')">
Progress Membaca 0%

Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah Putus

Alvianti Purnamasari 20 Aug 2025 7,734 kata
GRATIS

Hujan turun tipis di pinggir kota Jeonsa malam itu, menyisakan aroma aspal basah dan dedaunan yang menunduk kelelahan. Jalan kecil di belakang kompleks pertokoan masih menyisakan genangan samar, seakan menyimpan rahasia langkah-langkah yang pernah tertinggal dan di sanalah—sebuah apartemen tua berlantai dua yang dipagari tanaman liar dan bunga sepatu setengah layu—tempat di mana benang pertama mengikat satu nama: 

Areum.

Areum duduk sendirian di tepi ranjang, menatap jendela yang temaram. Di tangannya, sebuah buku catatan lama terbuka. Tinta biru yang telah memudar menuliskan hal-hal yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Tentang rumah yang bukan rumah, tentang suara bentakan, dan tentang seseorang yang dulu selalu datang diam-diam lewat lorong belakang rumah dan satu nama itu, perlahan tertulis dalam benaknya—Honyun.

Honyun, kakak tiri dari pernikahan pertama ibunya. Bukan saudara kandung. Tidak pernah benar-benar dekat, tapi juga tidak pernah benar-benar jauh. Wajah lelaki itu muncul hanya di antara bayangan pintu yang tak pernah tertutup rapat—di malam-malam ketika ayah Areum sedang tidak pulang, atau saat ibunya kelelahan dan tertidur tanpa makan malam.

Waktu masih berjalan. Tapi trauma tidak.

Areum masih mengingat suara langkah sepatu Honyun. Ada masa ketika kehadiran lelaki itu menjadi satu-satunya yang membuat rumah mereka terasa sedikit lebih aman. Dan ada pula masa ketika kepergian mendadak Honyun—yang katanya kabur dari rumah—meninggalkan kekosongan yang jauh lebih menyakitkan dari kehadirannya.

Lalu di lorong itu, semalam, Areum melihatnya lagi. Wajah yang tak berubah, tetapi jauh lebih tirus. Mata yang dulu selalu melihatnya dengan tenang, kini berkedut di bawah tekanan para penagih hutang.

Kenapa Honyun kembali?

Kenapa dia sembunyi-sembunyi?

Dan kenapa ada rasa takut yang kembali merayap saat Areum memikirkan semua itu?

Areum menutup buku catatannya perlahan. Ia belum ingin membicarakannya pada siapa pun, bahkan pada Jongdae yang sudah membantunya keluar dari malam paling buruk itu. Ada sesuatu dalam benaknya yang belum bisa dijelaskan dengan kata, sesuatu yang masih ingin ia pendam hingga semuanya jelas.

Sementara itu, di sisi lain kota, seseorang sedang merobek kertas kecil bertuliskan alamat apartemen Jongdae. Tangannya gemetar. Napasnya sesak.

Lelaki itu—Honyun—berdiri lama di depan halte kosong, tak jauh dari kompleks sekolah tempat Areum dan Jongdae bersekolah. Hujan di atasnya tidak lagi tipis. Tapi ia tidak berlari. Ia hanya menunduk, seolah sedang mengutuki sesuatu yang tak bisa ia perbaiki lagi.

 

Areum tak bisa tidur malam itu. Setelah menutup buku catatan dan mematikan lampu kamarnya, gelap tak mampu menenggelamkan segala yang berkecamuk di kepalanya. Wajah Honyun, suara langkahnya, bahkan sorot matanya yang dulu menenangkan kini tampak seperti pantulan masa lalu yang tak bisa ia lupakan.

Dulu, saat rumah mereka seperti kapal bocor—retak dari fondasi hingga atap—Honyun adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tak terbawa arus. Ia bukan orang yang banyak bicara, tapi Areum selalu tahu kalau lelaki itu mendengarkannya. Mendengar tanpa menghakimi. Mengusap rambutnya diam-diam saat ayahnya melempar piring karena makanan kurang garam.

Tapi saat Areum mulai masuk SMP, Honyun pergi. Tak ada surat. Tak ada penjelasan. Hanya keheningan yang menyisakan luka seperti serpih kaca yang tertanam di telapak ingatan. Kini, Areum bertanya-tanya—kalau Honyun bisa pergi, kenapa ia kembali?

Dan di tengah kekacauan itu, satu suara menyela pelan dalam benaknya: "Apa aku masih bisa mempercayainya?"

 

Di sisi kota yang lain, Honyun masih berdiri di bawah atap halte, mengeringkan ujung rokok yang tak sempat menyala. Hujan berhenti beberapa menit lalu, tapi basah tetap tinggal di jaket lusuh yang dikenakannya. Ia membaca ulang nama jalan di secarik kertas—alamat apartemen Jongdae.

Ia tak jadi mendatangi tempat itu tadi malam. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu, seseorang di sana pasti tahu Areum. Dan ia tidak siap.

Tidak siap menjelaskan kenapa ia dulu pergi. Tidak siap mengakui bahwa kepergiannya bukan semata-mata karena ayah mereka, tetapi juga karena rasa bersalah yang ia kubur dalam-dalam. Areum bukan adiknya. Tapi ia juga bukan siapa-siapa. Dan ia telah gagal menjadi keduanya.

Sejak kabur dari rumah, Honyun hidup dari tempat ke tempat—pekerjaan kecil, utang besar, janji-janji yang tak bisa ia tepati. Dunia menghukumnya pelan, tapi pasti. Dan saat ia pikir ia bisa membalik keadaan, hutang baru datang bersama pria-pria yang lebih kejam dari masa lalunya.

Ia melihat nama Areum kembali muncul dalam daftar pikirannya—bukan sebagai pelarian, tapi satu-satunya alasan mengapa ia merasa dirinya masih manusia. Ia ingin memastikan Areum baik-baik saja.

Tapi bagaimana caranya?

Apa haknya?

 

Di waktu yang hampir bersamaan, Areum membuka laci kecil di meja belajarnya dan menemukan foto lama—dirinya saat usia sepuluh tahun, berdiri di samping Honyun yang mengenakan jaket kulit usang. Mereka tertawa. Di belakang mereka, bunga sakura bermekaran, dan seseorang—mungkin ibunya—menangkap momen itu dari balik kamera ponsel murah.

Areum menatap foto itu lama. Waktu bisa merubah wajah, tapi tidak dengan sorot mata. Dan dalam tatapan Honyun waktu itu, ia seperti melihat seseorang yang sedang berusaha mengikat dunia agar tidak hancur.

Sesuatu dalam dirinya mulai retak lagi—bukan karena kebencian, tapi karena rindu yang terlalu lama disangkal. Dan diam-diam, Areum berdoa… semoga jika Honyun kembali, ia datang bukan hanya membawa alasan, tapi juga kejujuran.

 

 

HONYUN

Siang itu, langit Seoul digelayuti awan tipis, seperti kabut musim gugur yang enggan benar-benar turun. Jeonghwa Station ramai seperti biasa, orang-orang lalu lalang dengan jaket setengah tertutup dan langkah tergesa. Honyun berdiri di pinggir peron, tangan di saku, mata mengikuti irama kota yang terlalu cepat baginya.

Ia tidak sedang menunggu siapa-siapa. Ia hanya ingin menunda waktu, berharap semesta memberinya sedikit petunjuk.

Lalu, seperti potongan mimpi yang menyelinap ke kenyataan, ia melihat seorang gadis berdiri tak jauh darinya. Rambut sebahu, mengenakan jaket wol abu-abu dan celana hitam. Gadis itu berbicara dengan seseorang di telepon—suaranya tenang, matanya tidak gelisah.

Areum.

Ia tahu itu Areum, bahkan sebelum gadis itu berbalik. Wajahnya sedikit berubah, lebih dewasa, tapi sorotnya masih sama—sorot yang dulu menatapnya penuh rasa ingin tahu dari balik pintu kamar yang setengah terbuka.

Honyun terpaku. Dunia seperti menahan napas, atau mungkin hanya dirinya.

Areum mendekat, tanpa tahu. Ia berjalan melewati Honyun seperti orang asing. Hanya sekejap mata mereka bertemu—sebuah benturan tanpa gema.

