, lalu bicara lagi.

“Uang tabungan Appa bisa bantu sampai kita lulus, tapi itu bukan buat bayar listrik atau sewa apartemen. Itu cuma cukup buat biaya sekolah. Eomma juga nggak selalu dapat uang. Tapi kita masih beruntung karena pelanggan-pelanggan Eomma masih suka pesen baju. Mereka itu temen-temen Appa dulu waktu kerja. Juga tetangga-tetangga kita…”

Naari menarik napas, seolah menyiapkan diri untuk bagian paling berat.

“Beberapa minggu lalu, ada orang tua dari tempat kerja Oppa yang datang ke rumah. Namanya Pak Doha. Dia ngasih uang ke Eomma. Katanya itu buat Oppa. Eomma sampai nangis, Oppa… Dia bingung, kenapa Oppa dikasih uang kayak gitu.”

Jongdae menegang. Ia ingat Pak Doha. Tapi ia tak tahu Pak Doha akan pergi sejauh itu.

“Pak Doha bilang… itu hasil jerih payah Oppa. Katanya Oppa lagi diuji, dan uang itu buat bayar semua kesulitan yang udah Oppa lewatin. Dia bilang Oppa orang baik.”

Jongdae memejamkan mata sebentar. Ada yang bergolak dalam dirinya—antara rasa bersalah dan haru. Ia merasa kecil. Terlalu kecil untuk segala pengorbanan yang harus ia jalani. Terlalu kecil untuk segala pujian yang bahkan tak ia inginkan.

Naari memandang kakaknya, matanya kembali berkaca-kaca.

“Aku nggak mau Oppa terlalu keras, cuma supaya kita bisa hidup. Aku nggak mau Oppa kehilangan waktu. Aku…”

Suaranya terputus. Ia menunduk, lalu menghambur ke pelukan Jongdae.

Jongdae refleks memeluknya. Hangat tubuh kecil itu masuk ke dalam dadanya, seperti membawa semua kenangan tentang Appa, tentang sore-sore yang hilang, tentang keluarga yang tak pernah utuh lagi.

Naari menangis. Untuk pertama kalinya sejak Appa meninggal, ia menangis sekeras itu. Isaknya pecah, tubuhnya bergetar dalam pelukan Jongdae daan Jongdae? Ia menggenggam punggung adiknya, memeluk erat dan tak bisa menghentikan air matanya. Tanpa suara, tanpa isak. Tapi air mata itu jatuh juga, mengalir perlahan melewati pipinya yang dingin.

Ia sadar satu hal:

Naari tak lagi kecil.

Dan ia sendiri… belum pernah memberi ruang bagi kesedihannya sendiri.

 

Pagi tiba dengan suara samar pemanas ruangan yang menyala lambat, seolah bangkit dari tidur panjangnya. Jongdae membuka matanya perlahan, cahaya matahari musim gugur menyelinap dari balik tirai, menyentuh pipinya yang dingin dan membuat ujung jari-jari kakinya terasa seperti beku. Ia terjaga, bukan karena alarm, tetapi karena semalam terlalu berat untuk membiarkan mimpi datang.

Ia duduk di ujung ranjang, merenggangkan tubuh yang pegal, lalu menatap sudut kamar. Naari sudah kembali ke kamarnya, dan suasana pagi terasa lebih lengang dari biasanya. Tapi tidak kosong. Ada sisa-sisa kehangatan dari semalam yang masih bertahan di udara.

Langkahnya ringan menuju dapur. Di kulkas, selembar kertas kecil menempel dengan magnet berbentuk donat. Tulisan tangan Eomma rapi dan bulat:

"Eomma ke pasar bareng Ibu Soojin. Masak ayam kecap sore nanti. Jangan lupa sarapan, Nak."

Ia tersenyum tipis, membuka kulkas dan mengambil susu kotak yang tinggal separuh. Saat menutup kulkas, terdengar suara pintu kamar terbuka. Naari berjalan pelan sambil mengucek mata, rambutnya berantakan dan masih mengenakan piyama tebal bergambar panda.

Jongdae menyeringai, meneguk susu sambil berkata, “Kamu bangun dari hibernasi, Naari-ya? Kukira panda beneran.”

Naari mendengus, “Oppa jahat,” lalu duduk di meja makan dengan mulut cemberut.

“Kalau gitu jangan peluk aku sambil nangis semalam,” balas Jongdae sambil pura-pura memeluk bantal, membuat ekspresi dramatis. “Naari-yaaa… oppa sayang kamu, jangan pergi...”

Naari melempar tisu ke arahnya sambil tertawa kecil. Tawa yang seperti pelangi tipis di pagi bersalju.

“Oppa belum mandi, ya?” tanya Naari dengan ekspresi geli.

“Belum. Tapi baunya masih kaya cinta,” jawab Jongdae tanpa malu. “Mau cium?”

“JANGAN DEKAT-DEKAT!” seru Naari sambil mundur panik, membuat keduanya tertawa.

 

Mereka sarapan seadanya—roti sisa semalam yang dipanggang ulang dan selai stroberi yang terlalu manis. Jongdae menatap adiknya diam-diam di sela-sela canda. Ada perasaan lembut yang menyelinap dari dadanya, seperti kain hangat yang menutup luka. Dunia mereka sempit, tapi tawa mereka pagi ini terasa luas seperti langit tanpa awan.

Setelah bersiap, mereka turun bersama dari apartemen. Udara pagi menggigit, tapi salju tipis yang turun membuat kota terlihat seperti dunia miniatur. Jongdae dan Naari berjalan beriringan sampai di persimpangan jalan kecil dekat sekolah.

“Aku ke kanan,” kata Naari ceria. “Oppa jangan telat.”

“Kalau telat, aku tinggal jadi es batu di depan kelas,” jawab Jongdae sambil pura-pura membeku. Naari tertawa lagi, lalu melambaikan tangan sebelum berlari kecil ke arah gedung kelasnya yang terletak di sisi berbeda.

Jongdae berdiri sebentar, menatap langkah adiknya menjauh, sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju kelas. Namun, ketika ia melewati pohon sakura tua yang kini tinggal ranting, langkahnya melambat.

Ada seseorang berdiri di sana.

Rambutnya setengah dikuncir, jaket panjang berwarna krem membalut seragam sekolahnya yang rapi, dan sepatu hitamnya menjejak tanah yang mendingin tanpa meninggalkan suara. Ryu Seowon. Gadis itu berdiri diam di bawah pohon sakura yang tertidur dalam senyap, dan Jongdae merasa seperti sedang berjalan dalam mimpi.

Ia tidak tahu harus menghampiri atau menunggu. Tapi waktu di antara mereka tidak berlari—hanya diam, menggantung seperti embusan napas di udara musim gugur.

Seowon tidak berkata apa-apa. Tapi tatapannya menyentuh Jongdae seperti angin yang menampar pipi, tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa pagi ini bukan pagi yang biasa. Mereka berdiri dalam jarak yang bisa dijangkau oleh satu langkah. Namun, ada dunia yang tak terlihat memisahkan mereka—seperti dua bayangan di dimensi berbeda yang tak saling bersentuhan dan seperti semua hal yang tidak selesai, Jongdae hanya bisa berdiri, menatap, dan diam.

 

RYU SEOWON

            Langit pagi ini abu-abu pucat, seperti lembaran surat yang tak pernah dikirimkan. Ryu Seowon berdiri di bawah pohon sakura yang menggugurkan diamnya pada musim gugur. Ranting-rantingnya kosong, seperti dirinya.

Ia sudah berdiri di sana beberapa menit, mungkin lebih. Tak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu dan memastikan bahwa langkah itu bukan salah arah. Bahwa dirinya memang ingin berdiri di sini. Bahwa apa pun yang ia rasakan, meski samar, tetap nyata.

Udara pagi merayap masuk dari sela-sela rambutnya yang dikuncir setengah dan menutup sebagian di lehernya. Jaket panjangnya tak cukup menahan gemetar halus di dadanya. Bukan karena dingin. Tapi karena ia tahu Jongdae akan datang lewat jalan itu.

Dan ketika langkah kaki itu terdengar, samar dan perlahan, Seowon tidak perlu menoleh. Ia tahu. Getaran pelan di dadanya berkata lebih awal.

Ia menoleh.

Geum Jongdae berjalan dalam balutan seragam sekolah, wajahnya pucat oleh musim dan waktu. Wajah itu sudah lama Seowon hafal, bahkan ketika mata mereka jarang bertemu. Di antara mereka terbentang ruang yang aneh—bukan asing, tapi seperti dua orang yang pernah dekat dan kini terlalu banyak yang belum dikatakan.

Mata mereka saling menangkap, bukan dalam tatapan tajam, tetapi seperti sepasang gelas bening yang hanya bisa mencerminkan kerapuhan masing-masing.

Seowon tidak berkata apa-apa. Ia tidak datang untuk mengucapkan sesuatu.

Ia datang untuk memastikan bahwa perasaan yang tumbuh diam-diam tidak menguap dalam musim. Bahwa seseorang yang pernah menggenggam hatinya tidak benar-benar menghilang di balik tumpukan jam kerja, tanggung jawab, dan rasa bersalah.

Angin dingin menyibakkan ujung rambutnya yang dikuncir setengah, membuat pipinya memerah samar. Tapi Seowon tetap berdiri, tenang, seolah ia bagian dari lukisan pagi itu.

 

“Kau kelelahan, Geum Jongdae. 

Tapi aku belum selesai mencarimu.”

 

Namun kata-kata itu hanya tinggal di kepalanya, tak melintasi bibir. Ia tahu, Jongdae tak membutuhkan kalimat saat ini. Ia hanya perlu tahu bahwa ada seseorang yang berdiri di tengah musim gugur, masih menunggunya dengan hati yang belum sepenuhnya pulih, tapi belum juga menyerah dan ketika Jongdae berhenti beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Seowon tidak melangkah maju. Ia hanya menatap. Tenang. Dalam. Seperti laut yang tidak memperlihatkan badai di bawah permukaannya.

Tak ada dialog di antara mereka pagi itu. Hanya dua jiwa muda yang berdiri di antara jarak dan salju, dalam keheningan yang menyimpan begitu banyak hal yang belum sempat dibicarakan.

Langkah kaki mereka sempat terhenti.

