')">
Progress Membaca 0%

Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali

Alvianti Purnamasari 31 Mar 2026 6,017 kata
GRATIS

Mereka makan malam seperti biasa. Meja kecil di sudut ruang tengah menyambut kehangatan makanan dan dua manusia yang mencoba hidup satu hari lagi tanpa menyinggung luka. Marion, tanpa sadar, melahap satu per satu menu yang dipesan Juno—char siu bao, ayam jahe kukus, bok choy tumis bawang putih, mie daging sapi, hingga tahu isi udang. Nafsu makannya memang meningkat belakangan ini, dan ia tak lagi merasa perlu menahan diri ketika di hadapan Juno.

Sebaliknya, Juno lebih banyak diam. Ia memegang sumpit dengan lambat, menyentuh makanannya tanpa benar-benar memperhatikannya.

Setelah beberapa menit, Marion akhirnya angkat suara. “Kamu yakin kamu baik-baik saja?”

Juno mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. “Yakin,” katanya pelan, lalu kembali menunduk.

“Besok kamu nginep lagi di sini?” tanya Marion, suaranya ringan tapi ada nada berharap yang samar.

Juno menimbang sejenak. “Kayaknya malam ini aku balik ke rumah orangtuaku.”

Marion mengangguk dan tertawa pelan. “Siapa tahu nyampe sana, ibumu udah nyiapin calon pengantin buat kamu.”

Juno tertawa, tapi tak sepenuhnya senang. Suaranya lebih mirip cengiran pahit yang dipaksakan keluar. “Kalau iya, aku kabur malam-malam.”

Belum sempat Marion membalas, ponsel Juno berdering. Ia melihat layar sebentar, lalu berdiri dari kursi dan menjauh dari meja. Suaranya pelan saat menjawab, hanya sepatah dua patah kata yang tidak bisa ditangkap Marion.

Sambil menunggu, Marion berdiri dan mulai mengangkat piring-piring kotor ke wastafel. Ia mencuci perlahan, membiarkan suara air mengisi kekosongan. Di latar belakang, televisi menyiarkan ramalan cuaca—besok hujan ringan diperkirakan turun di sebagian besar kawasan Inggris tengah. Tak lama, Juno kembali. Ia melepas napas pendek dan menatap Marion dari ambang ruang tengah. “Aku dapat tugas baru. Pemerintah minta aku berangkat ke daerah luar kota, semacam inspeksi proyek. Beberapa hari, mungkin seminggu.”

“Di mana?” tanya Marion sambil menengok setengah dari dapur.

“Cornwall,” jawab Juno, membuka kulkas dan mengambil sebotol bir. “Daerah pesisir. Katanya perlu pengawasan langsung dari tim pusat. Dan aku… orang terakhir yang ditunjuk.”

Marion mematikan keran. “Kapan berangkat?”

“Besok pagi.”

“Keren juga,” gumam Marion. Ia kembali ke meja, mengelap permukaan kayunya yang masih hangat bekas makan bersama. “Kamu kayak agen rahasia aja. Tiba-tiba ditarik keluar kota.”

Juno tertawa kecil dari sofa, lalu menyesap birnya. Tapi matanya tetap diam di arah Marion—mengikuti gerakan gadis itu yang sedang menyusun gelas ke rak, menggosok tangan dengan handuk kecil, lalu berbalik menatapnya sejenak dan saat itulah, pemandangan di restoran tadi kembali muncul di benaknya. Stacy. Yuri. Tawa yang hanya bisa dibenci. Dan Marion, yang tak tahu apa-apa—masih berdiri di dekatnya sekarang, tak sadar bahwa hatinya baru saja hampir meledak dalam diam.

Kalau saja ia bisa bicara. Kalau saja ia bisa menjelaskan kenapa tadi ia diam begitu lama, kenapa dadanya masih sesak sampai sekarang.

Tapi ia tidak bisa. Belum.

“Juno?”

Ia mengerjap.

Marion memiringkan kepala. “Kamu mikir apa?”

Juno mengangkat bahu, senyumnya dibuat setipis mungkin. “Cuma mikirin proyek itu. Takut ada yang kelewat pas briefing.”

Ia tahu itu bohong. Tapi itu yang paling aman. Dan kebohongan kecil kadang jadi satu-satunya cara agar dunia tak runtuh di hadapan orang yang ingin kita selamatkan.

Saat Marion hendak duduk kembali di dekat Juno, giliran ponselnya yang berdering. Layarnya menyala, menampilkan nama yang sudah ia hapal luar kepala: Yuri Starkweather.

Ia segera berdiri dan berjalan ke balkon. Udara malam khas London musim panas menyambutnya—masih hangat meski matahari telah lama tenggelam, dengan sisa-sisa kehangatan siang menempel di permukaan balkon yang sempit itu. Lampu jalan menyinari jalanan basah sisa hujan gerimis sore tadi, dan suara kota masih terdengar: tawa dari pub di ujung blok, langkah kaki pejalan malam, dan sayup deru bus tingkat yang melintas.

Langit cerah, tapi agak berembun. Cahaya bulan separuh mengintip di balik bangunan tinggi, memantulkan kilau lembut pada jendela-jendela flat yang berjejer.

Marion duduk di kursi kecil yang biasa ia pakai untuk menyeduh teh di pagi hari. Ia menarik napas pelan dan menjawab panggilan.

“Halo?”

Suara Yuri terdengar hangat dan segar, seolah baru turun dari kereta. “Aku sudah di Camden.”

Marion langsung tegak. “Apa? Aku pikir kamu datangnya lusa!”

Yuri tertawa ringan. “Aku percepat. Rasanya pengin ketemu kamu secepatnya.”

Marion tersenyum. “Kenapa buru-buru?”

Yuri menjawab dengan nada lembut, “Aku mau kita ketemu besok. Dan… aku mau ajak kamu liburan. Bisa ambil cuti lagi kayak kemarin?”

Marion terdiam sejenak, menimbang. “Aku harus tanya dulu ke Elli dan James Hook. Tapi… mungkin bisa. Kita pergi berapa lama?”

“Dua atau tiga hari. Nggak lama, tapi cukup buat kabur sebentar dari London. Oh ya—aku kirim sesuatu ke apartemenmu. Harusnya sampai dua jam lagi.”

