')">
Progress Membaca 0%

Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji

Alvianti Purnamasari 03 Apr 2026 5,340 kata
GRATIS

Malam telah menua. Jam di dinding berdenting pelan menandai lewatnya pukul dua belas. Angin dari lautan menyusup lembut ke balkon kamar, menyapu rambut Marion yang tergerai. Lampu-lampu kecil di sepanjang garis pantai berpendar samar seperti barisan bintang yang tersesat. Di sisi Yuri, Marion menggenggam cangkir teh hangatnya erat-erat, menatap pemuda itu yang tengah bercerita. Cerita tentang masa lalu yang asing. Tentang seorang anak laki-laki yang hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bersembunyi dari sorotan dunia yang tajam. Tentang ibunya, yang bukan istri sah, dan tentang adiknya yang ia lindungi dalam diam.

“Saat usiaku dua belas,” kata Yuri pelan, menatap jauh, “kami tidur di gedung kosong selama seminggu. Hujan turun tiap malam, dan ibuku hanya punya satu selimut. Dia tak pakai apa-apa, hanya agar aku dan adikku tetap hangat.”

Marion tak bersuara. Hanya menunduk, menahan nafasnya agar tak pecah menjadi tangis. Ia baru tahu. Selama ini, Yuri selalu tampak seperti seseorang yang tak bisa disentuh oleh kekurangan—selalu rapi, cerdas, terarah.

“Ayahku mengirim uang, tapi terkadang kami sudah berpindah tempat sebelum uang itu tiba. Istri sahnya—” Yuri terhenti, mengembuskan napas perlahan, “—pernah mengirim orang untuk memburu kami. Aku tak tahu apa yang lebih mengerikan, kelaparan atau merasa diburu seperti binatang.”

Marion menyeruput tehnya, menelan pahit getir yang ikut mengendap di dadanya. “Yuri…” suaranya pelan.

“Sejak usiaku lima belas, semuanya mulai tenang. Waktu itu dia masuk kabinet. Entah kenapa, dia jadi berhenti peduli. Aku bisa mulai sekolah normal.” Yuri tertawa hambar. “Tapi waktu di Westminster, aku tetap dianggap tidak layak. Nama Starkweather hanya dihormati kalau kau lahir dari istri yang sah.”

Marion menatapnya. Lama. Dan baru kali ini ia merasa benar-benar menyentuh sisi terdalam Yuri.

“Bagaimana dengan kamu?” tanya Yuri akhirnya, berbalik menatap Marion sambil menyesap kopi kayu manis yang mulai dingin.

Marion mengangkat alisnya, lalu bersandar, menopang dagunya pada telapak tangan. Hening sejenak sebelum ia bicara, dengan suara yang lebih hati-hati dari biasanya.

“Kita sudah bersama selama empat tahun,” katanya. “Tapi ini pertama kalinya kita bicara seperti ini. Aku rasa… kita terlalu sibuk mencoba melupakan masa lalu, sampai-sampai tak pernah membicarakannya.”

Yuri tidak menjawab. Hanya mengangguk, seolah menyetujui sesuatu yang sudah lama tertunda.

“Ayahku dulu Senator,” Marion memulai, matanya menatap langit malam. “Louis Lancewood. Ia memegang keuangan distrik Lambeth selama dua periode. Sekarang pensiun, tapi—” Marion tersenyum pahit, “—uang pensiun tak cukup untuk hidup layak.”

“Lambeth?” tanya Yuri. “Kamu dari selatan sebelumnya?”

Marion mengangguk. “Kami tinggal di sana. Aku punya kakak perempuan, Evelyn. Dia menikah dengan ekspatriat asal Jerman dan tinggal di Köln. Dua anak kembar, Lily dan Lotte, lucu sekali, tapi aku hanya bertemu mereka setiap dua atau tiga tahun sekali.”

“Lily dan Lotte.” Yuri tersenyum.

“Adikku, Finn. Kuliah di luar London juga. Dapat beasiswa separuh, sisanya… ya, aku yang tanggung.”

Yuri mendekatkan wajahnya sedikit, sorot matanya menggelap. “Kamu biayai adikmu?”

“Kalau bukan aku, siapa lagi?” jawab Marion ringan, tapi tak bisa menyembunyikan lelahnya.

Ia kembali menatap teh dalam cangkirnya sebelum berkata lirih, “Ibu sakit. Dulu bekerja lebih dari tiga puluh tahun di perusahaan farmasi Hartwell-Rosen. Sekarang sudah pensiun paksa, dan butuh biaya pengobatan yang tak sedikit. Aku juga yang tanggung itu semua.”

Yuri tak langsung menanggapi. Ia menatap Marion dengan dalam, seakan berusaha membacanya lebih jernih dari sebelumnya.

“Kakakmu membantu?”

Marion mengangkat bahu, “Entahlah. Ibu sangat tertutup soal itu. Aku hanya tahu aku harus mengirim 40% gajiku tiap bulan, sisanya aku bagi untuk hidup.”

Yuri menghela nafas, lalu menatap Marion seakan baru mengenalnya untuk pertama kali.

“Kamu terlalu kuat, Marion.”

Marion tertawa pelan. “Bukan kuat. Hanya terbiasa.”

Sunyi sejenak menyelimuti mereka berdua. Angin laut menerpa lembut, dan kukis red velvet di piring kecil tinggal remah. Marion menyandarkan kepalanya ke bahu Yuri, dan Yuri membiarkan gadis itu berdiam di sana. Dalam kesunyian malam itu, mereka akhirnya saling mengerti—dengan cara yang lebih dalam dari sekadar pelukan atau ciuman.

