Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama
Setelah hari-hari seperti neraka di Chenchun Dak, Geum Jongdae akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Bukan karena semua masalah telah selesai, melainkan karena beban yang selama ini menggumpal di dada—akhirnya pecah dan mengalir keluar, setidaknya sebagian.
Ia kembali bekerja seperti biasa, mengikuti ritme dapur yang telah ia kenal: suara panci, gemericik air dari wastafel, potongan sayur yang jatuh ke talenan. Tidak ada lagi keributan, tidak ada lagi percakapan yang melukai. Semua terasa jauh lebih tenang.
Namun, di luar dapur, hidup Jongdae tetap penuh bayang. Dalbit, yang dulu seperti bintang kecil di langit malamnya, kini semakin redup—perlahan menghilang dari orbit hidupnya, seolah tak pernah benar-benar ada. Ia tidak lagi mampir ke sana, tidak juga mendengar kabar. Atmosfer tempat itu tak lagi memanggilnya. Hanya kenangan samar yang berputar seperti kabut tipis di pagi hari, menggantung sebentar lalu sirna.
Di sekolah, Jongdae menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Ia masih datang tepat waktu, mencatat dengan rapi, dan mengangguk jika ditanya guru. Tapi sorot matanya lebih kosong dari biasanya, dan langkahnya seolah ragu-ragu, seolah ia tidak benar-benar hadir.
Ia menghindari Jo Anna. Entah kenapa, menatap gadis itu kini terasa seperti menatap musim semi dari balik kaca tebal—cantik, dekat, tapi tak bisa disentuh. Ia juga menjauh dari Ryu Seowon, yang tatapannya selalu terasa terlalu dalam, terlalu jujur, dan terlalu menyakitkan. Jongdae tahu ia belum siap berhadapan, belum siap menjelaskan rasa yang bahkan belum sempat ia namai.
Dengan Kinam pun, ia mulai menjaga jarak. Bukan karena marah, bukan karena kecewa—tapi karena Kinam kini lebih sering terlihat bersama Moon Jangmi, dan Jongdae tidak ingin mengusik keduanya. Ia tahu betul, ada saat-saat dalam hidup ketika seseorang harus belajar berjalan sendirian, dan ini mungkin saatnya.
Jongdae menjalani hari-hari dengan tubuh yang tetap bergerak, tapi hati yang seperti terhenti. Ia tidak tahu perasaan apa yang sedang tumbuh dalam dirinya. Ia tidak tahu bagaimana menyebut semua ini—apakah itu kesepian, kehilangan, atau hanya kelelahan dari semua hal yang belum selesai.
Ia hanya tahu bahwa rasa itu ada.
Diam. Dalam.
Menyesakkan.
Tapi tak bernama.
Langit menggantung kelabu, menumpahkan gerimis perlahan ke tanah yang mulai berbau basah. Di bawah halte tua di depan sekolah, Jongdae berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Jemarinya dingin, tapi bukan udara yang membuatnya membeku. Ia menatap ke seberang jalan, ke satu sosok yang begitu familiar namun tetap terasa jauh: Jo Anna.
Gadis itu berdiri memunggungi jalan, wajahnya sedikit tertunduk, rambut cokelat terang yang digerai rapi tergerai pelan tertiup angin. Ada sesuatu dalam caranya diam—yang tidak sunyi, tetapi juga bukan ajakan bicara. Seperti pintu yang tak benar-benar terkunci, hanya menunggu seseorang menemukan cara membukanya tanpa suara.
Jongdae menarik napas. Jantungnya berdetak tidak kencang, tapi tidak biasa. Ia tahu betul Anna bukan tipe gadis yang menoleh jika dipanggil keras, atau tersenyum hanya karena diberi perhatian. Ia seperti kabut pagi: indah, rapuh, dan bisa lenyap kapan saja jika disentuh terlalu keras.
“Jo Anna,” panggil Jongdae, nyaris tanpa suara, seakan takut suaranya sendiri akan merusak udara di antara mereka.
Gadis itu menoleh perlahan. Wajahnya tenang, matanya teduh namun waspada.
Ada jeda.
Sekian detik yang terasa sangat lama.
Hujan menetes di ujung rambutnya, tapi ia tidak bergerak.
“Ada yang ingin kamu bilang?” tanyanya, suaranya lembut, nyaris serupa angin.
Jongdae mengatupkan bibir, mencoba merangkai kalimat yang sudah lama ia simpan, tapi tak satu pun terasa pantas. Ia ingin berkata banyak: tentang pagi itu di bus, tentang semua hari-hari yang ia habiskan diam-diam memperhatikan Anna dari kejauhan, tentang mengapa ia merasa kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar hadir dalam hidupnya.
Tapi semuanya tumpah menjadi satu kalimat sederhana:
“Aku cuma ingin memastikan kamu nggak kehujanan.”
Anna tidak menjawab, hanya memandangi Jongdae dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan. Bukan marah, bukan senang. Lebih seperti... bingung.
Angin bertiup pelan, menyapu ujung rok seragamnya. Ia menggenggam tali tas di bahunya, lalu berkata pelan,
“Aku nggak masalah dengan hujan.”
Lalu ia berjalan mendahului. Pelan, tanpa tergesa, seperti memberi ruang. Dan tanpa sadar, Jongdae ikut melangkah di belakangnya. Hujan turun sedikit lebih deras. Tidak ada payung. Tidak ada kata lain. Tapi langkah mereka nyaris serupa, dan itu saja sudah cukup membuat dada Jongdae terasa penuh.
Hari itu, Jongdae merasa aneh.
Seperti sedang jatuh cinta pada seseorang yang tidak sedang menunggu siapa pun.
Dan ia tahu, perasaan itu belum punya nama.
Langit sore itu berwarna madu, jingganya menyebar lembut di balik pucuk-pucuk bangunan rendah yang berjajar sepanjang jalan kecil tempat Jongdae dan Kinam melangkah beriringan. Udara terasa ringan, bahkan aspal pun tidak panas meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Sinar keemasannya menyinari rambut Jongdae yang tertiup angin, membuat Kinam sempat berpikir bahwa temannya itu terlihat hidup lagi—bukan sekadar bertahan.
“Aku curiga wali kelas kita itu bukan manusia biasa,” celetuk Kinam, memecah keheningan dengan nada dramatis. “Soalnya cuma dia yang bisa marah lima kali dalam lima menit tanpa kehilangan napas.”
Jongdae terkekeh, menggeleng pelan. “Kalau begitu dia pasti punya empat paru-paru.”
“Empat paru-paru dan satu hati dari baja,” sambung Kinam cepat, nadanya dibuat senyata mungkin seolah sedang membaca berita penting. “Breaking news! Guru paling galak di SMA Jeonsa ternyata cyborg.”
Tawa mereka pecah. Bukan tawa lepas yang meledak-ledak, tapi hangat dan penuh jeda—seperti kenangan yang pelan-pelan kembali dibuka. Langkah mereka menyusuri jalan sempit di antara deretan rumah tua dan pagar besi berkarat. Pohon plum yang belum lama berbunga menjuntai dari balik pagar, menggugurkan kelopaknya tepat di jalan setapak yang mereka lewati. Sore itu, segala hal terasa lembut.
Kinam mencuri pandang ke arah Jongdae. Sorot mata temannya tidak lagi sepekat beberapa minggu lalu. Tatapan yang dulu dipenuhi kantuk dan beban kini perlahan terang, meskipun tidak sepenuhnya jernih.
Diam-diam, Kinam menggenggam rasa lega yang tidak bisa ia ungkapkan. Ia tahu Jongdae menyimpan banyak hal, lebih dari yang bisa dikira. Tapi cukup baginya melihat sahabatnya itu tertawa, berjalan di sampingnya, mendengarkan celetukannya yang tidak lucu.
Di tengah riuh dunia yang rumit, Jongdae yang seperti ini adalah hal langka yang ingin Kinam lindungi. Ia tidak ingin mengaku, tapi Jongdae sudah seperti bagian dari keluarganya sendiri—lebih dari sekadar sahabat. Ia tidak butuh tahu semua luka Jongdae, selama Jongdae tahu ke mana harus pulang ketika letih. Dan ia harap, sahabatnya itu sadar, bahwa tempat pulang itu bisa saja bernama dirinya.
“Hei,” kata Kinam, menoleh sambil berjalan mundur. “Kalau kau punya waktu akhir pekan ini, temani aku beli hadiah buat Jangmi, ya?”
Jongdae mengangkat alis. “Kau yakin aku pilihan terbaik buat bantu urusan romantis?”
“Bukan soal romantis,” jawab Kinam cepat, senyum kecil muncul di wajahnya. “Aku cuma butuh temanku kembali.”
Untuk sesaat, Jongdae tidak menjawab. Tapi dari caranya menatap Kinam—lembut, sedikit kikuk, dan tulus—Kinam tahu, ia mengerti.
