')">
Progress Membaca 0%

Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu

Alvianti Purnamasari 31 Mar 2026 5,356 kata
GRATIS

Malam itu, cahaya lampu hotel memantul di kaca jendela kamar Marion seperti bintang-bintang yang ragu untuk bersinar. Di dalam kamar yang sunyi, ia duduk di tepi ranjang, menyandarkan dagu pada lutut yang dipeluknya, sementara ponsel tergeletak begitu saja di atas meja. Layar hitamnya menatap balik, dingin dan kosong. Tak ada pesan. Tak ada penjelasan. Seolah jarak antara kota ini dan pedalaman tempat Yuri ditugaskan—Brecon Moorlands, Glenrothes—begitu ia mengingat—justru lebih kecil dari jarak yang perlahan-lahan membentuk dinding di antara mereka.

Ia menggigit bibir, menahan denyut tak nyaman yang terus menguar di dadanya sejak Lucien Park menyebutkan nama Yuri di hadapan perempuan lain. Seseorang yang tak sesuai tinggi tubuh Marion, seseorang yang bukan dirinya.

Lucien tidak tertawa seperti orang yang ingin membuat keributan. Tapi kalimatnya menempel di kulitnya seperti udara panas yang tak bisa disapu malam.

Marion memejamkan mata. Ia ingin tidur. Tapi tidur seperti tidak berniat menyapanya malam itu.

 

 

Aula Longford masih sepi saat Marion datang lebih awal. Langkahnya menggema pelan di antara lantai marmer dan kursi-kursi yang tertata rapi dalam garis-garis geometris. Tak ada suara selain bisikan sunyi pendingin ruangan dan kerling cahaya pagi yang baru merayap masuk dari sela tirai tebal. Meja-meja juri belum ditempeli nama, taplak masih dilipat di sudut ruangan.

Namun udara di sana terasa berat. Bukan karena final yang akan segera digelar, bukan karena kandidat kuat atau tekanan penjurian yang ketat—tapi karena sesuatu yang belum bisa ia pahami sejak malam sebelumnya.

Marion berdiri di tengah aula, sejenak menatap kursi-kursi kosong itu seakan mengukur kekosongan yang sama di dalam dirinya. Lalu ia menarik napas panjang, merapikan name tag di dadanya, dan melangkah ke ruang panitia. Hari ini akan panjang. Dan hati yang retak tak bisa jadi alasan untuk berhenti.

 

 

Pagi di hari final lomba debat internasional tak dihiasi kemeriahan seperti yang dibayangkan banyak orang. Tidak ada gemuruh riuh atau suara serak panitia yang menggema di aula utama. Yang ada justru keheningan penuh ketegangan—seperti udara yang menahan napas sebelum badai.

Marion Lancewood berdiri di sisi panggung, mengenakan kemeja putih gading yang disetrika buru-buru. Rambutnya digulung rapi, matanya cekung karena tidur hanya dua jam semalam. Ia mencatat daftar urutan tampil sambil menahan detak jantungnya yang belum stabil sejak semalam.

Lucien Park masih mengganggu pikirannya. Bukan karena sikapnya yang kasar—tidak, Lucien sangat sopan dan bahkan tampak tulus—tapi karena kata-katanya. Ia bilang melihat Yuri bersama perempuan lain di sebuah kafe malam sebelumnya. Sementara Yuri sendiri... seharusnya sedang berada di wilayah pedalaman Brecon Moorlands, Glenrothes untuk kegiatan penelitian satelit komunikasi. Tidak ada sinyal. Tidak ada kabar.

Ellie datang menyodorkan botol air padanya. “Kamu belum minum dari tadi,” ucapnya singkat.

Marion mengangguk, mencoba tersenyum. Ellie tidak banyak bertanya—seolah tahu ada yang tidak beres, tapi menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Mereka duduk di kursi panitia, berjajar di belakang meja registrasi yang baru saja dibersihkan.

Aula pelan-pelan dipenuhi peserta. Sorot lampu mulai menyala satu per satu, dan para juri datang tepat waktu. Lucien Park termasuk yang pertama duduk. Ia melirik Marion sejenak—bukan dengan tatapan menuduh, tapi lebih seperti seseorang yang masih menyusun puzzle dan belum menemukan ujungnya.

Marion membuang napas panjang. Ia tahu hari ini seharusnya ia fokus pada lomba, pada tanggung jawab yang ada di pundaknya. Tapi suara Lucien kemarin malam terus bergaung:

"Dia menyebut namanya sendiri ke resepsionis. Itu Yuri. Aku nggak mungkin salah lihat."

Di dalam pikirannya, Marion mulai bertanya hal yang paling menyakitkan:

Kalau memang Yuri tidak sedang berada di pedalaman, kenapa ia tidak menghubungi Marion terlebih dahulu?

 

 

Aula utama Longford tampak jauh lebih megah pagi itu. Tirai belakang panggung diganti dengan latar biru laut berlogo perak bertuliskan “Final Round: Longford Inter-School Debate 2018”. Di sisi kanan dan kiri panggung, bendera dari berbagai sekolah peserta dipasang rapi, berkibar pelan oleh hembusan angin dari AC sentral. Deretan kursi penonton tersusun dalam barisan yang lebih simetris daripada hari sebelumnya, dilapisi kain abu tua dengan pita emas di sandarannya. Barikade ringan membatasi area penonton dengan ruang panitia dan juri.

Tepat pukul 09.00, acara dimulai dengan sambutan dari kepala sekolah Longford, diikuti pemutaran klip dokumentasi perjalanan lomba dari babak awal hingga semifinal—semua ditampilkan di layar proyektor besar dengan suara lembut yang mengisi aula, disambut tepuk tangan hangat dari para peserta dan undangan.