Saling tatap, dua pasang mata yang pernah saling mengenal dalam diam. Jongdae merasa seperti sedang berdiri di batas mimpi yang nyaris terlewatkan. Di hadapannya, Ryu Seowon—dengan rambut setengah dikuncir, wajah pucat tersapu angin pagi, dan ketenangan yang Jongdae hapal tapi tak pernah bisa ia pecahkan.

Ada sesuatu dalam dirinya yang mendesak, yang mengetuk keras dari dalam dadanya. Bukan hanya keinginan untuk bicara, tapi hasrat untuk mengulurkan tangan dan memastikan bahwa Seowon nyata. Bahwa semua yang mereka lewati dulu bukan ilusi yang ia reka sendiri.

Jarak mereka dekat. Sedekat itu.

Namun tidak dalam hitungan jengkal.

Dekat yang membungkam. Dekat yang menyakitkan.

Tapi dunia selalu punya cara untuk membuyarkan momen yang terlalu intim bagi waktu sekolah. 

Suara langkah tergesa, gelak tawa berisik anak-anak kelas sepuluh, dan gerombolan siswa SMA menyerbu lorong masuk dengan semangat pagi yang tak tahu apa-apa tentang hati yang remuk. Dan dalam satu detik yang terlalu cepat, Seowon hilang dari pandangannya. Seperti asap. Seperti bayang.

Jongdae memutar kepala. Tidak ada. Hanya jejak langkah ringan yang tidak sempat ia kejar.

Ia menelan napas yang tercekat, lalu memaksa dirinya berjalan. Menuju Jeonsa. Menuju ruang kelas yang masih sama setiap pagi, namun kini terasa lebih jauh dari dirinya sendiri.

Tapi takdir suka bermain dalam sela waktu yang ringkih.

Di pintu masuk gedung kelasnya, sesosok tubuh yang hangat dan harum vanila menantinya. Jo Anna berdiri di sana, rambutnya dikepang dua seperti biasa, tetapi hari ini ia tersenyum lebih dulu.

“Maaf ya, aku belum sempat ke Dalbit...” ucapnya, lembut.

Jongdae tertegun. Ujung bibirnya terangkat pelan. “Tidak apa. Masih banyak waktu, kan?”

Tapi benarkah masih banyak waktu?

Waktu untuk apa? Untuk melihat Anna duduk di kursi kafe, menyeruput cokelat panas yang selalu ia pesan?

Waktu untuk saling menatap dan bicara soal lagu, buku, atau bahkan masa depan?
Waktu untuk mengurai perasaan yang tak sempat tumbuh karena Jongdae terlalu sibuk menanam harapan di ladang orang lain?

Waktu itu seperti kantong celana yang bolong—selalu ada, tapi isinya tak pernah cukup.

 

Jongdae melirik Anna lagi. Gadis itu menatapnya seperti seseorang yang benar-benar hadir. Dan ketika ia menyadari bahwa Anna tidak berbalik menuju kelasnya, tapi tetap berjalan bersisian dengannya, hatinya menjadi kacau.

Bingung. Senang.

Bingung karena ini tidak seperti biasanya.

Senang karena... ia masih remaja yang bisa merasa begitu.

Mereka menaiki tangga bersama. Langkah pelan, saling mendekat, lalu—

“Oi, pagi cerah hari ini, ya?”

Kinam muncul dengan gaya khasnya, menyapa dari balik tiang lorong seolah sengaja memilih waktu paling dramatis.

Jongdae refleks melirik Anna, lalu menatap Kinam, “Jangan, tolong... jangan mulai pagi-pagi begini.”

Tapi tentu saja Kinam tak peduli.

“Wah, ini kenapa ya dua anak ini jalannya berdempetan begini? Jangan-jangan, Anna-ssi yang bikin Jongdae akhir-akhir ini keliatan lebih hidup?” Nada suaranya menyenggol manja, setengah menggoda, setengah menyerang.

Anna hanya tersenyum, menunduk sedikit. Pipinya memerah.
Jongdae terkekeh risih. “Serius, Kinam, kau bisa diam nggak lima menit aja?”

“Tentu bisa,” jawab Kinam, “tapi itu akan merusak reputasiku sebagai pengamat romansa lintas kelas.”

“Romansa apanya!” Jongdae menjitak bahu Kinam pelan, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum kikuknya.

Langkah mereka bertiga jadi ganjil—lurus, ceria, aneh, tapi hangat seperti baju yang baru diangkat dari pangkuan pengering.

Anna melirik Jongdae sekali lagi sebelum berpisah di tangga lantai dua. Tidak ada janji yang diucapkan, tapi pagi itu terasa seperti jabat tangan yang tidak terlihat—mereka saling memberi ruang tanpa tahu akan kembali atau tidak.

Namun dari kejauhan, seseorang melihat.

Ryu Seowon berdiri di sisi berlawanan halaman, tubuhnya tenang seperti batu di bawah salju. Ia menyaksikan ketiganya berjalan, mendengar tawa kecil Kinam, melihat senyum kikuk Jongdae, dan tangkapan pandangan Anna yang tertahan.

Ada sejumput nyeri menari pelan di dasar hatinya.

Dingin yang bukan dari musim.

Tapi dari luka yang berulang, kecil, tapi akrab.

Luka yang ia pilih untuk tidak dihentikan.

Seowon menunduk sebentar, seperti menelan sisa harapan. Lalu ia melangkah masuk ke sekolah, membiarkan dunia berjalan tanpa tahu bahwa ia pun pernah mencoba menunggu di bawah pohon yang sama.

 

 

Setengah hari itu terasa cerah. Langit Jeonsa memantulkan sinar matahari dengan malu-malu di sela awan pucat, dan meski musim dingin belum mereda, udara seperti ikut lunak bersama tawa para siswa. Jam istirahat datang seperti biasa: gaduh, hidup, penuh suara sepatu yang berlari, tawa yang meledak-ledak, dan aroma kertas yang bertemu nasi kotak.

Di kelas 11-4, suara kursi diseret, kotak makan dibuka, dan musik dari speaker ponsel mengalun pelan di pojok ruangan, bersaing dengan suara tawar-menawar siapa yang akan beli tteokbokki duluan. Kinam, seperti biasa, berjalan dari meja ke meja, menyapa semua orang yang ia kenal dan pura-pura kenal.

"Yah, Jongdae!" serunya, mendekati bangku sahabatnya yang berada dekat jendela. "Ayo ke kantin. Aku dengar hari ini ada odeng spesial.”

Jongdae mengangkat kepala dari buku pelajaran yang masih terbuka, menatap Kinam dengan senyum tipis yang hampir selalu ia pakai sejak pagi. "Odeng spesial? Kau yakin itu bukan strategi marketing ibu kantin saja?"

“Tentu saja strategi,” sahut Kinam cepat. “Tapi aku tetap mau coba. Ayo, sebelum anak-anak kelas sepuluh menghabiskannya duluan.”

Namun belum lima menit mereka keluar dari barisan bangku, langkah Kinam terhenti. Ujung matanya menangkap bayangan cepat di balik pintu kelas mereka. Seperti seseorang yang sedang mengintip lalu buru-buru bersembunyi. Jongdae tidak memperhatikan, masih asyik menyampul bukunya dan berdiri santai. Tapi Kinam menatap pintu lebih lama, lalu menyenggol lengan Jongdae.

“Aku nggak jadi ke kantin,” ucapnya tiba-tiba.

Jongdae mengerutkan kening. “Kenapa?”

Kinam tersenyum tipis, lalu menyibakkan rambutnya yang tak berantakan. “Berubah pikiran. Aku mau ajak Jangmi saja.” Ia berjalan menjauh sambil melambaikan tangan. “Jangan kangen.”

Jongdae menggeleng pelan. Tapi sebelum Kinam benar-benar pergi, ia kembali mendekat dan mencondongkan tubuh ke arah telinga Jongdae. “Ada seseorang yang nunggu.”

Jongdae tertegun. “Siapa?”

Kinam tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat dengan dagunya ke arah luar kelas, lalu pergi seperti tak pernah mengatakan apa pun. Jongdae menoleh. Tak ada siapa-siapa.

Tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

Aneh. Ia berharap... berharap itu Seowon. Ia bahkan tidak tahu kenapa. Ada sesuatu yang masih tertinggal dalam sorot mata gadis itu tadi pagi, sesuatu yang terasa seperti pintu yang belum sempat ia buka. Maka, Jongdae dengan cepat merapikan buku-bukunya, memasukkannya ke dalam tas, dan melangkah ke luar kelas dengan langkah tergesa.

Tapi harapan punya selera humor yang aneh.

Di sisi kiri kelas, berdiri seseorang yang tubuhnya kecil dan nyaris tak terlihat kalau tidak diperhatikan. Jo Anna. Gadis itu berdiri di dekat tiang, bersisian dengan jendela, dengan kedua tangan menggenggam ujung roknya, kepala sedikit tertunduk, dan sorot matanya gelisah.

Hati Jongdae mencelos. Bukan karena kecewa, bukan pula karena tidak ingin melihat Anna. Tapi karena ia masih berharap yang lain dan di antara Anna dan harapan itu, ia merasa seperti orang yang berjalan di dua jembatan: satu yang aman, satu yang rapuh.

Tapi Jongdae bukan pengecut. Ia menghela napas dan tersenyum lembut.

"Anna?"

Gadis itu mengangkat wajah pelan. Matanya gugup, tetapi bibirnya mencoba tersenyum.

“Ada... perlu apa?” tanya Jongdae, suaranya tenang, seolah mencoba menjaga udara di sekitar mereka tetap hangat. “Kenapa nunggu di depan kelas?”

Anna tidak langsung menjawab. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tak ada kata yang keluar, hanya kebingungan yang memancar dari matanya.

Jongdae mengerti. Ia menoleh ke arah koridor yang ramai. "Mau ke kantin bareng? Aku lapar, tapi ditinggal Kinam."

Anna mengangguk kecil. Seperti anak kucing yang takut hujan, tapi tetap mengikuti tuannya.

Mereka berjalan berdampingan, pelan. Tidak berbicara. Hanya langkah-langkah kecil yang memantul di lantai koridor sekolah, terpantul samar di kaca jendela yang mereka lewati.

Dari kejauhan, seseorang berdiri diam.

Ryu Seowon.

Gadis itu membawa sebotol susu pisang yang baru saja ia beli dari mesin otomatis. Tapi tangannya tidak bergerak, matanya tidak berkedip. Ia berdiri mematung, seperti patung di tengah pameran yang tak diundang.