Marion membelalak. “Apa itu?”

“Lihat saja nanti. Besok bawa, ya. Itu kado dariku.” Yuri tertawa pelan, kemudian menambahkan, “Aku mau tidur lebih awal malam ini. Sampai ketemu besok, Marry.”

“Sampai besok, Yuri.”

Begitu panggilan berakhir, Marion memeluk ponselnya dan menatap langit dari balik balkon kecilnya. Jantungnya berdetak cepat. Biasanya hanya dia yang berharap, yang menunggu. Tapi kali ini, Yuri yang lebih dulu datang, lebih dulu meminta. Dan rasanya… luar biasa. Seolah langit malam London pun terasa lebih terang dari biasanya.

Dari dalam, suara Juno terdengar memanggil, “Marion.”

Marion berdiri dan kembali masuk, menutup pintu balkon. Juno masih di sofa, menatap layar televisi dengan ekspresi kosong. Bir kaleng masih tergenggam di tangannya, tak lagi dingin.

Marion menghampiri, duduk di sisi sofa. “Besok aku ketemu Yuri. Dia ngajak aku kencan. Kita mau liburan!”

Juno tidak menanggapi. Tak ada senyum, tak ada tanya. Di dalam dirinya, bayangan wajah Yuri siang tadi bersama Stacy menari-nari. Tatapan Marion yang bersinar kini, terasa seperti cermin pecah baginya—ia hanya melihat retakan yang tak bisa ia perbaiki.

“Jun?” Marion menatapnya, bingung.

Juno menggeleng. Ia bangkit, mengambil jaket kulitnya dari sandaran kursi, lalu berkata sambil menyambar kunci:

“Jaga dirimu, ya. Selama aku pergi.”

Ia melangkah ke luar apartemen tanpa menoleh lagi.

Setelah Juno pergi, Marion masih berdiri di ambang pintu, menatap keheningan yang ditinggalkan. Tapi suasana hatinya tetap menghangat—masih dibuai angin musim panas dan percakapan dengan Yuri barusan.

Dua jam kemudian, pintu depan diketuk.

Marion membuka. Seorang kurir berdiri dengan paket ramping berbungkus kain beludru hitam dan pita merah anggur yang diikat elegan. Tidak ada nama pengirim, tapi Marion sudah tahu. Ia berterima kasih dan membawa paket itu masuk.

Dengan jantung yang berdegup cepat, ia meletakkannya di tempat tidur dan membuka pita perlahan. Di dalamnya, sepotong dress mini satin berwarna biru tua terlipat rapi, bagian bahunya tersemat detail tipis dari renda hitam transparan, dan di sepanjang pinggang, ada bordir berbentuk cabang lavender berwarna perak. Gaun itu sederhana tapi memesona, elegan namun menggoda—terlihat seperti sesuatu yang Yuri akan pilih dengan penuh perhitungan.

Marion menatapnya lama, lalu wajahnya memerah. Tangannya menyentuh lembut kainnya, seolah mencoba memahami maksud di balik setiap lekuk desain. Apakah Yuri ingin dia terlihat seperti ini di hadapannya? pikir Marion, malu tapi senang bukan main.

Saat itulah, layar laptopnya menyala dengan notifikasi baru. Sebuah email masuk dari James Hook.

 

Dear Marion,

Cuti kamu telah disetujui untuk 3 hari ke depan. Terima kasih atas dedikasimu selama ini.

Nikmati liburanmu.

Salam,

James Hook

Marion tak bisa menahan tawa kecilnya. Seperti potongan-potongan semesta menyatu, mempertemukannya dengan momen yang terasa… ditakdirkan. Ia langsung membuka lemari, mulai menyiapkan isi tas kecil, memilih parfum, sepasang sepatu, bahkan mencoba gaun itu sebentar—menatap bayangannya sendiri dengan pipi yang masih panas.

Sementara itu, di jalanan London malam, Juno memacu motornya menembus lalu lintas yang mulai lengang. Lampu jalan memantul di helmnya, suaranya menggeram di sepanjang aspal basah. Tapi pikirannya jauh dari rute biasa—ia bahkan tidak sadar sudah melewati rumah orang tuanya yang ada di pikirannya hanya satu: sebuah keputusan. Satu hal yang belum pernah ia berani sentuh sebelumnya. Ia tidak tahu apakah ini akan memperbaiki atau menghancurkan semuanya—yang jelas, ia tidak bisa menahan dorongan di dalam dadanya. Matanya menyipit, napasnya kasar. Tangannya menggenggam setang erat. Bukan ke rumah, bukan ke apartemen Marion, tapi ke tempat yang hanya ia tahu. Sebuah pintu yang belum pernah ia buka, karena ia tahu kalau ia melangkah masuk, maka jalan kembali mungkin takkan ada.

Pagi hari di London selalu punya cara tersendiri untuk tampak biasa tapi terasa genting di dada seseorang yang tengah menunggu sesuatu. Udara terasa hangat lembut, nyaris tak berangin, dan sinar matahari menembus jendela apartemen Marion dalam warna keemasan yang tipis. Burung-burung camar terdengar samar dari kejauhan—mereka terbang rendah di langit Islington, seakan ikut menjadi saksi dari awal yang baru, atau barangkali… sesuatu yang belum tahu arahnya.

Marion berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya perlahan. Hari ini ia memilih dress mini berwarna coral rose yang lehernya terbuka sedikit berbentuk hati, dengan lengan puff tipis dari kain organza. Dress itu jatuh pas di atas lutut, ringan, dan bergerak lembut setiap kali ia melangkah. Di telinga, ia menyematkan anting kecil berbentuk tetes air—hadiah ulang tahun dari Yuri dua tahun lalu. Rambutnya dikepang separuh dan dijepit rapi ke belakang, menyisakan sisa-sisa gelombang natural yang menggantung di bahu. Feminim, hangat, dan penuh harap—begitulah ia ingin terlihat pagi ini. Tapi di dalam dadanya, getar kecil mulai terasa seperti detak kedua yang tak mau diam.

"Apa ini akan jadi awal yang sesungguhnya?" pikirnya. Tangannya merapikan lipstik nude lembut yang sudah sejak lama tak ia kenakan.