Setelahnya, pembawa acara naik ke podium. Ia membacakan rundown final dengan suara jernih, penuh ketegasan. Format final tahun ini menggunakan sistem gugur dua sesi; 

 

·        Sesi pertama (09.45–11.00): Dua tim dari grup A dan B saling berhadapan.

·        Sesi kedua (11.15–12.30): Dua tim dari grup C dan D bertanding.

·        Sesi debat final (14.00–15.30): Pemenang dari kedua sesi bertemu dalam adu argumen pamungkas.

 

Masing-masing tim diberi waktu 5 menit untuk pembukaan, 10 menit argumentasi utama, dan 5 menit penutup. Ada sesi tanya jawab dari juri setelah setiap debat selesai, yang akan menjadi salah satu penilaian kunci.

Tema besar debat final diumumkan pagi itu:

“Is Global Citizenship a Threat to National Identity?”

Tema itu langsung memunculkan bisik-bisik kecil di antara para peserta—tema yang berat, kontemporer, dan menggugah, dengan ruang tafsir yang luas.

Para juri mengambil tempat mereka di meja panel tepat di depan panggung. Meja itu dilapisi linen kelabu gelap dan diberi nama tiap juri dalam ukiran akrilik transparan. Mikrofon, botol air, dan map penilaian sudah disiapkan.

Lampu ruangan dibuat lebih lembut dari biasanya, menciptakan atmosfer yang tidak terlalu formal namun tetap menuntut fokus tinggi. Musik instrumental ringan diputar pelan di sela jeda antar sesi, menciptakan ritme halus di balik ketegangan.

Sementara itu, di belakang panggung, para peserta tampak menyiapkan argumen mereka untuk sesi pertama. Panitia menjaga ketat agar tidak ada kebocoran topik antar tim. Marion dan timnya—meski sesekali terlihat lelah—bergerak cepat, mengatur mikrofon cadangan, timer digital, dan memastikan tidak ada kerusakan teknis.

Di luar aula, pengunjung bebas lalu lalang. Tapi di dalam ruangan ini, semua terasa seperti ruang di antara dua tarikan napas. Tenang. Tegang. Dan menunggu suara pertama dari pembicara pembuka yang akan segera mengubah segalanya.

 

 

Suasana aula utama dipenuhi sorot lampu putih bersih yang memantul lembut di dinding kaca dan lantai kayu. Panggung utama telah diatur rapi: dua podium saling berhadapan, dan di tengahnya, deret meja panjang tempat para juri duduk, dikelilingi karangan bunga eucalyptus dan larkspur ungu.

Tim dari Larkspur High berdiri di sisi kiri panggung dengan seragam krem elegan dan pin kecil lambang burung di kerah mereka. Di sisi kanan, Argent Institute tampil kontras dalam balutan jas arang gelap dan dasi kebiruan. Kedua tim membawa sorot mata yang sama—penuh nyala dan ketegangan. Saling lirik tanpa senyum, seolah panggung itu adalah arena duel dan setiap kata bisa menjadi peluru.

Dari balik tirai samping panggung, Marion Lancewood berdiri dengan clipboard di tangan, tubuhnya setengah tersembunyi di balik tiang lampu gantung yang menjulang. Ellie berada beberapa langkah darinya, sedang memberi isyarat pada kru kamera untuk bersiap menyorot tim pembicara pertama.

Suasana mendadak hening saat moderator memanggil giliran tim Larkspur membuka mosi. Marion nyaris bisa mendengar detak jarum jam digital di tangannya, berdetak selaras dengan degup jantungnya sendiri. Mosi selanjutnya hari ini berat: "This House Believes That AI Development Should Be State-Regulated, Not Corporate-Led." Topik yang secara mengejutkan menyentuh juga pada proyek riset pribadi Marion di luar kampus saat ia masih duduk di bangku kuliah. Ia menatap diam-diam, merasa seperti sedang melihat pertarungan yang menggemakan keresahannya sendiri.

Pembicara pertama Larkspur melangkah maju, suara tremornya nyaris tak terdengar saat membuka dengan analogi tajam: "We do not give weapons to children unsupervised—why then should we hand the future to private labs, unchecked and blindfolded?"

Penonton bergumam. Beberapa juri saling melirik. Tim Argent, tak ingin kalah, menjawab dengan ketenangan yang nyaris dingin. Pembicara pertamanya mematahkan analogi itu dengan membalikkan tanggung jawab pada kelambanan negara dan efisiensi korporasi dalam mengembangkan teknologi yang menyelamatkan nyawa. Pertarungan dimulai.

Di balik layar, Marion menahan napas. Ia memperhatikan lebih dari sekadar kata-kata—ia membaca gestur, urat leher yang menegang, cara tangan peserta meremas catatan, dan tatapan saling menggugah yang saling dilontarkan antar tim.

Debat berlangsung dalam tempo cepat. Kedua tim saling beradu bukan hanya dengan fakta, tapi juga dengan retorika dan ketajaman naluri. Ada satu momen ketika peserta Larkspur nyaris terdiam oleh serangan balik Argent—tapi dengan satu senyuman tipis, ia membalikkan situasi dengan kutipan dari makalah akademik milik profesor yang menjadi salah satu juri.

Sorakan pelan dari sudut aula. Marion menyentuh bibirnya dengan ujung pena. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan hanya final biasa. Ada semacam percik yang meletup di udara. Ketika moderator mengetuk meja tiga kali, menandakan akhir sesi pertama, aula kembali hening sejenak sebelum akhirnya riuh tepuk tangan menggema, sebagian karena takjub, sebagian karena lega. Beberapa penonton berdiri diam-diam, seperti enggan membiarkan debat itu benar-benar selesai.