"Permisi," ujar Areum pelan, sopan, sekadar etika.

Lalu ia berlalu.

Tidak ada keraguan, tidak ada kilatan pengakuan. Tidak ada pertanyaan seperti "Oppa?" atau "Kita pernah bertemu?"

Honyun hanya berdiri diam, mengamati punggung gadis itu menjauh bersama gerbong trem yang datang. Ia tidak memanggil. Ia tidak mencoba menghentikan waktu yang terus melaju tanpa belas kasihan.

Tangannya menggenggam ponsel di saku jaket, nomor Jongdae masih tersimpan di layar, tak pernah dikirim.

Untuk sesaat, ia merasa seperti hantu. Bukan karena ia dilupakan, tapi karena ia sadar—dunia Areum mungkin lebih damai tanpanya.

Namun di hatinya, ada sesuatu yang tetap terjaga. Bukan harapan untuk dikenali, tapi sebuah keyakinan bahwa suatu hari nanti, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri—meski dalam sunyi, meski di ujung yang tak bernama.

Sudah hampir dua jam sejak Honyun turun dari trem. Ia tidak punya alasan pasti mengapa kakinya membawanya sejauh ini, hanya mengikuti arah kepergian Areum yang tertangkap oleh pandangannya di stasiun tadi. Ia bukan pengejar bayangan, setidaknya ia tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Tapi hari ini, langkahnya mengkhianati logika.

Dari kejauhan, Honyun melihat gadis itu masuk ke sebuah restoran kecil di pojok jalan—plang kayu di atasnya bertuliskan Chenchun Dak. Tempat yang tidak asing. Ia pernah melewatinya sekali dua kali saat malam-malam panjang, tetapi tidak pernah terpikir bahwa suatu hari, Areum akan ada di sana. Tersenyum.

Bersama seorang laki-laki.

Mereka duduk di meja dekat jendela. Sinar matahari pagi menyusup pelan ke sela tirai, dan di bawahnya, wajah Areum menyala lembut, tertawa kecil dengan ekspresi yang tidak pernah Honyun lihat sejak lama.

Laki-laki di hadapannya tidak mencolok. Rambutnya hitam legam, mengenakan sweater abu dan celana kain sederhana. Tapi cara laki-laki itu memperhatikan Areum—mata yang tajam tapi tenang, senyum tipis yang tidak dibuat-buat—semuanya terasa begitu… milik.

Honyun berdiri di seberang jalan. Ia tidak bisa berpaling, tapi juga tidak mampu melangkah maju. Ia bukan siapa-siapa dalam kehidupan Areum sekarang. Padahal dulu, ia adalah satu-satunya yang tahu mimpi-mimpi kecil Areum. Tentang taman yang ia ingin kunjungi, tentang lagu-lagu klasik yang membuatnya menangis pelan saat malam. Tentang ketakutan Areum yang ia genggam erat-erat, dan rahasia gelap yang pernah membuat mereka hampir kabur dari rumah.

Tapi kini, Areum tertawa. Tanpa dirinya.

Honyun hanya bisa menatap dari jauh, seperti orang asing yang pernah menjadi penting. Ada getar di dadanya yang bukan hanya rindu, tapi cemburu. Bukan pada Jongdae, melainkan pada takdir yang memilih jalan berbeda untuk mereka berdua.

Ia ingin marah. Pada Areum. Pada dunia. Tapi lebih dari itu—ia ingin tahu. Apakah Areum sungguh tidak mengingatnya? Atau justru memilih untuk melupakan?

Sore itu, langit berganti jingga dengan lamban. Tapi hati Honyun gelap sejak lama. Dan kali ini, ia tahu, rasa yang selama ini ia simpan rapat bukan hanya nostalgia. Itu adalah luka yang belum pernah sembuh karena belum pernah selesai.

Malam-malam panjang menjadi saksi diam langkah Honyun. Ia bahkan tak tahu sejak kapan ia menjadi pengintai dalam hidup seseorang yang dulu pernah ia sebut adiknya sendiri. Bukan karena darah—tapi karena luka yang mereka bagi diam-diam. Areum pernah menyebutnya rumah, dan Honyun dengan bodohnya percaya bahwa selamanya akan seperti itu.

Namun, semuanya berubah sejak hari itu. Sejak ia melihat senyum Areum yang bukan untuknya.

Nama laki-laki itu—Geum Jongdae. Seorang siswa SMA, usianya jauh di bawah Honyun, tetapi entah bagaimana, ada kesan dari anak itu yang tidak bisa diabaikan. Jongdae terlalu biasa. Terlalu sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah Honyun merasa terancam.

Ia mulai menguntit. Awalnya hanya mengikuti ke mana Jongdae pergi—dari restoran ramen itu, ke stasiun, ke arah apartemen kecil di tengah gang sempit yang tak ada satu pun papan nama di depannya. Jongdae selalu berjalan sendiri, kadang terlihat lelah, tapi langkahnya teguh. Tidak pernah meleng, tidak pernah lamban.

Apa yang Areum lihat darinya? pikir Honyun sambil mengawasi dari seberang jalan, wajahnya tersembunyi di balik hoodie hitam dan asap rokok yang menggantung di udara malam.

Setiap kali Areum menyebut nama Jongdae di telepon saat berbicara dengan seseorang—siapa pun—jantung Honyun berdegup lebih kencang. Ia menafsirkan segalanya dari cara Areum menyebut nama itu. Kadang pelan, kadang tergelincir dalam jeda yang terlalu lama, kadang tersenyum kecil setelahnya.

Baginya, itu cukup untuk meyakinkan: Jongdae adalah seseorang bagi Areum.

Dan itu menyiksa.

Honyun menolak mengakui bahwa rasa panas di dadanya adalah cemburu. Ia menolak mengakui bahwa kemarahannya yang muncul setiap kali nama itu terdengar adalah karena ia takut—takut kehilangan satu-satunya alasan ia tetap bertahan.

Jongdae menjadi bayangan yang ingin ia singkirkan. Ia mencatat setiap kebiasaan anak itu. Ia tahu Jongdae suka minum susu pisang dan kadang duduk di tangga belakang restoran ramen sendirian. Ia tahu Jongdae tak suka naik bus saat lelah, lebih memilih berjalan kaki melewati gang kecil yang sepi. Ia tahu Jongdae kadang menatap langit terlalu lama.

Dalam diamnya, Honyun merancang alasan. Ia pikir, mungkin kalau Jongdae jatuh, maka Areum akan kembali melihat padanya.

Ia salah.

Ia lupa bahwa Areum bukan miliknya untuk dimenangkan.

Tapi dalam batin yang terus menggelegak, Honyun hanya tahu satu hal: jika Jongdae mampu membuat Areum tertawa, maka ia harus tahu caranya menghapus tawa itu. Bukan karena benci—melainkan karena cinta yang menyakitkan. Karena harapan yang ditolak waktu.

 

 

Pagi itu bermula seperti pagi lainnya—matahari menggeliat di balik langit Seoul yang mendung tipis, sementara udara musim semi membawa aroma dedaunan basah dan roti panggang dari toko di ujung gang. Honyun berdiri di seberang jalan Chenchun Dak, menatap fasad bangunan tua itu dengan pandangan setengah curiga, setengah rindu.

Areum masuk beberapa menit lalu, langkahnya cepat seperti biasa, membawa bungkusan yang entah isinya apa, mungkin makanan untuk staf pagi. Honyun nyaris kehilangan jejaknya, tapi untungnya pagi itu sepi. Jalan belum ramai, dan hanya segelintir pejalan kaki melintas tanpa benar-benar memerhatikan apa pun.

Ia sedang bersiap berbalik, ketika selembar kertas menarik perhatiannya. Di bawah papan nama restoran, pemiliknya—Park Doha—baru saja menempelkan sesuatu. Brosur lamaran kerja. Posisi tetap, waktu fleksibel, dan gaji yang lumayan besar. Honyun sempat menyipitkan mata, mendekat, dan membaca dua kali.