Di sisi lain kota, Juno berdiri di antara lalu-lalang penumpang di London Heathrow Terminal 3, dengan ransel zaitun yang menggantung berat di punggungnya. Ia belum tidur. Bahkan sejak matahari sempat tenggelam semalam, ia hanya duduk di bangku taman selama berjam-jam—membiarkan sisa-sisa pembicaraan terakhir itu memantul ulang di kepalanya. Wajah itu. Senyum itu. Kebohongan yang terlalu halus. Semua menyatu dalam satu bentuk rasa yang tak bisa ia cerna—hanya menyiksa. Bandara pagi itu ramai, tapi tak bising. Orang-orang berjalan cepat, menunggu boarding, menyentuh layar ponsel atau menarik koper kecil. Juno diam, hanya berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap landasan pacu. Cahaya mentari menyilaukan, membuat matanya sedikit menyipit, tapi ia tak bergerak.

"Harusnya aku marah, tapi yang kurasakan cuma kosong," gumamnya dalam hati. Tangannya mengepal pelan di saku jaket, seolah ingin menahan sesuatu yang terlalu lama ia tahan.

Di sakunya ada boarding pass—destinasi pendek, hanya dua malam. Tapi bagi Juno, itu mungkin akan jadi jeda yang ia butuhkan… atau semacam pelarian terakhir.

Sementara itu, sebuah BMW berwarna hitam metalik melaju tenang menyusuri rute dari Camden High Street ke arah Islington. Lagu “You Make My Dreams” dari Hall & Oates terdengar dari radio, dan Yuri bersenandung ringan sembari mengetuk-ngetukkan jarinya ke setir. Ia melintasi Regent’s Canal, mata sempat melirik air yang memantulkan cahaya matahari pagi seperti kilauan kaca cair. Beberapa pengendara sepeda melaju di jalur kanan, dan Yuri melambatkan kendaraannya saat melewati tikungan ke arah Liverpool Road. Lalu lintas cukup lengang, dan cuaca terasa hangat menyenangkan. London tampak bersahabat pagi itu.

“Cuaca yang bagus buat kencan,” gumamnya, tersenyum kecil. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada skenario alternatif. Dalam pikirannya, hari ini hanyalah tentang menyenangkan Marion—membawanya jauh dari rutinitas dan mungkin, jika suasana mendukung, berbicara tentang hal-hal yang selama ini belum sempat ia katakan.

Ia membayangkan ekspresi Marion saat membuka hadiah semalam, lalu ia tertawa sendiri. “Kalau dia gugup, berarti berhasil.” Yuri tak tahu, di sisi lain kota, ada orang lain yang tak sedang memikirkan liburan. Ia juga tak tahu, mungkin segalanya tak akan semudah yang ia kira. Tapi pagi ini, jalanan terbuka lebar, dan ia hanya ingin sampai lebih cepat.

Yuri tiba di depan apartemen Marion tepat pukul delapan lewat dua belas. Matahari sudah naik tinggi, tapi masih menyorot lembut, seperti tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Begitu pintu terbuka, Marion muncul dengan senyum yang belum pernah serapi ini. Mata mereka bertemu—sejenak—lalu tanpa banyak kata, Marion melangkah maju dan memeluknya. Ringan, tapi tulus. Ia mengecup pipi Yuri pelan, seperti membuka awal hari dengan bahasa yang tak memerlukan penjelasan apa-apa.

“Kau siap?” tanya Yuri, menatapnya penuh arti.

“Siap,” jawab Marion. Dan mereka pun pergi.

Mereka berkendara keluar dari Islington, menyusuri rute ke arah selatan melalui A3 Highway, meninggalkan keramaian kota perlahan-lahan. Rute yang mereka ambil menuju pesisir selatan Inggris, dengan tujuan akhir: sebuah villa tepi pantai di West Wittering, milik keluarga Starkweather. Lokasinya nyaris tersembunyi, berdiri anggun di atas tanah pribadi yang berbatasan langsung dengan garis pantai. Mobil mereka melewati Guildford yang tampak tenang pagi itu, dengan toko-toko bergaya Tudor dan deretan pohon tua yang berjajar di pinggir jalan. Lalu melintasi Haslemere yang asri dan sedikit berkabut, sebelum akhirnya menyambung ke Chichester, kota kecil yang dipenuhi pesona arsitektur klasik, jendela-jendela kecil penuh bunga, dan kafe-kafe yang mengeluarkan aroma kopi dari sela pintu terbuka.

Sepanjang perjalanan, radio memutar lagu-lagu seperti “Put Your Records On” dari Corinne Bailey Rae dan “Lucky” dari Jason Mraz. Marion menyanyi kecil, kadang menoleh ke Yuri, tertawa saat mereka menyanyikan nada yang fals dengan sengaja. Sesekali, Yuri menggenggam tangan Marion di atas rem tangan. Dan pada momen-momen seperti itu, dunia terasa kecil dan sederhana: hanya ada mereka dan langit biru yang tak terganggu.

“Mr. Blindforth bilang aku akan ke Bordeaux bulan depan,” kata Yuri sambil mengatur kecepatan mobilnya. “Proyek lanjutan dari kemarin. Site kita di Hammersmith berhasil besar—semua selesai sebelum deadline, dan klien dari Perancis langsung minta kita handle bangunan pusat mereka.”

Marion menoleh cepat. “Yuri, itu luar biasa.” Senyumnya penuh kebanggaan. “Aku tahu kamu bisa.”

Yuri hanya tersenyum kecil, menahan debar yang muncul bukan dari pekerjaan—tapi dari suara Marion yang menyebut namanya dengan bangga.

Menjelang pukul 11.30 siang, mereka memutuskan untuk mampir makan siang di sebuah restoran fast food di area Chichester Gate Leisure Park. Nama tempatnya "Crimson Grill", yang menyajikan burger fusion dan kentang goreng dengan berbagai jenis saus. Marion memilih burger ayam panggang dengan coleslaw apel, sementara Yuri memesan steak sandwich dan minuman soda jeruk. Mereka duduk di pojok dekat jendela, tertawa atas kejadian-kejadian kecil di kantor minggu lalu, saling menyuapi kentang goreng seperti pasangan muda yang jatuh cinta di tengah musim panas.