Marion mengembuskan napas panjang. Tangannya masih menggenggam penanda waktu, tapi seluruh tubuhnya terasa hangat, seolah ia ikut berada di tengah-tengah medan argumen barusan.

Dan ini… baru awal.

 

 

Langit di luar jendela aula masih cerah. Sinar matahari musim panas menyelinap lewat kisi-kisi tinggi di atas panggung utama, menyoroti panel juri yang mulai beranjak dari kursinya. Ruangan mulai riuh dengan langkah dan tawa lelah, pertanda sesi pertama dari babak final baru saja usai. Moderator mengumumkan jeda lima puluh menit sebelum debat terakhir dimulai, dan para panitia mulai merapikan sistem suara serta catatan tim juri.

Di sudut Aula Timur, Marion duduk bersandar di bangku lipat bersama Ellie, menghela napas yang tertahan sedari pagi. Tangannya masih menggenggam clipboard, tapi matanya kosong, berusaha mencari jeda di antara riuh ambisi dan kalimat-kalimat argumentatif.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di pangkuan.

Juno calling.

Marion mengerjap. Lalu menjawab tanpa bergerak dari kursinya.

“Halo?”

“Apakah kau merindukanku?” suara Juno muncul dengan nada genit dan penuh tawa.

Marion tertawa kecil, geli dan lega. Tawa yang entah kenapa terasa menyembuhkan.

“Kau menelepon hanya untuk bertanya itu?”

“Tidak juga. Coba tengok ke arah pintu Aula Timur sekarang.”

Marion langsung menoleh, dan di sana, berdiri seorang pria jangkung dengan jas abu terang yang lengan kemejanya telah digulung sampai siku. Kancing atasnya terbuka, dasi dilepas dan digulung di saku jas. Sepatunya masih berkilau, dan rambutnya sedikit berantakan seolah menandakan bahwa ia datang terburu-buru. Senyum lebar di wajahnya membuat Marion refleks berdiri dari kursi.

“Juno?” ujarnya sambil melangkah cepat.

Pemuda itu membalas dengan anggukan kecil dan membuka tangannya, seperti menyambut cahaya.

“Bagaimana kau tahu aku di sini?” tanya Marion sambil terkekeh.

“Menemukanmu selalu hal paling mudah bagiku,” balas Juno enteng.

Tawa mereka menyatu, ringan dan tak berusaha ditahan.

“Apa kau sudah makan?” Juno kemudian bertanya sambil mengeluarkan kotak makanan dari tas kertas berlogo Golden Mandala, restoran oriental keluarga mereka yang sering dikunjungi sejak Marion masih mahasiswa tahun pertama.

“Beberapa pastry… dan kopi,” jawab Marion, sedikit bersalah.

Juno menggeleng pelan. “Mana cukup.” Ia menyodorkan kotak itu, lalu menjelaskan isi di dalamnya, “Ada char siu bao, vegetable dumplings, dan tofu in spicy garlic sauce. Aku tahu yang terakhir itu favoritmu.”

Marion membulatkan matanya, separuh kagum, separuh malu. “Juno, kau nggak perlu repot-repot seperti ini…”

“Aku tidak merasa repot sedikit pun.”

Suasana di sudut aula terasa teduh. Marion dan Juno duduk di bangku lipat, menikmati makan siang terlambat dengan napas yang jauh lebih longgar. Di dekat mereka, Elli sibuk membuka botol air dan mengunyah bagel dalam diam, sesekali tersenyum tipis sambil mencuri dengar percakapan mereka.

Namun tak jauh dari mereka, berdiri sosok lain yang menyaksikan adegan itu tanpa suara.

Stacy Lambert.

Tubuhnya ramping, dibalut blouse lengan tiga perempat warna ivory dan celana abu muda yang pas di tubuh. Rambut cokelat gelapnya dikuncir rapi ke belakang, wajahnya tampak tenang dari luar, tapi sorot matanya menyimpan badai. Ia memperhatikan Marion dan pemuda jangkung itu—bagaimana keduanya tertawa, bagaimana Marion menatap laki-laki itu dengan ketulusan yang tak pernah ia tunjukkan di atas panggung.

Stacy diam. Tapi rahangnya mengeras.

Ada sesuatu tentang Marion Lancewood yang tak bisa ia biarkan begitu saja. Dan kini, ia merasa sudah menemukan celahnya.

 

 

Sesi final lomba debat berlangsung di bawah sorot lampu aula utama yang hangat, menciptakan nuansa teatrikal di panggung yang tak lagi hanya jadi tempat adu argumen, tapi juga ruang lahirnya sejarah kecil. Kedua tim finalis, Larkspur dan Argent, berdiri saling berhadapan dengan percaya diri yang memancar dari sikap tubuh dan cara bicara. Saling lempar argumen, saling patahkan logika, dan sesekali menyelipkan retorika tajam yang membuat para juri mengangguk dan audiens berdeham kagum. Sorak-sorai kecil muncul sesekali, ditelan kembali oleh ketegangan yang terus tumbuh seiring menit-menit bergulir.

Di balik layar, Marion Lancewood duduk bersama Ellie, matanya terus mengikuti setiap pergerakan peserta di panggung lewat monitor kecil. Meski ia hanya panitia, ada rasa gugup yang merayap pelan ke dadanya. Seolah ia ikut bertaruh dengan tiap kalimat yang dilemparkan ke tengah forum. Tangannya meremas buku catatan, dan saat sorakan dari penonton meletup keras—menandai akhir debat—ia menarik napas panjang, menyadari tubuhnya sedikit gemetar oleh intensitas suasana.