Seolah semesta menyodorkan kesempatan dalam diam, ia menatap brosur itu dan tersenyum miris.

Ini jalannya, pikir Honyun.

Ia kembali ke apartemen kecilnya hanya untuk mengganti pakaian dan mengambil berkas lamaran. Pengalaman kerja yang panjang membuatnya percaya diri. Ia bukan anak baru yang akan diajari dari nol—ia pernah mengelola dapur, melayani pelanggan, bahkan membantu atasan merancang sistem shift yang lebih efisien. Park Doha cukup terkesan saat wawancara pertama, lalu menjadwalkan satu pertemuan lagi untuk mencocokkan jadwal.

Dua hari kemudian, semuanya menjadi nyata.

Rapat besar digelar di ruang belakang restoran Chenchun Dak. Semua karyawan hadir, termasuk Areum dan—yang tak pernah ia lihat dari dekat sebelumnya—Geum Jongdae.

Untuk sesaat, dunia seperti mengecil. Semua suara seolah meredam saat mata Honyun akhirnya bertemu dengan wajah Jongdae. Tidak ada yang istimewa pada pandangan pertama. Anak laki-laki itu bahkan tidak tinggi, kulitnya pucat, dan ada bekas kantung mata yang samar. Tapi di mata Honyun, semua itu menjadi penting. Wajah itu terlalu dekat dengan Areum, dan itu sudah cukup membuatnya tampak berbahaya.

Areum terlihat biasa saja. Tidak ada ekspresi khusus saat memperkenalkan dirinya pada Honyun. Ia tersenyum sopan, mengenalkan namanya, lalu kembali ke posisinya sambil membetulkan celemek.

Tidak ada getaran. Tidak ada sisa ingatan. Tidak ada dia.

Dan itulah yang paling menyakitkan.

Honyun duduk tenang saat Park Doha menjelaskan struktur kerja. Ia mencatat semua hal penting, menjawab beberapa pertanyaan, dan memperhatikan sekeliling. Jongdae duduk dua kursi darinya, sedang mencatat juga, tak menyadari satu tatapan yang lebih tajam dari silet menggurat kulitnya.

Dalam hatinya, Honyun tidak menyusun rencana balas dendam. Ia hanya ingin satu hal—membuktikan bahwa Areum salah memilih, meski pada dasarnya, tidak ada yang pernah dipilih. Bahwa kehadirannya berarti. Bahwa ia lebih dulu ada, lebih dulu tahu, lebih dulu menyentuh sisi tergelap Areum saat orang lain hanya menunggu cahaya.

Bukan tentang menang atau kalah, pikir Honyun, tapi tentang siapa yang bertahan paling lama dalam kesendirian tanpa menyerah.

Di sinilah ia sekarang. Di tengah pusaran kenangan dan kesalahpahaman, bekerja di tempat yang sama dengan orang-orang yang mengganggunya dalam mimpi. Semuanya mungkin akan semakin rumit, tapi Honyun sudah siap.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Areum tak lagi jauh.

Ia bisa mengawasi. Ia bisa mengukur jarak. Ia bisa membaca senyum itu perlahan—mencari tahu apakah masih ada tempat untuknya, meski hanya secuil. Meski, pada akhirnya, semua ini mungkin akan berakhir seperti sebelumnya—dengan Honyun yang berdiri sendiri.

 

Di antara hiruk-pikuk siang yang menggema dalam bunyi wajan dan suara pelanggan yang mengobrol ramai, Chenchun Dak berdiri sebagai ruang hidup yang tak pernah kehabisan cerita. Restoran ayam goreng itu tak sekadar tempat menjual makanan; ia seperti keluarga besar yang penuh tawa dan kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan.

Areum adalah satu-satunya bunga di ladang penuh keringat lelaki. Di balik apron putih dan senyumnya yang ramah, ia menyapa semua orang dengan ketulusan yang membuat hati lunak. Ia seperti musim semi yang tidak pernah absen, selalu datang membawa kantong plastik penuh makanan dari toko aksesoris tempatnya bekerja saat akhir pekan, lalu membaginya ke seluruh penjuru dapur sambil berkata ringan, “Hari ini kita makan manis, ya.”

Tak butuh waktu lama sampai seluruh kru menjadikan Areum sebagai pusat gravitasi mereka. Park Doha sendiri, si pemilik restoran yang sering berlagak keras, menyebut Areum sebagai "puteri bungsu yang telat ditemukan." Bahkan Jaewoo, yang biasanya hanya peduli dengan ayam goreng dan gajinya, sering bercanda, “Kalau Areum sampai resign, aku ikut keluar.”

Namun, segala kehangatan itu mulai bergetar sejak satu nama masuk ke dalam daftar karyawan tetap: Honyun.

Ia datang dengan langkah pelan dan sorot mata tajam yang seakan tak pernah mencari alasan untuk tersenyum. Tak seperti staf baru pada umumnya yang kaku dan penuh basa-basi, Honyun nyaris tak bicara. Ia bekerja cekatan, bersih, dan presisi—nyaris sempurna—tetapi dingin, seperti musim gugur yang tiba sebelum waktunya.

Dari hari pertama, Areum sudah merasakannya. Ada sesuatu dalam sorot mata Honyun yang tak bisa ia artikan. Bukan hanya dingin, tapi juga penuh... kenangan yang tak pernah ia simpan.

Areum semakin sering menghindar. Ia lebih banyak berada di konter depan, membatasi waktu di dapur jika tidak perlu. Saat pun terpaksa berada dalam satu ruangan dengan Honyun, ia bergerak cepat, seolah berusaha tidak memberi celah untuk bicara. Dalam beberapa kesempatan, Areum akan menarik napas panjang dan berbisik kepada Jongdae, “Aku nggak nyaman, Dae. Tatapan dia seperti... tahu sesuatu.”

Jongdae, seperti biasa, menanggapi dengan tenang. “Mungkin dia memang begitu orangnya. Masih adaptasi, Areum. Coba sabar sedikit lagi, ya?”

Ia bahkan menambahkan senyum ringan, mencoba meneduhkan, meski dalam hatinya sendiri, ia menyimpan kekhawatiran yang belum punya nama. Namun, tak disangka, ucapan ringan itu—yang semestinya hanya menjadi percakapan rahasia di antara dua rekan kerja dekat—terdengar oleh Honyun.

Hari itu adalah hari ketiga Honyun bekerja. Ia tengah mencuci tangan di ujung dapur saat suara Areum yang cemas dan jawaban tenang Jongdae menyusup dari celah rak bumbu. Suara itu menghujam pelan, tapi dalam. Seolah ada simpul di dadanya yang diikat paksa, lalu ditarik tanpa ampun.

Bukan Areum yang membuatnya marah.

Melainkan Jongdae—yang dengan mudah masuk ke ruang ketakutan Areum dan menjadi tempat yang aman. Sesuatu yang, bagi Honyun, hanya seharusnya ia miliki.

Hari-hari berikutnya, suasana menjadi tak lagi serupa. Honyun mulai menunjukkan ketidaksukaan yang samar-samar tetapi terasa: sengaja menaruh bahan-bahan jauh dari jangkauan Jongdae, mengoreksi hasil potongannya dengan nada sinis, bahkan beberapa kali mengubah suhu penggorengan tanpa izin. Hal-hal kecil yang tidak akan terlihat sebagai gangguan nyata, tapi cukup untuk membuat Jongdae bertanya-tanya.

Namun, Jongdae bukan anak kemarin sore. Ia tidak mudah terpancing, meski di dalam dirinya mulai tumbuh rasa jengah.

Satu-satunya yang sering menjadi penengah dalam diam adalah Jaewoo.

Dengan celemek lusuhnya yang setia dan tawa renyah khasnya, Jaewoo akan menyelipkan komentar lucu setiap kali suasana dapur menegang.

“Kalau ini drama, kayaknya ratingnya udah di atas dua digit,” gumamnya saat melihat Jongdae dan Honyun saling diam terlalu lama di meja persiapan atau ketika Honyun tak sengaja menjatuhkan nampan berisi adonan, Jaewoo menimpali, “Wah, ini pasti energi negatifnya udah sampai loyang. Kita butuh dupa dan musik healing.”

