Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai
Malam belum bergeser. Tapi waktu terasa berat, seperti selimut lembab yang tak kunjung menghangat.
Ponsel di tangan Marion telah lama terdiam, tapi gaung suara Yuri masih mengambang di udara, menyisakan jejak yang menusuk lembut—dan menyakitkan.
Ia duduk membelakangi jendela, membiarkan bayangannya sendiri jatuh di lantai kamar. Tak bergerak, hanya memeluk lutut, seakan tubuhnya bisa menyusut ke dalam dirinya sendiri. Ada sesuatu yang menusuk dari tawa sumbang Yuri di akhir percakapan tadi, saat Marion menanyakan tentang café yang tak pernah ia akui kunjungi.
Dan ada lebih banyak lagi yang mengendap, ketika Marion berbohong tentang suara Juno.
Marion tahu, Yuri bukan pria yang mudah dicemburui, tapi juga bukan pria yang mudah dimengerti. Dan ia pun bukan gadis yang pandai menyembunyikan degup. Ia takut Yuri salah paham. Ia takut mengaku. Ia takut kehilangan.
Tapi di antara semua ketakutan itu, Marion mulai sadar satu hal yang lebih menyakitkan:
Ia tidak yakin lagi apakah yang ingin ia lindungi adalah hubungannya—atau perasaan bersalahnya sendiri.
Juno yang duduk di ruang sebelah, mendengar helaan napas Marion yang tak ia mengerti, tapi bisa ia rasakan. Seperti bunyi perih yang tertahan, seperti jarak yang tak butuh kata-kata.
Ia tidak tahu apa yang terjadi lewat telepon tadi, tapi cukup mengerti posisinya di malam itu—sebagai sesuatu yang seharusnya tidak ada. Namun, entah mengapa, di balik kesadarannya sebagai bayangan, Juno merasa bahwa pria di ujung telepon itu... bukanlah seseorang yang perlu diperjuangkan. Dan pemikiran itu membuatnya lebih tenang. Juga lebih pedih.
Malam terasa panjang.
Dan suara-suara yang tadi terdengar, kini berubah menjadi sunyi yang menggantung tanpa kepastian.
Juno telah menghabiskan hampir empat batang rokok di ruang tengah. Asapnya menari perlahan di udara, meninggalkan jejak tipis yang menggantung di bawah cahaya temaram lampu gantung. Ia menonton televisi tanpa benar-benar memperhatikan, membiarkan suara berita mengisi kekosongan yang menyesakkan.
Di meja hadapannya, dua kaleng bir berdiri dalam diam. Yang satu telah kosong, dan yang satunya hanya tersisa setengah—dinginnya sudah lama menguap, menyisakan pahit yang tak berubah.
Saat suara pintu kamar berderit perlahan, Juno tidak menoleh. Ia tahu siapa itu. Ia tahu langkah ragu yang menjejak lantai dengan pelan, seperti seseorang yang takut mengganggu. Tapi ia tidak membuka suara. Tidak juga memutar kepala.
Ada sesuatu dalam dirinya yang mengeras—campuran antara kesal, marah, dan kasihan. Tapi ia memilih diam. Mungkin karena diam adalah satu-satunya hal yang tidak akan ia sesali nanti.
Marion berdiri di ambang pintu, mematung beberapa detik. Ruang tengah kecil itu terasa lebih luas dari biasanya, seakan dinding-dindingnya ikut menjauh saat Juno tak bicara. Punggung Juno bersandar malas di sofa, bahunya turun naik pelan saat ia menghela napas penuh kepulan asap.
Marion melangkah perlahan, duduk di sisi sofa yang lain, menyisakan ruang di antara mereka. Ia tak tahu harus berkata apa, tapi ia tahu satu hal: ia keterlaluan tadi. Ia bersalah, meski belum ada yang menuduhnya.
Ia menghela napas, menunduk.
Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Juno berkata pelan, nyaris tanpa emosi, “Kamu nggak perlu minta maaf, Marion.”
Marion mengangkat wajah, kaget. “Hah? Aku belum bilang apa-apa.”
Juno menoleh. Tatapannya teduh tapi tegas. Ia menghembuskan asap ke udara dan tersenyum kecil, pahit. “Tapi kamu akan bilang itu. Selalu begitu. Bahkan untuk hal-hal yang bukan salahmu.”
Marion menunduk lagi. Juno benar. Ia memang seperti itu—terbiasa menanggung kesalahan yang bahkan belum lahir.
Lalu, suara Juno kembali terdengar. Lembut tapi membuat udara bergeser.
“Yuri, ya?”
Marion hanya mengangguk.
Diam. Hening. Kemudian...
“Lucien Park.”
Suara Juno terdengar lebih datar kali ini, lebih tajam.
Marion menahan napas. Ia menarik ujung lengan bajunya, lalu berkata, “Dia… dia cuma tiba-tiba muncul dan bilang hal-hal yang… aku nggak ngerti…”
Juno tidak menyahut. Ia hanya menatap ke arah televisi yang gambarnya tak lagi penting. Lalu, ia berkata lirih, “Ceritakan saja.”
Marion menggigit bibir bawahnya. Matanya bergerak gelisah. Ia memulai dengan terbata—tentang Lucien yang menghampirinya saat hujan, tentang pengakuannya melihat Yuri di sebuah café bersama wanita lain, dan bagaimana nada Lucien terdengar meyakinkan, terlalu meyakinkan. Seolah dia tahu sesuatu yang Marion tak tahu. Seolah dia sudah lama menyimpannya.
Saat cerita Marion sampai di bagian itu, Juno melempar kepulan asap rokok ke samping dengan kasar. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal sejenak sebelum kembali membuka. Ia menahan diri—menahan amarah yang terasa menggerogoti pikirannya sendiri.
“Maaf…” bisik Marion, bahunya bergetar pelan, ia menunduk lebih dalam, seperti tubuhnya sedang berusaha bersembunyi dari dunia.
“Aku… aku nggak tahu harus percaya siapa… semuanya campur aduk…”
Juno mendengarnya. Dan itu cukup untuk membuat sesuatu dalam dirinya runtuh. Ia tak suka suara itu—suara Marion yang gemetar, menyedihkan. Ia lebih suka Marion yang berdiri, bahkan saat rapuh, tapi tidak menangis seperti ini.