Satu per satu peserta ditarik ke belakang panggung. Sementara itu, pembawa acara mulai menaiki podium, bersiap untuk memasuki bagian akhir: pengumuman pemenang dan pembagian hadiah.

Suara meriah mengisi aula ketika nama Larkspur diumumkan sebagai Juara Pertama. Mereka berpelukan, melompat-lompat kecil, lalu menghampiri panggung untuk menerima sertifikat kehormatan, trofi perak bertuliskan lambang Westminster, serta beasiswa penuh di King's College London—hadiah yang membuat sorak-sorai memuncak.

Juara Kedua, tim Sycamore, menerima beasiswa kursus selama satu tahun di Longford School of English serta voucher pengembangan akademik dan pelatihan debat tingkat lanjut.

Juara Ketiga, Argent, mendapatkan beasiswa semester pendek di South Hollow College, lengkap dengan akses eksklusif ke program retorika dan komunikasi internasional.

Sesi foto berlangsung cepat dan riuh. Cahaya kamera berpadu dengan tawa dan tepukan tangan, menciptakan atmosfer meriah yang sulit dilupakan. Namun seperti semua acara besar, pesta itu juga harus berakhir.

Beberapa kursi mulai kosong. Kru teknis mulai melipat layar proyektor dan membungkus kabel-kabel. Para panitia mulai membagi tugas terakhir—merapikan peralatan, mengecek ulang barang tertinggal, dan memberi aba-aba kepada vendor katering.

Marion melepaskan name tag dari lehernya dan memasukannya ke dalam tas. Ketika ia menoleh ke kanan, Juno Benedictus sudah berdiri di sana, dengan senyum khas yang terasa seperti rumah.

“Pulang bareng yuk?” tanyanya ringan. Ia masih mengenakan kemeja biru keabuan yang setengah tergulung di lengan, dengan dasi longgar yang menggantung santai dan jas kerja tergantung di lengan kirinya. Sisa-sisa kesibukan hari itu masih melekat di wajahnya, tapi sorot matanya teduh seperti biasa.

Marion mengangguk, hendak melangkah bersamanya ketika sebuah suara memanggil namanya dari arah belakang.

“Miss Marion!”

Ia menoleh. Ethan Lambert, salah satu anggota Larkspur, berlari kecil menghampirinya dengan wajah cerah. Pemuda itu menatap Juno sejenak, lalu kembali menoleh pada Marion.

“Selamat, Ethan,” ucap Marion tulus, menyodorkan tangannya. “Kalian hebat.”

Ethan membungkuk sedikit sambil tertawa, “Terima kasih! Aku senang banget bisa menang—apalagi dapat beasiswa ke kampus impianku. King's College, bayangkan!”

Marion tersenyum lebih lebar. “Usaha nggak akan mengkhianati hasil. Kamu layak dapatkannya.”

Ethan mengangguk penuh semangat, lalu akhirnya memberanikan diri menatap Juno dan menyapa, “Halo, Sir.”

“Hai,” balas Juno dengan ramah tapi singkat.

Lalu, tanpa disangka, Ethan menatap Marion lagi dan berkata, “Miss Marion istri yang baik, ya. Sampai begini totalitasnya buat kami.”

Marion dan Juno saling melirik, lalu serempak tertawa. Juno menyahut, “Dia bukan istriku.”

“Sahabat semasa kuliah,” potong Marion cepat.

Ethan memutar mata, lalu berkata, “Serius deh, kalian kelihatan cocok banget.”

Mereka kembali tertawa, meski tawa itu pelan-pelan mereda begitu sosok lain memasuki orbit mereka.

Stacy Lambert.

Gadis itu berjalan tenang mendekat, mengenakan coat pastel tipis yang disampirkan di bahu, rambutnya digerai rapi dengan sedikit gelombang. Wajahnya lembut, tak ada amarah, tak ada cemburu. Ia tersenyum ringan seolah baru tiba dan ingin sekadar menyapa.

Namun begitu ia berdiri di antara mereka, sesuatu terasa menggeser udara.

Bukan kata-katanya. Bukan sikapnya. Tapi auranya yang diam-diam menyampaikan sesuatu—sesuatu yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan.

Juno terdiam sepersekian detik. Marion melihatnya, dan tahu: ada dunia yang baru saja terguncang dan dunia itu, tak lain adalah Juno Benedictus.

 

 

Waktu tak berdetak saat itu.

Atau mungkin memang dunia menahan napasnya, menyisakan Juno berdiri diam di tengah aula yang masih riuh, tapi tak lagi benar-benar bersuara di telinganya. Sorak tawa, langkah kaki, seruan ringan panitia—semuanya larut, menjauh seperti gema yang hilang arah.

Stacy Lambert.

Seakan dari satu dimensi yang lain, gadis itu melangkah tenang ke dalam bidang pandangnya. Juno mematung dan dalam sekejap, tubuhnya mengingat. Menggigil yang tak tampak. Suara yang tenggelam di balik senyap. Aroma akhir musim dingin di lorong-lorong universitas yang dulu mereka lintasi bersama. Sentuhan sutra lembut scarf yang dulu Stacy kenakan, warna-warna senja dari lampu meja kecil di kamar asrama. Dan sebuah tawa—liris, renyah, yang kini terasa jauh seperti ilusi.