Langit semakin menghangat, dan di antara sinar senja serta kelopak yang berguguran, dua anak lelaki itu melanjutkan langkah. Dunia boleh serumit apapun, tapi sore itu terasa sederhana. Seperti persahabatan yang diam-diam menyelamatkan tanpa pernah banyak bertanya.
Langkah mereka berhenti di depan sebuah toko tua yang menempel di sisi bangunan apartemen tiga lantai. Plang toko itu sudah pudar, warnanya memudar keabuan seolah terlalu lama disinari matahari. Di jendela kecil yang dipenuhi embun tipis dari pendingin ruangan dalam, tergantung poster-poster lama yang sudah menguning. Di baliknya, rak-rak kayu sederhana berisi minuman botol dan jajanan kecil tampak tertata seadanya, tapi bersih.
“Masih buka, ya?” tanya Kinam sambil mendorong pintu lipat yang mengeluarkan bunyi berderit.
Toko itu kosong dari pelanggan. Hanya ada seorang ahjumma berambut keriting longgar yang duduk di belakang meja kasir, menonton drama dari ponselnya dengan volume kecil. Ia hanya menoleh sebentar ketika mereka masuk, lalu kembali tenggelam dalam layar kecil di tangannya.
“Ini toko legend,” ujar Kinam pelan. “Dulu aku ke sini tiap habis latihan. Aku beli susu pisang dan roti sobek.”
Jongdae mengangguk, mengambil kaleng minuman soda dingin dari kulkas kaca. Tangannya terasa dingin, tapi segar. Ia merasakan semburat rasa asing di dadanya—bukan sedih, bukan gembira. Mungkin tenang. Mungkin hanya lelah yang akhirnya punya tempat bersandar.
Kinam mengambil dua biskuit cokelat, lalu menyodorkan satu ke Jongdae. “Untuk memperingati kamu yang akhirnya bisa tertawa.”
Jongdae menerima tanpa banyak bicara, lalu membukanya sambil menyandarkan tubuh di rak belakang berisi camilan asin. Senyumnya samar, tapi matanya tampak lebih hidup.
Mereka duduk di bangku plastik kecil di depan toko, menghadap jalan yang perlahan mulai lengang. Cahaya lampu toko menyala kuning temaram, menciptakan bayangan lembut di wajah mereka.
Kinam menggoyang kaleng minumannya, menatap Jongdae sejenak sebelum akhirnya bicara pelan, “Kau tahu… aku sempat takut. Takut kau benar-benar hilang dari kita semua.”
Jongdae tidak menjawab segera. Matanya menerawang ke arah jalan, ke pohon yang tertiup angin ringan, ke langit yang mulai berubah dari emas ke ungu tua.
“Aku juga sempat takut,” ujarnya akhirnya. “Takut aku kehilangan semuanya dan tidak bisa kembali.”
Hening mengalir di antara mereka. Tapi itu bukan hening yang asing—itu hening yang penuh pengertian, yang tidak butuh dijelaskan. Angin membawa aroma debu dan gula dari toko kecil, dan di antara sisa cahaya senja, dua anak laki-laki duduk dalam tenang yang tidak dibuat-buat.
Kinam menepuk pundak Jongdae ringan, tidak berkata apa-apa, hanya memastikan bahwa ia ada di sana. Dan Jongdae, tanpa harus menatap balik, tahu itu.
Dunia masih akan berat, mungkin besok atau lusa. Tapi hari ini—di bangku kecil toko tua, dengan minuman dingin dan biskuit cokelat di tangan—semuanya terasa cukup. Cukup untuk bertahan. Cukup untuk mulai lagi.
Langit sudah kehilangan warna emasnya, menyisakan kelam biru tua yang menggantung berat di atas kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, membentuk jejak cahaya di sepanjang trotoar yang kosong. Jongdae dan Kinam baru saja keluar dari toko, berjalan perlahan sambil mengunyah sisa camilan mereka.
“Aku belok sini, ya,” ujar Kinam sambil menunjuk gang kecil yang menuju ke arah rumah Jangmi. “Jangan terlalu banyak mikir, Jongdae. Dunia nggak selalu minta kamu jadi kuat.”
Jongdae hanya tersenyum samar dan mengangguk. “Hati-hati.”
Lalu mereka berpisah. Jalanan di depan Jongdae kini sepi, hanya bunyi sepatu yang beradu dengan aspal dan gemerisik dedaunan yang bergerak malas di tiupan angin malam.
Ia tidak menyangka akan melihat Jo Anna malam itu.
Gadis itu berdiri sendiri di dekat halte kecil yang berada di seberang jalan. Rambutnya tampak lebih gelap dalam remang cahaya, tetapi tetap terlihat hangat di bawah sinar lampu. Ia mengenakan jaket tipis berwarna krim yang agak kebesaran, memeluk tubuh mungilnya seakan ia sedang melindungi diri dari sesuatu yang tidak terlihat. Ada kantong plastik kecil di tangannya—mungkin baru dari toko juga.
Jongdae berhenti melangkah.
Hatinya berdetak pelan, tapi nyaring. Sama seperti dulu, saat pertama kali melihat gadis itu di bus sekolah. Ada sesuatu tentang Jo Anna yang selalu membuat dunia di sekelilingnya melambat—seolah semua suara dimatikan, kecuali detakan detak jantungnya sendiri.
Jo Anna menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik, tak ada yang bergerak. Bahkan angin pun seperti tertahan.
Kemudian gadis itu menunduk sedikit, memberi salam kecil dengan anggukan kepala. Bukan senyuman, bukan sapaan—tapi cukup untuk membuat Jongdae merasa dadanya terisi lagi dengan perasaan yang tak bisa dinamai.
Jongdae membalas anggukan itu pelan. Kakinya ingin melangkah, ingin mendekat dan bertanya—apa kabar, kenapa sendiri, sudah makan? Tapi langkahnya tertahan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar ragu: kesadaran bahwa Jo Anna selalu seperti kabut pagi, hadir tapi tak pernah bisa digenggam.
Bus datang. Lampu depannya menerangi wajah Jo Anna sejenak, dan dalam cahaya itu, Jongdae melihat sesuatu di mata gadis itu—bukan ketakutan, bukan marah, bukan juga dingin. Tapi waspada. Seolah Jo Anna tahu, bahwa Jongdae adalah seseorang yang bisa membuat dindingnya runtuh.
Dan ia belum siap untuk itu.
Jo Anna naik ke dalam bus. Jongdae tidak mengikuti. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap bus yang perlahan menjauh, membawa serta bayangannya yang belum sempat disentuh.
Langit benar-benar gelap sekarang. Tapi anehnya, Jongdae merasa sedikit hangat di dalam dada. Ia tidak tahu apakah itu perasaan sedih atau bahagia. Ia hanya tahu, rasanya seperti… rasa yang tak bernama.
Esok harinya, segalanya kembali seperti biasa—setidaknya di mata orang-orang.
Jongdae duduk di kelas seperti biasa, mendengarkan penjelasan guru sambil mencatat sekenanya. Pensilnya bergerak pelan di atas kertas, tapi pikirannya berada jauh dari halaman buku. Di sampingnya, Kinam sesekali menyenggol atau melempar komentar konyol, mencoba memancing reaksi yang lebih dari sekadar senyum kecil. Tapi Jongdae hanya terkekeh, tak lebih.
Tidak ada yang menyadari bahwa Jongdae sedang terjebak dalam pikirannya sendiri.
Ia seperti sedang menata kembali ruang-ruang kecil dalam dirinya, mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan sejak malam itu. Tentang tatapan Jo Anna, tentang bayangan gadis itu di bawah lampu halte, tentang rasa yang diam-diam tumbuh dan belum sempat diberi nama. Perasaan itu muncul seperti udara dingin pagi hari—tak kasat mata, tapi terasa.
Dan ia mulai mempertanyakan banyak hal.
Apakah Jo Anna tahu bahwa ia pernah menunggunya di ujung lorong tiap selesai ekskul?
Apakah Jo Anna sadar bahwa ia satu-satunya yang bisa membuat Jongdae menatap tanpa sadar selama menit-menit panjang?
Atau… apakah Jo Anna juga sedang menyimpan rasa yang tak bisa ia ungkapkan?
Jam istirahat, Jongdae berjalan ke atap sekolah, tempat yang belakangan ini jadi pelariannya dari hiruk pikuk dan pertanyaan-pertanyaan Seowon yang tak sempat dijawab.
Angin musim semi membawa aroma bunga yang hampir mekar. Ia berdiri di tepi pagar pembatas, menatap langit yang samar-samar biru. Dalam keheningan itu, ia merasakan detak jantungnya pelan-pelan berubah ritmenya—bukan karena sedih, bukan juga bahagia. Tapi karena ada sesuatu yang kembali mengusiknya. Sesuatu yang membuatnya ingin tahu, ingin mencoba sekali lagi.