Pukul dua siang, mereka akhirnya tiba di villa.

Villa Starkweather berdiri megah di tengah hamparan rumput hijau yang terawat, hanya beberapa meter dari bibir pantai West Wittering. Arsitekturnya modern namun berjiwa tenang—bagian depannya didominasi kaca-kaca besar berbingkai hitam matte, sementara dinding bagian luar dilapisi batu kapur putih yang berkilau saat tersentuh cahaya.

Gerbang kayu gelap otomatis terbuka, memperlihatkan jalanan pendek berlapis batu koral yang membawa mereka langsung ke halaman utama. Sebuah kolam kecil dengan pancuran artistik menyambut di sisi kanan pintu masuk. Langit biru memantulkan bayangannya ke jendela-jendela besar lantai dua. Angin laut menyusup lembut, membawa aroma asin dan suara debur kecil dari kejauhan. Di dalam, villa ini seperti potongan dunia lain. Lima kamar tidur dengan jendela tinggi dari lantai ke langit-langit, menghadap langsung ke laut. Enam kamar mandi dengan desain minimalis modern—marmer putih dan perunggu antik menyatu dalam estetika yang bersih. Dua dapur, salah satunya terbuka dan bersih untuk hidangan cepat, yang satunya lagi—berdekatan dengan pantry besar—merupakan dapur kotor tempat koki utama bekerja.

Ruang tengah dipenuhi sinar matahari dari skylight di atasnya, dengan sofa linen abu terang dan rak buku kayu walnut. Di sisi kiri, ruang keluarga lebih hangat—karpet wol tebal, perapian, dan lukisan-lukisan pemandangan yang dibuat oleh pelukis lokal. Setiap kasur berukuran king size, dengan seprai linen Belgia yang harum lavender. Private pool terbentang di belakang villa, dikelilingi kursi-kursi santai dan tanaman tropis dalam pot besar. Di ujung taman, ada sauna kaca setengah terbuka, dan sebuah ruang gym modern yang menghadap pantai. Billiard room tersembunyi di lantai dua, berdampingan dengan home theater berkapasitas sepuluh orang, lengkap dengan sound system canggih dan koleksi film klasik keluarga Starkweather.

Empat karyawan tetap sudah bersiap menyambut seperti Mrs. Evelyn Portman, kepala pelayan wanita paruh baya yang tegas tapi ramah. Ada juga Theo, pelayan muda pendiam yang lincah dan sangat memperhatikan detail. Di bagian luar villa, Mr. Kline, kepala keamanan berpostur tinggi dengan pembawaan kalem namun awas dan di dapur, Chef Halden, koki veteran berusia 50-an, dikenal dengan masakan seafood-nya yang legendaris. Saat Marion turun dari mobil, gaunnya tertiup pelan oleh angin pantai. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan udara asin itu memenuhi dadanya. Villa ini, hari ini, Yuri—semuanya terasa seperti bab yang belum pernah ia lewati. Tapi di balik semua itu, sesuatu di dalam dirinya tetap diam, seperti garis ombak yang menunggu pasang berikutnya.

Villa itu—seindah apapun bentuknya sekarang—dibangun dari rahasia yang tak pernah dibicarakan di ruang makan keluarga. Dulu, tempat itu digunakan sebagai lokasi persinggahan para kolega gelap ayahnya, pria berpengaruh bernama Graham Starkweather, yang membangun sebagian besar kekayaannya dari perusahaan distribusi senjata bernama Aquila Vectoris Ltd., serta jaringan logistik lintas negara yang banyak menampung muatan tak bernama, tak terdata, tapi bernilai tak terhingga.

Di atas kertas, perusahaan itu bergerak dalam bidang ekspor-impor peralatan konstruksi. Di balik pintunya yang tertutup, ia adalah urat nadi dari lalu lintas barang haram yang melintasi Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian wilayah Asia Tenggara.  Yuri tahu semua itu, meski tak satu pun tercatat dalam buku sejarah keluarga. Ia tumbuh di tengah kebenaran yang kabur—anak dari Sanaa El-Nouri, perempuan kelahiran Muscat yang dulu bekerja sebagai staf distribusi di kantor utama Aquila. Ia hamil sebelum dinikahi, dan karena bayi yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki—dan karena saat itu istri-istri Graham hanya melahirkan anak perempuan—maka ia pun dinikahi.

Dalam urutan yang bahkan Yuri tak tahu lengkapnya, ibunya menjadi istri keempat dari entah berapa. Hanya satu yang diakui secara sah oleh hukum Inggris: seorang wanita aristokrat berdarah biru bernama Lady Josephine Claremont-Starkweather, anggota tetap majelis tinggi yang menguasai opini publik dan menjaga citra keluarga agar tetap utuh di mata masyarakat.

Yuri hanya mengenal sebagian dari para ibu tirinya, dan semuanya terasa seperti tokoh dalam sebuah novel panjang yang tak ingin ia tamatkan. Ada Lucía Montserrat, wanita Spanyol yang bermata tajam dan suara menggema seperti nyanyian flamenco. Seo Jieun, perempuan Korea yang katanya dulunya balerina di Seoul. Amelia Van Bruyn, mantan perancang busana dari Brussel, yang kini hidup dalam diam di vila Tuscan. Satu lagi, Reina Nakamoto, wanita Jepang berparas dingin yang kabarnya mengurus peternakan kecil di Hokkaido. Mereka—meski berasal dari dunia yang berbeda—diikat oleh satu nama yang sama: Starkweather.

Ayahnya? Ia bukan tokoh sentral dalam hidup Yuri. Ia hanya muncul tiga kali: saat ulang tahun ke-8, di pesta makan malam keluarga besar usia 13, dan terakhir di usia Yuri yang ke-18, sebelum ia benar-benar membangun jalannya sendiri. Tidak pernah ada percakapan hangat atau nasihat ayah-anak, hanya formalitas, secuil pujian, dan tatapan yang terasa asing.