“Lucien ngomongnya meyakinkan banget…” tambah Marion lirih, nyaris tak terdengar.
Juno mendengus pendek, tertawa tanpa tawa.
“Ada berapa banyak sih nama Yuri di kota ini?” ujarnya sinis. “Nama itu bahkan terdengar langka. Dan brengsek.”
Marion mengangkat wajah. Mata zamrudnya penuh genangan. Airmata itu turun pelan, membasahi pipi tanpa isak.
Lalu Juno menatapnya. Kali ini lebih dalam, lebih jujur. Suaranya rendah, tapi mengakar.
“Jangan percaya Yuri. Jangan percaya Lucien. Percaya aja sama dirimu sendiri. Sama intuisimu. Karena intuisi perempuan nggak pernah salah.”
Marion menarik napas panjang, tercekat.
Dan saat itulah suara dalam dirinya pelan-pelan mulai bicara—bukan dalam bentuk kalimat, tapi dalam bentuk luka.
Ia ingin percaya Lucien, karena kata-katanya masuk akal. Tapi Lucien bukan siapa-siapa. Dan Yuri… Yuri adalah segala yang ia pertanyakan sekarang. Tapi yang paling menyakitkan adalah, keduanya menyuruhnya untuk tidak percaya siapa pun—termasuk mereka. Hanya dirinya sendiri yang tersisa, dan intuisi yang belum ia yakini penuh. Dan apa yang harus ia lakukan saat suara itu… justru berbisik bahwa ada yang salah sejak awal?
Tiba-tiba, Juno berdiri dari sofa, memadamkan rokok terakhirnya di asbak yang sudah penuh. Ia menoleh ke Marion yang masih duduk diam, jemarinya saling menggenggam dalam diam.
“Ganti baju,” katanya singkat.
Marion mengangkat alis. “Kenapa?”
“Kita keluar sebentar,” ujar Juno. “Butuh penghilang penat.”
Marion tak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk pelan, seolah sebagian darinya memang ingin diajak pergi—ke mana saja, asal bukan terus-menerus tenggelam dalam ruangan dan pikiran yang sesak.
Ia masuk ke kamarnya, memilih cepat pakaian yang bisa diterima di malam kota. Ia mengenakan dress hitam lengan panjang berbahan tipis yang jatuh rapi di atas lutut, dengan potongan leher bulat dan sedikit detail renda di ujung lengan. Rambutnya disisir rapi ke samping, lalu ia mengenakan jaket kulit hitam dan sepasang ankle boots berwarna kelabu gelap.
Juno menunggu di depan pintu apartemen dengan hoodie gelap dan jaket panjang. Saat Marion keluar, ia hanya melirik sekilas dan berkata, “Cukup.”
Mereka turun tanpa banyak suara, menyusuri lorong apartemen yang mulai sunyi. Di luar, malam belum terlalu larut, tapi angin membawa aroma logam dari kota yang mulai menggeliat di sisi lain.
Jalanan dipenuhi bias lampu—lampu mobil, lampu toko yang baru ditutup, dan lampu jalan yang pendarannya membias di aspal basah bekas hujan. Genangan-genangan kecil memantulkan warna seperti kilau kaca jendela yang baru dibersihkan.
Mereka menyusuri trotoar, menyebrang dua blok hingga mencapai distrik hiburan kecil di sisi timur kota—tempat musik bocor dari pintu-pintu kayu dan tawa bercampur dengan asap rokok dari luar bangunan. Di sana-sini terlihat papan nama bar dan pub bergiliran menyala, masing-masing menyuguhkan pelarian yang berbeda.
Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah bangunan bercat gelap dengan papan nama kayu tua yang menggantung rendah.
“TAMARACK.”
Papan itu terbuat dari kayu ek tua dengan huruf ukiran sederhana yang sudah terkelupas sebagian, diterangi lampu dinding kuning redup.
Marion menatapnya ragu. “Bar and pub?”
Juno hanya mengangguk. “Tempat ini cukup waras buat orang yang lagi pengen kabur tapi nggak bisa.”
Marion mengernyit. “Tapi kenapa ke tempat begini?”
“Karena di sini kamu bisa duduk, diem, dan nggak harus ngomong kalau nggak mau,” jawab Juno, lalu menggandeng tangannya untuk masuk sebelum Marion bisa bertanya lebih lanjut.
Pintu kayu berat itu terbuka, menyambut mereka dengan udara hangat dan aroma khas campuran kayu tua, bir, dan sedikit aroma rempah pahit.
Tamarack bukan sekadar pub biasa—ia adalah bar yang berusia puluhan tahun dengan reputasi sebagai tempat singgah diam-diam para seniman gagal, pasangan yang butuh ruang, atau orang-orang yang hanya ingin mendengarkan suara mereka sendiri di balik denting gelas.
Bagian dalamnya bergaya rustic: langit-langit rendah dengan balok kayu hitam, dinding bata yang dibiarkan terbuka, dan lampu gantung industrial berwarna tembaga. Di sepanjang sisi kiri, ada bar panjang dari kayu mahoni tua, dijaga seorang pria bertopi fedora dengan mata tajam tapi ramah. Rak-rak tinggi di belakang bar menyusun botol berbagai bentuk dan warna.
Area pub-nya lebih santai: meja-meja bundar dari besi tua, bangku-bangku empuk dengan kulit retak, dan satu sofa panjang dekat jendela besar yang menghadap jalan. Di sudut ruangan, ada panggung kecil dengan gitar dan mikrofon—musik live akustik biasanya dimainkan di akhir pekan.
Malam itu, suasana tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung tetap dan sepasang mahasiswa yang bermain kartu. Musik mengalun lembut—versi instrumental lagu The Smiths, cukup untuk menyelimuti ruang tanpa menguasainya.
Juno menarik dua kursi bar dan memberi isyarat agar Marion duduk di sebelahnya. Bartender langsung menyodorkan dua menu kecil dengan tulisan tangan di atas kertas buram.
“Di tempat kayak gini,” ujar Juno sambil mengambil menu tanpa melihat isinya, “orang bisa sedikit lebih jujur. Termasuk sama dirinya sendiri.”