Kenangan itu datang bukan dengan langkah tenang, tapi seperti arus yang menjebol bendungan. Mengalir, menariknya kembali pada hari-hari yang sudah ia kubur dengan rapi. Hari-hari yang ia yakini telah menjadi reruntuhan tak bernama. Tapi kini, bayangan itu punya bentuk, punya suara—dan menatapnya tepat di mata.

Stacy menyentuh bahu Ethan.

Gerakan kecil, sederhana, tapi cukup membuat Juno seolah roboh tanpa suara.

Mata itu, mata Stacy, menyapu Marion sekilas lalu berlabuh padanya. Ada jeda. Dan dalam jeda itu, retakan di dalam hati Juno yang selama ini ia pura-pura tidak dengar, pecah. Tidak keras.

Tidak dramatis. Tapi jelas.

Dan menyakitkan.

Namun Juno tak menunjukkan apapun.

Ia berdiri tegap, hanya matanya yang berbicara—dan mungkin, terlalu banyak yang diucapkan oleh sepasang mata yang tak berkedip itu.

“Selamat untuk kalian,” ujar Stacy akhirnya, suaranya lembut tapi ketika menyebut nama Juno, ada nada yang berubah. Berat. Sedikit terlalu pelan, sedikit terlalu tajam untuk tak disadari.

Ethan, yang masih memegang trofinya, menoleh heran ke arah kakaknya. “Kak, kamu kenal Kak Juno?”

Stacy tersenyum kecil. “Tentu. Kami dulu teman semasa kuliah.”

Sekejap, Marion yang berdiri di sisi Juno menegang. Bukan pada tubuhnya—tapi pada ekspresi yang tertahan. Wajahnya tetap tenang, tapi Juno bisa merasakan perubahan atmosfer di antara mereka. Seperti sambaran petir siang bolong yang tak terlihat, hanya terasa oleh yang benar-benar dekat.

“Oh… begitu ya.” Ethan hanya merespon sekilas, polos, dan langsung mengalihkan perhatian, tidak tahu bahwa ia berdiri di antara puing yang tak kasat mata.

Stacy lalu menatap Marion dan berkata lembut, “Terima kasih, sudah mendampingi adikku selama perlombaan.”

Marion mengangguk sopan. Tak banyak kata, tak ada senyum basa-basi. Tapi jelas bahwa pikirannya sedang bekerja keras menata sesuatu yang berantakan.

Sejenak, keheningan turun lagi, hanya disela oleh suara Ethan yang berkata, “Oh iya, Kak Marion, tadi aku dikasih tahu Kak Elli kalau sebenernya aku bisa minta brosur tentang Longford ke Kakak langsung. Aku tertarik banget sama program musim panas mereka, yang eksklusif itu.”

Marion menoleh, seolah baru tersadar dari lamunannya. “Oh, ya. Tentu. Ayo, ikut aku. Brosurnya masih ada di meja registrasi belakang.”

Ia lalu menoleh sopan pada Stacy. “Aku pinjam sebentar adikmu.”

Stacy mengangguk. Senyumnya ringan—tapi di balik senyum itu, ada sesuatu yang tetap tak bisa disentuh. Ia tak menghalangi, tak menyela, tak mengajukan satu pun pertanyaan.

Marion berjalan lebih dulu, diikuti Ethan yang menyusul dengan langkah ringan dan di belakang punggung Marion, ada lebih dari sekadar dunia yang berguncang.

Dunia itu luluh lantak,

dalam keheningan yang tak seorang pun tahu…kecuali Juno Benedictus.

 

 

Aula utama Longford mulai lengang. Panel acara telah ditutup, sebagian besar peserta dan panitia mulai beringsut meninggalkan ruangan. Suara sepatu dan sisa percakapan terdengar jauh, seperti gema dari sebuah dunia yang tidak mereka miliki. Hanya beberapa orang yang tersisa, sibuk merapikan kursi atau berbincang dengan suara pelan, dan di tengah ruang besar itu—dua orang berdiri, terpisah beberapa langkah namun terasa seakan berada di dua kutub waktu.

Juno berdiri kaku. Hening di antara mereka seperti menelan pijakan salah satunya.

Ia menatap sekilas, lalu membuang pandangannya, seperti menepis sesuatu yang tak ingin disentuh. Bibirnya terangkat, tapi tidak dengan kelembutan—lebih seperti mengejek.

“Cuma teman semasa kuliah, katanya,” gumam Juno. Nadanya geli. Bukan tawa yang ringan, tapi seperti tawa yang terbit dari luka yang sudah kering tapi tetap perih saat disentuh.

Stacy tidak menjawab. Ia hanya menatap Juno—tatapan lurus, tanpa jeda, seolah ingin meraba sisa-sisa yang masih tinggal di mata orang yang dulu pernah mencintainya. Tapi Juno enggan memaknainya lebih jauh. Ia tak ingin memberi celah pada hatinya untuk menilai ulang bahwa hubungan mereka memang tidak sebaik itu.

Stacy akhirnya mengalihkan pandangan ke arah kejauhan, tempat Marion berdiri bersama Ethan, sibuk mengobrol dan menunjuk sesuatu di brosur yang dibawa. Wajah Marion tampak biasa, tak menoleh sedikit pun pada percakapan di belakangnya.

Lalu Stacy bicara. “Jadi karena perempuan itu?”

Kalimat itu datang perlahan. Datar. Tapi seperti anak panah yang melesat tepat ke tengah dada. Juno terdiam sejenak. Lalu menatap balik, menyorot dari jarak yang terlalu sempit untuk kenyamanan, tapi cukup jauh untuk menampik keintiman.