Yuri sendiri tinggal di Camden bersama ibu dan adik perempuannya, Soraya El-Nouri, gadis berusia tujuh belas tahun yang selalu ia lindungi dengan diam. Ia punya saudara tiri dari ibu-ibu lainnya, terutama dua anak laki-laki yang tinggal di Belgia dan Jepang, tetapi tak pernah ada pertemuan. Hidup mereka seperti benua-benua terpisah—diikat darah, tetapi tak pernah bersentuhan dan Yuri? Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa dunia bukan tempat yang adil bagi perempuan. Ia melihat bagaimana ibunya dulu diperlakukan sebagai alat, dan bagaimana ayahnya memperlakukan cinta sebagai strategi. Maka ia belajar menjadi laki-laki yang berjalan dengan sunyi, menyimpan rasa marahnya seperti api yang diredam, dan menganggap setiap kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai bentuk pembalasan: bahwa ia bisa lebih baik dari asalnya.

Kadang-kadang, di tengah malam yang lengang, Yuri bertanya-tanya apakah hidupnya benar-benar miliknya sendiri. Atau ia hanya sedang memainkan peran dalam lakon yang sudah lama ditulis orang lain?

 

 

Begitu kaki Marion melangkah melewati ambang pintu villa, aroma kayu tua dan lautan yang asin langsung menyapa. Ruang utama villa itu lapang, penuh cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar berkaca tebal. Langit-langitnya tinggi, bertulang kayu eksotis dengan ukiran geometris yang nyaris tak kasat mata, seperti rahasia yang hanya bisa dibaca bila kau cukup diam.

Ia menahan napas kecil—takjub, tak percaya. Dunia Yuri terasa seperti dunia lain yang mewah, eksklusif, dan dingin dalam cara yang tak pernah membuatnya benar-benar ingin pergi. Tapi saat ini, rasa kagum menenggelamkan kegelisahannya. Langkahnya ringan, gemerisik sandal menyentuh marmer. Di sisi kiri, pelayan muda bertubuh kurus dan tegap mengikuti Marion sambil membawa koper dan tas jinjingnya. Namanya Theo, mengenakan setelan abu-abu gelap dengan dasi ramping, wajahnya bersih dan ekspresinya sopan namun tenang.

Yuri sempat menepuk bahu Theo dengan nada ringan, “Tolong antarkan dia ke kamar utama sisi timur. Aku ke dapur sebentar.”

Tanpa perlu ditanya, Marion tahu itu artinya Yuri akan bertemu dengan Chef pribadi mereka, seseorang bernama Alden, nama yang sempat disebut dalam percakapan singkat mereka selama perjalanan tadi.

Kamar yang dituju terletak di sisi sayap villa, dengan pintu kayu besar dan gagang tembaga yang memantulkan cahaya pagi. Begitu Theo membukakannya, Marion langsung terpaku di ambang pintu. Ruangan itu luas—terlampau luas untuk satu orang. Kasur King Size berdiri anggun di tengah ruangan, dibalut linen putih mengilat, dengan selimut abu lembut dilipat rapi di kaki ranjang. Lampu gantung kristal tergantung tepat di atasnya, berpendar pelan seperti tak ingin mengganggu keheningan. Ada balkon privat dengan pintu geser kaca, menghadap langsung ke hamparan laut yang tenang. Cahaya matahari menari di permukaan air, membentuk siluet keemasan yang mengalir hingga ke ujung dunia. Marion melangkah ke sana sebentar, membiarkan angin asin menyapu pipinya.

“Kamar Anda,” ucap Theo lembut sambil menaruh koper Marion di depan lemari kayu jati yang mengkilap.

Marion menoleh dan tersenyum, nada suaranya ringan, “Terima kasih, Theo. Ini… luar biasa sekali.”

Sebelum keluar, Theo sempat bertanya, “Apakah Anda ingin sesuatu untuk diminum, Nona? Kami bisa buatkan apa pun yang Anda inginkan.”

Marion berpikir sebentar, lalu menjawab, “Sesuatu yang dingin… dan sedikit bersoda, mungkin. Apa pun itu. Terima kasih banyak.”

Theo membungkuk ringan sebelum meninggalkannya sendirian dalam kemewahan yang masih sulit ia cerna sepenuhnya.

Kamar mandi di dalam pun seperti potongan dari majalah interior kelas atas. Dinding-dinding marmer putih dengan aksen emas, bathtub terpisah yang menghadap jendela kaca buram, rak handuk yang hangat, dan diffuser aromaterapi di sudut ruangan. Pendingin udara sudah menyala sejak tadi, menghasilkan semilir udara sejuk yang membuat tubuh Marion merasa dimanjakan sejak pertama ia tiba. Ia membuka koper kecilnya, melipat baju-bajunya satu per satu ke dalam lemari yang terlalu besar untuk apa yang ia bawa. Setelah itu, ia duduk di pinggir ranjang, membiarkan tubuhnya perlahan tenggelam dalam kelembutan busa dan linen.

Tangannya meraih ponsel, dan tanpa pikir panjang, ia mengambil satu foto dari balkon—hamparan laut, semburat matahari, dan tirai putih yang tertiup angin. Ia kirimkan foto itu pada Elli, disertai pesan, 

“Kamu akan marah kalau tahu betapa indahnya tempat ini.”

Lalu ia memeluk lututnya sebentar, pandangannya mengambang ke arah jendela.

Apa yang kamu cari di tempat seperti ini, Marion? tanyanya dalam hati.

Ia tak punya jawaban. Tapi di balik kekagumannya, ada suara kecil yang tak hilang—yang mengingatkannya bahwa kemewahan tak selalu berarti kenyamanan, dan pemandangan laut seluas itu bisa juga terasa seperti jurang. Aroma bawang putih panggang dan kaldu ayam yang hangat menyambut Yuri begitu ia melangkah ke dapur kotor villa. Ruang itu luas namun efisien—rak-rak kayu tua dipadukan dengan perlengkapan modern, kontras yang justru terasa alami di bawah cahaya lampu kuning redup. Di sudut, kipas ventilasi berdengung lembut, seolah sudah hafal irama dapur sejak bertahun-tahun lalu.