Marion menatap sekeliling, masih agak canggung. Tapi ada sesuatu dalam kehangatan remang itu yang membuatnya merasa tak sedang dikejar oleh apa pun. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa harus memilih kata, tidak merasa harus kuat. Ia hanya duduk di samping Juno, mendengarkan napasnya yang tenang, dan membiarkan dunia luar memudar sebentar.
Juno memberi isyarat pada bartender, suaranya terdengar jelas meski tenang.
“Dua gelas Stella Noir, dingin.”
Bartender mengangguk, mulai mengisi dua gelas tinggi dengan bir berwarna emas keemasan yang berbusa lembut di tepinya. Bir khas Belgia dengan aftertaste ringan dan pahit yang samar, salah satu favorit Juno saat ingin bersantai tanpa banyak basa-basi.
“Ini harus kamu coba,” ujar Juno sambil mendorong salah satu gelas ke arah Marion.
Marion menatap gelas itu, lalu menatap Juno. Ia sempat ragu, bukan karena birnya, tapi karena sesuatu dalam dirinya yang dulu terasa begitu familiar… dan sudah lama terkubur.
Lalu ia mengangguk.
Ia pernah berada di situasi seperti ini—bahkan lebih sering dari yang bisa ia hitung. Saat kuliah dulu, Marion dan Juno biasa melipir ke bar kecil di belakang kampus setiap kali tugas menumpuk atau dosen membuat frustrasi. Mereka duduk bersebelahan, mengeluh keras-keras soal sistem, membicarakan orang-orang yang tak suka pada mereka, dan pulang ke asrama sambil berpegangan agar tidak jatuh.
Mereka akan tertawa—tertawa keras, terlepas, dan jujur. Kadang muntah di kamar mandi pagi harinya, tapi tetap merasa hidup.
Itu masa muda mereka. Masa yang penuh amarah, tapi juga penuh kebebasan. Masa saat Marion masih bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa harus merasa dikurung oleh ekspektasi siapa pun. Tanpa harus berpikir, “Apa Yuri akan kecewa kalau tahu?”
Ia tak pernah benar-benar berpikir untuk berhenti minum. Tapi sejak bersama Yuri, semuanya seperti bergeser dengan sendirinya—lebih sunyi, lebih rapi, lebih… terkontrol.
Namun malam ini, di bar bernama Tamarack dengan musik pelan dan cahaya hangat ini, Marion ingin sedikit kehilangan kontrol. Ia ingin sedikit mengacau.
Ia meraih gelas birnya, menatap busa yang mengapung sebentar, lalu meneguknya panjang. Bukan hanya satu teguk, tapi tiga, empat. Cukup untuk menghabiskan setengah gelas.
Juno menoleh, alisnya terangkat. “Whoa.”
Marion meletakkan gelasnya dengan bunyi halus di meja kayu. Ia tersenyum kecil—senyum lelah yang bercampur sesuatu yang menyerupai kemenangan.
“Satu lagi,” katanya pada bartender.
Juno tertawa, matanya membulat senang. “Sekarang kamu terdengar kayak Marion yang dulu.”
“Aku masih Marion yang dulu,” jawabnya, kali ini dengan nada lebih ringan, “cuma… tersesat sebentar.”
Dan malam itu berjalan seperti irama bir yang mengalir lancar: gelas demi gelas, diselingi suara tawa, umpatan, dan cerita yang tidak penting tapi terasa penting di saat itu.
Marion bercerita tentang senior menyebalkan saat kuliah yang pernah memotong skripsinya tanpa izin. Juno membalas dengan cerita soal mantan dosennya yang menyarankan dia jadi bartender saja kalau mau "terlalu bebas". Mereka tertawa sampai nyaris terjatuh dari kursi.
Di sela tawa, ada umpatan keras yang keluar begitu saja—tentang dunia yang sok tahu, tentang kehidupan yang tak adil, dan tentang mereka yang mencoba terlihat baik hanya untuk diterima.
Tapi tidak ada yang menilai malam itu. Tidak ada yang meminta penjelasan. Bahkan diri mereka sendiri pun tidak menuntut apa-apa dan di antara cahaya lampu tembaga dan musik dari panggung kecil, dua orang yang pernah lelah, duduk berdampingan tanpa beban, menertawakan hidup yang tidak mereka mengerti, tapi tetap mereka jalani.
Lampu di dalam Tamarack mulai diredupkan. Sisa pengunjung tinggal beberapa orang—pasangan yang masih menempel di sudut sofa, dua pria yang saling tertawa keras, dan bartender yang sibuk membersihkan gelas dengan tatapan kosong. Musik jazz instrumental mengalun dari sudut speaker, terdengar jauh dan mengantuk.
Di bangku dekat jendela, Marion nyaris tumbang. Tubuhnya bersandar berat ke bahu Juno, pipinya memerah karena alkohol, bibirnya bergerak dengan gumaman yang tak lagi jelas.
“Aku benci dia... ngerti nggak? Bukan... benci... tapi aku benci,” katanya sambil menatap kosong ke arah botol kosong yang tadi mereka pesan. “Dia bikin aku takut... buat jadi aku.”
Juno menatapnya sambil mengangguk pelan. Kepalanya sendiri mulai berat, tapi ia masih sadar dunia. Masih bisa menghitung langkah dan melihat cara Marion memeluk dunia dengan lengan lunglainya.
Ia berdiri. Membayar pada bartender yang sudah setengah mengantuk, lalu berjongkok di depan Marion.
“Ayo. Gendong, ya?”
Marion menggumam tidak jelas, tapi tidak menolak. Ia membiarkan tubuhnya digendong di punggung Juno, wajahnya menempel pada jaket pria itu.
Di luar bar, udara London menggigit tulang. Jalanan basah bekas hujan gerimis. Trotoar sudah sepi. Hanya sesekali bus malam melintas dengan lampu kuning dan suara decit rem. Cahaya lampu jalan membentuk bayangan panjang di aspal, dan di kejauhan, suara ambulans terdengar samar.
Juno menyusuri sisi kiri Great Portland Street, melewati toko-toko kecil yang tutup rapat. Ia menyeberang di dekat Warren Street Station yang sepi total, lalu belok kanan ke arah apartemen Marion—sebuah flat kecil bergaya Edwardian di lantai dua, dengan tangga sempit dan dinding bata tua yang basah oleh embun.