Ruangan di sekeliling mereka menjadi latar sunyi yang menyiksa. Tirai besar masih tergulung, cahaya matahari sore masuk dari jendela tinggi, menciptakan siluet panjang dari meja registrasi yang belum dibereskan. Lantainya bersih, nyaris licin, memantulkan bayangan samar tubuh mereka berdua.

Juno menarik napas perlahan.

Perempuan itu bukan alasan. Bukan alasan mereka berpisah. Bukan alasan apa pun yang layak dibicarakan hari ini.

“Perpisahan kita bukan karena orang ketiga,” katanya, tegas namun masih terbungkus ragu yang ingin ditepis.

Stacy menaikkan alis. “Bukan?” Nadanya seperti tertawa. “Kau tahu cara kamu menatapku tadi? Aku tahu. Tapi mungkin Marion tidak tahu apa-apa… atau sengaja tidak mau tahu.”

Ada senyum sinis yang menggantung di ujung bibir Stacy, seperti retak yang dibiarkan menyebar perlahan.

Juno mengernyit. “Apa maksudmu?”

Stacy hanya menghela napas, lalu berkata, “Selama ini aku pikir aku yang punya salah. Di hubungan kita.”

Tapi sebelum kalimat itu menggantung terlalu lama, Juno memotongnya.

“Bukan kamu yang salah. Kamu tidak berbuat salah apa pun. Kamu cuma belum siap untuk jatuh cinta sepenuhnya.”

Stacy mendecih pelan, hampir tak terdengar. “Dan aku tidak melihat itu di matamu saat kamu menatap Marion.”

Juno terdiam.

Diam yang panjang, yang seolah memeluk egonya yang sedang memberontak. Napasnya tersendat, lalu ia tertawa pelan—samar, getir.

“Kau tahu apa tentang hatiku, Stacy?”

“Tidak,” jawab Stacy, “aku memang tidak tahu apa-apa tentang kamu. Sejak awal aku sudah tahu.”

Itu kalimat yang mestinya menyakitkan, tapi Juno terlalu lelah untuk merasa benar-benar tersayat. Ia hanya mendecih, entah kepada Stacy atau dirinya sendiri.

“Aku tidak suka drama ini. Kita,” katanya datar. Tapi tidak dengan dingin, lebih seperti seseorang yang ingin keluar dari labirin emosi dan tak ingin menoleh lagi.

Stacy memutar tubuh sedikit, namun tidak pergi. “Aku tidak datang ke sini untuk kebetulan apa pun,” katanya lirih tapi penuh penekanan. “Tapi ternyata semesta suka membuat lelucon.”

Ia lalu menatap Juno langsung, dan bertanya pelan, tapi tegas:

“Kau menyukai Marion, bukan?”

Juno menggeleng kecil. “Itu bukan urusanmu.”

Stacy mengangguk, tidak memaksa. Tapi kemudian ia berkata pelan, nadanya menusuk—nyaris berbisik:

“Mungkin memang bukan. Tapi gadis itu… membuatku jengah.”

Juno memicingkan mata, rautnya berubah. Tapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, Stacy sudah menutup percakapan itu sendiri, senyumnya tajam dan pahit.

“Kalau begitu, sayang sekali, Juno… Karena itu berarti urusan kita belum selesai.”

Dan ia pergi.

Meninggalkan Juno berdiri di antara gema kenangan, bayangan masa lalu, dan sisa percakapan yang tak akan pernah cukup diselesaikan.

 

 

Marion kembali menghampiri Juno beberapa menit setelah Stacy pergi. Di sisinya, Ethan tampak tenang dan sedikit canggung, tapi tersenyum sopan sebelum akhirnya berpamitan. Stacy sempat menepuk bahu adiknya lalu berlalu tanpa banyak kata—sikapnya terlihat elegan, tenang, bahkan ramah di mata Marion.

Tapi tidak di mata Juno.

Dalam diamnya, Marion melambaikan tangan dan tersenyum kecil sebelum kembali berdiri di sisi Juno.

"Ayo, kita pulang," ucapnya ringan.

Juno mengangguk, tak banyak kata. Mereka melangkah keluar dari Aula Longford yang kini mulai lengang, hanya menyisakan beberapa kru teknis dan panitia yang sibuk merapikan perlengkapan. Kertas lomba yang tersebar, kotak hadiah yang telah kosong, dan suara ringan langkah kaki memberi kesan bahwa sesuatu yang besar baru saja selesai.

Langit London mulai beranjak ke warna keemasan pukul lima sore. Cahaya matahari musim panas memantul dari jendela gedung-gedung tua, membuat bayangan panjang melintang di sepanjang trotoar. Jalanan dipenuhi lalu lintas santai: sepeda, mobil kecil, dan orang-orang yang keluar dari pertokoan. Udara terasa hangat, tidak terik, dengan angin yang kadang menyibak rambut Marion yang diikat rendah.

Mereka melewati rute biasa—melewati Hyde Park di sisi timur, lalu menyusuri barisan pertokoan kecil di arah Knightsbridge. Di sela langkah, Marion mulai bercerita.

"Tadi itu debat final paling rapi selama aku pernah nonton lomba bahasa. Panel juri kayaknya senang sekali sama tim Larkspur. Bahkan pertanyaan menjebak dari juri ketiga itu—yang tentang etika diplomasi digital—bisa dijawab Ethan dengan elegan."

Nada suaranya ringan, ekspresif, penuh gerakan tangan kecil khas Marion. Seolah, tak pernah ada Lucien, tak pernah ada tatapan yang mengusik siang itu.