Jongdae dan Anna lewat, hanya berjarak belasan meter darinya.

Seowon menatap mereka seperti menatap dunia lain. Dunia yang pernah ia miliki, tapi kini berjalan menjauh. Ia tidak marah. Tidak cemburu. Tapi ada rasa nyeri yang sunyi, seperti kertas tipis yang sobek pelan-pelan di dalam dadanya. Ia bahkan tidak tahu kapan rasa itu mulai tinggal di sana dan di tangannya, susu pisang yang tidak pernah ia minum... ikut diam bersamanya.

Kantin Jeonsa High School selalu ramai saat istirahat siang. Suasana di dalamnya seperti sebuah orkestra yang tak pernah kehabisan nada—bunyi baki yang bertabrakan, senda gurau dari pojok meja, aroma kimbap dan sup rumput laut yang menguar dari dapur kecil di sudut, dan suara kaki-kaki siswa yang berdesakan mencari tempat duduk.

Deretan menu hari ini tertulis miring di papan tulis kecil di depan dapur:
Bulgogi, jajangmyeon, omurice, sup tahu pedas, dan tteokbokki.

Ada tambahan spesial musim dingin: odeng hangat dan susumil jagung yang selalu jadi rebutan. Di rak minuman, susu rasa stroberi dan pisang nyaris ludes sebelum bel kedua berbunyi.

Jongdae melangkah seperti biasa, tenang dan tahu apa yang ia mau. Anna mengikutinya dari belakang, lebih tepatnya mengekori—seperti bayangan yang tak tahu harus berjarak seberapa dekat. Saat Jongdae mengambil seporsi bulgogi dengan nasi dan sup tahu, Anna hanya memilih sepotong kecil odeng dan setengah porsi nasi, plus minuman barley yang nyaris tak terdengar saat ditaruh di baki.

Kontras sekali. Piring Jongdae nyaris tak ada ruang kosong. Piring Anna seperti belum selesai diisi.

Mereka memilih duduk di meja panjang di dekat jendela yang sepi, hanya berisi mereka berdua. Meja itu menghadap taman belakang yang sebagian tanahnya tertutup daun-daun kering yang berserak. Cahaya matahari musim gugur menyelinap dari kaca, jatuh ke tangan Jongdae yang sedang menyendok sup.

Awalnya, tak ada pembicaraan. Hanya suara sendok dan sumpit yang bersinggungan, dan suara kantin yang terus ramai seperti latar hidup yang tak peduli. Anna duduk dengan anggun, makan kecil-kecil, bahkan nyaris tanpa suara. Jongdae duduk seperti biasa—sedikit membungkuk, makan dengan lahap, sesekali mengunyah terlalu cepat karena lapar yang datang dari pagi.

Beberapa menit berlalu, sampai akhirnya Jongdae bersuara,

"Aku malu sendiri lihat piringku segini... Kayak porsi kuli pelabuhan.”

Suaranya ceplas-ceplos dan jujur, membuat Anna yang sedang mengunyah odeng menunduk menahan senyum.

Ia tertawa pelan, nyaris seperti helai kain yang bergetar tertiup angin.
"Tak apa, itu... sehat," gumamnya, wajahnya merah muda.

Jongdae mengangkat bahu, lalu melanjutkan makannya. Tapi senyumnya tak hilang.
Seperti hangat kecil yang tiba-tiba tinggal di tengah musim dingin.

Saat ia selesai mengunyah sepotong bulgogi terakhir, Anna menatapnya.
“Jongdae,” katanya pelan.

“Hari ini kamu akan ke Dalbit?”

Jongdae mengangguk. Ia sedang mencomot sayur bayam dengan sumpit. 

“Iya. Seperti biasa. Kenapa?”

Pertanyaan itu menggelantung, tidak dijawab. Jongdae tidak mendesak. Ia kembali makan. Hening melingkupi mereka, tapi bukan hening yang canggung—melainkan hening yang diisi banyak hal yang tak sempat dikatakan. Sampai akhirnya Anna membuka suara lagi.
“Sebenarnya…” katanya, suaranya seperti bisikan yang malu-malu keluar dari jendela hati.
“Kalau hari ini aku ikut... ke Dalbit... bagaimana?”

Jongdae langsung menoleh.

Mungkin terlalu cepat.

Sumpit di tangannya nyaris terjatuh.

Ia menatap Anna dengan mata membulat, lalu—tanpa aba-aba—tersedak sendiri oleh bulgogi yang belum benar-benar turun. Ia buru-buru meraih minuman barley dan meneguknya sambil batuk pelan.

Anna yang panik mengulurkan tisu, matanya membesar, suaranya bergetar,
“Maaf! Aku—nggak bermaksud bikin kamu tersedak…”

Jongdae mengangkat tangannya sambil menelan air terakhir.

“Bukan, bukan... aku cuma—kaget,” ujarnya sambil mengatur napas. “Kamu... serius?”

Anna mengangguk, pelan sekali. Tangan kecilnya menggenggam gelas dengan dua tangan.
“Aku cuma... ingin tahu tempat itu. Dan... melihat bagaimana kamu saat bekerja.”

Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Jongdae, itu seperti denting bel kecil yang membuat dadanya gaduh.

Ia menunduk sebentar, menyembunyikan senyum yang tumbuh tanpa izin. Hatinya seperti dilempar ke tempat matahari bersembunyi.

Dan di tengah riuhnya rasa itu—datanglah badai kecil bernama Kinam.

“WOAAH! Apa aku baru lihat kencan pertama kalian?!” Suara itu terdengar nyaring dari jarak lima meter.

Jongdae mendongak, pasrah. “Astaga…”

Kinam mendekat sambil menggenggam dua cup odeng dan menaruh satu dengan gaya dramatis di depan Jongdae.

“Ini... simbol restuku.”

“Kinam, serius… Jangan—”

“TIDAK BISA! Dunia harus tahu bahwa ini adalah sejarah. Jo Anna, sang bunga sekolah, dan Geum Jongdae, tukang cuci piring tercepat di Jeonsa, duduk bersama!”

Anna menutup wajahnya dengan telapak tangan, tertawa gugup.

Jongdae mencubit lengannya sendiri. “Aku mohon… jangan bikin ini lebih dramatis dari drama akhir pekan.”

Tapi Kinam sudah berdiri tegak dengan tangan membentuk huruf ‘V’ di belakang mereka.

“Lihat! Mereka malu! Itu artinya cinta sedang bersemi!”

Suara tawa terdengar dari meja sekitar. Beberapa teman satu kelas melirik ke arah mereka sambil menahan senyum. Anna menunduk, wajahnya seperti kelopak mawar yang baru dicium embun. Jongdae, di sisi lain, hanya tertawa kaku dan ingin menghilang dari bumi selama lima menit.

Namun di antara gelak tawa dan godaan itu, tak ada yang sadar ada sepasang mata yang menyaksikan semuanya dari kejauhan.

Ryu Seowon.

Ia berdiri di luar kantin, separuh tubuhnya tersembunyi di balik dinding. Di tangannya, susu pisang yang sama masih belum tersentuh. Telinganya menangkap tiap celetukan Kinam, tiap senyum gugup Anna, tiap detik keheningan yang kemudian pecah oleh canda.

Ia tidak tahu harus merasa apa.

Cemburu bukan kata yang tepat. Marah juga bukan. Tapi ada perasaan yang seperti... remuk kecil yang tak bersuara. Seperti gelas yang retak dari dalam. Tak terlihat, tapi terasa kalau disentuh.

Seowon menarik napas dalam. Ia tidak menangis. Tidak akan.

Hanya... diam, dan membiarkan rasa itu lewat seperti angin musim gugur yang menyusup di sela jendela kelas yang terbuka.

 

Jalanan menuju halte di sore hari itu seperti halaman terbuka dari buku yang penuh warna senja. Cahaya matahari mulai merunduk pelan, jatuh di trotoar kota Jeonsa yang dipenuhi jejak kaki siswa pulang sekolah. Di sisi kanan, terdapat toko roti mungil bernama Milky Cloud, aromanya menguar sampai ke tepi jalan. Di jendela kacanya tergantung pita merah muda dan papan kecil bertuliskan cheesecake hari ini tinggal dua potong.

Di sebelahnya, ada toko serba ada yang menjual kebutuhan sehari-hari—permen, tisu, baterai, payung lipat, dan pulpen dengan gantungan boneka. Beberapa anak berseragam berdiri di depannya, berebut memilih minuman dingin.

Satu toko lagi menjual alat musik bekas. Etalasenya memajang gitar akustik dengan senar yang sudah mulai berkarat dan pianika yang warnanya pudar. Di depan pintu, tergantung lonceng kecil yang berdenting saat angin menyentuh.

Mereka melewati semua itu tanpa banyak kata. Jongdae berjalan sedikit di depan, sesekali menoleh ke belakang memastikan Anna masih mengikutinya.

“Naik bus saja, ya?” tanyanya, suaranya pelan tapi cukup terdengar di antara deru angin yang turun perlahan.

Anna mengangguk. Maka mereka menunggu di halte kecil bercat putih, dindingnya penuh coretan siswa yang bosan dan jatuh cinta. Satu kalimat tertulis besar: ‘Waktu paling manis adalah waktu yang tidak disadari telah berlalu bersama seseorang.’

Bus datang dengan suara desah mesin yang berat. Mereka naik. Anna duduk di kursi dekat jendela, sementara Jongdae memilih berdiri di sampingnya, tangannya menggenggam tiang penyangga.

Dulu, pertemuan pertama mereka terjadi di dalam bus juga. Sama-sama berdiri, sama-sama tenggelam dalam dunia masing-masing. Tapi hari ini berbeda. Ada ruang kecil antara mereka, cukup untuk satu pengakuan yang tak pernah diucapkan. Jongdae berdiri bukan karena tak ada tempat duduk, tapi karena ia ingin berdiri. Ingin menjaga, tanpa diminta.

Anna menatap keluar jendela, membiarkan bayangan gedung, toko, dan langit yang memudar lewat seperti film bisu. Sementara Jongdae memandangi ujung rambutnya yang tenang, pikirannya sibuk membongkar tumpukan rasa yang belum selesai ia urai.