Setelah membuka pintu dengan kunci cadangan Marion, Juno membaringkan gadis itu ke atas ranjang. Ia melepas sepatunya pelan-pelan, lalu duduk di pinggir kasur sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Marion bergumam, masih meracau.
“Yuri... Yuri selalu bilang aku terlalu keras... terlalu banyak nuntut. Tapi dia yang bikin aku kayak gitu. Aku... capek jadi yang bisa ditoleransi. Aku bukan checklist, sialan...”
Juno menghela napas. Ia tidak menjawab. Tapi bibirnya mengangkat sudutnya sedikit. Marion-nya. Yang keras kepala, nyaring, dan penuh bara. Yang pernah ia kenal sebelum semuanya berubah.
Saat ia hendak berdiri, Marion setengah bangun. “Mau ke mana?”
“Tidur di luar,” jawab Juno pelan.
“Jangan... jangan pergi. Temenin aku... malam ini aja,” gumam Marion. “Aku takut sendirian.”
Juno diam. Ia duduk kembali. Wajah Marion sudah dekat sekali sekarang, nafasnya hangat dan bau alkoholnya masih pekat.
Lalu gadis itu menyuruk dalam pelukannya. Juno memeluk balik, kaku, lalu perlahan melembut. Ini pertama kalinya ia menyentuh Marion. Dan itu cukup untuk membuat jantungnya berdetak terlalu keras dibanding mabuk mana pun.
“Aku pengin lari dari semuanya, Jun... tapi aku takut nggak ada yang nyari aku nanti.”
Juno membungkuk, bisikannya nyaris tenggelam dalam napas gadis itu.
“Aku akan selalu nyari kamu. Kamu nggak akan pernah hilang buat aku.”
Marion menatapnya. Matanya buram, tapi intens. Lalu, tiba-tiba, bibir mereka bersentuhan.
Awalnya ragu. Tapi kemudian tenggelam. Dalam ciuman panjang yang dipenuhi seluruh hal yang tak pernah bisa mereka ucapkan. Ciuman yang lelah, mabuk, tapi penuh.
Hening. Detik terasa seperti menahan nafas.
Tapi Juno tak menolak. Ia balas ciuman itu. Dalam. Lembut. Lama. Seperti segala yang pernah ingin ia ungkap tapi tak pernah punya ruang. Rasa rindu, rasa kehilangan, dan rasa yang ingin disangkal.
Mereka hanyut. Dalam pelukan. Dalam rasa. Dalam ketidakwarasan malam yang terlalu sepi.
Pakaian mulai mengendur. Sentuhan menjadi pelan, gemetar. Bukan karena takut, tapi karena terlalu terasa. Mereka membiarkan diri mereka larut, menyatu dalam kelembutan yang tak perlu banyak kata dan ketika malam kian hening, hanya napas mereka yang terdengar. Berat, teratur… lalu berantakan. Dalam keintiman yang tak lagi bisa dihindari.
Sentuhan mereka perlahan menggila. Juno memeluk lebih erat, meresapi seluruh kehadiran Marion yang rapuh tapi nyata. Mereka meluruhkan pakaian dan kepura-puraan dalam keheningan yang hanya dipecah oleh napas mereka.
Malam itu, di kota yang basah dan sunyi, mereka akhirnya saling temukan kembali. Tak ada yang pasti setelah ini. Tapi malam itu, mereka memilih kehilangan bersama.
Cahaya keemasan musim panas menyusup masuk, lembut dan menyilaukan. Langit masih pucat, tapi kota sudah mulai terjaga—dengan gemuruh samar kendaraan dari jalan utama dan kicauan burung yang bertahan di sela sela beton.
Marion terbangun dalam gumaman pelan, kelopak matanya terasa berat dan kepalanya berdenyut. Ada rasa lengket di lidah dan mual yang menyergap begitu ia duduk. Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu mendadak menyadari sesuatu—ia tidak mengenakan apa pun. Tubuhnya polos di balik selimut tipis, dan panik kecil merayap di dadanya.
Dengan langkah tergesa dan napas terburu, ia bangkit, membungkus tubuhnya dan masuk ke kamar mandi. Suara air keran bergemericik sesaat sebelum suara muntah memenuhi ruangan kecil itu.
Sementara itu, di dapur kecil flat itu yang menghadap jendela belakang…
Juno berdiri mengenakan kaos tipis dan celana panjang hitam yang entah milik siapa.
Rambutnya masih acak-acakan, ada bekas kerutan bantal di pipinya, dan sebatang rokok terselip di bibir. Di tangan kirinya ada spatula, dan di tangan kanan secangkir kopi yang sudah setengah dingin. Ia sedang memasak sarapan—telur orak-arik yang lembut dengan tomat panggang dan dua potong sourdough yang sudah mengilat oleh mentega.
Ia bersiul pelan, lagu lama The Kooks yang entah kenapa muncul begitu saja di kepalanya. Panci berdenting pelan setiap kali spatula mengenai sisi logamnya. Di ujung meja, dua piring sudah disiapkan. Ia menjentikkan abu rokok ke asbak logam, lalu mencicipi saus tomat buatan sendiri dari sendok kayu.
“Lumayan,” gumamnya, senyum kecil tersungging tanpa sebab.
Marion keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih menetes. Ia mengenakan sweater besar yang terlalu longgar dan celana pendek. Langkahnya masih hati-hati, seperti seseorang yang baru menyadari dunia kembali setelah tertinggal.
Di dapur, aroma kopi dan mentega menyambutnya.
“Pagi,” sapa Juno sambil menuangkan telur ke atas piring.
Marion mengerjap, lalu mendekat perlahan. “Aku… semalam, aku mabuk berat, ya?”
Juno mengangguk ringan, matanya masih tertinggal di pinggir piring.
Marion meringis. “Pasti wajahku jelek banget.”
Juno tertawa, suara renyah dan ringan, seperti pagi itu sendiri. “Kamu nggak pernah jelek di mataku.”
Marion memungut tisu dan melemparnya ke arah Juno. “Bisa nggak sih jangan gombal sambil masak?”