Tawa Jaewoo membuat semuanya terasa lebih ringan, meski tidak menyelesaikan apapun.

Areum sendiri mulai bersikap lebih protektif. Ia sering membantu Jongdae menyelesaikan tugas, bahkan tanpa diminta. Ia membela Jongdae saat Honyun menuduh kesalahan potong yang sebenarnya bukan miliknya. Semakin Areum menunjukkan keberpihakannya, semakin dalam luka Honyun menganga. Ia menyadari, semua ini mungkin bukan soal Jongdae. Tapi soal dirinya yang terlambat. Terlambat hadir. Terlambat bicara. Terlambat menjadi tempat bagi Areum untuk bersandar, saat yang lain sudah lebih dulu menempatinya dan mungkin, sejak awal... Honyun memang tidak pernah benar-benar memilikinya.

 

Hari itu, udara sore membawa hawa lembap yang ganjil, seolah langit pun ikut memendam sesuatu. Chenchun Dak mulai sepi perlahan; meja-meja mulai kosong dan dapur bersiap menghadapi pergantian shift. Namun di balik dinding dapur, suasana memanas seperti minyak yang terlalu lama ditinggal di atas api.

Pemicunya sederhana—sebuah nampan stainless jatuh dari rak atas dan menghantam piring saji yang baru saja Jongdae susun. Pecahannya berhamburan, mencipratkan minyak panas dan serpih saus ke arah apron Jongdae. Semua orang membeku, dan hanya satu suara yang terdengar dengan nada datar:

“Seharusnya kamu jangan simpan barang di tempat tinggi kalau nggak bisa tangkap saat jatuh.”

Honyun, dengan tatapan tanpa dosa, menatap reruntuhan kecil yang diciptakannya sendiri. Ia berdiri tak jauh, tangan masih menggenggam tepian rak. Semua tahu itu disengaja. Semua tahu sejak awal memang seperti itu.

Tapi Jongdae diam. Untuk sesaat.

Areum hendak melangkah, namun terhenti ketika Jongdae perlahan menegakkan tubuhnya, napasnya berat, matanya membakar. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, Geum Jongdae melepaskan kemarahan yang selama ini dikurung di dalam dada.

"APA MAUMU, HAH?!" serunya lantang, tajam seperti pisau yang dibenturkan ke meja logam. Semua berhenti. Jaewoo yang tengah membersihkan talenan menoleh dengan mata terbelalak. Pisau yang digenggamnya jatuh nyaris tanpa suara.

“Apa aku pernah salah padamu sampai kau terus cari cara menjatuhkan aku?! Hari ini berantakan! Dua kali order salah! Dan sekarang—sekarang kau nyaris bikin aku luka karena permainan bodohmu?!" Napasnya memburu, tubuhnya nyaris gemetar menahan emosi. Tapi Jongdae tidak menunggu jawaban. Ia melempar sarung tangannya ke wastafel, mendorong pintu dapur, dan pergi keluar.

Areum menoleh, syok dan tak sempat mengejar. Semua orang hanya saling pandang. Jaewoo, yang biasanya selalu punya komentar jenaka, kali ini hanya bergumam lirih, “Akhirnya meledak juga…”

Park Doha belum kembali dari gudang, tapi ketegangan itu seperti sempat menggantung di udara. Taeyoo, yang menyadari Jongdae tak akan kembali dalam waktu dekat, langsung mengambil celemek dan naik ke konter pelayanan. Untungnya, pelanggan sudah tak ramai. Sementara itu, di sisi luar bangunan, langit sudah mulai memerah. Jongdae berdiri membelakangi jalan, di balik tempat pembuangan kardus. Ia menengadah, mencoba menahan sesak yang menghimpit dadanya. Tangannya menutup wajah, dan napasnya naik turun tak teratur. Dalam diam yang panjang, akhirnya ia membungkuk, kedua tangannya bertumpu di lutut, dan dari sela-sela giginya terdengar umpatan pelan.

“Kenapa harus begini… kenapa selalu begini, Tuhan…”

Langkah kaki kecil tergesa-gesa menghampirinya. Areum muncul, tak membawa apapun selain cemas di matanya. Ia memegang pelan bahu Jongdae.

“Dae... aku di sini. Tarik napas dulu, ya?”

Jongdae tidak menjawab. Tapi Areum tidak mundur. Ia tetap di sana, membungkuk sedikit dan mengusap pelan punggung Jongdae yang gemetar.

“Semua orang tahu kamu bukan penyebabnya. Semua lihat. Jaewoo, Taeyoo, bahkan Pak Doha nanti juga akan tahu. Kamu nggak sendiri, Dae…”

Dalam jeda napas yang berat itu, Jongdae akhirnya bicara, suara seraknya nyaris seperti desis.

“Aku capek, Areum. Capek banget. Kenapa harus selalu jadi sasaran, kenapa aku nggak bisa tenang barang satu hari pun…”

Areum menggigit bibir bawahnya, tangannya masih menenangkan di punggung Jongdae. Ia tak pernah melihat Jongdae seperti ini. Lesung pipi yang biasa ia kenal kini menghilang di balik air mata yang tak jatuh, hanya bertahan dalam kilau rawan di matanya.

Namun mereka tak tahu, ada satu pasang mata yang menyaksikan semuanya.

Honyun berdiri di balik rak bumbu belakang, cukup dekat untuk mendengar. Tubuhnya bersandar pada tembok dingin, satu tangan mengepal erat. Nafasnya tak beraturan, dan bukan karena kelelahan.

Rasa yang membakar dadanya bukan lagi hanya marah—melainkan kehilangan. Ia membenci apa yang ia lihat. Membenci bahwa Areum menenangkan orang lain. Membenci bahwa bukan dirinya yang menjadi tempat Areum berlabuh.

Tangannya nyaris menghantam rak di sebelahnya, tetapi ia menahan. Tidak sekarang. Tidak di depan mereka.

Ia membalikkan badan, meninggalkan tempat itu dengan kepala penuh amarah, dada sesak, dan mata yang tak lagi bisa membedakan cinta dari dendam.

 

Sejak sore yang ricuh itu, waktu di Chenchun Dak mengalir dengan warna yang berbeda. Tak ada yang benar-benar membicarakan apa yang terjadi di belakang dapur, tapi semua tahu—semua mengingat. Hanya saja, seperti noda kecil di seragam putih, mereka memilih mengabaikannya, berharap lama-lama akan luntur sendiri.

Namun yang berubah paling nyata adalah Honyun.

Ia tidak lagi sering berbicara. Bahkan Jaewoo, yang biasanya bisa mencairkan suasana dengan celetukan konyolnya, hanya bisa melempar senyum ragu saat berpapasan dengan Honyun di pantry.

Honyun yang biasanya tak segan menyela Areum saat shift pagi kini memilih diam. Ia menjalankan tugasnya seperti mekanik tanpa percikan, seperti pekerja bayangan yang hanya hadir karena harus, bukan karena ingin. Ia menyelesaikan pekerjaan dengan rapi, bahkan lebih cepat dari siapapun, namun tak satu pun dari langkahnya membawa kehidupan.

Areum merasakan perubahan itu paling dalam. Tatapan yang dulu mengawasi kini menjadi kosong. Dingin, tapi bukan karena benci. Lebih tepatnya seperti hujan malam hari: hadir, basah, tapi tak pernah menyapa.

Jongdae? Ia masih menjaga jarak. Tak ada lagi pembicaraan ringan saat jeda makan. Ia masih sopan, masih membantu, tapi ada ruang kosong yang kini dibiarkan terbuka di antara mereka. Tidak ada yang mencoba menutupnya.

Namun semua tahu: Honyun sedang menahan sesuatu dan ketika waktu berjalan, ia mulai memperlihatkan sisi lain dari keheningannya. Sisi yang membuat Park Doha mulai bertanya-tanya, kenapa anak muda ini begitu pendiam namun gerak-geriknya seperti sedang menyusun sesuatu.

Honyun mulai mencatat, diam-diam.