Chef Alden berdiri di dekat meja marmer, mengenakan apron putih gading dan saputangan merah yang dililit longgar di lehernya. Tubuhnya besar dan kukuh, lengan penuh otot dan usia yang tampak jelas dari gurat di pelipisnya. Begitu melihat Yuri, pria itu membuka senyum lebar dan berkata dengan suara ngebass yang nyaris bergetar di lantai ubin:

"Honeymoon? Lagi?"

Yuri mendengus pelan, berjalan masuk sambil menarik kursi tinggi dekat meja island.

"Nggak juga," katanya, tapi matanya menyipit geli, "tapi... mungkin bisa jadi."

Alden mengangkat alis dan tertawa lebar. Tawa khasnya memenuhi dapur seperti aroma mentega cair yang baru dipanaskan.

"Ah, kamu memang Starkweather sejati. Lidah tajam, hati kabur-kaburan."

Yuri hanya tersenyum miring, tak tersinggung sedikit pun. Ia malah tampak seperti seseorang yang sudah terbiasa dicandai dengan cara yang agak kasar tapi jujur.

"Kali ini beda, Den," katanya setelah diam sejenak. "Kamu belum pernah lihat dia."

Alden menoleh dari talenan tempat ia sedang memotong jamur portobello. Ia mengangguk pelan, lalu berkata nyaris seperti gumaman:

"Kamu benar-benar anak ayahmu..."

Untuk sesaat, dapur itu terisi keheningan yang bukan canggung, tapi akrab. Keduanya paham bahwa kalimat tadi punya ekor panjang yang tak perlu disuarakan. Lalu, dengan satu helaan napas, Alden kembali ke perannya.

"Jadi, kita mau masak apa malam ini?"

Yuri bersandar di kursi, menyebutkan satu per satu dengan jelas,

"Mulai dari appetizer... burrata dengan tomat heirloom, ditambah balsamic reduction. Untuk main course, grilled sea bass dengan risotto lemon dan asparagus. Lalu penutup... panna cotta earl grey dengan saus berry."

Alden menyimak dengan seksama, lalu mengangguk seperti seorang jenderal yang menerima strategi perang.

"Mudah," katanya datar. "Jauh lebih mudah dari saat kamu suruh aku bikin empat jenis sup untuk ibu hamil yang hanya bisa makan satu sendok."

Yuri tertawa pelan, bahunya naik turun. "Itu bukan salahku. Kamu yang bilang kamu bisa semuanya."

Alden menggeleng, ekspresinya campuran geli dan trauma. "Aku masih bisa dengar suara wanita itu menjerit minta nasi putih jam dua pagi. Hanya nasi putih. Tanpa garam. Tanpa aroma. Tanpa harapan."

Yuri menahan tawa, lalu berkata, lebih pelan, "Kamu mungkin akan suka Marion."

Alden berhenti sebentar, menaruh pisaunya dan menatap Yuri. "Mungkin." Lalu matanya menyipit. "Asal bukan seperti gadis yang kamu bawa tahun lalu. Yang pingsan gara-gara lihat lobster hidup."

Yuri menepuk bahu Alden sambil tertawa. "Rahasia tetaplah rahasia, kan?"

Alden mengangkat tangannya, seolah bersumpah dalam diam. Tapi matanya menyimpan banyak cerita yang tak pernah ditulis dalam buku resep mana pun. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali ke meja kerjanya, memotong bawang merah dengan presisi yang nyaris elegan. Dapur kembali dipenuhi bunyi-bunyian: pisau di atas papan, kompor menyala, dan suara denting sendok perak. Tapi di antara semua itu, ada rasa yang tertinggal—rasa akan kepercayaan, kebersamaan yang sudah lama dibangun, dan seorang Marion yang belum benar-benar mereka kenal, namun perlahan mulai memasuki dunia ini.

Langkah Marion terdengar ringan saat ia membuka pintu kamarnya. Udara pantai yang hangat langsung menyapa kulitnya begitu ia keluar ke koridor semi terbuka villa—angin membawa aroma asin laut yang samar bercampur wangi pohon-pohon rosemary yang tumbuh di pot-pot besar di sepanjang sisi bangunan. Yuri sudah berdiri tak jauh dari sana, bersandar santai pada tiang kayu sambil menunggu. Ketika melihat Marion, ia berdiri tegak dan tersenyum.

"Kamu suka kamarnya?" tanyanya sambil menghampiri.

Marion mengangguk, matanya masih menyimpan kilau kagum yang belum selesai,

"Suka banget," jawabnya pelan, hampir seperti gumaman syukur. "Terlalu indah untuk diceritakan."

Yuri menyunggingkan senyum, puas. Ia melirik ke arah gerbang kecil villa yang mengarah ke jalur setapak berpasir.

"Mau jalan sebentar ke pantai?"

Marion mengangguk sekali lagi—senyumnya tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya hari itu.

Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga villa, keluar melalui pagar kayu kecil yang dibuka dengan satu tarikan pelan. Jalur setapak sepanjang 300 meter itu berhiaskan semak lavender dan rumput pantai yang bergoyang lembut ditiup angin. Di kejauhan, deretan pohon palem pendek berjajar seperti pagar alami, dan langit biru nyaris tanpa awan membentang luas. Marion menggenggam tangan Yuri. Tak ada percakapan besar yang terjadi—mereka hanya menikmati langkah mereka yang ringan, seolah waktu melambat untuk memberi ruang pada keheningan yang menyenangkan.

Saat mereka sampai di bibir pantai, Marion nyaris ternganga.

Hamparan pasir keemasan membentang hingga menyatu dengan laut biru kehijauan. Ombak datang dengan ritme tenang, menyapu kaki mereka dengan buih-buih putih yang sejuk. Di kejauhan, perahu nelayan kecil tampak diam, nyaris seperti lukisan. Burung camar terbang rendah, berteriak pelan di antara angin.

Marion tertawa kecil, lalu melepaskan sandalnya dan berlari kecil ke arah air.

"Yuri! Airnya hangat!" serunya sambil memutar-mutar langkahnya, membuat lingkaran basah di sekitar kaki.

Yuri hanya mengangguk dan menatapnya dari tempatnya berdiri, matanya dipenuhi ekspresi yang tak bisa dijelaskan—antara lega, terpesona, dan sedikit takut akan harapan yang terlalu tinggi.

Marion menoleh ke arah Yuri dan melambaikan tangan.