Mereka duduk di meja kecil, sarapan tersaji di depan mereka, hangat dan sederhana. Marion mencicipi sedikit roti dan mendesah puas.
“Enak,” katanya pelan. “Kamu nyiapin ini semua sendirian?”
“Udah jadi skill bertahan hidup,” jawab Juno sambil mengangkat bahu.
Hening sebentar, lalu Marion membuka suara.
“Semalam… aku ngomong aneh-aneh nggak?”
“Hmm…” Juno pura-pura berpikir. “Kamu ngomong semua hal yang bisa diomongin. Mulai dari Yuri, politik, sampai warna lipstik Elli yang katanya bikin dia kelihatan kayak pasien tifus.”
Marion ternganga. “Astaga.” Ia menutup wajah dengan telapak tangan. “Aku bener-bener mabuk, ya?”
Juno tertawa lagi. “Lumayan.”
Marion menggigit bibir, lalu menoleh ragu. “Terus… kenapa aku tidur tanpa… pakaian?”
Juno berhenti mengunyah sebentar. Lalu ia tersenyum kecil. “Aku tidur di sofa.”
Marion mendengus pelan. “Pasti aku udah gila karena kepanasan setelah mabuk.”
Juno hanya menangguk.
Ia menyimpannya sendiri—semua memori semalam. Tentang ciuman mereka yang tak terencana. Tentang tubuh Marion yang gemetar dalam pelukannya. Tentang malam yang terasa seperti miliknya, hanya sekali itu saja.
Ia tahu Marion tidak mengingatnya. Dan bagian dari dirinya lega. Tapi bagian lainnya… masih menggenggam erat.
Ia memilih diam.
Karena jika ia mengatakannya, sesuatu akan rusak. Dan ia terlalu pengecut pagi itu, atau mungkin terlalu mencintai dalam diam, untuk mempertaruhkan apa pun lagi.
Untuk pagi ini… cukup bisa duduk bersamanya. Cukup bisa memasakkan telur dan mendengar Marion tertawa sambil melempar tisu. Cukup bisa diam-diam berkata dalam hati, “Aku mencintaimu, bahkan dalam sisa mabukmu.”
Hari itu Sabtu.
Matahari musim panas menggantung lebih lama di langit London, menyinari flat Marion dengan cahaya hangat yang membias lewat kaca jendela yang sedikit berdebu. Tidak ada pekerjaan, tidak ada kelas, tidak ada jadwal kampus yang mengejar. Hanya tumpukan baju kotor, rak dapur yang mulai lengket, dan lantai kayu yang berderit setiap diinjak.
“Bersih-bersih besar,” gumam Marion, menyerahkan satu keranjang cucian ke tangan Juno sebelum berjalan ke arah mesin cuci.
Juno mengangkat alis. “Kita atau kamu?”
“Kita.” Marion menatapnya sambil tersenyum setengah menggoda. “Karena kamu tinggal di sini sementara, kamu juga harus kerja.”
Juno hanya mengangkat bahu. “Aku bersihkan ruang tengah sama kamar mandi. Kesepakatan?”
“Kesepakatan.”
Mereka mulai bekerja dengan ritme yang familiar. Juno mengikat rambutnya asal-asalan, menggulung lengan kaos dan menyemprotkan cairan pembersih ke seluruh permukaan meja dan rak buku. Ia menumpuk buku-buku yang berserakan dan mengangkat karpet kecil dari bawah meja kopi, menepuk-nepuk debunya dengan sedikit keluhan.
Sementara itu, Marion mulai menyortir pakaian kotor, memisahkan berdasarkan warna dan bahan. Mesin cuci berputar di latar belakang, mengisi keheningan dengan dentingan logam dan gemuruh air. Setelah itu, ia menyeka dapur dengan handuk basah, menggosok kerak yang menempel di sudut kompor dan menyapu remah-remah roti dari lantai.
Aktivitas itu terasa seperti ritus lama yang diulang kembali.
Juno pernah melakukan semua ini bertahun lalu, saat Marion baru pindah ke flat kecil itu, panik karena kehilangan arah di kota asing dengan segala tuntutannya. Juno lah yang menemani mencarikan tempat tinggal, menimbang harga sewa, mengecek pencahayaan dan akses kereta bawah tanah, hingga akhirnya menemukan flat itu. Ia juga yang memanggul kardus-kardus buku, menyusun perabot, bahkan memaku rak gantung di dapur saat Yuri tak bisa datang karena sedang dinas ke Manchester.
Tapi Marion tidak pernah mengenalkan Juno pada Yuri.
Selalu ada jeda yang dijaga, ruang yang tidak boleh bersinggungan.
Pernah suatu kali Yuri marah besar. Hanya karena ada Henrique Duarte, mahasiswa asal Portugal yang satu kelompok riset dengannya, datang ke apartemen untuk menyelesaikan laporan praktik lapangan. Padahal Marion sudah menjelaskan semuanya, bahwa itu bagian dari proyek akademik. Tapi Yuri tetap tak suka. Matanya menajam, nadanya naik.
Yuri selalu seperti itu.
Cepat cemburu, cepat marah, seolah-olah dunia Marion harus steril dari pria lain.
Karena itulah, Juno menjadi rahasia yang dijaga rapi.
Ia menyembunyakannya bukan karena malu, tapi karena takut pada reaksi Yuri. Takut akan tuduhan, amarah, atau luka yang tak perlu.
Juno pun tahu itu.
Ia tak pernah meminta dikenalkan.
Bahkan saat Marion minta maaf karena menyembunyikannya, Juno hanya mengangguk dan berkata, “Aku nggak mau tahu soal hubungan kalian. Aku di sini bukan untuk itu.”
Bagi Juno, Yuri adalah pria menjengkelkan.
Yang sok ramah, terlalu perfeksionis, dan terlalu gemar menyebar pesona. Marion tak tahu kenapa Juno begitu membencinya, tapi ia bisa merasakannya dari cara Juno menyebut nama Yuri—seolah ada duri di balik tiap hurufnya.
Malah, ketika Marion mengaku bahwa ia dan Yuri berpacaran, Juno sempat menjauh. Hanya sebentar, tapi cukup membuat Marion resah. Lalu ia kembali, dengan satu kalimat sederhana:
“Aku cuma butuh waktu. Tapi aku akan tetap ada buat kamu. Sebagai teman.”