Bus berhenti di halte dua lampu dari pertigaan. Dari sana, Dalbit hanya berjarak seratus meter. Suara kota terdengar samar—klakson dari kejauhan, langkah kaki pejalan, suara anak kecil tertawa. Di ujung jalan itu, apartemen tua tempat Jongdae tinggal terlihat berdiri diam, menua dalam keheningan yang anggun.

Saat mereka turun, Jongdae menghela napas, lalu pelan-pelan berkata, 

“Maaf soal Kinam... dan tadi di kantin. Aku... nggak maksud bikin malu.”

Anna meliriknya, tersenyum tipis dengan pipi merah muda.

“Tidak apa-apa,” ucapnya. “Aku tahu... Kinam tidak berniat buruk.”

Hening lagi, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti jeda dari semesta yang memberi ruang agar dua hati bisa bernapas berdampingan.

Angin mulai menusuk, dan Jongdae menarik resleting jaketnya lebih rapat. Anna menggenggam bagian bawah lengan seragamnya, tidak kedinginan—hanya sedikit gugup.

“Jadi... kamu kerja di Dalbit hari apa saja?” tanyanya.

“Senin, Selasa, Rabu,” jawab Jongdae sambil menendang kerikil kecil di trotoar. “Kalau Rabu cuma dua jam, karena sebelumnya ada Taekwondo.”

Anna mengangguk. Langkah mereka bersisian, tapi tidak pernah bersentuhan. Seperti orbit dua bintang kecil yang nyaris saling singgung.

Lalu, di bawah bayangan lampu jalan yang mulai menyala redup, Anna bertanya, 

“Kenapa kamu bekerja sekeras itu, Jongdae?”

Pertanyaan itu menggantung. Jongdae tidak langsung menjawab.

Ia menatap ke arah ujung jalan di mana Dalbit berdiri seperti rumah yang selalu menunggunya kembali. 

Butuh beberapa detik bagi Jongdae untuk mengatur kata-kata.

“Aku... bekerja keras,” katanya, suaranya pelan, “karena aku ingin keluargaku tetap hidup. Tetap bertahan... di dunia yang nggak selalu ramah.”

Suara Jongdae terdengar sederhana. Tapi ada luka di balik tenangnya. Luka yang tidak berdarah, tapi tetap terasa.

Anna menatapnya dalam diam. Di wajah pemuda itu, ia melihat seseorang yang sedang tumbuh—bukan hanya sebagai remaja, tapi sebagai pelindung bagi sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Jongdae melirik ke arahnya dan berseloroh, 

“Aku mungkin nggak seperti anak-anak Jeonsa yang lain… yang bisa main sepuasnya.”

Anna diam. Tapi sorot matanya bicara. Ia mendengar lebih banyak dari yang Jongdae katakan.

“Kapan kamu punya waktu belajar?” tanyanya lembut.

Jongdae mengerutkan dahi, berpikir sebentar. Lalu tersenyum—lesung pipinya mencuat, menyalakan kehangatan yang sederhana.

“Kadang belajar, kadang nggak,” jawabnya. “Tergantung badanku... capek atau nggak.”

Anna tertawa kecil. Tapi tawanya tidak mengambang di permukaan.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar.

Ia menatap Jongdae dengan hati yang mulai berbicara sendiri dan kali ini, bukan pikirannya yang bising—tapi hatinya, yang mulai menyusun puisi tanpa kata.

 

Begitu pintu kaca Dalbit bergemerincing, aroma roasted hazelnut dan kayu manis segera menyapa hidung, seperti ucapan selamat datang yang selalu sama hangatnya meski tak bersuara.
Café itu tidak terlalu ramai hari ini. Hanya sepasang mahasiswa yang duduk di dekat jendela dengan laptop terbuka dan seorang pria paruh baya yang tertidur dengan tangan masih menggenggam buku puisi. Suasana tenang, nyaris seperti latar dari film indie sore hari.

“Jongdae!” seruan familiar itu datang dari balik konter kasir.
Anak dari pemilik Café Dalbit, pria berambut keriting perak,dan kacamata bulat kebesaran, melambaikan tangan seperti anak kecil yang baru saja melihat idola kartunnya. Ia mengenakan apron bermotif bintang dengan tulisan “Let Coffee Save the World.”

Jongdae menyambut dengan senyum dan menoleh ke Anna. “Kamu bisa pilih tempat duduk yang kamu suka,” katanya, menunjuk ke deretan meja kayu yang dipoles licin. “Nanti aku nyusul.”

Anna mengangguk pelan. Matanya berkeliling, memilih sudut dekat rak buku kecil dan lampu gantung temaram. Di sanalah ia duduk, menunggu dengan kedua tangan di pangkuan.

Sementara itu, Jongdae segera masuk ke ruang staff di balik pintu kecil bertanda Staff Only, mengganti seragam sekolah dengan apron hitam khas Dalbit yang sudah beberapa kali dicuci hingga talinya mulai melar. Ia merapikan rambutnya di cermin kecil, menarik napas pendek, lalu kembali ke dunia kerjanya—ke sisi lain kehidupannya yang tidak banyak orang tahu.

Di balik konter, Seungjo tengah sibuk dengan mesin espresso, gerakannya jauh lebih luwes dari sebelumnya. Tangannya terampil menggiling kopi, memutar tamper, dan menyeka portafilter dengan gerakan nyaris dramatis.

Jongdae mengangkat alis, setengah terkesan. “Sejak kapan kamu jadi secepat ini?”

Seungjo mendengus. “Sejak aku hampir kehilangan nyawa gara-gara dilempar kain pel oleh si komandan Yuri.”

Jongdae tertawa. Tapi tawanya belum sempat reda, ia sadar ada yang kurang—suasana terasa berbeda. Hening yang tidak biasanya. Yuri tidak ada.

“Yuri?”

Seolah tahu apa yang akan ditanyakan, pemilik Dalbit menjawab sambil menyeka tangan dengan lap, “Ah, dia telepon setengah jam sebelum shift, katanya akan telat. Dan Tuhan tahu, aku bersyukur kamu datang, Jongdae! Barusan hampir saja aku lempar gelas ke pelanggan karena dia butuh sepuluh menit hanya untuk memilih antara caramel macchiato dan kopi hitam biasa. Sepuluh menit! Untuk memutuskan dua hal yang secara esensial adalah manis dan pahit!”

Jongdae tertawa lebih keras kali ini. Ia mengangguk, lalu berkata, “Kalau begitu aku jaga konter, ya.”

Si pemilik Dalbit mengangkat dua jempol sebelum menghilang ke belakang, membawa serta energinya yang teatrikal.

Begitu pria itu menghilang, Jongdae bersandar sebentar ke meja, merenggangkan bahunya. Tapi Seungjo belum selesai. Ia memanggil pelan, nyaris seperti konspirasi.

“Jongdae,” katanya, dengan nada penuh rahasia dan mata yang menyipit seperti detektif murahan. “Gadis itu datang lagi.”

Jongdae menoleh cepat. “Siapa?”

“Yang bawa susu pisang,” bisik Seungjo, nadanya menurun seolah sedang mengungkap misteri internasional. Ia menunjuk ke arah etalase pastry dengan dagu—cara khasnya menunjukkan hal penting tanpa membuatnya terlalu penting dan di sana, berdiri anggun dalam sunyi, sebotol susu pisang segar. Tapi tidak ada catatan tempel di badannya seperti yang lalu. Tidak ada coretan tangan. Tidak ada petunjuk. Hanya botol itu. Diam, manis, dan penuh tanda tanya.

“Dia datang nggak lama sebelum kamu,” lanjut Seungjo. “Nggak pesan apa-apa. Cuma naruh itu, terus pergi. Kayak mata-mata, tapi lebih... cute.”

Jongdae terdiam. Pikirannya langsung meluncur ke sosok yang hanya bisa hadir lewat bayang. Gadis itu—satu-satunya yang tahu soal susu pisang kesukaannya.

Lamunannya belum sempat membentuk simpulan ketika Seungjo menyikut pelan lengan Jongdae dan berbisik lagi, “Eh, tapi ngomong-ngomong, yang di meja itu… siapa? Jangan-jangan dia?”

“Siapa?” tanya Jongdae pelan, meski tahu arah omongan itu.

“Gadis di meja buku itu... yang kamu bawa ke mari. Jangan-jangan dia si pengagum rahasiamu? Wah, Jongdae... kamu punya dua dunia ya?”

Jongdae hanya menghela napas pelan, tidak menjawab. Bukan karena malas menjelaskan, tapi karena memang ia pun tak tahu harus menjawab apa. Saat ini segalanya terasa seperti benang kusut. Lalu lintas antara perasaan, ingatan, dan kemungkinan.

Tapi sebelum ia sempat merespons dengan apapun, suara lembut memanggil dari arah kasir. “Jongdae?”

Jo Anna berdiri di sana, tubuhnya kecil, suaranya ringan. Seungjo langsung sigap, melangkah menghampiri dengan gaya bartender profesional yang baru dilatih satu bulan.

Jongdae masih menatap botol susu pisang itu. Matanya terpaku, seperti menunggu sesuatu yang tidak akan muncul dan di tengah keheningan itu, mata Jongdae dan jendela Dalbit memantulkan sosoknya sendiri yang berdiri di antara dua nama, dua rahasia, dan satu ruang hening bernama rasa.

 

Langit di luar jendela Dalbit mulai berubah warna—biru senja berbaur jingga, perlahan turun seperti tirai kain tipis yang melambatkan waktu. Di dalam café, aroma cokelat pekat dan kayu manis menyatu, menghangatkan ruangan dengan cara yang tak bisa dijelaskan selain oleh perasaan. Dengan langkah ringan, Anna kembali ke mejanya setelah memesan—satu cokelat panas dan sebongkah pastry lapis krim yang tampak rapuh namun elegan. Jemarinya menyentuh permukaan meja dengan hati-hati, seolah takut mengusik keheningan yang indah.

Sementara itu, Seungjo mendekat ke sisi Jongdae yang mulai bekerja dalam diam. Tangannya sibuk, tetapi matanya tenang. Dan seperti biasa, Seungjo tidak bisa menahan diri untuk berbisik.

“Dia manis sekali,” gumamnya sambil menyikut lengan Jongdae perlahan. “Beda. Beda dari yang biasanya aku lihat nongkrong di sini, atau di mana pun.”