Dan diam-diam, Jongdae menantikan pertemuan berikutnya.
Bukan untuk menyatakan perasaan.
Bukan juga untuk mendapat jawaban.
Melainkan hanya untuk tahu… apakah rasa ini sungguh nyata?
Karena untuk pertama kalinya sejak lama, Jongdae tidak tahu ke mana perasaannya akan pergi. Ia hanya tahu, langkah kecilnya menuju hari esok… tak lagi tanpa tujuan.
Di hari Rabu yang biasa, Jongdae mulai memperhatikan lagi hal-hal kecil yang pernah ia abaikan.
Seusai kelas olahraga, dengan rambut masih lembap oleh keringat, ia berdiri di dekat rak sepatu. Matanya menangkap sosok mungil yang berjalan melewati lorong dengan langkah pelan. Jo Anna. Rambut sebahunya tergerai rapi, bergoyang lembut mengikuti gerakan tubuhnya yang ringan. Ia berjalan sambil menunduk, memeluk bukunya seperti harta yang tak ingin lepas.
Jo Anna tidak tahu kalau Jongdae memandangi punggungnya.
Atau mungkin tahu—tapi pura-pura tak peduli.
Selama ini, Jongdae merasa Jo Anna adalah teka-teki yang tidak ingin dipecahkan. Tapi sekarang, setelah semuanya, rasa penasaran itu kembali tumbuh. Ia mulai memperhatikan hal-hal sepele: bagaimana Anna selalu duduk di barisan dekat jendela, bagaimana dia menggigit ujung pulpen saat berpikir, atau cara ia menyapa teman-temannya dengan senyum kecil yang tidak bertahan lebih dari satu detik.
Jongdae juga tahu, Jo Anna sering ke ruang seni saat istirahat, meski tidak bergabung di ekskul manapun. Kadang ia hanya duduk di bangku paling pojok, menulis sesuatu, atau melipat-lipat kertas dengan tangan mungilnya.
Sore itu, ketika langit berubah jingga, Jongdae sengaja memperlambat langkahnya di lorong menuju gerbang sekolah. Ia menunggu, dan benar saja—Jo Anna keluar dari ruang seni beberapa menit kemudian, membawa tas selempangnya yang kecil, dengan langkah yang ringan tapi terjaga.
Jongdae tak berniat menyapa.
Ia hanya mengikuti dari kejauhan.
Bukan membuntuti, tapi memastikan bahwa rasa di dadanya bukan hanya ilusi.
Ia berjalan di belakangnya, menjaga jarak.
Angin sore membawa wangi bunga dari pohon di tepi jalan. Daun-daun berguguran satu-satu. Jo Anna menoleh sebentar ke belakang, matanya bertemu mata Jongdae. Tak lama, hanya satu detik yang terlalu singkat untuk disebut momen.
Tapi cukup untuk membuat jantung Jongdae berdetak lebih cepat.
Jo Anna kembali menatap ke depan, lalu berjalan lebih cepat. Tapi kali ini, tidak sepenuhnya menjauh dan Jongdae berdiri di tempatnya, membiarkan Jo Anna pergi. Karena mungkin, dalam ketidakterjangkauan itu, ada alasan kenapa ia masih ingin terus menatap.
Ruang olahraga sekolah Jeonsa menjelang sore terasa lengang setelah gegap gempita sorakan usai pertandingan seleksi. Aula besar itu berdinding putih pucat dengan lantai kayu yang memantulkan suara langkah kaki. Di sisi timur dan barat terdapat dua gudang peralatan olahraga yang kini terbuka sebagian, memperlihatkan deretan matras, tiang net, dan bola-bola yang disusun seadanya. Lampu neon di langit-langit mulai berkedip samar, menemani udara dingin yang menyusup masuk dari sela ventilasi tinggi.
Musim gugur telah benar-benar akan berakhir. Nafas para siswa mengepul tipis saat duduk di pinggir lapangan, sebagian masih mengenakan seragam ekskul taekwondo mereka yang berkeringat, sebagian lainnya sudah memakai jaket atau hoodie. Pelatih berdiri di tengah ruangan, memberi arahan dengan suara tegas tapi bersahabat, menunjuk beberapa nama termasuk Jongdae untuk membantu membereskan peralatan.
Jongdae bergerak cepat, angkat matras, susun kursi, geser tiang penanda. Tangannya sibuk, tapi isi kepalanya bising. Karena setiap kali ia menarik napas dan menoleh, ia selalu mendapati Jo Anna di sudut matanya. Gadis itu duduk tak jauh dari Iseul dan dua orang lain, wajahnya setengah tertutup rambut cokelat terang yang jatuh bebas melewati bahu. Bibir tipisnya sesekali bergerak saat berbicara pelan. Suaranya tidak terdengar oleh Jongdae, tapi diam-diam pemuda itu telah mengingat nada suaranya sejak lama. Seperti gumam angin di ujung jendela bis. Sejak pertama kali bertemu.
Sekarang, dari jarak seperti ini, Jongdae kembali terjebak dalam perasaan tanpa nama yang membuat dadanya penuh sesak dan kosong sekaligus. Sesuatu yang membuatnya tetap diam di tempat, walau logika memintanya pergi.
Begitu semua alat sudah dirapikan dan beberapa teman mulai bubar, Jongdae menjatuhkan dirinya di salah satu kursi penonton di ujung ruangan. Handuk kecil tersampir di bahunya, peluh belum benar-benar kering, dan matanya menatap kosong ke arah garis putih lapangan.
Ia bertanya dalam hati, untuk keberapa kalinya ia mengikuti jejak gadis itu tanpa tahu apa yang sedang ia cari. Untuk alasan apa ia tetap bertahan di ekskul ini, bahkan setelah tahu Jo Anna tak pernah benar-benar melihatnya?
Langkah ringan terdengar dari samping. Jongdae belum sempat menoleh ketika sebuah tangan kecil menyodorkan minuman kaleng ke arahnya.
"Aku… disuruh bagi-bagi," suara itu lembut. Canggung.
Jo Anna berdiri di sampingnya, menatap lurus ke depan dengan kedua tangannya terlipat setelah menyerahkan minuman. Jongdae menerima tanpa banyak suara, hanya anggukan kecil yang pelan.
Ia bergeser sedikit dan menepuk kursi di sebelahnya, memberi isyarat. Gadis itu menoleh sekilas, menimbang, lalu duduk perlahan. Jarak antara mereka masih cukup sopan, tapi cukup dekat untuk membuat jantung Jongdae berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Jongdae membuka mulut, ingin berkata sesuatu tentang minuman itu, mungkin berterima kasih. Namun Anna lebih dulu memotong, suaranya tenang tapi jelas, "Aku juga kasih ke yang lain, bukan cuma kamu. Itu memang tugasku hari ini."
Seketika, udara di sekitar Jongdae seperti mengembun.
Ia mengangguk sekali, menahan senyum getir yang tidak jadi muncul. Dalam hati, ia mengutuki dirinya sendiri karena berharap lebih dari sebuah isyarat kecil. Karena sekali lagi, gadis itu tidak mengizinkannya melangkah lebih dalam.
"Aku nggak marah, kalau itu yang kamu kira," ucap Jongdae pelan. Suaranya nyaris hanyut bersama dengung lampu.
Jo Anna menoleh sedikit, lalu berkata, "Maaf… aku kira kamu marah."
"Nggak usah minta maaf," sahut Jongdae cepat. Lalu setelah hening sejenak, ia melanjutkan, "Hari ini kamu ada acara setelah ini?"
Anna tampak ragu, matanya terarah pada ujung sepatu. Jongdae tahu, ini bukan kali pertama ia akan ditolak, dan ia sudah bersiap.
"Boleh kita pulang bareng?" tanya Jongdae, suaranya rendah, tapi jujur.
Jo Anna menggeleng pelan. "Aku… kayaknya enggak bisa."
Jongdae menarik napas, lalu berdiri tanpa menuntut penjelasan. "Oke, enggak apa-apa," katanya singkat. Ia melangkah pelan ke arah pintu aula, langkah-langkahnya sunyi.
Namun sebelum ia mencapai ambang pintu, suara kecil memanggilnya dari belakang.
"Geum Jongdae..."
Langkahnya terhenti.
Jo Anna berdiri di belakangnya, menunduk sedikit sambil menggenggam jaketnya di dada.
"Aku… bisa pulang bareng kamu."
Kata “ya” yang meluncur dari bibir Jo Anna terasa lebih nyaring dari seluruh sorakan di aula tadi. Bukan karena volumenya, melainkan karena gema halusnya menabrak dinding hati Jongdae yang selama ini sepi. Ia berdiri mematung beberapa detik, seolah memastikan bahwa itu bukan hanya suara ilusi yang muncul dari kepalanya sendiri.