Itu cukup. Marion menggenggam itu.
Ia tahu keduanya penting—Yuri dengan segala kedewasaannya yang mapan, dan Juno dengan kebebasannya yang kacau dan hangat. Keduanya hadir dalam waktu dan cara yang berbeda. Keduanya adalah semesta yang tak bisa disatukan, tapi juga tak bisa ia lepaskan.
Hari menjelang sore.
Pukul empat lewat sedikit, flat itu sudah jauh lebih bersih. Wangi lemon dari pembersih meja berpadu dengan aroma sabun dari cucian yang mengering di balkon kecil. Marion menyeka keringat dari keningnya dan duduk di lantai, menyender ke dinding sambil menarik napas panjang.
Juno datang dari arah kamar mandi, tangan dan pipi belepotan busa. “Tirai shower-nya kumal banget. Aku rendam pakai baking soda.”
Marion mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih udah bantu.”
Juno duduk di sampingnya, menyodorkan botol air dingin. “Aku cuma balikin kebiasaan lama.”
Mereka duduk berdua, diam-diam, di antara cahaya sore yang menguning.
Tak ada yang harus dikatakan.
Tapi di dada Marion, sesuatu berdesir—kenangan, kesetiaan, dan perasaan yang tak pernah punya nama.
Dan entah kenapa, sore itu terasa seperti sesuatu yang sebentar lagi akan berubah.
Pendingin ruangan menyala lembut, mengisi ruang tengah dengan hawa sejuk yang kontras dengan kelelahan di tubuh mereka. Di lantai yang baru dipel dan masih sedikit lembap, Marion dan Juno duduk bersisian, punggung mereka menyandar ke sofa. Sesekali terdengar suara dengung halus dari mesin cuci yang masih bekerja di ujung dapur.
“Marion, kamu lapar nggak?” tanya Juno sambil meneguk air dingin dari botol.
Marion menoleh dengan wajah kusut, ekspresi putus asa terpampang jelas. “Lapar sekali. Seperti bisa makan dunia.”
Juno terkekeh. “Ya udah. Kamu mandi dulu, ganti baju. Habis itu gantian aku. Kita keluar makan, sekalian belanja isi kulkas. Deal?”
Mata Marion membulat. “Tapi… sisa uangku nggak cukup. Tadi aku sempat kirim ke Ibu, pas istirahat sebentar.”
Tanpa berkata-kata, Juno mengulurkan tangan dan menjitak kepala Marion pelan.
“Ya terus kamu pikir punya teman buat apa?” katanya santai. “Semua bill aku yang tanggung. Titik.”
Marion tersenyum kecil, tak bisa membantah. Ia hanya mengangguk, lalu bangkit pelan dan berjalan menuju kamar mandi sambil mengucek mata.
Setengah jam kemudian, mereka sudah siap. Marion mengenakan jaket tipis dan jeans dengan rambut masih agak basah, sementara Juno mengenakan hoodie hitam dan helm yang digantung di tangan. Mereka keluar dari flat dan menuruni tangga sempit yang mengarah ke halaman depan, di mana motor Juno—a matte black Yamaha XSR700—terparkir rapi di bawah pohon kecil.
Juno memberikan helm ke Marion. “Naik. Kita lewat Embankment dulu. Pemandangannya bagus sore-sore.”
Marion naik di belakang Juno, memeluk pinggang temannya dengan satu tangan dan merapatkan tubuh ke jaketnya yang hangat. Motor menyala, lalu meluncur keluar dari jalan kecil tempat flat mereka berada, masuk ke jalan utama.
Mereka melewati Waterloo Bridge, di mana langit senja mulai menua dengan semburat oranye keemasan yang jatuh ke permukaan Sungai Thames. London Eye terlihat dari kejauhan, berdiri megah di sisi timur. Lalu mereka berbelok ke arah Covent Garden, menyusuri jalan yang mulai dipenuhi para turis dan pekerja yang pulang.
Dari kejauhan, tampak plang restoran bergaya Eropa klasik dengan nama yang tertulis dalam font serif elegan berwarna emas: "La Francine".
Restoran itu berada di ujung blok bangunan batu bata berwarna terracotta, dihiasi tanaman merambat dan bunga lavender dalam pot kecil di setiap jendela. Bagian depannya memiliki pintu kaca besar dan papan tulis hitam bertuliskan Today’s Special: Pollo alla Cacciatora & Tiramisu Tradizionale.
“Tempat Allegra, kan?” tanya Marion sambil membuka helm.
Juno mengangguk. “Iya. La Francine. Dia buka tahun lalu. Aku baru mampir sekali.”
Mereka masuk ke dalam, disambut aroma masakan Italia yang menggoda—perpaduan tomat segar, basil, bawang putih, dan panggangan. Interior restoran hangat dan sederhana: kayu gelap, lampu gantung bundar dari kaca buram, dan dinding penuh foto hitam putih dari Roma dan Napoli.
Dan di salah satu sudut dekat jendela, duduklah Allegra Cavendish—masih seperti dulu: rambut cokelat keabuan yang lurus jatuh di bahu, bibir merah menyala, dan mata biru jernih yang langsung mengenali mereka.
“Juno? Marion?” sapanya dengan senyum hangat.
Marion memekik kecil dan menghampiri. “Allegra! Ya Tuhan, kamu masih secantik dulu!”
Di pangkuan Allegra, duduk seorang anak perempuan kecil berusia sekitar dua tahun, mengenakan gaun kuning pastel dengan pita kecil di kepala.
“Ini Franca,” ujar Allegra dengan bangga. “She’s almost three.”
“Wah… siapa ini? Cantiknyaaa… Kamu mirip Mummy ya?” Marion bicara dengan nada tinggi, memainkan jari dengan Franca yang langsung tertawa kecil.
Juno mencolek Marion dari belakang. “Ayo, kita duduk dulu. Mereka lagi mau makan kayaknya.”
“Dia menikah nggak lama setelah lulus,” bisik Juno saat mereka berjalan ke meja di dekat jendela lain. “Sama fotografer dari Milan, katanya.”
Mereka duduk, dan pelayan datang membawa menu. Marion membuka lembar demi lembar dengan mata berbinar.