Jongdae hanya menanggapi dengan senyum tipis. Tak ada sangkalan, tak ada penegasan. Hanya gurat tipis di bibirnya yang sulit dibaca—apakah itu tawa malu, atau rasa yang belum sanggup diungkap.

Di tengah gerak pelan tangan Jongdae yang tengah menuang susu ke dalam cokelat cair, pintu Dalbit berdering kembali. Angin dingin ikut masuk bersamaan dengan sosok yang seperti dikejar waktu.

Yuri.

Ia masuk tergopoh-gopoh, jaketnya setengah terbuka, topi baret miring nyaris jatuh dari pucuk kepalanya, dan napasnya pendek-pendek seperti baru kabur dari pengejaran. Tanpa menoleh atau menyapa, ia langsung menembus ruang staff, meninggalkan jejak kekacauan pada langkahnya.

Seungjo dan Jongdae saling menatap—pertanyaan yang sama tergantung di mata mereka, tak seorang pun mengucapkan. Namun waktu tak memberi ruang untuk mencari jawaban. Pesanan Anna selesai, dan Jongdae dengan lembut berkata, “Biar aku saja yang antar. Lagi sepi, kan?”

Seungjo mengangguk, lalu kembali ke konternya. Jongdae menyajikan nampan dengan satu tangan—cokelat panas dalam cangkir putih bergagang emas, dihiasi busa susu tipis yang di atasnya dilukis pola daun kecil dari bubuk kayu manis dan lelehan cokelat yang diaduk perlahan. Di sampingnya, pastry hangat yang menguarkan aroma mentega dan sedikit sentuhan lemon.

Jongdae duduk di hadapan Anna, senyumnya sedikit canggung, tapi hangat. Ia mencoba terdengar biasa, ceria, tidak menunjukkan bahwa jantungnya berdebar seperti drum yang kehilangan irama.

“Cokelat hangat buatan sendiri. Khusus hari ini,” katanya ringan.

Anna menatap cangkir itu sejenak, lalu bibirnya melengkung, matanya bersinar.

“Kelihatan... terlalu cantik untuk diminum,” ujarnya pelan, lalu tersenyum, malu.

Ia menyeruputnya perlahan. Uap hangat menyentuh hidung dan bibirnya. Rasa manisnya lembut, tidak menohok. Ada pahit halus di ujung lidah yang tertahan sebentar sebelum mencair—seperti kata-kata yang sempat ingin diucapkan namun ditahan. Cokelat itu seperti perasaan: tidak terlalu jujur, tapi juga tidak pura-pura.

“Enak sekali,” katanya. Kali ini suaranya terdengar lebih ringan. “Kamu belajar di mana bikin beginian?”

Jongdae terkekeh. “Belajar sendiri. Gagal dulu berkali-kali. Sampai Seungjo pernah muntah.”

Tawa mereka pecah ringan. Bukan tawa yang gaduh, melainkan yang menenangkan, seperti bantal di sore hujan. Di meja itu, tawa mereka menjadi musik kecil yang menari-nari di ruang Dalbit yang lengang.

Dari konter kasir, Seungjo memperhatikan diam-diam. Tangannya menopang dagu, matanya setengah tak percaya. Ini Jongdae yang sama—yang biasanya cuek, pelit bicara, selalu pulang lebih cepat dari jadwal, sekarang duduk sambil tersenyum, bercanda, dan mengobrol panjang. Untuk pertama kalinya, Seungjo melihat Jongdae seperti musim semi: pelan, tenang, dan menyimpan kehangatan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama.

Langkah berat terdengar dari belakang. Seungjo menoleh, dan Yuri kembali muncul dari ruang staff. Kali ini bukan dengan terburu-buru, melainkan pelan dan senyap. Kepalanya sedikit tertunduk, matanya... sembab. Tidak menangis, tapi jelas ada bekas air mata yang belum lama kering. Topinya kini dilepas, dijinjing di tangan.

Ia berjalan tanpa suara, memasuki konter bar dan berdiri di sisi berlawanan dari Seungjo yang hanya bisa menatap, bingung harus berkata apa.

Jongdae tidak menyadari kedatangan Yuri. Ia masih tertawa kecil bersama Anna, di sudut café yang tampak jauh meski hanya beberapa meter. Suara mereka samar, pecahan kehangatan di ruang yang kini mulai berubah suhu dan Seungjo berdiri di antara dua poros: satu tawa yang baru tumbuh, dan satu diam yang menyimpan luka.

 

Sore itu menyusut perlahan, seperti sisa hangat teh yang tak lagi mengepul. Jongdae masih duduk menemani Anna di sudut Dalbit, membiarkan waktu berjalan tenang seperti arus sungai yang sudah hafal alirannya. Mereka mengemas senja dalam percakapan kecil—tentang jenis-jenis cokelat, tentang kursus barista senior yang sempat ingin diambil Jongdae namun tak pernah jadi, dan tentang kenangan-kenangan samar yang mengikatkan mereka pada bus, bangku sekolah, dan rasa yang belum punya nama.

Anna menyuapkan potongan terakhir pastrynya perlahan, dan sebelum cangkirnya kosong, ponsel baru berwarna pastel di tangannya menyala. Ia mengangguk kecil, menjauhkan layar dari wajahnya, lalu berkata pelan, “Kakakku sudah di dekat sini.”

Jongdae menoleh sekilas pada ponsel itu, lalu pada Anna, dan di dalam batinnya mengendap rasa asing—seperti jeda yang tak bisa dijembatani. Ia menyadari perbedaan yang selama ini tak pernah ia pikirkan dalam-dalam. Ponsel itu, pakaian hangat Anna yang tampak baru, bahasa sopan santunnya yang rapi... semua seperti menyuarakan sesuatu yang tak bisa ia sangkal: dunia mereka tak sepenuhnya serupa.

Tapi Jongdae cepat-cepat mengusir pikiran itu. Ia menunduk, menyembunyikan sesuatu yang tak ingin ia perdebatkan bahkan dengan dirinya sendiri. “Mau kutemani sampai kakakmu datang?” tanyanya, ringan.

Anna mengangguk, malu-malu. Mereka kembali bercakap, kali ini lebih pelan, seolah tahu bahwa hari itu akan segera tutup dan mereka ingin memeluk detik-detik terakhirnya.

Namun tidak semua hati hangat di sore yang sama.

Di balik konter, Yuri berdiri nyaris membeku. Tangannya gemetar pelan saat hendak menggapai botol sirup vanila, tapi tak berhasil. Ia menunduk, sedalam-dalamnya, seperti menyembunyikan seluruh kesedihan dalam tubuh mungilnya. Bahunya naik turun, bukan karena kelelahan, melainkan karena menangis yang ditahan terlalu lama—mungkin sejak semalam, mungkin lebih jauh dari itu.

Seungjo melihatnya dari sisi lain konter. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya mendekat perlahan. Tangannya ragu sebelum akhirnya merangkul Yuri dari samping. Gerakannya kaku dan canggung, namun tulus.

Biasanya, Yuri akan menepisnya mentah-mentah, mungkin dengan pukulan atau tatapan tajam. Tapi kali ini tidak. Gadis itu diam saja, membiarkan bahunya disentuh, seperti butuh sesuatu untuk tetap berdiri.

Seungjo membisikkan sesuatu yang pelan, “Kalau mau, kamu bisa istirahat dulu. Aku dan Jongdae bisa jaga.”

Yuri tetap bergeming. Matanya menatap lantai, rambut pirangnya yang dicepol asal-asalan jatuh sedikit menutupi pipi. Ia tidak menjawab, tapi Seungjo tahu—ia mendengar.

Beberapa menit kemudian, dari balik jendela besar Dalbit, sebuah mobil hitam mengilap melambat dan berhenti rapi di depan café. Bentuknya elegan dan bersih, seperti milik seseorang yang selalu memperhatikan detail: sedan Jerman dengan lampu depan sipit dan bodi ramping, berlapis cat matte yang tampak mahal meski tidak mencolok.

Anna berbicara singkat lewat ponsel, lalu bangkit dan menatap Jongdae dengan mata bening. “Aku pulang dulu, ya.”

Jongdae ikut berdiri. Ia membungkuk kecil, lalu melambaikan tangan. Anna membalas lambaian itu dengan senyum ringan, lalu menyapa Seungjo sopan. Seungjo menjawab dengan acungan tangan malas tapi ramah, seperti biasa.

Begitu pintu Dalbit menutup dan mobil itu perlahan menjauh dari parkiran, Jongdae langsung membereskan meja tempat Anna duduk. Hanya ada piring kecil dengan remah pastry, serbet kertas yang dilipat rapi, dan bekas kehangatan yang menggantung di udara.

Ia membawa piring dan cangkir ke bak cuci. Di sana, di antara denting piring dan suara air, Jongdae mengembuskan napas panjang. Setengah hatinya terasa tenang. Hari ini... tidak seberat yang ia kira.

Namun ketika ia membalikkan badan hendak kembali ke konter, matanya menangkap Seungjo dan Yuri. Seungjo berdiri di samping Yuri yang masih menunduk, diam. Jongdae hendak bicara, tapi Seungjo hanya memberi isyarat halus dengan tangan: biarkan saja dulu.

Pukul tujuh malam tiba seperti pintu yang terbuka lebar-lebar. Dalbit tak lagi sunyi. Pelanggan datang satu per satu, lalu berdua, lalu bergerombol. Suara pintu terbuka dan tertutup bersahut-sahutan. Ada anak SMA yang datang sambil masih mengenakan jaket sekolah, pasangan muda yang memesan minuman lalu sibuk memotret dengan kamera ponsel, dan seorang pria paruh baya yang duduk sendiri sambil membaca novel tebal.

Lagu-lagu lama mulai mengalun dari speaker—“Something in the Rain” oleh Rachael Yamagata mengisi udara, disusul dengan “Coffee” dari BTS yang mengambang lembut seperti uap dari cangkir-cangkir yang mulai berbaris di meja bar.

Aroma espresso yang baru digiling, kayu basah karena uap pemanas ruangan, dan manisnya sirup karamel membentuk simfoni harum yang memenuhi udara.

Jongdae sedikit kewalahan. Antrean mengular. Tangan dan pikirannya dipaksa selaras—satu untuk memompa espresso, satu lagi untuk mencatat pesanan. Tapi ia terbiasa. Ia tahu ritmenya, tahu kapan harus menyalakan mesin uap, kapan harus mengisi senyum, dan kapan harus menahan letih.