Jongdae menoleh perlahan, dan di sana, di balik sorot mata yang canggung dan sikap yang selalu waspada, Anna berdiri. Dengan tubuh kecilnya yang seolah rapuh tapi teguh seperti ranting musim dingin yang bertahan di tengah embusan angin utara.
Ia tersenyum kecil—tak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. Mungkin senyum itu bahkan tidak sempat naik ke bibir, tapi hangatnya mengalir ke seluruh tubuhnya, menyusup ke sela-sela keraguan, menghidupkan kembali harapan yang sempat dibekukan waktu.
Langit Jeonsa sore itu pucat, berwarna abu-abu susu dengan sentuhan merah muda tipis di ufuk barat. Embusan angin membawa aroma tanah dingin dan dedaunan yang sudah mengering. Jalanan menuju perumahan diselimuti kabut halus, dan hembusan angin musim gugur menyapa keduanya lembut, seperti menjaga rahasia percakapan yang belum terucap.
Jongdae dan Anna berjalan beriringan, dengan jarak cukup untuk dua bayangan berdampingan tanpa bersentuhan. Langkah kaki mereka berirama lembut, seperti ketukan jarum jam yang enggan beranjak dari satu menit ke menit lain.
Waktu terasa melambat. Mungkin karena udara yang berat. Mungkin karena Anna tak bicara apa pun.
Jongdae menggeser pandangan ke arah gadis di sampingnya. Rambut Anna bergerak pelan terkena angin. Tangannya masuk ke dalam saku jaket, matanya lurus ke depan.
“Kenapa kamu masuk ekskul Taekwondo?” Jongdae akhirnya membuka suara, nadanya ringan.
Anna butuh waktu beberapa detik sebelum menjawab. “Kakakku dulu ikut. Dan… aku ingin bisa jaga diri.”
Jongdae meliriknya sejenak. “Itu keputusan bagus,” katanya sambil mengangguk. “Aku enggak nyangka kamu punya pemikiran yang… menantang seperti itu.”
Anna tidak menjawab, tapi matanya melirik Jongdae sebentar—sekilas saja, seperti gerimis yang lewat lalu menghilang.
“Kado kemarin… buat siapa?” Jongdae mencoba mengalihkan suasana, mencoba mencairkan diam yang kembali tumbuh.
Tapi Anna tak menjawab. Tangannya mencengkeram tali tas yang melintang di dadanya. Wajahnya tetap datar, seperti salju yang belum dipijak.
Jongdae mengerti. Ia tidak mendesak.
Lalu, suara Anna yang pelan dan ragu mengisi celah udara di antara mereka. “Hari ini… kamu nggak kerja?”
Jongdae tersenyum kecil. “Kerja. Aku ke Dalbit, barista shift sore.”
Anna mengangguk, lalu menoleh sedikit ke arah Jongdae. “Barista… susah, ya?”
“Awalnya iya,” jawab Jongdae santai, menengadah sebentar seolah mencari jawabannya di langit. “Tapi pemilik Dalbit biayain kursus barista buatku dan Han Yuri. Senior barista di sana. Dia yang ajarin aku banyak.”
Anna terlihat terkejut, tapi matanya bersinar. “Kamu kursus? Serius?”
Jongdae menoleh. “Serius. Kamu kayak senang banget dengarnya?”
Anna langsung menunduk, wajahnya merona tipis. “Bukan… cuma, aku kira kamu belajar sendiri.”
Melihat reaksi itu, Jongdae menghela napas pelan dan tersenyum lebar. Lesung pipinya muncul, dan sorot matanya yang lembut membuat dunia terlihat sedikit lebih hangat.
“Pernah ke Dalbit?” tanyanya pelan.
Anna menggeleng. “Belum pernah. Aku juga… enggak terlalu suka kopi.”
“Kenapa?”
“Pahit.”
Tawa Jongdae meledak ringan, menggema di sela udara dingin. “Ya ampun… iya sih. Tapi Dalbit nggak cuma jual kopi, Anna.”
Anna melirik ke arahnya, kali ini dengan senyum kecil di ujung bibir. “Ada cokelat?”
“Ada,” jawab Jongdae cepat, matanya berbinar. “Macem-macem. Mau yang hangat, ada. Mau yang dingin, ada. Cokelat dengan susu almond, ada. Bahkan ada yang dikasih marshmallow kalau kamu suka yang manis.”
Anna berpikir sejenak, matanya berkedip pelan.
“Mungkin… aku akan datang lain kali,” katanya dengan suara pelan.
Jongdae menatapnya tanpa suara. Ia tak ingin menaklukkan Jo Anna, hanya ingin berdiri cukup dekat agar bisa mendengar suaranya ketika ia bersedia bicara. Dan hari ini, suara itu hadir, meski lirih.
Mereka mulai menyebrangi jalan perumahan yang membentang luas dan lengang. Lampu-lampu mulai menyala samar, dan di bawah langit yang mulai menggelap dan perlahan memudar, dua bayangan berjalan berdampingan dalam diam yang tak lagi canggung—melainkan diam yang terasa penuh.
Mereka berjalan cukup lama, dalam sunyi yang menggantung tapi tidak mengganggu. Di sisi kanan dan kiri jalan, pepohonan tinggi kehilangan daunnya, menyisakan siluet-siluet gelap yang berdiri kaku di tengah embusan musim gugur. Udara menggigit, tapi tak lebih dingin dari isi kepala Jongdae yang penuh gema tak bernama.
Di dalam diam itu, Jongdae mencoba mengurai rasa. Ia melirik ke arah Anna—gadis yang langkahnya ringan, suaranya nyaris seperti bisikan musim gugur, dan keberadaannya perlahan menyusup ke dalam harinya. Anna tak banyak bicara, tapi ada sesuatu di antara mereka yang tidak perlu dijelaskan. Ia mulai memahami, bahwa kehadiran gadis itu seperti hujan tipis yang turun tanpa suara, tapi mampu membasahi seluruh hati.
Mereka tiba di sebuah persimpangan.
Dari kejauhan, Jongdae melihat sosok yang sangat ia kenali. Seowon. Dengan jaket abu-abu panjang yang lembut jatuh mengikuti langkahnya, syal hitam yang dililit rapi di leher, dan cara berjalan yang anggun tapi penuh ketegasan. Seowon selalu tahu cara membuat dirinya tampak kuat, bahkan ketika ia sendiri mungkin sedang tidak baik-baik saja.
Hati Jongdae mulai terbelah pelan-pelan. Rasa hangat yang baru ia reguk bersama Anna kini bercampur dengan getir yang muncul tiba-tiba. Napasnya tertahan, dan ia tetap diam. Tidak yakin harus merasa bersalah, gugup, atau hanya bingung dengan semuanya.
Lalu suara Anna menyela, ringan, seperti kelopak salju yang menyentuh pipi:
“Di Dalbit… ada pastry yang enak?”
Butuh beberapa detik bagi Jongdae untuk menjawab. Pandangannya masih tertuju pada Seowon, yang makin lama makin dekat.
Akhirnya, dengan suara yang agak berat ia menjawab, “Ada. Yang paling enak, croissant isi krim keju. Lembut, manisnya pas. Kadang suka habis sebelum sore.”
Anna menatapnya dengan mata yang membulat sedikit. “Kamu kerja berapa jam di sana?”
Jongdae menoleh, mencoba mengalihkan pikirannya dari sosok Seowon yang perlahan masuk dalam jarak konfrontasi. “Empat jam kalau sore. Suasananya tenang. Yuri, barista senior yang ngajarin aku, orangnya tegas tapi baik. Ada juga Seungjo, dia yang jaga kasir, agak berisik tapi lucu.”
Senyum tercetak di bibir Anna, kecil tapi jelas. Tatapannya melembut, dan di matanya, Jongdae melihat sesuatu yang hangat seperti musim semi yang sedang merekah diam-diam. Ia ikut tersenyum, dan untuk sesaat, dunia terasa ringan lagi. Tawa kecil mereka tercipta begitu saja, tanpa maksud, tanpa arah.
Tapi di depan sana, Seowon berdiri dalam diam.
Langkahnya terhenti sepersekian detik. Matanya menangkap Jongdae yang sedang tertawa—tawa yang begitu dikenalnya, tapi bukan untuknya. Rambut hitamnya sedikit tersentak oleh angin, dan di wajahnya tak ada perubahan apa pun. Tapi seperti bayangan musim dingin yang tidak bersuara, ia membawa hawa dingin yang menjalar tanpa permisi.
Langkah Seowon bertambah dekat. Jongdae bisa merasakannya, jantungnya berdegup tak teratur, tubuhnya menegang sekejap dan ketika akhirnya mereka berpapasan, Seowon melewatinya tanpa sepatah kata pun. Tak ada sapa, tak ada lirikan mata. Hanya angin yang mengalir di antara mereka, seperti debu waktu yang beterbangan. Tapi Jongdae tahu, bahwa diam itu lebih berat daripada seribu kata yang pernah mereka ucapkan.