Ia hafal jadwal Areum. Hari kapan ia datang lebih pagi, hari apa ia pulang lebih lambat. Honyun tahu betul saat Areum tertawa lebih lepas di hari Jumat dan saat ia lebih sering diam di hari Senin.

Ia juga memperhatikan Jongdae. Ia tahu kapan Jongdae istirahat, berapa banyak waktu yang Jongdae habiskan untuk membantu bagian dapur dibanding konter depan, siapa saja pelanggan tetap yang akrab dengannya. Semua ia simpan di kepalanya seperti menyusun puzzle.

Perlahan, ia mulai memainkan perannya dengan lebih halus.

Honyun tak lagi bersikap konfrontatif. Ia meminjamkan telenan saat Jongdae kehabisan. Ia membersihkan bagian dapur lebih dulu, pura-pura menghindari konflik. Namun dari tatapan matanya yang sesekali menangkap pantulan wajah Areum, jelas: itu bukan ketenangan. Itu adalah strategi.

Ia bersikap manis—tapi bukan manis untuk menyentuh, melainkan untuk menguasai. Dan itu membuat siapa pun yang cukup peka mulai merasa ada yang tidak seimbang dalam dapur Chenchun Dak.

Areum mengamati dari jauh, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Honyun tidak menyerang, tidak menekan, tapi ia tetap membuat Areum merasa dikurung.

Dan Jaewoo, meskipun tidak peka secara emosional, suatu hari menyelutuk pelan sambil memotong bawang:

“Rasanya kayak kita masak bareng bayangan, ya? Dingin, tapi tetap ada di belakang kita terus.”

Honyun tidak mendengar. Atau pura-pura tidak.

Namun yang pasti, di minggu-minggu yang berjalan perlahan itu, satu hal menjadi sangat jelas—Honyun tidak berubah karena dia memaafkan. Ia berubah karena ia memilih untuk menunggu, dalam cara yang membuat semuanya terasa seperti perang dingin dalam senyap.

 

Bagi sebagian orang, diam adalah bentuk kedewasaan. Tapi bagi Areum, diam bisa terasa seperti sangkar yang tidak terlihat, menyekapnya dengan ketegangan yang nyaris tak terjelaskan.

Perubahan sikap Honyun bukan sekadar mengganggu. Ia mengaburkan segalanya—membuat suasana kerja yang dulu hangat menjadi ruang penuh teka-teki. Semua bergerak seperti biasa, shift berjalan, meja-meja dibersihkan, piring-piring diangkat, pelanggan datang dan pergi. Tapi yang berbeda adalah udara—lebih berat, lebih dingin, lebih penuh rahasia.

Areum menjadi lebih diam. Bukan karena ia tidak ingin bicara, tetapi karena ia tak lagi yakin kalimatnya aman untuk didengar siapa. Bahkan Jaewoo, yang biasanya bisa membuatnya tertawa saat istirahat makan, kini lebih sering hanya melempar senyum kecil. Seperti ia tahu bahwa tawa Areum tidak datang dari tempat yang sama lagi.

Jongdae juga berubah, tapi caranya berbeda. Ia menjadi lebih protektif, lebih sensitif terhadap setiap tatapan yang Honyun lontarkan ke arah Areum. Ia tak pernah menegur langsung, tapi tak satu pun pembicaraan di meja dapur melibatkan nama Honyun, seolah pemuda itu bukan bagian dari bangunan yang sama. Dan semua staff tahu, walaupun tak satu pun yang membahasnya secara gamblang.

Park Doha justru mengira semuanya lebih baik.

"Anak-anak makin kompak, ya. Bagus-bagus. Honyun juga cepat nyambung," katanya suatu hari sambil menepuk bahu Jongdae yang hanya mengangguk kecil.
"Iya, Pak," sahut Jongdae pelan. Tidak setuju, tidak membantah. Hanya setengah dari dirinya yang benar-benar menjawab.

Pada suatu siang yang gerah menjelang sore, saat pekerjaan sedang melambat dan hanya tersisa tugas membersihkan konter, Taeyoo memecah keheningan. Ia dan Honyun berdiri berdampingan, membilas lap kain sambil menyeka sisa saus dari meja pelanggan. Dengan nada datar, Taeyoo berkata,

"Kau bisa bersikap lebih baik dari Jongdae seratus kali pun, tapi kalau Areum sudah lihat kau dari sisi yang dia tak suka, itu tetap tak akan jadi apa-apa."

Honyun berhenti mengelap. Tangannya menekan kuat permukaan meja hingga jari-jarinya memucat.

"Kau pikir aku cemburu padanya?" tanyanya pelan, tanpa menoleh.

"Aku pikir kau tahu jawabannya," jawab Taeyoo, lalu pergi begitu saja.

Honyun tidak berkata apa-apa. Tapi dalam dirinya, sesuatu mulai berdenyut—bukan sekadar marah, tapi malu, tersudut, kalah. Ia membenci perasaan itu. Membenci kenyataan bahwa seseorang seperti Jongdae bisa berada sedekat itu dengan Areum, bisa membuat Areum bersandar, dan bisa membuatnya, Honyun, terlihat seperti pecundang yang terlambat datang ke hidup seseorang yang bahkan tidak menunggunya.

Namun dari pengamatannya selama minggu-minggu berikutnya, sebuah kesadaran menghantamnya perlahan.

Jongdae tidak pernah menggenggam Areum.

Yang melangkah lebih dulu selalu Areum.

Yang menawarkan makan siang. Yang menghampiri Jongdae saat jeda. Yang memulai percakapan sambil membersihkan loyang. Yang tertawa pelan pada lelucon buruk Jongdae, hanya karena ingin mendengar suara pemuda itu sedikit lebih lama.

Dan dalam keheningan itulah Honyun mulai mengubah strategi.

Kalau sebelumnya ia melihat Jongdae sebagai perampas, kini ia melihat Areum sebagai pengkhianat. Bukan karena Areum mencintai orang lain, tapi karena Areum tak mengingat apapun tentang masa lalu mereka, tidak mengingatnya. Tidak lagi melihatnya sebagai seseorang yang layak disayangi, atau bahkan dikasihani.

Bagi Honyun, itu lebih menyakitkan daripada kehilangan.

Jadi ia menyusun rencananya kembali.

Ia mulai bicara sedikit lebih banyak dengan Areum—tapi tidak untuk membaik. Hanya cukup untuk dekat, cukup untuk membuatnya merasa bersalah, cukup untuk membuat Areum bertanya-tanya apakah dia melakukan kesalahan. Dan jika pertanyaan itu tumbuh di benak Areum, maka itu akan menjadi benih yang subur bagi keinginannya untuk dipedulikan.

Bukan cinta yang ingin ia rebut.

Melainkan kehadiran.

Perhatian.

Keberadaan yang tak lagi tergantikan.

Dan di balik wajah yang datar, itulah perang baru yang diam-diam sedang berlangsung di dapur Chenchun Dak.

 

Akhir musim gugur tiba dengan langkah ringan namun menggigit, seperti seseorang yang datang tanpa diundang lalu duduk di sudut ruangan, memandangi semua orang dengan tatapan tak ramah. Udara di Jeonsa mulai basah oleh kabut tipis yang menggantung dari pagi ke senja, dan jendela-jendela toko berembun lebih cepat dari biasanya. Daun-daun kecoklatan terhempas ke trotoar dan bergumul dalam genangan air dingin yang memantulkan langit kelabu.

Areum mengusap jemarinya yang dingin sambil berdiri di belakang dapur Chenchun Dak. Tangannya yang terbiasa dengan suhu minyak panas dan uap nasi kini terasa lebih rapuh dari biasanya. Tapi bukan karena musim yang berganti—melainkan karena sesuatu yang jauh lebih rumit, lebih menyakitkan, yang diam-diam tumbuh di sela-sela rutinitas.

Sejak kedatangan Honyun, segalanya berubah. Bukan dengan ledakan besar yang dramatis, tetapi dengan gesekan kecil yang merusak keseimbangan. Para staf bekerja seperti biasa, tersenyum, menyapa pelanggan, dan menguleni adonan. Tapi Areum tahu, senyum itu kerap dipaksakan. Langkah kaki mereka terlalu hati-hati, seakan setiap gerakan bisa memicu sesuatu. Kecuali Jaewoo. Ia masih sesekali melontarkan lelucon receh tentang pelanggan yang tak tahu membedakan dak-galbi dan dak-bokkeumtang, atau menggerutu soal talenan kesayangannya yang patah karena 'kutukan panci tumpah'.