Di sela riuhnya, Seungjo membungkuk ke arah Yuri. Suaranya nyaris tak terdengar.

“Dalbit butuh kamu.”

Yuri diam. Tangannya di bawah konter mengepal pelan, kemudian longgar kembali. Ia menarik napas dalam-dalam, seperti hendak menyelam ke dalam air dingin. Dunia sedang tidak berpihak padanya malam ini—tapi dunia tidak akan menunggu.

Beberapa detik kemudian, Yuri berjalan menuju ruang staff. Air dingin membilas wajahnya cepat, menyapu bekas tangis yang belum lama reda. Ia melihat bayangannya di cermin kecil di atas wastafel, lalu menunduk, menghapus sisa air di pipi.

Ketika ia kembali ke konter bar, tak ada senyum, tak ada sapa. Tapi tangannya cekatan, suaranya pelan, dan langkahnya tegas. Yuri bekerja seperti biasa—hanya saja lebih sunyi. Seperti seseorang yang sedang berjuang untuk tidak patah, meski hatinya masih retak di dalam.

 

Hari Rabu terasa lebih tenang dari biasanya. Matahari sore menggantung rendah di balik awan tipis, memancarkan cahaya kekuningan yang malas. Dalbit, yang biasanya disambut dengan tawa atau suara pelanggan yang lalu-lalang, sore itu seperti mengantuk lebih awal.

Pukul 15.45, Jongdae datang lebih awal dari jadwal. Tak ada latihan Taekwondo hari ini—latihan hanya diperuntukkan bagi mereka yang akan bertanding di turnamen mendatang, dan Jongdae tidak termasuk.

Saat ia membuka pintu Dalbit, aroma kopi menyambut seperti biasa, tetapi ruangannya terasa berbeda. Sunyi, namun bukan sunyi yang damai. Seperti sesuatu sedang ditahan di udara. Hanya ada Seungjo di balik konter. Ia membungkuk singkat menyapa tanpa senyum. Jongdae membalas dan segera bersiap seperti biasa, mengganti seragam dan mencuci tangan, menyibukkan diri dengan hal-hal kecil yang sudah seperti naluri.

Tapi langkahnya terhenti sejenak saat melihat Seungjo. Ada sesuatu yang hilang dari cara pemuda itu bergerak. Seungjo yang biasanya cerewet dan suka bersiul sambil membuat kopi, kini bekerja dalam diam. Tentu, ia tetap meracik dengan presisi, tetap menjawab jika ditanya, tapi semuanya terasa… seperlunya.

"Yuri?" tanya Jongdae saat menyusun botol-botol sirup.

“Gak masuk,” jawab Seungjo pelan tanpa menoleh. “Pemilik café yang kasih info. Aku ambil shift panjang, gantiin dia.”

Tidak ada tawa seperti biasanya. Tidak ada lelucon tentang susu pisang atau senyum sarkastik Seungjo yang khas. Hanya bunyi mesin espresso dan sendok yang beradu dengan gelas.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, pelanggan masih berdatangan, meski tidak sebanyak hari-hari biasanya. Seolah Dalbit ikut menyesuaikan napasnya dengan emosi dua barista di dalamnya.

Jongdae diam cukup lama, tetapi akhirnya membuka suara, setengah hati.

“Seungjo…”

“Aku gak bawa susu pisang,” sela Seungjo cepat, tanpa menatap.

Jongdae menggeleng. “Bukan itu. Aku—”

Tapi sebelum kalimat itu selesai, pintu belakang terbuka.

Langkah kaki tergesa masuk ke dalam ruangan. Seorang pria paruh baya dengan jas tipis dan wajah kusut muncul di antara mereka. Namanya Pak Noh Daeseok, ana pemilik Dalbit, pria ramah yang biasanya datang hanya untuk mengecek stok, memantau keuangan, atau sekadar mencicipi latte baru. Tapi kali ini wajahnya tidak membawa senyum. Matanya sembab, jalannya terburu-buru, dan jaketnya sedikit terbuka seperti dikenakan tergesa.

Jongdae dan Seungjo menoleh bersamaan.

“Pak Noh?” Seungjo yang pertama bicara.

Pak Noh tidak langsung menjawab. Ia berdiri di balik konter, matanya berpindah-pindah antara dua baristanya, napasnya cepat tapi tak terlalu keras. Tangannya menggenggam ponsel yang layar depannya penuh notifikasi tak terbaca.

“Ada apa, Pak?” tanya Jongdae hati-hati.

Pak Noh membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Sejenak ia seperti berjuang menemukan kata-kata.

“Ada yang… harus Bapak sampaikan,” ujarnya akhirnya, suaranya rendah dan serak. “Ini tentang… Han Yuri.”

Dalbit seketika seperti membeku. Bahkan suara grinder kopi di belakang mereka mendadak terasa terlalu keras.

Jongdae dan Seungjo saling tatap. Bingung, tapi juga takut.

Pak Noh mengusap wajahnya, lalu menatap mereka penuh keraguan dan ketakpastian.

“Sejak pagi, Bapak coba hubungi Yuri. Biasanya, dia cepat balas. Bahkan kalau dia sibuk sekalipun. Tapi hari ini... tidak ada satu pun balasan.”

Jongdae membuka mulut hendak bicara, tapi Seungjo mendahuluinya, nada suaranya sedikit lebih tegas.

“Sudah ditelepon, Pak?”

“Sudah,” jawab Pak Noh cepat. “Belasan kali.”

Seungjo mengerutkan alis. “Apa ponselnya aktif?”

“Aktif... tapi tidak dijawab. Tidak dibaca juga pesannya.” Pak Noh menarik napas panjang dan gemetar. “Itu bukan Yuri yang biasa Bapak kenal.”

Sesaat tak ada yang bicara. Dalbit seakan menahan napasnya sendiri.

Kemudian Pak Noh mengusap wajahnya, suaranya lebih lirih dari tadi. “Semalam... sebelum kalian semua pulang, Bapak sempat lihat Yuri di belakang, dekat bak sampah. Lampu-lampu belakang sudah redup. Tapi Bapak bisa lihat… dia sedang menangis.”

Jongdae memejamkan matanya perlahan.

“Dia duduk, menggulung lengan bajunya sampai ke atas,” lanjut Pak Noh, kini nadanya pelan tapi berat. “Bapak sempat lihat… ada bekas-bekas yang gak biasa. Luka. Bukan luka kerja. Tapi… seperti…”

Ia tak melanjutkan. Kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.

“Yuri tahu Bapak melihatnya,” tambahnya pelan. “Dia langsung masuk lagi. Cepat sekali. Seolah tak ingin siapa pun tahu.”

Kali ini, Seungjo tidak sanggup menyembunyikan kekhawatirannya. Ia menunduk, kedua tangannya mengepal di bawah meja.

Dalbit terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal mesinnya masih menyala, lampunya masih hidup, dan lagu jazz lembut masih mengisi ruang.

Tapi semuanya sunyi.

Malam itu, Dalbit ditutup lebih awal dari biasanya.

Pak Noh berdiri cukup lama di dekat kasir sebelum akhirnya mengumumkan keputusannya. Langit yang mulai mendung terasa menekan langit-langit Dalbit, seperti ikut mendesak napas semua orang di dalamnya. Tidak ada protes, tak ada yang mempertanyakan—karena mereka semua tahu, bahwa malam ini, kafe bukan lagi prioritas.

 

Seungjo mengunci pintu dengan gerakan lambat. Suara gesekan kunci menggema lebih dari seharusnya, seolah mengunci kegelisahan mereka di dalam juga. Jongdae berdiri di dekat rak teh, belum bergerak, matanya menatap kosong pada deretan botol kaca yang memantulkan cahaya redup.

“Jongdae.”

Jongdae menoleh cepat ketika Seungjo memanggilnya. Nada suara itu... berbeda. Tidak datar, tidak cuek. Tapi berat dan nyaris patah. Jongdae tahu, Seungjo ingin bicara sesuatu. Maka, ia hanya mengangguk pelan dan menjawab, “Aku dengar.”

Mereka berjalan berdampingan meninggalkan Dalbit.

Kota Jeonsa di malam hari tidak pernah benar-benar tidur, tapi kali ini terasa lebih lambat, seolah ikut berhenti bersama kecemasan mereka. Lampu toko-toko kecil masih menyala, neon kedai ayam bersinar merah jambu di kejauhan. Bus kota melintas dengan suara mendesing pelan, dan gerobak odeng mulai menggulung sisa dagangan.

Udara malam menyentuh kulit seperti kabut tipis yang menyimpan rahasia.

Trotoar sedikit basah karena gerimis yang turun singkat tadi sore. Daun-daun pohon jalanan memantulkan cahaya lampu jalan yang kuning pudar, dan di kejauhan, suara pengeras dari sebuah minimarket memutar lagu balada lawas yang nyaris tak terdengar jelas.

Di tengah suasana itu, Jongdae berjalan tanpa suara, sesekali melirik Seungjo di sampingnya. Pemuda itu menggenggam ponselnya erat-erat, bibirnya rapat, matanya gelisah seperti sedang menghitung detik yang tak pernah cukup.

Akhirnya Jongdae tak tahan.

“Kau tahu sesuatu tentang Yuri, kan?”

Seungjo tak menjawab. Pandangannya menelusuri jalan yang sepi. Jongdae juga ikut diam, menunggu, lalu kembali bertanya, sedikit lebih tegas, “Ada apa saat aku nggak ada? Apa yang aku nggak lihat?”

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua yang bersih. Ada bangku besi di depan taman kecil yang tak terurus, catnya mengelupas, dan lumut mulai tumbuh di kakinya. Di bangku itu, di bawah cahaya lampu jalan yang buram, Seungjo akhirnya berhenti.

Ia berbalik menatap Jongdae.

Ada sesuatu di tatapan itu—takut, bersalah, marah, semua bercampur. Seungjo mengepalkan tangan, lalu membuka lagi. Ia menatap tanah, lalu langit. Tapi tak ada arah yang memberinya jawaban.

“Bicara, Seungjo,” kata Jongdae, kali ini lebih keras. “Kalau kau diam terus, aku akan pergi.”

Ucapan itu seperti menembus dinding kebekuan. Seungjo akhirnya bersuara, pelan, nyaris gemetar.

“Aku... lihat luka di tangannya. Yang kayak Pak Noh lihat.”