Ia menoleh sebentar. Seowon sudah beberapa langkah menjauh. Tapi bayangan gadis itu tertinggal di dalam dadanya, menciptakan gema yang membuat pikirannya kembali riuh, meski ia masih berdiri di sebelah Anna yang kini menatap jalanan dengan hening.
Langkah mereka terus beriringan di bawah langit pucat musim gugur. Jalanan mulai menipis dari keramaian, menyisakan bunyi jejak sepatu yang beradu pelan dengan serpihan daun kering yang gugur meninggalkan dahan. Udara dingin menggigit, tapi bukan itu yang membuat Jongdae membeku. Bukan itu yang mengguncang ritme detak jantungnya.
Ia berusaha tenang—tangannya dimasukkan ke saku jaket, bahunya sedikit membungkuk tertiup angin, dan wajahnya menengadah ke arah langit seperti sedang menyelidiki bentuk awan yang nyaris hilang. Tapi diamnya terasa berat. Sunyinya memekakkan.
Jo Anna melirik dari samping, lirih dan pelan, seperti takut mengusik ruang pikir Jongdae yang tampaknya jauh dari tempat mereka berpijak.
“Kau... baik-baik saja?” tanyanya lembut, seolah menaruh pertanyaan itu di tangan angin, berharap tidak membuat Jongdae jatuh berantakan.
Jongdae menoleh sebentar, senyumnya tipis tapi kelihatan rapuh. “Iya, aku baik-baik saja,” jawabnya, tetapi suaranya lirih, seolah dipilin oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Sejenak Jo Anna terdiam. Ada angin kecil lewat, menerbangkan dedaunan kering dari bawah pohon ginkgo yang luruh. Ia memandang wajah Jongdae dari samping, tak lama sebelum memberanikan diri membuka suara lagi.
“Tadi… yang lewat itu, Ryu Seowon dari Student Council, kan?” ucapnya pelan, seolah hanya ingin memastikan.
Jongdae menunduk. “Iya,” katanya, hampir tak terdengar.
Tak ada kata lagi dari Anna. Tapi dalam diamnya, pikirannya mulai merayap pelan, seperti cahaya senja yang mencoba menembus jendela berkabut. Ia bukan gadis yang pandai menebak perasaan orang lain, tapi hari ini, ia menangkap getar kecil yang menyusup dari sikap Jongdae. Ada semacam takut yang tersembunyi rapi. Takut akan sesuatu yang hanya muncul ketika nama itu disebut—Seowon.
Anna tak tahu apa luka itu, tak tahu apa kisah yang ada di antara dua nama itu, tetapi ia tahu: seseorang tak akan berusaha keras untuk terlihat biasa jika di dalamnya benar-benar baik-baik saja.
Mereka berhenti di sebuah persimpangan yang lebih sepi. Pepohonan berjajar, pucuknya nyaris gundul, dan angin sore mulai lebih dingin. Anna menoleh, senyumnya muncul walau samar. “Kau tidak perlu mengantarku sampai rumah. Kau harus ke Dalbit, kan?”
Jongdae mengangguk, walau terlihat seperti enggan berbalik.
“Aku tunggu, ya?” katanya, berusaha ringan. “Datanglah ke Dalbit. Nanti aku akan buatkan cokelat hangat paling enak se-Dalbit. Untukmu.”
Jo Anna menghela napas, lalu tertawa kecil—lembut dan jernih, seperti gemericik air di antara salju. “Aku akan datang,” katanya.
Jongdae pun berbalik, melangkah perlahan menjauh. Angin dingin mulai naik, membawa serta bayang-bayang perasaannya yang belum selesai. Dari belakang, Jo Anna berdiri diam, memperhatikan punggungnya yang menjauh.
Ia tidak tahu siapa yang ada di hati Jongdae, atau bagaimana masa lalu pemuda itu mengguratkan lukanya. Tapi di musim gugur yang hening ini, ia tahu satu hal: ia ingin tetap berada di dalam orbitnya, walau hanya sebagai bintang kecil yang mengikut dari kejauhan.
Musim gugur terus berhembus. Dan Jo Anna menatap langkah Jongdae yang perlahan menghilang, seperti harapan yang menunggu saatnya mekar.
Senja mulai merayap perlahan di atas Jeonsa, menebarkan cahaya keemasan yang membias tipis di kaca jendela Dalbit. Tak seperti malam-malam sebelumnya yang sendu dan sepi, kafe mungil itu sore ini sedikit lebih terang, seolah ikut menghirup napas lega karena seseorang yang lama dinanti akan kembali. Lampu gantung berwarna kuning pucat menggantung rendah, memantulkan kilau lembut pada permukaan meja kayu yang mengilap. Dari luar, Dalbit tampak seperti sepotong hangat dari dunia yang gigil—penuh warna dan aroma manis yang menyusup sampai ke trotoar.
Di dalam, Han Yuri dengan rambut dicepol seadanya tengah menggulung lengan bajunya, menggiling adonan pastry dengan gerakan terlatih. Tangannya sibuk, tapi matanya melirik ke arah pintu setiap beberapa menit, seolah menanti sesuatu. Atau mungkin… seseorang. Sementara itu, Seungjo berdiri di balik konter, menuangkan espresso shot dengan ekspresi tenang yang khas, namun dari cara ia menyusun gelas dan menyeka meja, terlihat jelas ada ruang kosong yang ia rasakan sejak beberapa hari terakhir.
“Seungjo,” ucap Yuri pelan, suaranya serak hangat, “kau tahu kapan bocah itu kembali? Dalbit terasa agak… kehilangan semangat tanpanya.”
Seungjo mengangkat bahu, senyumnya samar. “Entahlah. Katanya dia butuh waktu. Ujian, turnamen, dan… mungkin waktu untuk dirinya sendiri.”
Belum sempat Yuri membalas, denting lonceng pintu menggema. Angin dingin dari luar menyusup ke dalam, membawa serta aroma musim dingin dan suara langkah kaki yang begitu familiar.
“Selamat sore…” suara itu ragu, tapi ramah.
“Jongdae!” seru Yuri hampir berbarengan dengan Seungjo yang menoleh dan tersenyum lebar.
Beberapa pengunjung tetap yang duduk di dekat jendela segera menoleh, salah satunya menyapa dengan antusias, “Akhirnya kamu balik juga! Ke mana saja? Kami sempat kira kamu pindah sekolah.”
Jongdae tertawa pelan, menggaruk tengkuknya dengan sedikit canggung. “Aku… persiapan ujian dan ikut seleksi turnamen Taekwondo,” katanya cepat, “tapi kalah. Lawanku terlalu kuat.”
Tawa kecil terdengar dari pojok ruangan, mencairkan hawa dingin yang menyelinap dari celah pintu. Jongdae berjalan perlahan ke arah konter. Matanya menangkap pandangan hangat Yuri dan Seungjo yang menyambutnya seperti keluarga yang akhirnya pulang. Yuri menepuk pundaknya singkat, seolah ingin bilang ‘selamat datang kembali’, sementara Seungjo hanya tersenyum dan melanjutkan menata pastry, kali ini dengan irama yang lebih ringan.
Tanpa banyak bicara, Jongdae menyelinap ke ruang staff. Udara hangat langsung menyambutnya begitu ia membuka pintu kamar mandi kecil yang terhubung dengan ruang ganti. Uap air membungkus tubuhnya saat ia berdiri di bawah pancuran air panas, membiarkan kelelahan luruh bersama sisa-sisa salju yang menempel di ujung rambutnya.
Kepalanya dipenuhi percakapan yang belum selesai. Tentang Seowon yang melewatinya tanpa sapa. Tentang Jo Anna yang menemaninya pulang hari ini. Dua kutub yang saling bertolak, tapi entah kenapa sama-sama menarik. Ia memejamkan mata.
“Kenapa ya… aku bisa merasa bersalah padahal tak berbuat salah? Kenapa aku merasa ingin tertawa, tapi ada yang menahan di dada?”
Air hangat mengalir, tetapi hawa dingin tetap bersemayam di hatinya.
Setelah beberapa menit, Jongdae mengenakan seragam Dalbit yang sudah disetrika rapi. Ia menatap cermin kecil di dinding, menegakkan bahunya dan menarik napas dalam.
Hari sudah berubah. Tapi hatinya belum tentu ikut.
Dengan satu langkah pasti, ia membuka pintu kembali, siap menyeduh harapan yang hangat untuk malam yang panjang di bawah cahaya Dalbit.
Jongdae kembali bekerja seperti biasa, mengenakan apron cokelat dengan nama "Dalbit" yang terjahit rapi di dada kiri. Langkahnya tenang, tangannya lincah, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang tak dibuat-buat. Seperti mata air yang baru saja pulih dari musim kemarau. Seolah tempat ini—dengan aroma espresso, suara grinder, dan lantunan jazz lembut—telah menjadi rumah kedua yang memeluknya setelah hari yang panjang.