Namun, kehangatan Jaewoo hanya hidup jika Honyun tidak hadir di tengah mereka. Keberadaan pria itu seperti bayangan musim dingin di sudut ruangan hangat—tidak menyentuh, tapi mengubah segalanya.

Hari itu, Areum, Jongdae, dan Taeyoo duduk di bangku istirahat dekat pintu belakang. Asap teh hangat mengepul pelan di tangan mereka. Tawa kecil mengalun saat Taeyoo bercerita tentang seorang pelanggan yang memesan kimchi sambil menangis karena putus cinta, dan Jaewoo—dalam ceritanya—memberikan bonus tteok karena "rasa asin air mata tidak cukup bikin pedas hidupnya".

Areum menoleh ke Jongdae yang duduk di sebelahnya, senyumnya halus, nyaris tak tampak. Ada ketenangan dalam pandangan pemuda itu, seperti senja yang diam-diam meredup—tetapi tidak padam. Jongdae membalas dengan senyum kecil, menyipitkan matanya sedikit, dan lesung pipinya muncul samar. Areum ingin menyimpan momen itu, kalau bisa, sebagai tempat berlindung dari dingin yang kian menusuk.

Tapi suara langkah sepatu Honyun memutuskan semuanya.

Ia datang dengan aroma sabun yang dingin dan penampilan rapi, seolah siap menghadapi wawancara penting ketimbang istirahat makan siang. Matanya menyapu mereka bertiga dengan sorot tajam namun tanpa kata. Ia menatap Areum lama, lalu berkata dengan datar,
“Taeyoo, Jongdae. Konter butuh dua orang. Areum, kau ikut aku sebentar.”

Seolah ada udara yang menghilang dari ruang kecil itu. Jongdae menegakkan punggungnya perlahan, menoleh pelan ke Honyun dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan—ada ketegangan yang tertahan, seperti senar yang nyaris putus. Taeyoo memutar matanya, lalu berdiri tanpa bicara, menepuk lututnya pelan. Suasana berubah dingin, sangat dingin. Bukan karena musim, tapi karena yang satu itu—karena Honyun.

Areum menatap Jongdae sejenak, matanya menyiratkan permohonan, seperti ingin berkata: Tinggallah. Jangan tinggalkan aku sendiri dengannya. Tapi sebelum Jongdae sempat memutuskan apa pun, suara Pak Doha memanggil mereka dari arah dapur. Taeyoo menepuk bahu Jongdae, seolah memaksanya bergerak dan hanya dengan itu, Areum tersisa sendirian.
Sendirian, bersama seseorang yang membuat tubuhnya merinding hanya karena napasnya.
Sendirian, bersama kenangan samar yang tak ingin ia ingat tapi selalu datang saat matanya tertutup. 

Pekik sunyi mengisi ruang istirahat. Bahkan dinding pun seolah enggan menggemakan suara mereka. Di luar, daun maple terakhir jatuh ke tanah yang basah dan Areum tahu—hari ini akan panjang.

 

Langkah Jongdae menjauh seperti bunyi detik jam yang memudar—pelan, pelan… hingga hilang. Pintu menutup perlahan, tetapi untuk Areum, bunyinya meledak di telinga. Dunia seperti dikunci dari dalam, hanya menyisakan ia dan Honyun dalam ruang yang dipenuhi aroma kayu lembap dan bekas teh hangat. 

Areum tidak berlari. Tapi lututnya menegang. Nafasnya memburu tanpa suara.
Sementara Honyun, berdiri di seberangnya, menghela nafas panjang dan menatapnya seperti seseorang yang baru saja tiba di puncak gunung setelah mendaki ratusan hari.

"Tenanglah…" suara Honyun ringan, nyaris seperti gumaman.

Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan yang tampak licin, jatuh rapi di lutut, dengan lipatan tajam hasil setrika pagi tadi—disetrika sendiri, dengan teliti, demi hari ini. Demi Areum. Ia tidak ingin tampak berantakan di depan satu-satunya perempuan yang membuatnya merasa hidup.

Tapi bagi Areum, Honyun tak ubahnya bahaya dalam bentuk manusia. Ia tidak bisa mempercayai ketenangan itu. Tidak lagi. Ia seperti berdiri di tepi jurang, kabut tebal di bawahnya, dan Honyun berdiri di belakangnya—siap mendorong atau menahan, tidak ada yang bisa ia pastikan.

“Pak Doha setuju,” kata Honyun ringan. “Kita dapat waktu istirahat sedikit lebih panjang hari ini. Untuk kita berdua.”

Areum perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menyempit. “Kau yang minta?”

Honyun mengangguk, senyumnya tumbuh kecil. “Tentu saja. Aku pikir, kita perlu waktu. Untuk bicara. Menyambung sesuatu yang belum selesai.”

Areum menggertakkan gigi pelan. Mual. Seluruh tubuhnya seolah bereaksi atas nada suara Honyun yang dipaksakan manis. Ia tak melihat lelaki itu sebagai siapa pun selain ancaman. Ancaman bagi Jongdae. Bagi kedamaian hidup yang telah ia bangun selama ini dengan susah payah. Ancaman bagi dirinya sendiri.

“Kau…” Areum memulai, suaranya gemetar, “apa kau tahu… betapa menyebalkan dirimu sejak hari pertama kau datang ke sini?”

Honyun tidak menjawab. Ia hanya terkekeh pelan, mengangkat alis dengan santai. “Tentu saja aku tahu,” katanya datar. “Tatapanmu bicara banyak, Areum. Bahkan sejak aku hanya berdiri di seberang jalan dan kau berpura-pura tidak melihatku.”

Areum mengepalkan tangannya. Matanya berkaca, bukan karena sedih—tetapi karena marah. Karena tertekan. Karena Honyun tak pernah bisa benar-benar mengerti batas.

“Kau membuat semua orang tidak nyaman. Jongdae, Taeyoo, bahkan Jaewoo yang biasanya selalu santai. Kau pikir semua akan lupa karena kau mulai bersikap manis dan diam?!”

“Aku tidak peduli dengan mereka,” jawab Honyun cepat, nadanya mulai retak. “Aku hanya peduli padamu. Dan aku tidak suka kau bersembunyi di belakang Jongdae—seolah dia pelindungmu. Padahal…”

Padahal apa? Ia tak melanjutkan.

Areum menatapnya, sengit. “Padahal kau pikir kau lebih layak? Karena kau mengenalku lebih lama? Karena kau kakakku?”

Diam menyelubungi mereka. Honyun mendongak pelan, lalu menatap Areum—tidak lagi dengan teduh. Ada luka di sana. Luka yang membeku terlalu lama dan kini mulai retak di bawah tekanan mata perempuan yang ia pikir akan menyambutnya kembali.

“Aku hanya ingin kau peduli,” katanya lirih. “Itu saja, Areum…”

“Tapi kau memilih untuk menyakiti,” jawab Areum cepat. “Dan itu bukan cinta, Honyun. Itu ego.”

Honyun menunduk. Matanya menyipit. Ia terkekeh lagi, kali ini getir.

“Jadi begitu kau melihatku sekarang?”

Areum mengangguk pelan, tanpa ampun. “Begitulah aku memutuskan untuk bertahan.” Dan untuk pertama kalinya, sejak mereka kembali bertemu di tempat ini, Honyun tidak tahu apa yang harus ia katakan.

 

Honyun membeku.

Bukan karena marah, bukan pula karena terkejut. Tapi karena tubuhnya tak sanggup menerima kenyataan: Areum mengingat segalanya. Bukan hanya wajahnya, suaranya, atau masa kecil mereka yang berlarian di lorong rumah dengan bau masakan ibu—tapi juga luka. Semua luka yang Honyun kira telah terkubur oleh waktu dan jarak.