Yuri ikut mendekat, menanggalkan sepatunya, lalu ikut berjalan menyusuri garis air. Mereka berjalan sejajar, kadang saling menatap, kadang diam. Marion membungkuk dan mengambil kerang kecil berwarna merah muda pucat, menunjukkannya pada Yuri. Mereka duduk di atas batu datar, membiarkan kaki mereka dijilat ombak perlahan.

Di dalam dirinya, Marion merasa... hidup kembali.

Sudah lama ia tidak merasakan hari seperti ini.

Hari yang tak diisi suara cemas dalam kepala, atau bayangan masa lalu yang selalu datang saat ia lengah. Di sebelah Yuri, dunia terasa sedikit lebih ringan. Ada sesuatu dalam cara laki-laki itu memperhatikannya—tidak menuntut, tidak menghakimi, hanya hadir. Dan itu membuat Marion bisa bernapas lebih tenang.

“Aku pikir hidupku akan begini saja selamanya,” batinnya, “tapi mungkin... ini bisa jadi awal dari sesuatu yang berbeda.”

Ia menoleh ke arah Yuri, dan pria itu sedang memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit dibaca—ada semacam kelembutan, tapi juga kehati-hatian.

Marion tersenyum kecil.

Hari ini, ia ingin percaya bahwa kebahagiaan sedang berjalan di sisinya.

Dan di antara ombak, pasir, dan angin yang bersenandung, Marion diam-diam berdoa dalam hati,

“Kalau ini sebuah cerita... tolong biarkan ia berakhir dengan bahagia.”

Senja baru saja merambat turun saat mereka kembali ke villa. Langit mulai berwarna jingga lembut, membentang di atas atap batu tua dan jendela kaca besar villa Starkweather. Hembusan angin laut membawa aroma asin yang menenangkan, menyusup di sela pintu yang terbuka saat mereka masuk. 

Yuri, dengan nada lembut namun tetap tegas, memanggil kepala pelayan.

"Tolong siapkan dress terbaik untuk Nona Marion. Kami akan makan malam sebentar lagi."

Marion hanya menatapnya, sedikit terkejut tapi tak menolak. Ada sesuatu dalam caranya berkata—seolah semua sudah dipikirkan sejak awal, seolah malam ini bukan sekadar makan malam.

Tak lama kemudian, Marion berdiri di depan cermin besar di kamar ganti sebelah kamarnya.

Gaun yang dipilihkan untuknya berwarna biru laut yang dalam, terbuat dari satin ringan yang jatuh lembut mengikuti lekuk tubuh. Potongannya sederhana tapi elegan—leher berbentuk V yang tak terlalu rendah, lengan cap sleeves yang memperlihatkan pundaknya, dan bagian bawah rok yang memanjang sampai mata kaki, membentuk lipatan halus saat ia melangkah. Kainnya memantulkan cahaya lilin yang temaram, seperti laut saat bulan purnama.

Rambut Marion ditata dalam gaya bun rendah yang longgar, beberapa helai kecil dibiarkan lepas di sisi wajahnya, memberi kesan lembut dan tidak terlalu formal. Pelayan perempuan yang membantunya menyemprotkan parfum lembut beraroma melati dan bergamot, wangi khas rumah itu yang sudah dipakai sejak generasi-generasi terdahulu.

Saat ia turun ke ruang makan, Yuri sudah menunggu.

Ruang makan dipenuhi cahaya lilin, dipantulkan oleh gelas kristal dan piring porselen yang tersusun sempurna. Meja makan panjang hanya digunakan sebagian ujungnya malam itu, didekorasi dengan bunga putih dan hijau lembut, serta linen meja warna krem pucat yang memberi kesan bersih dan intim.

Chef Alden menyajikan menu malam itu sendiri—mulai dari scallop panggang dengan saus lemon thyme, sup krim asparagus yang lembut, beef wellington yang dibalut pastry emas mengilap, hingga hidangan penutup berupa mille-feuille dengan raspberry segar. Di tengah hidangan, pelayan menuangkan anggur merah vintage, salah satu koleksi tua keluarga Starkweather, yang hanya dibuka untuk malam-malam istimewa. Yuri duduk di seberangnya, mengenakan setelan hitam yang santai namun elegan, dasinya longgar, senyumnya seperti biasa—terbaca setengah.

"Kamu cantik sekali malam ini."

Marion tersenyum kecil.

"Ini seperti hidup di dalam mimpi."

"Kamu layak mendapatkannya," jawab Yuri pelan.

Di antara percakapan mereka, gelas yang saling bersentuhan, dan bunyi halus sendok garpu, Marion merasa anehnya... tenang. Seolah dunia luar tidak ada, seolah luka-luka lamanya terlipat rapi malam itu.

Tapi tidak semua ruang di villa malam itu dipenuhi kehangatan.

Di dapur, Theo sedang mengelap peralatan peraknya sambil melirik ke arah ruang makan yang masih bisa dilihat samar melalui celah kaca panjang.

"Dia berbeda, ya?" bisiknya pada Alden, yang sedang menuangkan saus ke wadah porselen kecil.

Alden melirik sekilas ke arah Marion, lalu kembali fokus pada tugasnya.

"Berbeda," sahutnya pelan, suaranya berat dan datar. "Tapi Tuan Yuri selalu begitu. Darah ayahnya terlalu pekat untuk dienyahkan."

Theo mengangkat alis.

"Tapi dia kelihatan lugu. Nggak kayak yang sebelumnya…"

Ia terdiam sejenak. "Lambert, ya?"

Alden mendengus pelan, lalu tertawa pendek.

"Kalau kamu pernah lihat Lambert di trimester pertama, kamu akan memaklumi kenapa Tuan Yuri kabur ke villa ini selama dua minggu."

Theo menggeleng, separuh geli, separuh bingung. Ia membalik lap peraknya, lalu bergumam pelan, "Apa gadis itu tahu kalau dia bukan satu-satunya?"

Alden menghentikan gerakannya. Pandangannya tetap mengarah ke mangkuk kecil di tangannya, tapi matanya tampak lebih gelap. "Itu bukan urusan kita, Theo."