“Aku mau ini, ini, dan ini.”
Ia menunjuk cepat pada Bruschetta dengan tomat dan basil segar, Gnocchi alla Sorrentina, Risotto jamur dengan truffle, Pizza Quattro Formaggi dan Tiramisu buatan rumah. Juno hanya menahan tawa dan menyerahkan daftar pesanan ke pelayan. “Itu semua untuk satu orang, ya,” ujarnya bercanda, membuat Marion menjulurkan lidah.
Tapi di dalam hatinya, Juno lega.
Marion masih mau makan. Bahkan memesan banyak. Itu pertanda baik. Pertanda bahwa mungkin hatinya sedang membaik. Setelah pelayan pergi, Juno menyandarkan punggungnya dan mulai bercerita. Tentang masa-masa kuliah di Westminster, tentang proyek presentasi yang mereka kerjakan semalaman, tentang Allegra yang selalu menjadi juru tulis paling rapi dan Marion yang selalu ngotot soal desain slide. Mereka tertawa, mengingat lelucon lama dan kesalahan kecil yang kini justru terasa manis.
Di luar, cahaya matahari merambat turun.
Di dalam, dua teman lama duduk berhadapan, menikmati makanan, kenangan, dan sebuah sore yang membawa hangatnya kembali.
Marion makan dengan lahap, seperti balas dendam pada hari-hari kemarin yang penuh tekanan. Satu per satu piring di hadapannya perlahan kosong—sisa saus gnocchi, potongan truffle, bahkan pinggiran pizza yang biasanya dibiarkan pun tak luput dari perhatian. Ia tampak benar-benar menikmati setiap gigitan.
Juno hanya bersandar sambil memegangi perutnya yang kenyang. Ia meneguk minumannya perlahan—Elderflower Sparkle with Mint and Lime, minuman segar khas restoran ini yang disajikan dalam gelas tinggi berembun, penuh dengan daun mint segar dan irisan jeruk nipis.
“Gila, makanan di sini enak sekali,” gumam Marion sambil membersihkan saus di ujung bibir dengan tisu. “Aku bisa makan di sini tiap hari kalau bisa.”
Juno terkekeh. “Lucu ya? Padahal dulu tempat ini sepi. Allegra sempat frustrasi, bahkan nyaris tutup tahun pertama.”
Marion mengangkat alis. “Serius?”
“Hmm. Waktu itu dia sempat hubungi aku, nanya soal strategi promosi. Kebetulan Ibu punya koneksi ke konsultan marketing di Bristol yang cukup handal. Dia pakai jasanya… dan ya, kamu lihat sendiri hasilnya.”
Ia menunjuk ke sekeliling ruangan yang kini ramai, dengan beberapa tamu harus mengantri di luar.
“Kadang-kadang Allegra ngasih aku voucher gratis. Aku biasanya kasih ke anggota tim risetku, bergiliran. Sebagai reward kalau mereka selesai proyek besar.”
Marion mengangguk pelan, masih menatap piring bekas makanannya dengan puas.
Setelah membayar semua pesanan dan mengucapkan salam perpisahan pada Allegra dan Franca, mereka kembali ke motor. Sore telah sepenuhnya berubah menjadi malam. Udara musim panas mulai menipis—tidak lagi panas, tapi juga belum cukup dingin untuk membuat tubuh menggigil. Angin semilir membawa aroma aspal hangat dan sisa wangi makanan dari restoran-restoran lain di sepanjang jalan.
Mereka kembali naik motor. Kali ini, Juno membelokkan arah ke utara, menyusuri jalanan yang mulai lengang.
Mereka melewati Upper Street, yang masih ramai dengan lampu toko dan pejalan kaki yang berlarian menuju bar atau menunggu bus malam. Lampu jalan memantul di kaca etalase, menciptakan pendaran keemasan yang menari-nari di helm mereka. Cuaca malam itu cukup cerah, langit bersih dengan bintang-bintang kecil mulai muncul, meski lampu kota membuatnya samar.
Motor mereka meluncur melewati Highbury Corner, lalu berbelok ke arah Camden Road. Di persimpangan, suara gitar dari pengamen jalanan terdengar samar, mengisi keheningan di sela-sela deru mesin.
Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit, mereka tiba di depan sebuah bangunan besar bertingkat dua dengan lampu putih terang yang menyala dari balik kaca besar bertuliskan:
“GRANDIS MARKET — Camden & Islington’s Largest Grocery & Essentials”
Supermarket itu berdiri gagah dengan eksterior modern: dinding panel metalik dan kaca bening tinggi dari lantai hingga atap, memperlihatkan rak-rak tinggi dan deretan checkout yang sibuk di dalam. Di pelatarannya, ada deretan tempat parkir sepeda dan beberapa troli berjejer.
Juno memarkir motor, melepas helmnya, dan menarik salah satu troli besar beroda karet dari sudut keranjang logam.
“Ambil banyak sekalian, biar kita nggak harus bolak-balik,” katanya sambil menyerahkan pegangan troli ke Marion.
Mereka masuk ke dalam, disambut dingin AC dan aroma familiar campuran roti baru dipanggang dan sabun pencuci lantai. Supermarket itu ramai tapi tidak padat—teratur, tertib, dan rapi. Rak-rak penuh warna dan label-label yang mencolok. Musik pop lembut mengalun dari speaker di langit-langit.
Mereka mulai berkeliling. Di bagian bahan makanan pokok, Marion mengambil Satu pak beras Basmati ukuran besar, beberapa mi telur segar, Kaldu ayam dalam kotak, Bawang bombai, bawang putih, dan daun seledri segar, Ayam fillet, ikan dori beku, dan sosis sapi panggang serta satu kotak besar telur organic
Sementara Juno menyusul di rak pendingin, mengambil Keju cheddar parut, Yoghurt Yunani, Susu almond tanpa gula dan Mentega tawar. Di bagian buah dan sayur, Marion memilih Mangga manila matang, yang langsung dia cium aromanya, Beberapa pir hijau, stroberi segar, dan anggur hitam, Seikat kangkung dan baby spinach. Tak lupa, mereka mampir ke bagian cemilan. Marion mengambil sebungkus keripik kentang rasa cuka-bawang, Biskuit cokelat hazelnut, Permen karet mint dan sebungkus besar popcorn caramel.