Jongdae membeku.

“Luka itu... masih baru,” lanjut Seungjo. “Beberapa ditutup plester. Sisanya... nggak ditutup sama sekali. Seperti... seperti dia nggak peduli orang lihat atau nggak.”

Jongdae menelan ludah. Ingatannya memutar mundur—malam ketika ia dan Yuri bekerja bersama. Tapi ia tak pernah melihat tanda itu. Bahkan tidak satu pun.

“Aku nggak lihat itu waktu bareng dia,” gumam Jongdae pelan.

Seungjo mengangguk pendek, matanya mulai memerah.

“Saat kau cuti... dia baik-baik saja, setidaknya terlihat begitu. Tapi... ada hari-hari di mana dia panik. Benar-benar panik,” Seungjo menunduk. “Katanya... ada pria tua. Dia takut kalau orang itu datang.”

“Siapa?” tanya Jongdae cepat.

“Entahlah. Dia nggak pernah bilang. Tapi dia minta aku antar dia pulang, ke apartemennya. Bahkan... minta aku nginep.”

Jongdae nyaris tak percaya. “Kau tinggal di tempatnya?”

“Di ruang tengah. Dia di kamarnya. Dia... takut, Dae. Suaranya gemetar waktu minta tolong.”

Seungjo menunduk lebih dalam, jari-jarinya bergetar saat menyentuh pinggir jaketnya sendiri.

“Aku coba tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia nggak jawab. Cuma senyum palsu. Keesokan paginya... dia jalan dengan cemas. Selalu lihat ke belakang. Seperti ada yang ngikutin.”

Jongdae mengerutkan dahi, napasnya menahan.

Mungkinkah... pria tua itu menguntit Yuri?

“Minggu-minggu terakhir,” lanjut Seungjo, “Yuri sering nanya tentang apartemen lain. Dia mau pindah. Aku sempat bantu cari. Tapi dia selalu bilang... tempatnya nggak cocok. Terlalu terang, terlalu dekat jalan, atau terlalu banyak jendela. Selalu... alasan yang aneh.”

Cerita itu belum selesai ketika ponsel Seungjo berdering.

Keduanya terdiam.

Seungjo menatap layar ponselnya. Wajahnya berubah drastis—seperti disambar petir.

Jongdae melihat ekspresi itu dan langsung tahu: ini tentang Yuri.

 

Langit sore bergelayut tenang di atas Jeonsa High School, seolah ikut bersyukur karena hari itu jam pulang dipercepat. Jam dinding di ruang kelas 11-4 baru saja berdetak melewati angka dua ketika sebagian besar siswa sudah mulai mengemasi tas mereka. Lorong-lorong sekolah yang biasanya ramai pada pukul empat kini sudah lebih lengang.

Di tengah kelas yang mulai kosong, Geum Jongdae dan Lee Kinam masih tinggal. Mereka kedapatan jadwal piket hari itu—paling akhir dari nama-nama dalam daftar mingguan yang menempel di papan pengumuman. Saat teman-teman lain sudah melangkah pergi, mereka berdua sibuk dengan tugas sederhana: menyapu lantai, merapikan meja, dan mengumpulkan sisa-sisa kertas ulangan.

“Hey, kalian,” suara ringan datang dari ambang pintu. Salah satu anggota Student Council, seorang gadis dengan rambut dikuncir rendah dan clipboard di tangan, melangkah masuk. “Kelas kalian pernah pinjam buku cetak dari ruang Student Council minggu lalu. Bisa dibantu balikin? Banyak banget, berat juga.”

“Bisa,” jawab Kinam cepat, lalu melirik Jongdae. “Bisa, kan?”

Jongdae mengangguk ringan, menyimpan sapunya ke pojok dinding.

Setelah gadis itu pergi, Kinam bersandar pada gagang sapu sambil menatap Jongdae dengan ekspresi jahil. “Ngomong-ngomong, Dae... gimana kencan pertamamu dengan si manis Anna?”

Jongdae mengangkat wajah, lalu menunduk lagi untuk menyapu remah keripik di bawah meja. “Berjalan dengan baik. Aku senang.”

“Tapi kenapa suaranya kayak orang habis kalah main catur?” Kinam menajamkan nada, lalu menyilangkan tangan. “Serius, Dae. Kamu kelihatan... kayak orang habis ditanya ‘kita ini sebenernya apa sih?’ dan gak bisa jawab.”

Jongdae tersenyum tipis. “Nggak seseram itu. Kami cuma ngobrol, minum cokelat, dia juga bilang suka racikanku.”

Kinam mengangguk pelan, lalu pura-pura merenung. “Oke, jadi kamu bikin cokelat, dia suka, kamu senang. Tapi kenapa rasanya kamu bukan cowok yang habis dari kencan, tapi habis dari rapat keluarga?”

Jongdae terkekeh. “Kami memang nggak banyak bicara. Tapi aku suka caranya mendengarkan.”

Kinam memutar bola matanya, lalu kembali menyapu bagian belakang kelas sambil bersenandung kecil. Selama setengah jam berikutnya, mereka berdua bekerja dengan ritme yang tenang. Kinam menggeser bangku-bangku ke tempat semula, Jongdae menyapu dan membuang sampah ke tempat pembuangan di dekat tangga. Jendela terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari sore menyinari lantai ubin yang mulai bersih.

Kelas 11-4 kini sunyi, hanya suara sapu menyisir lantai dan bangku-bangku yang diseret perlahan.

Setelah memastikan semuanya rapi, Kinam mengambil tumpukan buku cetak yang ditinggalkan Student Council tadi. Ia berjuang sedikit dengan beratnya, lalu menyikut lengan Jongdae.

“Temenin, yuk. Masa aku kayak tukang buku keliling sendirian.”

Mereka berjalan bersama menyusuri lorong sekolah yang mulai sepi. Lantai koridor berkilau terkena cahaya senja, memantul di kaca jendela yang berderet rapi.

“Aku nggak ngerti ya, kenapa si Hamin tiap istirahat selalu makan roti sobek isi stroberi. Dia anak laki-laki, tapi rasa-rasanya hidupnya kayak karakter utama princess,” celoteh Kinam sambil menyeimbangkan buku di pelukannya.

“Dia juga pakai pelembab bibir, kan?” Jongdae menimpali.

“Pelembab? Minggu lalu aku lihat dia pakai sheet mask sambil ngerjain tugas seni!” Kinam tertawa geli. “Dan jangan mulai bahas si Eunjae yang nyium-nyium highlighter warna pastel kemarin. Aku beneran takut kalau besok dia bawa spidol wangi durian.”

Jongdae tertawa kecil, dan untuk sejenak suasana menjadi ringan. Tapi saat mereka hampir sampai di ujung lorong tempat ruang Student Council berada, tawa mereka perlahan meredup.

Ruang Student Council biasanya tertutup rapat. Tapi kali ini, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara halaman dibalik dan bunyi kursi yang sedikit bergeser. Jongdae dan Kinam saling pandang. Kinam meletakkan buku-buku di atas bangku terdekat lalu mendorong pintu perlahan.

Di dalam, seseorang duduk sendirian dengan kepala tertunduk, wajahnya sebagian tertutup oleh helaian rambut yang jatuh. Seragamnya rapi, pita di lehernya tidak bergeser sedikit pun.

Geum Jongdae menahan napas.

Itu Ryu Seowon.

Tubuh Jongdae seketika membeku.

Ia berdiri mematung di ambang pintu ruang Student Council, napasnya tersangkut di ujung dada. Di depannya, gadis itu—duduk dalam diam, dengan jari-jari yang meringkuk di atas meja kayu tua. Cahaya matahari sore menyelinap dari kisi jendela, jatuh tepat ke pipinya yang pucat, seolah dunia tahu hanya satu wajah yang perlu diberi sorotan saat ini.

Ryu Seowon.

Jongdae sempat bertanya-tanya apakah dunia sengaja mempermainkannya hari itu. Mengapa harus hari ini? Mengapa harus sekarang, ketika dadanya masih sesak oleh kekhawatiran tentang Yuri, ketika hatinya masih belum selesai berpikir untuk berpaling?

Dan justru saat itu pula, hatinya mengingat betapa ia rindu.

Rindu yang menggigil seperti angin dingin akhir musim gugur yang menyusup dari sela-sela seragam, rindu yang tak sempat dirangkai dalam pesan singkat atau sapaan ringan di koridor sekolah. Rindu yang berpendar lembut namun menyakitkan, seperti cahaya temaram yang menyentuh luka lama.

Bibir Jongdae sempat terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Ia hanya memandangi Seowon dalam diam, menyadari betapa dunia tiba-tiba terasa lambat dan sempit, seolah ruangan itu hanya milik mereka berdua. Ada jarak yang terbentang—bukan sebatas langkah kaki, tetapi rentang waktu, diam, dan kesalahpahaman. Dan di antara jarak itu, mereka berdiri, saling melihat namun tak benar-benar saling menyapa.

Seolah dunia membagi dirinya menjadi dua kutub—Seowon dan Jongdae—dan tak ada yang mampu menjembatani ruang di antaranya.

Suara Kinam memecah keheningan. “Oh, Seowon-ssi! Kamu sendirian?”

Gadis itu menoleh cepat, matanya sempat bertemu dengan Kinam, tapi tak lama kemudian sorot matanya terhenti pada sosok di belakang Kinam. Pada Jongdae.

Sejenak, waktu kembali membeku. Pandangan Seowon seperti membelah Jongdae sampai ke dalam. Wajahnya datar, tapi sorot matanya mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam—keterkejutan, kewaspadaan, dan sisa-sisa perasaan yang belum sempat selesai.

“Wah, kenapa atmosfer-nya mendadak kayak sinetron sore?” seru Kinam tiba-tiba, mengangkat kedua alisnya. Ia menyikut lengan Jongdae, membuat pemuda itu tersentak dan menarik napas pendek.

“A—ah... kita cuma mau balikin buku-buku pinjaman dari kelas,” ujar Kinam ringan, menunjuk tumpukan buku yang dipeluknya. “Lumayan berat, loh. Bisa dibilang ini sumbangan kalori.”

Seowon mengangguk pelan, lalu berdiri. Matanya mengarah pada Jongdae sekilas sebelum akhirnya menunjuk sebuah rak tinggi di sisi kiri ruangan. “Letakkan saja di sana. Di rak sejarah, bawahnya untuk kelas 11.”