Areum berdiri di hadapannya, bukan lagi gadis kecil yang dulu ia tinggal tanpa pamit. Kini Areum adalah badai. Dan badai itu datang dengan mata yang merah, suara yang bergetar, tapi juga keberanian yang selama ini hanya ia simpan dalam diam.

“Aku tahu siapa kau, Honyun.”

Honyun menelan ludah, tapi kerongkongannya kering. Tidak ada yang bisa ia katakan.

Areum melangkah maju. “Aku tahu, dan aku ingat. Semuanya. Hari di mana kau menghilang. Malam di mana ibu tidak bisa berhenti menangis. Hari-hari ketika kami harus berpindah rumah karena ayah… karena ayah semakin gila sejak kau pergi.”

Suaranya meninggi. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Kau tahu? Aku harus tidur di tempat ibadah selama tiga minggu karena ibu takut kami disusul. Aku bahkan tidak sempat membawa bonekaku sendiri. Satu-satunya barang yang kupunya waktu itu adalah jaketmu yang kau tinggal di kursi ruang tamu!”

Honyun membuka mulut, tapi Areum tak memberinya ruang.

“Lalu bertahun-tahun setelahnya, kau datang ke sini, seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjelasan. Kau hanya datang… dan menuntut aku peduli padamu?!”

Suara Areum pecah.

Tangis yang selama ini ia tahan, akhirnya menyeruak. Teriakannya menggema ke ruang terbuka, terhantam angin yang membawa akhir musim gugur menuju musim dingin. Tanah di bawah kaki mereka keras dan pucat, dingin dan kering. Airmata Areum jatuh ke tanah itu, tak sempat mengalir jauh, hanya membekas di permukaan yang nyaris membeku.

Honyun tidak bergerak. Dunia seperti kabur di sekelilingnya. Matanya menatap kosong, napasnya memburu. Dulu ia membayangkan pertemuan kembali ini akan penuh haru, penuh rindu. Tapi ternyata, pertemuan mereka tak lebih dari reruntuhan.

Areum menahan dada, tubuhnya gemetar, seperti ingin roboh. “Kau bahkan tidak mencari kami! Tidak pernah sekali pun menghubungi! Padahal kami—aku—aku…”

Isaknya mengguncang ruang. Tangannya menutup wajah, bahunya terguncang. Ia berdiri sendiri dalam hujan perasaannya yang runtuh, tak peduli lagi bagaimana ia terlihat. Rasa sakit itu terlalu tua, terlalu lama terkubur untuk bisa dibendung hari ini.

Dari dapur, suara itu terdengar samar. Jongdae yang sedang mengeringkan gelas berhenti. Taeyoo menoleh dengan cepat. Jaewoo meletakkan nampan dengan pelan, tidak seperti biasanya. Suasana berubah dingin, setipis es yang melapisi jendela.

Pak Doha berdiri di dekat rak bumbu, wajahnya tenang, namun matanya tajam dan paham. Ia mengangkat satu tangan, memberi isyarat kecil—jangan ganggu mereka.

Tak ada yang protes.

Karena mereka semua tahu. Pak Doha sudah tahu. Ia yang mengonfrontasi Honyun diam-diam beberapa minggu lalu, setelah Jaewoo—dengan raut yang kesal dan heran—mengatakan bahwa Jongdae nyaris meledak karena ulah Honyun. Doha menyelidiki, ia menghubungi kerabat, mencocokkan nama belakang, asal kampung, hingga akhirnya menemukan seseorang—orang kepercayaannya yang pernah dititipi adik Areum saat itu.

Dan semuanya menjadi masuk akal.

Kini, yang terdengar hanyalah isak tangis Areum. Teriakan yang menjadi runtuh. Gema yang terbawa angin, menembus dinding dan hati siapa pun yang mendengarnya.

Honyun masih membeku. Bukan hanya tubuhnya—tapi seluruh dunianya. Ia melihat Areum, dan tahu, tak ada jalan pintas untuk kembali. Ia telah kehilangan semuanya sejak lama. Hanya saja, ia baru sadar sekarang.

Dari balik meja konter, Jongdae menunduk dalam. Kedua tangannya bertumpu di meja, jari-jarinya saling bertaut seolah menahan dirinya untuk tidak ikut runtuh. Dalam diamnya, ia berdoa. Agar semuanya cepat membaik. Jika tidak hari ini… maka semoga minggu depan. Dan jika bukan minggu depan… semoga waktu akan memberi mereka kesempatan untuk kembali utuh, perlahan.

Karena luka yang dibicarakan hari ini…

Adalah luka yang tidak akan sembuh hanya karena waktu berlalu.

 

Udara sore semakin jatuh ke suhu yang menusuk. Tanah memucat, langit menggigil di balik awan tipis yang menggantung. Tak ada yang bergerak selain tubuh Areum yang terguncang di antara lengan Pak Doha, dan Honyun yang diam, seakan beku di tempat.

Pintu belakang bangunan Chenchun Dak terbuka. Langkah berat namun tegas mengayun pelan menuju keduanya. Pak Doha tidak berkata apa-apa saat memeluk Areum dari samping, dengan satu lengan kuat yang menenangkan punggung gadis itu. Tangis Areum pecah sekali lagi saat merasakan sentuhan penuh perlindungan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa selain menggenggam kuat celemek yang masih melingkar di pinggangnya.

Sementara Honyun menunduk, tak bisa menatap. Namun ia merasakan tatapan Pak Doha yang dingin—bukan karena membenci, melainkan karena kecewa dan tahu terlalu banyak. Tatapan yang membuat siapa pun tak sanggup bersembunyi.

Suara Pak Doha terdengar pelan, namun tajam.

“Jongdae sudah memberitahuku malam itu, saat kalian melihatmu di gang dengan pria berjas. Ia tak menambah, tak mengurang. Hanya mengatakan kebenaran. Dan saat itu juga, aku tahu... kau bukan hanya bagian dari masalah Areum. Kau adalah bagian dari hidupnya.”

Honyun menutup matanya. Rasa bersalah mengalir dari ubun-ubun hingga telapak kaki. Ia ingin runtuh. Ingin menghilang ke dalam tanah yang dingin dan keras itu.

Pak Doha melanjutkan, suaranya melembut. “Sejak saat itu, aku berbicara pada Areum. Aku tawarkan tempat tinggal, keamanan. Aku tahu dia tak akan pulang ke rumahnya, dan aku tak akan membiarkannya tidur dengan rasa takut yang sama seperti dulu.”

Areum menangis tanpa suara, hanya tersedu dalam pelukan pria tua yang kini lebih seperti ayah daripada pemilik restoran.

“Dan kau, Honyun…” Pak Doha kini menatap pemuda itu dalam-dalam. “Aku tahu siapa kau bahkan sebelum kau menuliskan nama di formulir lamaran kerja. Aku tahu dari cara Areum melihatmu hari pertama kau datang. Aku tahu dari caramu menatap dapur seakan itu rumah yang pernah kau kenal. Aku tahu... dari semua diam yang kau bawa.”

Honyun perlahan mendongak.

Pak Doha menghela napas berat. “Itulah sebabnya aku menerimamu. Karena aku tahu, anak yang terluka bukan untuk diusir. Tapi dibimbing. Tapi aku juga tahu, kadang, anak yang paling terluka... justru melukai yang paling ia cintai. Dan itu yang kulihat di kalian berdua.”

Diam. Sunyi.

Pak Doha meraih bahu Areum dengan lembut, menatap Jongdae yang sudah berdiri di ambang pintu belakang.

“Bawa Areum ke dalam.”

Jongdae mengangguk dan melangkah cepat. Dengan hati-hati ia menyentuh lengan Areum, mengajaknya pergi dari tempat itu tanpa suara. Areum menurut, meski tubuhnya lemas dan matanya bengkak.

Di dalam, Taeyoo langsung berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya menegang, begitu pula Jaewoo yang hanya bisa menatap kosong. Jangwoo menunduk dalam, seperti menyerap semua luka Areum dalam diamnya dan di luar sana—di tanah dingin yang sepi—tinggallah Honyun dan Pak Doha.