Juno mendengarkan dengan kepala sedikit menunduk. Sesekali ia menanggapi, kadang dengan gumaman pendek atau anggukan kecil. Tapi pikirannya masih tersisa di aula tadi. Retakan yang sempat ia tutup rapat mulai menganga kembali, menyesap udara sore yang seharusnya tenang.

Saat matahari tenggelam perlahan di balik gedung-gedung, mereka tiba di apartemen sekitar pukul setengah tujuh. Juno membuka pintu dan menyandarkan ranselnya di samping meja.

"Aku nginep di sini malam ini. Rumah lagi penuh kolega Ayah dan Ibu. Kau tahu, kan, biasanya kalau mereka kumpul, akan ada parade gadis-gadis dari keluarga ekspatriat yang entah kenapa semua tiba-tiba tertarik menikahiku."

Marion tertawa pelan sambil menggantungkan totebagnya di kursi makan.

"Kau memang paket lengkap, jadi wajar saja orangtuamu ingin jual mahal," ujarnya sambil menjentik pelan bahu Juno.

"Aku lebih suka dijual diskon, asal tenang," balas Juno ringan.

Marion tertawa, lalu merenggangkan tubuh. "Aku lapar, entah kenapa."

Juno mengangguk. "Aku masak. Kau mandi saja dulu. Masih ada beberapa bahan dari kemarin."

Setelah Marion masuk ke kamar mandi, Juno mulai membuka kulkas. Ada potongan daging sapi yang tersisa, satu ikat asparagus, setengah bawang bombay, jamur kancing, dan dua butir telur. Ia mulai menyiapkan Beef stir-fry dengan saus lada hitam dan jamur, Asparagus tumis bawang putih, Telur rebus setengah matang dengan kecap asin ringan dan nasi hangat yang dimasak ulang dari sisa semalam.

Di sudut dapur, radio menyala pelan, memutar lagu jazz instrumental—saxophone lembut mengalun dalam keheningan yang bersahabat.

Juno memotong daging dalam irisan seragam, menumisnya perlahan sambil menambahkan kecap, lada hitam, dan minyak wijen. Suara mendesis memenuhi udara, disusul aroma harum yang menyebar cepat.

Tangannya bekerja cekatan. Tapi pikirannya... tidak.

"Karena perempuan itu?"

Suara Stacy dari aula tadi muncul kembali, membelah pikirannya dengan kejam.

Juno mendesah pelan sambil mengaduk tumisan. Stacy tidak pernah benar-benar pergi, rupanya. Ada sisa dari mereka yang tertinggal, tak peduli seberapa keras ia mencoba mengabaikannya. Dan kini, perempuan itu hadir kembali—dengan senyuman tenang dan tatapan yang tak bisa Juno pahami. Sama seperti dulu.

"Mungkin Marion tidak tahu apa-apa, atau sengaja tidak mau tahu." Kalimat itu juga berputar. Juno tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—kemungkinan pertama, atau kedua.

Ia menuangkan saus ke atas daging, lalu menata semua makanan ke dalam dua piring porselen putih. Tepat saat ia mematikan api, suara Marion terdengar dari kamar mandi.

"Harumnya sampai ke sini! Kamu jago sekali memanjakan aku!"

Juno tak menjawab. Ia tersenyum kecil, meski senyum itu lebih untuk dirinya sendiri. Malam akan datang. Makanan akan tersaji. Marion akan duduk di meja dan mengoceh seperti biasa. Dan mungkin—hanya mungkin—untuk beberapa jam ke depan, ia bisa berhenti mengingat bahwa sesuatu di dalam dirinya telah diguncang kembali, tanpa peringatan.

 

 

Makan malam mereka terasa nikmat dan mengenyangkan. Hidangan sederhana yang Juno masak terasa lebih dari cukup di tengah malam yang lengang. Beef stir-fry dengan saus lada hitam dan jamur, Asparagus tumis bawang putih, Marion memakannya sampai habis, menyisakan piring kosong dan perut hangat.

Setelah menyandarkan tubuh di kursi sebentar, Marion berdiri, mengambil jus kotak dari kulkas dan meminumnya seteguk demi seteguk. Ia berjalan pelan ke arah radio di pojok dapur dan mematikannya, lalu menggantinya dengan suara televisi yang masih menyala di ruang tengah. Channel-nya entah apa, hanya terdengar suara pelan dari dokumenter satwa liar.

Sementara itu, Juno bangkit dari kursinya, membereskan meja makan, lalu mencuci piring-piring di wastafel sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Air mulai mengalir beberapa menit kemudian.

Di ruang tengah, Marion duduk sendirian. Ia menatap layar ponselnya yang tiba-tiba menyala. Nama yang muncul membuat napasnya sedikit berubah ritme.

Yuri.

Ia menggenggam ponsel itu dan berjalan ke balkon, membuka pintu perlahan agar suara air dari kamar mandi tetap terjaga. Di luar, udara malam tak terlalu dingin. Ia duduk di kursi kecil di pojok balkon dan mengangkat panggilan itu.

“Halo?” sapanya pelan.

“Marry?” suara lembut itu datang dari seberang. Hangat. Membalut.

Marion tersenyum. “Hi…”

“Kamu baik-baik aja?” tanya Yuri.

“Lumayan. Capek tapi ya gitu, lumayan seru juga,” jawab Marion, mencoba santai. “Kamu sendiri?”

Yuri mendesah kecil lalu tertawa. “Aku dikepung kabel dan dua anak bengal. Elijah sama Bloom ngerusak panel listriknya Mr. Blindforth. Katanya eksperimen. Satu lantai gelap total.”

Marion terkekeh. “Serius? Kok bisa?”