Ruang Student Council sore itu tidak ramai—hanya mereka bertiga. Tapi ruangan itu tidak sepi. Ada suara kecil dari kipas langit-langit yang berderit, suara kertas yang tertiup, serta aroma khas ruang Student Council: kombinasi antara kayu tua, lem kertas, dan sedikit harum dari diffuser aroma magnolia yang tergantung di sudut. Beberapa poster jadwal kegiatan terpajang rapi di papan gabus. Foto-foto kegiatan bulan lalu masih menempel, sebagian dicorat-coret dengan spidol warna-warni. Meja utama tampak rapi dengan tumpukan proposal dan folder biru, sementara rak-rak buku di sisi ruangan diisi dengan bahan ajar dan dokumen lama yang dibungkus plastik bening.

Kinam menurunkan buku ke atas meja bundar kecil di tengah ruangan. Jongdae ikut membantu tanpa banyak bicara, sementara Seowon ikut merapikan beberapa buku ke dalam lemari.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Seowon, terburu-buru membawa beberapa buku tinggi, nyaris kehilangan keseimbangan saat berbalik arah. Ia tak melihat Kinam yang bergerak mundur, dan dalam sekejap tubuhnya miring, hampir menabrak.

Refleks Jongdae bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia menangkap lengan Seowon sebelum tubuh itu sempat jatuh.

Buku-buku di tangan Jongdae lebih dulu terlepas dan jatuh ke lantai, suara kerasnya menggema di antara mereka.

Kinam menoleh cepat. “Eh—”

Tapi suara itu tertahan.

Karena yang dilihatnya bukan hanya Seowon yang setengah jatuh. Melainkan Seowon yang kini berada dalam jarak nyaris satu napas dari Jongdae. Tangan Jongdae masih menggenggam lengan Seowon erat. Nafas mereka bertaut, dan untuk sesaat, dunia kembali merapat, menyisakan ruang sempit yang hanya cukup untuk dua orang dengan dada yang sama-sama berdebar.

Tatapan mereka terkunci.

Seowon tidak menarik diri. Jongdae tidak melepaskan.

Ada desir aneh yang melintas di udara, bukan hanya karena kedekatan fisik, tetapi karena kedekatan yang pernah ada—dan belum pernah benar-benar pergi. Seperti gema dalam lorong yang sunyi, perasaan itu kembali, tanpa undangan. Hangat dan menyakitkan sekaligus.

Kinam mengerjap pelan. Entah mengapa, ia juga ikut menahan napas.

Dan dalam keheningan itu, tak ada yang bergerak. Hanya jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kinam berdehem pelan. Ia melangkah mendekat, mencoba mengembalikan irama yang terlanjur kacau. “Ehem. Seru juga ya kalian. Untung cuma aku yang lihat,” katanya, kali ini dengan nada setengah bercanda yang terdengar agak kaku. “Coba kalau Anna yang masuk duluan…”

Tubuh Jongdae menegang.

Seowon menoleh perlahan. “Anna?” tanyanya ringan, nyaris tanpa nada. “Dia akan cemburu, ya?”

Jongdae menahan napas. Bahkan sebelum Kinam menjawab, ia sudah tahu pertanyaannya akan berubah jadi peluru.

Kinam mengangkat sebelah alisnya sambil nyengir. “Yaaa… cemburulah. Kan kemarin mereka baru kencan.”

Seowon tersenyum, tipis saja. Tapi matanya tidak ikut tersenyum.

Jongdae tetap diam. Rasanya jantungnya bukan lagi berdetak, tapi bergemuruh. Penuh suara gaduh yang tidak bisa dijelaskan. Ia ingin mengatakan sesuatu—apa pun—tapi lidahnya seperti terikat oleh simpul yang ia buat sendiri dan di saat seperti itu, diam justru terdengar seperti pengakuan. 

Bagi Jongdae, diamnya adalah pengkhianatan kecil terhadap perasaan yang bahkan belum sempat ia rawat kembali. 

Bagi Seowon, diam itu mungkin adalah jawaban yang selama ini ia hindari.

Ia tidak tahu.

Tapi ia bisa melihat—bahwa Seowon seperti menyembunyikan sesuatu di balik ketenangan itu.

Sesuatu yang pedih namun sudah akrab.

Seperti luka lama yang sudah terlalu sering disentuh.

Ruang Student Council kembali sunyi. Hanya suara kertas yang bergeser dan tumpukan buku yang mereka tata satu per satu ke rak. Langit di luar jendela mulai kehilangan warna. Matahari sore perlahan turun, dan cahaya yang masuk melalui kisi jendela menguning, menyelimuti ruangan dengan kehangatan yang palsu.

Pada tumpukan buku terakhir, tangan Seowon sempat terdiam di punggung buku bersampul biru tua. Ia menatap lembaran itu sejenak sebelum akhirnya berkata, pelan namun tegas,

“Kalian… benar-benar berpacaran?”

Kinam terdiam, matanya mengarah pada Jongdae, menanti jawaban. Tapi yang pertama bicara justru dia sendiri. “Mungkin sebentar lagi,” ujarnya sambil tersenyum, lalu menyikut Jongdae seperti biasa.

Namun kali ini Jongdae tak tertawa.

Ia memotong, suaranya keluar lebih cepat dari pikirannya. “Kami hanya teman.”
Mata Jongdae tidak berpaling. “Aku dan Anna… bukan apa-apa.”

Kinam mengerutkan dahi. “Hah?”

Tapi tak ada yang menjawabnya.

Tatapan mereka terarah pada Seowon yang kini berdiri dengan tenang di depan rak, tak banyak bicara, namun wajahnya seperti menyimpan musim penuh badai. Tidak ada marah, tidak ada tersenyum. Hanya diam yang mengendap, seperti gerimis yang belum jatuh.

Jongdae tak sanggup menatapnya terlalu lama.

Karena Seowon, dalam diamnya, menyuarakan sesuatu yang lebih keras dari kalimat apa pun. Karena bagi Jongdae, perempuan itu adalah satu-satunya orang yang mampu membuatnya ingin jujur bahkan sebelum sempat ia sadar bahwa ia sedang berbohong.

Kinam mengusap belakang lehernya. Merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sempit dan udara menipis. “Kayaknya… aku pamit duluan ya. Ada tugas yang belum kukerjain.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan keluar, langkahnya cepat, seolah ingin menjauh dari sesuatu yang tak ia mengerti tapi tahu akan menyakitkan jika terlalu dekat.

Kini, tinggal Jongdae dan Seowon.

Bersisian dengan rak buku. Dipisahkan oleh satu langkah, dan dinding yang lebih tinggi dari apa pun yang pernah mereka bangun bersama.

Sunyi kembali menyelimuti, tapi tak ada yang bisa benar-benar menenangkan.

Karena pada akhirnya, bukan keheningan yang paling menyakitkan—melainkan apa yang tak pernah sempat diucapkan.

 

Ketika langkah kaki Kinam menjauh dan nyaris tak lagi terdengar, menyisakan Seowon dan Jongdae yang pilu. Mereka bersitatap tapi tak ada satupun yang mengeluarkan kata. Jongdae seolah ditelanjangi Seowon hanya dari tatap matanya, dan itu membuatnya sulit bernapas.Seowon bergerak, ia melangkah untuk merapikan buku dan tasnya. Di belakangnya, Jongdae memberanikan diri membuka suara—bukan dengan kelembutan, tapi dengan desakan getir yang selama ini ia tahan.

"Itu kau 'kan? Susu pisang itu? Semuanya?"

Suara Jongdae lirih, tapi tegas. Ada nada menuntut di balik kalimatnya. Seowon tidak menjawab. Ia terus menunduk, berusaha menjaga ketenangan yang mulai retak dalam dadanya.

"Kenapa harus memberikannya sembunyi-sembunyi? Kenapa tidak langsung saja?"

Masih, Seowon memilih diam. Tapi diamnya bukan ketenangan, melainkan amarah yang disembunyikan—amarah pada dirinya sendiri, atau mungkin pada Jongdae, yang kini berdiri menatapnya dengan luka yang menyala di mata.

"Kau tidak seharusnya melibatkan Naari."

Itu membuat Seowon bergerak. Gerakan kecil, tapi tajam, seolah tubuhnya bereaksi sebelum hatinya bisa menenangkan kembali.

Jongdae berusaha tenang, tetapi sorot matanya menyimpan tekanan. Seowon menoleh perlahan. Senyuman muncul di bibirnya, getir dan tipis, seperti seseorang yang berusaha menerima luka yang ia tahu tak bisa ia hindari. Senyum yang tidak mencoba menyembuhkan, tapi memberi ruang untuk bertahan. Senyum yang tidak menyalahkan siapa pun, hanya mengerti bahwa mungkin cinta seperti mereka memang tidak bisa utuh… tapi bisa terus menunggu.

"Kau meminumnya? Semua susu pisang itu?" tanyanya, lembut tapi penuh perhitungan.

Jongdae tidak menjawab. Tetapi dari rautnya, Seowon tahu jawaban itu tidak perlu diucapkan. Ia menatap mata Jongdae, lama, lalu mengangguk pelan seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

"Mungkin aku terlalu banyak memberimu susu pisang... sampai kau muak."

Itu adalah kalimat yang menampar Jongdae paling dalam—bukan karena maknanya yang lugas, tapi karena kejujurannya yang pahit. Ia tak sanggup menjawab, tak sanggup menyangkal.

Seowon bergerak lagi. Perlahan, ia mengambil tasnya, membereskan sisa barang di meja, lalu berjalan menuju pintu. Meninggalkan Jongdae di dalam sunyi yang memekakkan. Sunyi yang tak Cuma menyakitkan, tapi membuatnya merasa seperti tenggelam dalam ruang tanpa pintu keluar.

 

 

 

Daftar Chapter

Chapter 1: Prolog

173 kata

GRATIS

Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...

7,102 kata

GRATIS

Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...

5,276 kata

GRATIS

Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu

6,005 kata

GRATIS

Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi

6,094 kata

GRATIS

Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...

7,734 kata

GRATIS

Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama

8,481 kata

GRATIS

Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah

11,467 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti

6,238 kata

GRATIS

Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup

5,144 kata

GRATIS

Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu

5,994 kata

10 KOIN

Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan

6,065 kata

10 KOIN

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!