Pak Doha menatap pemuda itu lama. “Kau marah?” tanyanya tenang.

Honyun tak menjawab. Ia bahkan tak bisa mengangkat wajahnya. Tapi kemudian, dengan suara yang pelan, ia bergumam, “Kenapa kau membiarkanku, Pak? Kenapa tidak langsung bilang? Kenapa tidak menegurku dari awal? Aku... Aku pikir ini semua tidak adil.”

Pak Doha menatap langit sebentar, sebelum menjawab, “Karena jika aku menghentikanmu saat itu... kau akan lari. Dan aku tahu, kau butuh ruang untuk menyesal. Kau perlu melihat, dengan matamu sendiri, seberapa besar kerusakan yang bisa kau buat. Bukan untuk menyiksamu, tapi agar kau sadar... kalau kau bisa memperbaikinya.”

Diam.

“Kalau aku paksa kau minta maaf dari awal, kau hanya akan merasa terpojok. Tapi hari ini... kau datang ke titik ini sendiri. Dan itu artinya, kau sudah tahu betapa dalamnya kau mencintai Areum, dan betapa menyakitkannya cara kau melindungi dirimu sendiri.”

Honyun tak bisa berkata-kata. Tenggorokannya tercekat. Kepalanya menunduk dalam-dalam.

Pak Doha tak menambahkan apa-apa. Ia hanya menepuk bahu Honyun, sekali. Tegas dan berat. Lalu ia pergi, meninggalkan pemuda itu dalam senyap, dengan langit sore yang semakin memudar dan Honyun berdiri sendiri—lagi. Dikelilingi tanah yang dingin, langit yang kelabu, dan perasaan hancur yang tak bisa lagi ia sangkal.

 

Lampu gantung di atas meja-meja kayu mulai meredup, menyisakan cahaya kuning pucat yang menyentuh permukaan seperti kenangan yang enggan pergi. Di luar, musim gugur sudah hampir benar-benar berpamitan—udara menusuk, tanah mengeras, dan embun mulai berkumpul di ujung jendela. Chenchun Dak perlahan-lahan sunyi. Kursi sudah dibalik dan disandarkan ke meja. Suara pel lantai tinggal gema lembut di tengah kekosongan. Di sisi dapur, aroma terakhir dari rebusan kaldu masih menggantung samar, seperti bekas napas hangat di antara dingin yang menyelinap masuk dari celah pintu belakang.

Areum sudah pulang lebih dulu bersama Jaewoo dan Pak Doha. Tak ada kata yang perlu diucap untuk menjelaskan kelelahan di wajah mereka. Hanya kebisuan yang mengikuti langkah-langkah mereka menjauh dari cahaya.

Tersisa Taeyoo, Jongdae, dan Honyun.

Tak ada yang berbicara. Hanya suara plastik yang digeret dari dapur belakang, langkah sepatu di lantai yang sedikit lembab, dan denting terakhir dari sendok yang dimasukkan ke tempat cuci.

Honyun membersihkan meja perlahan. Punggungnya sedikit membungkuk, seolah beban yang ia pikul menekuk punggung itu dalam-dalam. Ia tak menoleh, tak bicara. Hanya bergerak... seperti robot yang hampir kehabisan tenaga.

Jongdae dan Taeyoo baru kembali dari membuang sampah ke kontainer belakang. Aroma plastik terbakar dan dingin tanah masih menempel di pakaian mereka. Jongdae melepas sarung tangannya, menggulung lengan baju, lalu menatap punggung Honyun yang tak juga bergerak dari meja pojok.

Pelan, namun jelas, suara Jongdae terdengar, menembus ruang yang kosong.
“Aku tahu Areum mengkhawatirkanmu.”

Langkah Honyun berhenti. Tangannya yang menggenggam kain lap tampak menegang.

“Sejak malam itu... sejak kami melihatmu di gang sempit dengan para penagih. Dia cemas, benar-benar cemas. Tapi dia nggak tahu harus melakukan apa.”

Jongdae berbicara dengan tenang. Tak ada nada tinggi, tak ada jejak kemarahan. Yang tersisa hanya suara laki-laki muda yang memahami luka orang lain, karena ia juga pernah berada di sana.

“Aku nggak tahu soal masa lalu kalian. Nggak tahu apa-apa soal hubungan kalian. Tapi Areum seperti adikku sendiri. Dan aku... cuma ingin melindunginya.”

Jongdae berhenti sebentar, menarik napas panjang. 

“Dia seperti mengingatkanku pada Naari. Mungkin karena itu aku jadi terlalu ikut campur. Maaf kalau kelihatan seperti itu. Tapi... bukan karena aku menyukainya. Sama sekali bukan.”

Honyun masih diam. Tapi matanya mulai berair. Ia tidak berani menoleh.

“Aku ngerti kamu nggak suka aku, Honyun. Mungkin kamu pikir aku penghalang, atau orang asing yang sok dekat. Tapi semua rasa benci itu... nggak ada artinya sekarang. Karena semuanya udah terbuka.”

Jongdae menatap lantai sebentar, lalu kembali ke arah Honyun. “Aku tahu kamu nyakitin banyak orang. Tapi bukan karena kamu jahat. Jaewoo tahu. Makanya dia bicara ke Pak Doha. Dan... Pak Doha juga tahu semua.”

Terdengar bunyi napas tertahan dari Honyun. Ia masih membelakangi, tapi tubuhnya sedikit berguncang.

“Sejak lusa lalu, Pak Doha cerita semuanya ke aku,” lanjut Jongdae pelan. “Aku tahu... kamu bukan orang asing bagi Areum. Dan aku sadar, tempatmu di hati Areum nggak pernah bisa kuganti, bahkan kalau aku mencoba sekalipun.”

Akhirnya, Honyun membalikkan badan. Wajahnya tampak hancur, lesu, dengan mata yang tampak kehilangan arah. Tapi ia menatap Jongdae untuk pertama kalinya hari itu, benar-benar menatap dan saat itu pula... Honyun sadar bahwa ia ingin menjadi seperti Jongdae.
Bukan karena Jongdae sempurna. Tapi karena Jongdae tetap bisa mencintai orang lain, bahkan tanpa memiliki. Dan Areum mencintainya—sebagai keluarga, sebagai cahaya. Sesuatu yang Honyun sendiri tak pernah tahu caranya dulu.

Jongdae hanya menatap balik, tak gentar sedikit pun meski tubuhnya lebih pendek. Justru... kebaikan di matanya membuatnya tampak lebih tinggi dari siapapun.

“Aku udah bilang perasaanku ke Areum,” ucap Jongdae akhirnya. “Dan dia juga tahu. Cuma sebatas kakak ke adik. Aku nggak pernah berharap lebih. Tapi kamu... kamu punya tempat di hatinya yang nggak bisa aku sentuh.”

Kata-kata itu memukul Honyun tepat di dadanya.

Ia ingin bicara, tapi lidahnya kaku.

Ingin menjawab, tapi bibirnya kelu.

Jongdae melirik ke arah pintu belakang. Taeyoo sudah berdiri di sana sejak tadi, bersandar pada kusen dengan pandangan berat. Saat mata mereka bertemu, Taeyoo memberi anggukan pelan. Jongdae menghela napas, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum menutup pintu, ia berkata sekali lagi, “Kunci pintunya, ya. Kalau kamu udah selesai.”

Lalu suara langkah mereka menghilang di lorong sempit.

Tinggallah Honyun sendiri. Di tengah meja-meja yang bersih, lampu-lampu yang menggantung lesu, dan lantai yang mulai mengering.

Hatinya hancur—tanpa bentuk.

Dunianya... rata dengan tanah.

Daftar Chapter

Chapter 1: Prolog

173 kata

GRATIS

Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...

7,102 kata

GRATIS

Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...

5,276 kata

GRATIS

Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu

6,005 kata

GRATIS

Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi

6,094 kata

GRATIS

Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...

7,734 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama

8,481 kata

GRATIS

Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah

11,467 kata

10 KOIN

Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti

6,238 kata

10 KOIN

Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup

5,144 kata

10 KOIN

Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu

5,994 kata

10 KOIN

Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan

6,065 kata

10 KOIN

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!