Di balik konter, Seungjo menuang espresso ke dalam cangkir keramik putih, lalu berbisik pelan pada Yuri yang tengah memeriksa stok gula aren, “Pelanggan baru itu datang lagi hari ini. Yang duduk di pojok jendela, lesu terus tiap sore. Kau lihat?”
Yuri mengerling tanpa benar-benar menoleh. “Mungkin galau. Atau baru putus.”
“Menurutku sih dia terobsesi sama barista Dalbit. Ganteng soalnya,” balas Seungjo, lirih, lalu tersenyum jahil ke arah Jongdae.
Sambil menata mug di rak, Jongdae tak menoleh tapi ikut menimpali, “Kalau memang itu alasannya, semoga bukan barista yang suka salah taruh krimer sampai cappuccino jadi sup manis.”
Yuri tertawa meledak, tangannya menepuk meja sampai sendok kecil tergeser. “Aduh, Seungjo, itu sindiran halus dari anak kesayangan Dalbit.”
Seungjo hanya mengangkat alis dan pura-pura tersinggung. “Pelanggan tidak tahu soal insiden krimer itu. Jangan rusak reputasiku, Jongdae.”
Percakapan ringan itu berputar cepat seperti angin musim gugur, membuat udara di antara mereka hangat dan penuh warna. Senyum mereka melunak, lelucon kecil menambal hari-hari yang sunyi.
Lalu, di tengah tawa yang belum habis, Yuri mengerutkan dahi. “Eh, ngomong-ngomong, sejak kapan kau ikut Taekwondo, Jongdae? Serius itu? Aku kira kau tipe anak yang pingsan lihat darah.”
“Wah, jangan macam-macam,” sela Seungjo cepat, “Jongdae ini… sekali nendang, rak etalase bisa geser dua sentimeter.”
Jongdae pura-pura menghela napas berat. “Aku ikut bukan buat berkelahi. Tapi ya… ada motivasi pribadi.”
“Motivasi ya? Gadis cantik? Rambut panjang?” goda Yuri dengan mata menyipit.
“Ada warna pirangnya juga?” Seungjo menambahkan.
Jongdae tertawa, tetapi matanya sebentar menatap ke arah jendela yang memantulkan cahaya lampu jalan. “Rahasia Dalbit. Tak semua bahan bisa diungkap ke pelanggan.”
Tawa meledak lagi, namun tak berlangsung lama karena dua pelanggan muda masuk. Seorang gadis remaja dengan hoodie besar dan kakaknya yang memakai earphone di salah satu telinga, keduanya tampak terbiasa datang tapi belum terlalu akrab.
“Aku tetap pilih Americano!” seru si gadis.
“Dan aku bilang itu terlalu pahit. Coba Vanilla Latte, kek,” sang kakak membalas.
Jongdae segera menghampiri dengan senyum damai. “Kalian punya selera unik. Bagaimana kalau kita buat dua-duanya, dan kalian tukar seteguk saja sebelum memutuskan?”
Kakaknya melirik adiknya, mendengus, lalu mengangguk.
Yuri ikut datang ke konter, menjelaskan, “Oh, kopi kami sedikit berbeda dari cafe lain karena kami pakai biji yang di-roast sendiri. Americano-nya ringan tapi masih punya aftertaste yang bold. Vanilla Latte kami juga pakai ekstrak vanila alami.”
Gadis kecil itu berdecak kagum. “Oke. Aku mau coba dua-duanya. Tapi jangan terlalu pahit, ya!”
“Tenang,” ucap Jongdae, “Kami tidak pernah menyajikan kepahitan tanpa alasan.”
Setelah pesanan selesai dan dibawa ke meja, Yuri menepuk bahu Jongdae. “Istirahatlah. Aku jagain kasir, kau rapikan bagian belakang.”
Dengan anggukan kecil, Jongdae pergi ke balik konter. Ia membuka lemari kayu tempat menyimpan perlengkapan, lalu berjongkok untuk membuka kulkas kecil yang terletak sejajar di bawah lemari. Cahaya putih menyala begitu pintu dibuka, menguak deretan susu segar dan bahan pastry. Namun, di sudut rak bawah, pandangan Jongdae terpaku.
Beberapa botol susu pisang berdiri rapi. Bukan susu biasa. Bukan susu Dalbit.
Warna labelnya terlalu familiar. Ia tahu bentuknya, tahu rasa manis lembutnya yang khas, tahu bahwa merek itu adalah kesukaan seseorang yang tak asing di hidupnya.
Seowon.
Jongdae mematung. Wajahnya datar, tapi di balik matanya yang teduh, gelombang kecil mulai beriak. Ia tidak tahu bagaimana bisa ada di sana. Tidak tahu siapa yang menaruhnya. Mungkin tak ada artinya—mungkin hanya kebetulan. Tapi kenapa rasanya seperti seseorang meletakkan fragmen masa lalu tepat di dalam ruang hidupnya yang kini mulai ia tata ulang?
Tangannya menyentuh salah satu botol. Dingin. Lembut. Sunyi.
“Jongdae, kau ketemu frozen espresso stick kita?” suara Yuri memecah keheningan dari balik konter.
Jongdae cepat-cepat menutup kulkas. “Belum. Tapi kulkasnya menyimpan… kejutan.”
“Hei, jangan ambil bahan eksperimenku,” sahut Seungjo dari kejauhan.
Jongdae tak menjawab. Ia berdiri, menarik napas dalam-dalam, mencoba menyembunyikan kebingungan yang menyelinap di antara jeda tawa dan tugas malam itu.
Ada yang masih menetap di sana. Diam-diam. Dalam botol plastik kecil. Dalam dirinya sendiri.
Jongdae berjalan pelan kembali ke konter, membawa espresso stick yang diminta Yuri bersama beberapa kotak susu oat. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, bahkan senyumnya masih sempat singgah saat melewati dua pelanggan yang asyik berdebat soal topping. Tapi pikirannya—pikirannya seperti padang berkabut yang belum menemukan matahari.
Ia baru saja meletakkan kotak-kotak itu di atas meja pendingin ketika Seungjo memanggilnya, “Hei, Jongdae…”
Nada Seungjo biasa saja, tak ada tanda bahwa kalimat berikutnya akan membuka pintu-pintu kenangan.
“Selama dua minggu kau nggak di sini,” Seungjo mulai, sambil menyandarkan tubuh ke sisi rak kayu, “ada satu pelanggan… anak SMA juga, mungkin seumurmu. Datang terus. Setiap hari. Duduk di bangku dekat jendela yang menghadap halte.”
Jongdae menoleh, tak bicara.
“Wajahnya manis tapi... tegas. Bola matanya hitam pekat, kelopak matanya indah, bibirnya mungil—kayak buah peach. Rambutnya kadang dikuncir, kadang dibiarkan jatuh ke bahu. Seragamnya persis seperti punyamu. Dia selalu datang jam yang sama. Duduk di tempat yang sama. Seperti nunggu seseorang.”
Seungjo menggaruk kepala. “Awalnya kupikir dia naksir Yuri.”
Jongdae nyaris tertawa, tapi tak sampai. Ia hanya memalingkan wajah.
“Tapi dia selalu pesan menu yang sama. Lalu minum setengahnya, sisanya ditinggal. Dan…” Seungjo menunduk ke bawah konter, membuka salah satu laci kecil, lalu menarik keluar beberapa lembar kecil notes berwarna pastel. Kertas-kertas itu bersih dan rapi, dengan tulisan tangan yang tegak dan tegas.
“Setiap kali dia tinggalkan ini,” katanya sambil menyodorkan salah satu notes kepada Jongdae.
Satu kalimat sederhana tertulis di sana:
"Untuk barista yang hilang. Kupikir, kau suka ini."
Jongdae menatap tulisan itu. Jarinya tak bergerak, matanya nyaris tak berkedip. Tetapi dadanya... ah, dadanya bukan lagi ruang hampa—ia mendadak sempit, sesak oleh sesuatu yang tak bernama.
“Dia selalu tinggalkan susu pisang juga. Satu botol. Persis seperti yang kau temukan tadi.”
Seungjo menatap Jongdae. “Awalnya aku nggak ngerti. Kukira iseng. Tapi Yuri bilang disimpan aja. Dia yang bilang kemungkinan besar itu buatmu.”
Jongdae menarik napas pelan, tapi sulit. Kata-kata Seungjo menetes satu-satu seperti hujan pertama yang jatuh di atap seng. Meninggalkan suara, tapi juga sunyi. Seolah ada seseorang yang diam-diam menenun benang penghubung dari kejauhan. Tanpa permisi. Tanpa harap balasan.
Langkah Yuri terdengar mendekat. Dengan celemek yang tergulung rapi di pinggang dan tangan penuh sisa bubuk cokelat dari menu sebelumnya, ia bertanya, “Ngomongin apa kalian?”