Ia berkata pelan, nyaris seperti gumaman. "Kita dibayar untuk bekerja, bukan untuk jadi hati nurani keluarga Starkweather."

Di luar, gelas mereka kembali bersentuhan pelan. Marion tertawa kecil pada sesuatu yang Yuri katakan. Lilin-lilin bergoyang dalam angin laut yang tipis dan malam terus berjalan seperti biasa—anggun, sunyi, dan menyimpan terlalu banyak cerita di balik pintu tertutup. Setelah makan malam selesai, ruang makan perlahan-lahan kembali sepi. Gelas-gelas kosong dan piring-piring porselen yang tadinya terisi penuh kini hanya meninggalkan sisa-sisa aroma dan kenangan percakapan.

Chef Alden berdiri di ujung dapur sambil melepas sarung tangannya. Theo dan kepala pelayan mulai membereskan meja dengan sigap namun tak terburu-buru, gerakan mereka nyaris senyap seperti sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari arsitektur rumah ini. Aroma wine dan mentega hangat masih tercium samar di udara. Sementara itu, Yuri menggandeng Marion menaiki tangga menuju lantai atas. Langkah mereka menyusuri lorong kayu tua yang sunyi, hanya diiringi denting jam antik dari bawah. Lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya lembut pada dinding-dinding krem pucat.

Begitu tiba di kamar, Yuri melepas jasnya dan duduk di pinggir ranjang. Matanya tak lepas dari Marion, yang baru saja meletakkan clutch kecil di meja samping.

“Kamu cantik sekali malam ini. Aku bahkan masih belum sepenuhnya percaya kamu nyata.”

Marion tersipu. Pipi gadis itu memerah dalam cahaya lampu kuning keemasan yang lembut. Ia tertawa pelan, malu-malu, seperti biasa. Yuri bangkit, menuju balkon yang terbuka ke arah laut. Angin malam berembus ringan, membawa suara ombak dari kejauhan. Dari tempatnya berdiri, hamparan laut hitam tampak membentang tak berujung di balik pagar besi tempa dan tanaman ivy yang menjuntai.

Di dalam kamar, Marion mengganti gaunnya. Ia mengenakan mini dress tidur sutra warna ivory pucat, lembut dan ringan, dengan tali bahu tipis dan renda halus di bagian bawahnya. Gaun itu adalah salah satu hadiah dari Yuri sore tadi—ditempatkan dalam kotak kecil di meja rias tanpa sepatah kata. Saat Yuri masih menatap laut, Marion mendekat dari belakang dan memeluk tubuhnya. Tubuhnya hangat dalam dingin malam. Ia mengecup singkat bahu Yuri sebelum ikut duduk di sisi balkon, menggenggam tangannya dan menyandarkan kepala.

“Apa yang kamu pikirkan?” Suara Marion lirih, nyaris terbang dibawa angin.

Yuri tersenyum kecil. “Aku hanya memikirkan kamu. Seharian ini. Dan betapa aku ingin waktu seperti ini… lebih sering ada.”

“Aku juga,” jawab Marion cepat. Ia mengelus dada Yuri perlahan. “Aku bahkan membayangkan kalau kita tinggal dalam satu atap saja.”

Yuri menghela napas panjang. Ada kilat jujur dalam sorot matanya, lalu keraguan samar.

“Seandainya semudah itu… Tapi kamu tahu sendiri pekerjaanku. Aku sering dikirim ke luar kota, ke luar negeri. Kadang berminggu-minggu.”

Marion hanya mengangguk pelan. Ia membawa tangan Yuri ke dadanya, menggenggamnya erat seolah ingin memastikan ia tak akan melepaskan.

“Hari ini hari jadi kita yang kelima. Aku baru sadar tadi siang,” katanya sambil tersenyum tipis. “Empat tahun sudah lewat begitu cepat.”

Yuri membalas senyuman itu. Tapi senyumnya sinis, tipis, dan tidak sampai ke matanya—hanya Marion tak melihatnya.

Ia membungkuk, mengecup puncak kepala Marion.

“Nggak semua perempuan bisa seperti kamu, Marion. Kamu… tahan menghadapi kesibukanku. Kamu ngerti aku.”

Marion menatap Yuri dalam-dalam. Sorot matanya jernih, suaranya tenang namun penuh keyakinan.

“Kalau hubungan ini berakhir di pernikahan pun… aku nggak akan masalah kamu sering pergi kerja. Aku tahu kamu kerja bukan buat senang-senang. Kamu bertahan hidup, Yuri. Dan aku akan menunggumu pulang, sesering apapun itu.”

Yuri balas menatap Marion. Kali ini lebih lama. Ia tak bicara, hanya menyelami sesuatu di balik sorot mata gadis itu. Ia merasa… dicintai. Diterima. Mungkin bahkan terlalu tulus untuk dirinya yang tak selalu bisa bersih dari rahasia. Tangan Yuri bergerak pelan ke wajah Marion. Ia mencium bibir gadis itu—panjang, hangat, dan penuh emosi yang tertahan. Marion membalas ciuman itu tanpa suara, tanpa ragu.

Namun sebelum segalanya larut terlalu dalam, suara ketukan mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Yuri menahan napas. Ia berdiri, merapikan rambutnya sekilas, lalu membuka pintu. Theo berdiri di sana dengan nampan kecil.

“Permisi, Tuan. Komplimen dari Chef Alden. Kopi kayu manis hangat untuk Anda, dan teh lemon madu untuk Nona Marion. Juga beberapa kukis red velvet dan chocomint di piring kecilnya.”

Yuri mengangguk sambil tersenyum singkat. “Terima kasih, Theo.”

Ia membawa nampan itu ke balkon. Meja bundar kecil di sudut sudah siap menampung semuanya. Ia menuang teh untuk Marion dan meletakkan cangkir kopi miliknya di sebelah. Marion duduk bersamanya lagi. Di luar, laut masih gelap. Di atas mereka, bintang-bintang muncul perlahan di balik awan tipis. Malam kembali berjalan dalam diam—ditemani minuman hangat, kukis manis, dan jarak emosional yang samar-samar terasa… entah memeluk atau menyelimuti.

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu

5,356 kata

GRATIS

Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai

6,073 kata

GRATIS

Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali

6,017 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji

5,340 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!