“Ini buat jaga-jaga kalau kamu nanti mellow tengah malam,” ujar Juno, menyelipkan chocolate mochi ice cream ke dalam keranjang, membuat Marion tertawa kecil.
Di bagian minuman, mereka mengambil beberapa botol Air mineral sparkling, Teh botol hijau lemon, Kopi dingin dalam kaleng aluminium bergaya Jepang dan satu kotak kecil jus jeruk segar.
Setelah sekitar tiga puluh menit berkeliling, troli mereka nyaris penuh.
“Bisa bikin pesta kecil kalau kita mau,” celetuk Juno sambil melihat isi troli.
Marion tersenyum, kali ini senyuman yang tulus, ringan, dan tanpa tekanan. “Terima kasih, Juno.”
Juno hanya mengedikkan bahu dan mendorong troli ke arah kasir. Dalam hatinya, ia bersyukur. Bukan soal barang-barang di troli itu. Tapi karena Marion sudah mulai menyambut dunia lagi—sedikit demi sedikit dan untuk malam musim panas yang satu ini, itu lebih dari cukup.
Juno memarkir sepeda motornya di pinggir jalan, di depan sebuah restoran oriental kecil yang tersembunyi di antara pertokoan tua. Cahaya temaram lampu gantung di dalam restoran memantul samar di jendela, tapi tak banyak yang bisa dilihat dari luar. Tak ada ornamen mencolok, tak ada pelayan yang menyambut, bahkan tak ada bel pintu yang berdenting saat seseorang masuk. Seolah tempat itu hidup hanya untuk mereka yang memang sengaja datang, bukan untuk menarik perhatian.
"Aku masuk sebentar, kamu tunggu di sini aja, ya? Aku mau pesen makanan buat makan malam kita," kata Juno sembari turun dari motor. Marion mengangguk, menyender di jok belakang dan membiarkan angin musim panas yang lembut meniup pelan helai rambutnya.
Dua puluh menit berlalu.
Ketika Juno kembali, Marion langsung tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Wajahnya menunduk, rautnya redup. Seperti seseorang yang pulang dari pertempuran batin yang tidak dimenangkan siapa-siapa.
"Ada apa?" tanya Marion lembut, membungkuk sedikit untuk menatap wajahnya.
Juno mengangkat pandangan cepat dan tersenyum seadanya. “Nggak apa-apa,” ujarnya singkat, mengangkat kantung kertas berisi makanan di tangannya. “Ini makan malam kita nanti.”
Marion tertawa kecil. “Kamu pesan banyak ya?”
Juno hanya mengangguk. Di dalam kantung itu ada dua porsi char siu bao, ayam jahe kukus, tumis bok choy dengan bawang putih, semangkuk besar mie daging sapi ala Kanton, dan tahu goreng isi udang—menu favorit Marion sejak dulu. Tapi pikirannya tidak benar-benar ada di makanan.
Sepanjang perjalanan pulang, Juno diam. Motor melaju tenang melewati jalan-jalan Islington yang sudah mulai sepi, langit berwarna biru lembut keunguan, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu seperti bintang yang enggan tidur.
Setiba di apartemen, kardus-kardus belanjaan mereka sudah tergeletak di depan pintu. Marion membuka pintu dan masuk sambil membawa kantung makan malam itu, sementara Juno mengangkat semua kardus dengan mudah seolah tak lebih berat dari napasnya sendiri. Dapur kecil mereka langsung dipenuhi tawa dan kesibukan kecil, menyusun bahan makanan dan menyusun ulang isi kulkas seperti dua orang yang baru saja memulai hidup bersama. Padahal mereka cuma dua sahabat yang sedang saling menjaga agar tidak jatuh terlalu dalam.
Marion menyentuh lengannya sebentar. “Tadi ada apa di restoran itu?”
Juno diam. Matanya menatap kosong ke arah kulkas terbuka, lalu perlahan menutup pintunya. Ia menghela napas.
“Pelayannya salah catat pesanan,” jawabnya akhirnya. Suaranya datar, tapi masih terdengar seperti milik Juno yang biasa.
Marion mengangguk dan tak bertanya lagi.
Padahal bukan itu.
Di balik tirai waktu yang terasa lambat, di dalam ruang sempit tempat ia berdiri memesan makanan, Juno melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Dari balik meja pojok restoran itu, ia melihat Stacy. Duduk di seberang seorang pria—Yuri Starkweather.
Juno mengenal bahu itu, mengenal lekuk wajah yang hanya bisa ditahan dengan muak. Ia tahu cara Yuri menyeringai seperti orang suci, lalu mematahkan hati orang lain tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ia tahu karena sudah terlalu sering melihat luka Marion yang tak berdarah.
Amarah itu naik dari dalam tubuhnya seperti uap panas yang menyublim, menggumpal di dadanya. Ia ingin menghampiri mereka, ingin meninju Yuri tanpa ragu, ingin mengacak-acak malam dan berteriak pada dunia bahwa yang duduk bersama itu bukan sekadar sepasang teman makan malam.
Tapi ia tak bergerak.
Bukan karena takut, tapi karena sadar: jika ia melakukannya, maka semua akan terbongkar. Maka Marion akan tahu. Dan kalau Marion tahu, mungkin untuk pertama kalinya, Juno tak akan mampu menyelamatkannya dari patah yang terlalu dalam. Patah yang tak bisa ia rangkai ulang menjadi Marion yang ia kenal.
Jadi ia berdiri di sana, diam, dengan kedua tangan mengepal di balik meja kasir. Sambil menatap sosok dua manusia yang paling ingin ia hempaskan dari kehidupan Marion, tapi tidak bisa.
Dalam hening, ia memilih membiarkan luka itu tinggal di dalam dirinya.
Karena mencintai dalam diam juga kadang artinya menahan dunia agar tidak runtuh di hadapan orang yang ingin kita jaga.
Daftar Chapter
Chapter 1: PROLOG
254 kata
Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...
4,844 kata
Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki
5,523 kata
Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai
5,590 kata
Chapter 5: Yang Belum Usai
5,736 kata
Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu
5,356 kata
Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai
6,073 kata
Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali
6,017 kata
Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji
5,340 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!