Seungjo segera mengangkat kertas notes itu. “Itu tadi, tentang pelanggan yang selalu ninggalin ini. Jongdae nemuin susu pisang di kulkas. Kayaknya itu dari dia.”
Yuri menarik napas panjang. Wajahnya berubah, seperti seorang pemimpin pasukan yang baru menerima laporan sensitif. Ia menatap Jongdae agak lama. Tajam, tapi tidak marah. Lebih seperti... mencoba membaca buku yang tidak selesai ditulis.
“Jongdae,” ucapnya perlahan, “kau kenal gadis itu? Seragamnya sama denganmu.”
Jongdae diam. Hanya menggenggam notes itu lebih erat.
Yuri melipat tangan di dada. “Apa dia alasanmu ikut Taekwondo?”
Jongdae menggeleng pelan. Tidak menjawab dengan suara, hanya gerakan kecil dari kepala.
“Namanya nggak pernah ditulis di catatan,” kata Seungjo mencoba membantu, “tapi rasanya... semua ini terlalu khusus untuk jadi kebetulan.”
Lagi-lagi, Jongdae tidak menjawab.
Ia hanya menatap botol-botol susu pisang dalam pikirannya. Membayangkan seorang gadis yang datang sore-sore, duduk diam di balik jendela, menggigit bibir saat ragu, lalu menyusun kalimat dengan sisa keberanian yang dimilikinya. Gadis yang tidak memaksa apa pun—hanya berharap kehadiran bisa jadi bentuk kejujuran yang lain.
Namun belum sempat keheningan itu terjawab, suara ceria memotongnya.
“Halo semuanya! Aku bawa biji kopi dari Jeonju! Baru dipanggang tiga hari lalu!”
Pemilik Dalbit datang membawa dua kardus besar, wajahnya bersinar seperti biasa, mengisi ruang dengan aroma khas yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang mencintai kopinya lebih dari dirinya sendiri.
Jongdae, Yuri, dan Seungjo menoleh serempak. Keheningan yang berat larut dalam suara plastik kardus yang disobek dan gelas kaca yang disiapkan. Namun bagi Jongdae, sisa notes itu tetap bergema di tangannya. Seperti gema dari nama yang tak diucapkan, dari cerita yang belum sempat dijelaskan. Dan senja Dalbit hari itu menyimpan lebih banyak dari sekadar kopi atau lelucon manis—ia menyimpan isyarat yang hanya bisa dibaca hati yang diam.
Hujan gerimis kembali turun. Tetesnya membentuk garis miring di luar jendela yang mengembun, menempel pelan di kaca sebelum lenyap oleh hangat dari dalam. Aroma cokelat, espresso, dan kayu manis bercampur menjadi satu udara lembut yang akrab, seakan menyelimuti semua luka yang datang bersama pelanggan.
Lampu gantung menggantung seperti bulan kecil di atas meja bar. Suaranya redup, hanya ada suara sendok yang beradu pelan dan detak jarum jam dari dinding belakang. Dalbit mulai kosong. Dua kursi terakhir ditinggalkan pelanggan tetap mereka yang baru saja berpamitan, dan Seungjo sedang sibuk mengepel dekat pintu belakang.
Han Yuri berdiri di balik bar. Ia menyeduh dua cangkir minuman tanpa bicara, tangan-tangannya bergerak cekatan tapi tidak tergesa. Ia tahu malam ini berbeda. Jongdae belum tersenyum sejak selesai menyusun stok susu oat di rak belakang. Matanya kosong, wajahnya diam tapi bukan tenang—lebih seperti seseorang yang sedang menahan napas terlalu lama di dasar kolam.
“Duduk sini,” kata Yuri akhirnya, meletakkan satu gelas cokelat panas di depan bangku bar yang biasa Jongdae duduki. Uap hangat mengepul lembut dari mulut cangkir. Jongdae menurut.
Ia duduk perlahan, dengan bahu agak merosot dan handuk kecil tersampir di kerah seragam. Jemarinya mengelus gelas hangat itu, tapi tidak langsung minum. Pandangannya tetap tertuju ke arah jendela, ke salju yang terus turun, atau mungkin... pada kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Yuri menyesap minumannya, lalu bertanya, pelan. “Itu dia, kan. Ryu Seowon?”
Suara Yuri tenang tapi tepat sasaran. Jongdae tak langsung menjawab. Tenggorokannya seperti dicekik udara dingin. Ia menelan ludah, lalu mengangguk sedikit. “Iya.”
Yuri mengangguk juga, menyenderkan dagunya di punggung tangan. “Kalian... dekat?”
Jongdae mengerjap pelan. Lalu berkata lirih, “Kami bersama.” Dan setelah jeda panjang, ia menambahkan, “Atau… pernah.”
Ada keheningan panjang setelah itu. Seungjo masih sibuk sendiri. Mesin espresso sudah lama dimatikan. Di luar, lampu jalan berpendar lembut seperti kunang-kunang beku.
“Aku enggak tahu sejak kapan semuanya berubah,” Jongdae akhirnya bersuara. Kali ini lebih seperti gumaman, tapi terdengar jelas bagi Yuri. “Dulu… aku pikir aku hanya ingin dekat dia. Bisa duduk di sampingnya saat istirahat. Nonton dia nyusun acara sekolah. Tapi sekarang…” Ia tertawa kecil, getir. “Sekarang aku malah merasa bersalah tiap kali tersenyum bareng orang lain.”
“Jo Anna?” Yuri bertanya, tak membuang waktu.
Jongdae terdiam. Lalu mengangguk. “Aku nggak tahu kenapa aku mulai mengikuti langkahnya. Masuk Taekwondo, ikut bantu ekskul... Bahkan cuma buat bisa melihat dia latihan sepuluh menit.”
Napasnya berat. Matanya masih belum menatap Yuri.
“Aku nggak tahu ini perasaan yang sama atau bukan. Aku bahkan enggak tahu... aku masih punya hak buat menyukai siapa pun atau tidak. Karena... aku belum selesai dengan Seowon. Tapi... aku juga enggak bisa berhenti memperhatikan Anna.”
Yuri memutar gelas cokelatnya, matanya mengamati Jongdae seperti sedang membaca halaman buku yang mulai lusuh. “Rasanya seperti berdiri di dua peron yang berbeda, ya?”
Jongdae menoleh padanya. Pandangannya buram oleh pikiran sendiri.
“Yang satu, kamu tahu siapa yang menunggumu. Tapi kamu juga tahu kamu nggak bisa naik kereta itu lagi,” ujar Yuri pelan. “Yang satu lagi... kamu belum tahu apa-apa. Tapi kamu terus melangkah ke sana.”
Hening. Hanya suara jam yang terus berdetak.
“Aku takut, Yuri,” kata Jongdae akhirnya. “Takut semua ini salah. Takut menyakiti Seowon. Takut... membuat Anna salah paham. Tapi aku juga... takut terus tinggal diam dan kehilangan semuanya.”
Yuri menatapnya lekat, lalu bicara tanpa senyum, “Kamu bukan pengecut, Jongdae. Tapi kamu juga bukan batu. Perasaanmu itu hidup. Dan kadang... hidup itu bikin bingung.”
Jongdae akhirnya menatap gelasnya, lalu mengangkatnya dan meminum sedikit cokelat hangat yang mulai dingin. Rasanya manis. Tapi juga sedikit pahit. Seperti malam ini. Seperti dirinya. Seperti perasaan yang tak punya nama tapi terus tumbuh diam-diam.
Café Dalbit mulai sepi saat jam menunjukkan pukul Sembilan lewat malam. Di luar, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning lembut pada genangan air hujan yang membeku. Sisa uap kopi masih menggantung di udara, dan percakapan antara Jongdae dan Yuri menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan yang perlahan mendingin.
Jongdae diam sejenak, menatap meja kosong di hadapannya. Hatinya masih kacau, dan dari caranya menggenggam gelas kopi yang kini telah dingin, Yuri tahu: ada sesuatu yang masih belum selesai.
Jongdae menoleh perlahan. Suaranya pelan, seperti gumaman yang belum selesai ditimbang, "Yuri... tahu dari mana... soal Seowon dan Anna?"
Yuri tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih pada jendela kaca yang memantulkan cahaya temaram dan wajah Jongdae yang murung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memandang Jongdae dengan tenang. Tak ada rasa bersalah, hanya kejujuran yang akhirnya menemukan waktunya sendiri.
"Buku kecilmu," ujar Yuri pelan, hampir seperti gumaman yang diterbangkan angin. "Waktu itu aku membereskan ruang staf... buku itu jatuh sendiri dari laci. Lembarannya terbuka."
Buku kecil milik Jongdae berwarna biru kelam, berukuran tak lebih besar dari telapak tangan. Sampulnya sedikit lusuh, dengan pojok-pojok yang mulai terkelupas. Di dalamnya, tulisan tangan Jongdae tercetak rapi, kecil-kecil, seperti takut mengganggu halaman yang sepi. Beberapa lembar dipenuhi catatan soal shift kerja dan pengingat harian. Namun, ada halaman tertentu yang berisi nama-nama: Ryu Seowon. Jo Anna. Ditulis di tengah halaman kosong seperti mantra yang terlalu berat untuk diucap, tapi terlalu bermakna untuk diabaikan.