“Bloom sok jenius. Elijah sok pemimpin. Jadilah eksperimen gila. Semua orang panik. Bloom hampir dipecat kalau Elijah nggak ngaku itu ide dia.”

“Gila,” ucap Marion pelan. “Tapi kamu nggak papa, kan?”

“Enggak, aku nggak kenapa-napa.”

Mereka diam sebentar, membiarkan waktu menggantung.

“Sekarang giliran kamu, Marry,” kata Yuri kemudian. “Ceritain kamu hari ini ngapain aja.”

Marion tertawa kecil. “Nggak ada yang istimewa. Aku bantu nyiapin dekorasi buat kompetisi kampus. Terus ada urusan administrasi juga. Kayak biasa. Semuanya lancar... kecuali—”

Ia berhenti di sana. Suaranya meredup, lalu lenyap. Angin di balkon mengusik ujung rambutnya.

Yuri menunggu. Lalu memanggil namanya, lembut. “Marry?”

Marion menggigit bibirnya. Lalu dengan sangat pelan, seperti takut, ia bertanya, “Aku cuma mau nanya satu hal… Lusa lalu, kamu sempat pergi ke kafe khusus di distrik utara nggak?”

Hening. Sangat hening.

Beberapa detik kemudian, terdengar tawa pendek, sumbang. “Aku? Marry, aku bahkan nggak bisa keluar lima langkah dari gedung sini. Mau beli kopi aja kayak minta izin negara. Kafe? Mustahil.”

Marion menarik napas. Di satu sisi, dadanya terasa sedikit lega. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang belum sepenuhnya reda.

 

 

Hening kembali tumbuh di antara mereka. Angin di balkon menelusup pelan di sela-sela rambut Marion yang tergerai, dan ia menunduk, membiarkan detik-detik berjalan tanpa suara. Di ujung sambungan, Yuri menghela napas pendek, lalu bertanya lirih, “Kamu masih percaya sama aku, Marry?”

Pertanyaan itu melayang ringan, tapi jatuh di dadanya seperti serpihan kaca.

Percaya?

Ada begitu banyak ruang abu-abu yang belum sempat ia selami dari sosok Yuri. Seperti senyum yang Marion kenali luar kepala, tapi tak tahu bagaimana menebak di baliknya. Seperti hangat yang akrab, tapi menyisakan dingin samar di sela-selanya. Ia menyayangi Yuri, iya. Tapi apakah ia percaya? Kadang ia merasa jawabannya ada di sana—di antara gurat suara Yuri yang lembut, dan kalimat yang seolah selalu tahu cara menenangkannya. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang samar, sesuatu yang membuatnya ingin mundur setengah langkah sebelum benar-benar masuk.

Marion menggigit bibir bawahnya, lalu dengan suara nyaris setipis embun, ia berkata, “Ya.”

Lalu, setelah mengembuskan napas yang nyaris terseret angin malam, ia bertanya, “Kamu pulang kapan?”

“Mungkin lusa,” jawab Yuri pelan.

“Oh…” suara Marion nyaris tenggelam. Ia menarik lututnya mendekat ke dada. “Kalau kamu pulang, kita bisa ketemu?”

“Mungkin,” ujar Yuri, “Tapi aku mau ke Camden dulu. Ke rumah Ibu. Aku cuma dapat jatah satu minggu.”

Marion mengangguk sendiri, meski Yuri tak bisa melihatnya. Jeda kembali tumbuh, lalu sayup-sayup terdengar suara perempuan dari seberang. Seperti memanggil nama Yuri, dan nama lain yang tak terlalu jelas.

Marion mendekatkan ponsel ke telinga. “Suara siapa tadi?”

“Oh, itu…” Yuri terdengar buru-buru, “Itu rekan kerjaku. Kita pesen makan malam tambahan. Makanannya sedikit banget. Kamu tahu kan, kalau perusahaan ini pelitnya bukan main.”

“Hmm,” Marion mengangguk-angguk kecil.

Kemudian suara Yuri melunak. “Aku kangen kamu, Marry… Aku pengin kita bisa bareng-bareng lagi. Kayak kemarin.”

Marion terdiam. Wajahnya menghangat. Ada sesuatu dalam nada Yuri yang selalu membuatnya merasa dilihat, meski samar. Seperti kata yang menggantung, tak pernah utuh, tapi cukup untuk membuat pipinya bersemu. Ia ingin mengiyakan. Ingin mengatakan bahwa ia juga rindu. Tapi sebelum sempat bicara, terdengar suara dari arah belakang.

“Marion.”

Ia tersentak.

Tubuhnya refleks menoleh dan matanya membulat. Suara itu—ia tahu betul. Ia tak menyahut, hanya mengangkat tangan cepat, memberi isyarat agar suara itu diam, bungkam, lenyap. Jantungnya berdetak keras sekali.

“Marry?” suara Yuri memanggil, samar cemas. “Itu tadi siapa?”

Marion buru-buru menjawab, suaranya terdengar gugup. “Itu… anak pemilik apartemen. Aku pesen salad buah tadi waktu pulang kerja. Dia baru nganterin sekarang.”

“Oh…” jawab Yuri. “Aku harus balik dulu. Temen-temenku udah nunggu buat makan bareng.”

“Ya…” kata Marion pelan.

Panggilan terputus. Layar ponsel padam.

Dan yang tertinggal hanya degup jantung Marion yang berdetak tak karuan, berpacu seperti ingin menjelaskan sesuatu yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu

5,356 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai

6,073 kata

GRATIS

Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali

6,017 kata

GRATIS

Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji

5,340 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!