"Awalnya aku pikir itu bukunya Seungjo. Tapi waktu aku tutup... di bagian belakang, ada namamu. Lengkap dengan tanda tangan."
Jongdae menunduk. Ia bisa merasakan darah mengalir lebih cepat ke wajahnya.
Yuri melanjutkan dengan suara lembut namun mantap, "Maaf. Aku... tidak seharusnya membacanya. Tapi saat itu aku juga bingung. Lalu setelah beberapa hari, gadis yang kutemui itu—aku yakin, itu Seowon."
Ia bercerita, tentang bagaimana Seowon datang di jam yang sama, memesan oat coffee dengan taburan almond, lalu duduk di sudut dekat jendela seperti seseorang yang sedang menunggu. Tidak gelisah, tidak panik, hanya diam... tapi penuh maksud. Seungjo bahkan sempat bingung karena Seowon memesan pastry sederhana yang nyaris tak pernah dipesan orang.
"Setelah dia pergi, aku menemukan susu pisang dan sebuah notes. Kukira itu tips. Tapi... aku tahu. Itu bukan untuk Dalbit, bukan untuk kita. Itu untuk seseorang. Untukmu, Jongdae."
Jongdae menelan ludah. Hatinya mulai riuh, seperti permukaan danau yang terusik angin malam.
Dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata, "Aku... tadi berpapasan dengannya. Saat mengantar Anna pulang."
Yuri tidak menyela. Ia hanya memandangi Jongdae dengan tenang, menunggu kalimat berikutnya.
"Dia lewat begitu saja. Tidak bilang apa-apa. Hanya lewat. Tapi... rasanya seperti... seperti bayangan saat musim dingin. Dingin, menusuk, dan... mengendap."
Yuri menyandarkan punggungnya, menatap ke arah langit-langit yang diterangi lampu gantung Dalbit. Suaranya tenang, tapi dalam, seperti tanah yang tahu rahasia akar-akarnya.
"Dia datang hari ini, Jongdae. Dan melakukan hal yang sama. Duduk di tempat yang sama, pesan yang sama. Meninggalkan susu pisang... dan notes."
Jongdae mematung. Rasanya seperti ada tali tak kasatmata yang menjerat pergelangan tangannya, menahan langkahnya yang ingin mundur, tapi juga menolak untuk maju. Ia menatap ke bawah, ke lantai kayu Dalbit yang diam. Lalu menutup matanya sejenak.
Di dalam dirinya, malam musim gugur terakhir pecah tanpa suara. Ada angin tajam yang membawa serpihan-serpihan rasa bersalah, rasa rindu yang dipendam terlalu lama, dan ketakutan akan kehilangan sesuatu yang belum sempat ia genggam dengan utuh.
Bagaimana jika Seowon tahu semua ini dari awal?
Bagaimana jika ia tak lagi menunggu?
Bagaimana jika ia lelah?
Keringat dingin merembes di pelipisnya. Tangannya gemetar sedikit saat ia memegang kembali gelas kopinya yang sudah kosong. Hatinya penuh pertanyaan, tapi tak ada satu pun jawaban yang mampu dicarinya malam itu.
Sudah lewat pukul Sembilan tiga puluh malam saat percakapan itu masih menggantung di udara Dalbit yang mulai surut denyutnya. Lampu-lampu digelapkan satu tingkat, menyisakan pancaran kuning hangat di tiap sudut. Musik lembut berpindah ke lagu instrumental jazz yang menenangkan, nyaris seperti bisikan. Di luar jendela, hujan sudah lama reda, menyisakan tetes-tetes yang jatuh dari tepi atap. Butiran air mengalir pelan di kaca seperti kenangan yang enggan lepas.
Suasana semakin lengang. Seungjo sedang mengepel lantai bagian belakang. Beberapa kursi sudah dinaikkan ke atas meja, isyarat bahwa Dalbit bersiap tidur.
Di tengah percakapan yang belum sepenuhnya selesai, Jongdae dan Yuri memutuskan untuk pulang bersama.
Langit malam menggantung rendah, masih kelabu, tapi tidak mengancam. Jongdae berjalan di sisi kanan, membawa kantong plastik kecil berisi sisa-sisa makanan dari Dalbit. Ia lebih banyak diam, seperti terbenam dalam pikiran yang berat, sementara Yuri... berbicara tanpa henti, seperti radio yang tidak mau mati.
“...dan Seungjo nangis, Daeeee,” ujar Yuri, menahan tawa. “Gara-gara aku bentak karena dia salah tuang espresso shot ke decaf latte pesanan pelanggan yang lagi hamil! Astaga, aku bisa dipolisikan. Mana si Seungjo malah minta maaf sambil berlinang air mata... kayak drama di TV.”
Jongdae hanya tersenyum kecil.
“Eh, terus hari ketiga kamu nggak ada, Eomonni marah-marah ke Seungjo. Dia keceplosan tumpahin latte ke tangannya sendiri trus teriak-teriak minta maaf kayak habis bunuh orang. Aku sampe pengen ganti pekerjaan.”
Jongdae tertawa pelan kali ini, hanya dari hidung.
“Terus yang paling lucu, ada dua pelanggan cowok, mukanya mirip banget, kayak kembar. Aku salah kasih kopi, mereka malah debat siapa yang lebih ganteng. Dan aku... aku hampir ngelempar Seungjo pakai kain pel, bayangin, cuma karena dia salah giling biji kopi Kenya jadi Guatemala.”
Yuri mengibaskan tangan dramatis. Jongdae masih diam. Tapi wajahnya yang sempat muram sedikit mengendur, sedikit saja.
Mereka mampir ke convenience store di sudut jalan, yang cahayanya terang menyilaukan seperti panggung kecil dalam malam kota. Pendingin udara bersuara konstan, mengiringi dentingan lonceng kecil saat pintu terbuka. Bau plastik, mie instan, dan roti manis bercampur jadi satu.
Yuri mengambil dua bungkus gimbap, satu cup besar ramyeon, dan dua botol teh dingin. Ia juga mengambil sebungkus rokok mentol, lalu tanpa menunggu persetujuan, menyerahkan semuanya ke kasir dan berkata, “Traktiran anak hilang.”
Mereka makan di pojok ruang khusus perokok yang kecil tapi bersih. Dindingnya terbuat dari panel kaca, memberi pemandangan langsung ke jalanan yang lengang. Hanya satu atau dua mobil melintas, lampu-lampu jalan seperti berkedip lambat, dan angin malam meniup daun-daun kering melintasi trotoar. Sebuah malam yang tidak berbunyi, kecuali dari desahan air panas yang dituangkan ke dalam cup ramyeon.
Yuri merokok pelan, ujung batang rokoknya menyala merah sesekali. Di antara asap yang tipis dan makanan yang perlahan habis, ia melirik Jongdae.
“Kamu baik-baik aja, Dae?”
Jongdae menoleh sebentar, tidak langsung menjawab. Lalu meneguk teh Oolong-nya, membiarkan rasanya yang pahit manis menggantikan kata.
Yuri menyeringai, lalu mencibir sambil berkata pelan, “Romansa anak SMA... geli ya? Tapi, yah, aku juga pernah ngerasain. Bedanya... aku kabur. Nggak milih siapa-siapa.”
Tatapan Jongdae beralih ke arah Yuri, memperhatikan wajah gadis itu di bawah cahaya lampu putih. Wajah yang biasanya keras dan tak tersentuh, kini terlihat ringan, bebas, seolah sudah melewati banyak musim.
Jeda kembali datang. Kali ini lebih sunyi. Hanya suara kendaraan jauh dan bisikan angin malam yang menari di pinggiran kota Jeonsa.
Yuri mengembuskan asap ke samping, lalu menyibakkan rambut pirangnya ke belakang. Gerakannya lambat, nyaris teatrikal. Ia mengganti posisi duduknya menjadi lebih tegap, seperti seseorang yang baru saja mengambil keputusan untuk jujur.
“Jongdae,” ucapnya, datar tapi jelas. “Kamu masih ingat ayahku?”
Jongdae menoleh pelan, tak menyangka arah pembicaraan berbelok sejauh itu. Di matanya, Yuri kini tampak seperti seseorang yang sedang membuka pintu masa lalu yang telah lama terkunci rapat.
Daftar Chapter
Chapter 1: Prolog
173 kata
Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...
7,102 kata
Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...
5,276 kata
Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu
6,005 kata
Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi
6,094 kata
Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...
7,734 kata
Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama
8,481 kata
Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah
11,467 kata
Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti
6,238 kata
Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup
5,144 kata
Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu
5,994 kata
Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan
6,065 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!