 

 

Malam itu terasa berbeda. Tak ada bunyi selain desir lembut angin laut yang menyelinap melalui tirai balkon, membuat bayang-bayang menari di dinding. Di dalam kamar luas dengan cahaya lampu temaram, tubuh Marion bersandar pada dada Yuri, mendengarkan detak jantungnya yang pelan dan stabil, seolah memberi janji diam.

"Apa kita akan terus bersama?" gumam Marion, nyaris seperti doa yang tercekat di kerongkongan.

Yuri tidak langsung menjawab. Ia meraih jemari Marion, menggenggamnya dengan lembut, lalu membawa tangan itu ke bibirnya. Kecupan yang ia berikan bukan hanya sentuhan, melainkan sebuah pengakuan—penuh makna, penuh beban. "Aku sedang mengusahakan segalanya," ucapnya pelan.

Marion hanya menatap kosong ke depan. Ia ingin percaya. Tapi hatinya masih menyimpan luka-luka yang tak terkatakan. Ingin bertanya, ingin tahu, ingin mendengar langsung dari Yuri tentang perempuan-perempuan lain, tentang masa lalu yang diselipkan oleh cerita Lucien Park. Tapi lidahnya kelu. Malam ini terlalu rapuh untuk dibenturkan dengan rasa curiga.

Yuri menyebut namanya dengan lembut, hampir seperti gumaman yang ingin meyakinkan.

"Kau percaya padaku, Marion?"

Ia tidak menjawab. Hanya menarik napas panjang, membiarkan udara memenuhi dadanya sebelum akhirnya mengangguk perlahan.

Yuri meraih wajahnya, mengangkat dagu Marion dengan ujung jarinya, lalu menatapnya dalam. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang tenang tapi dalam, seperti dua jiwa yang saling memanggil dalam sepi yang panjang. Napas mereka memburu dalam harmoni, dada saling bertaut tanpa perlu kata-kata. Saat mereka melepas ciuman itu, Yuri tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat tubuh Marion, menggendongnya perlahan seolah gadis itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Membawanya ke ranjang seperti sebuah ritual lembut. Mereka tidak bicara, hanya saling memandang.

Jemari mereka saling bertaut di antara seprai yang dingin, dan di jarak sedekat ini, Marion bisa melihat dengan jelas mata Yuri. Ada sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sebuah keputusasaan yang tersembunyi dalam tatapan lembut, seolah Yuri sedang memohon untuk tetap dipercayai, tetap dicintai, meski dunia tidak pernah sepenuhnya berpihak pada mereka.

"Aku tak ingin kau pergi," bisik Marion lirih. "Aku tak ingin sendirian lagi… seperti dulu."

Yuri menyentuh pipi gadis itu dengan punggung jari, mengusapnya pelan, seperti menenangkan gelombang yang mulai bangkit. Ia membalas pandangan itu dengan suara nyaris seperti angin laut di kejauhan. "Aku tak pernah pergi ke mana pun, Marion. Meski dunia memisahkan kita, meski jarak mengukur ribuan kilometer, aku tetap bersamamu. Di sini."

Ia menyentuh dada Marion, lalu menunduk untuk menciumnya kembali. Kali ini lebih pelan. Lebih hangat. Seperti pelukan musim gugur pada daun-daun yang nyaris lepas dan malam itu terus berjalan. Diam-diam menyatukan dua orang yang pernah merasa sendirian terlalu lama.

Malam semakin larut di Villa Starkweather. Di balik kaca jendela yang luas, siluet kota terlihat samar, seperti lukisan kabur dalam bingkai langit London. Angin musim panas menyusup pelan, membawa bau garam dan ilalang, menyentuh tirai yang menari lembut dalam diam. Kamar itu terlalu mewah untuk mereka yang hatinya masih penuh luka. Tapi malam ini, rasa kehilangan yang dulu pernah menjadi jurang, perlahan terisi oleh sentuhan-sentuhan yang tak lagi ditahan.

Yuri menatap Marion seperti seseorang yang baru saja menemukan rumah setelah terlalu lama tersesat. Tatapan itu menyelam ke dalam, menusuk ke inti, lalu membakar perlahan. Saat bibir mereka bertemu lagi dalam ciuman yang lebih dalam, lebih berani, Marion tahu dirinya tak akan bisa kembali menjadi seperti sebelumnya. Ia meleleh dalam dekapan itu—rapuh dan berani pada saat yang sama.

Nafas mereka saling berburu, berpindah-pindah dari satu bisikan ke desir napas berikutnya. Jemari Yuri menyusuri lekuk punggung Marion seperti mengingat setiap inci darinya, seakan takut kehilangan arah jika sesaat saja ia berhenti.

Suara tempat tidur yang berderit halus jadi latar belakang dari tubuh yang saling mencari. Ada malam yang panjang di antara mereka, dibentangkan oleh rasa rindu yang tak pernah sempat dibicarakan. Marion menggenggam lengan Yuri seolah ingin memastikan kenyataan: bahwa pemuda ini masih bersamanya, sepenuhnya, dalam waktu yang begitu rapuh.

Mereka menyatu—bukan hanya tubuh, tapi rasa takut, keinginan, dan harapan yang saling menaut, disampaikan dalam gerak yang lambat dan penuh hasrat. Keduanya seperti saling membebaskan, saling menyembuhkan.

Jam terus berdetak menuju pagi, tapi mereka tak peduli.

Di antara seprai yang kusut, kulit yang berkeringat, dan napas yang masih memburu, hanya ada satu yang tersisa: rasa yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang.

 

 

Tiga hari berlalu sejak matahari tenggelam di Côte d’Azur dan anggur merah tumpah di antara tawa mereka. Kini, London kembali menggulung Marion ke dalam ritme yang nyaris tak memberinya waktu untuk bernapas.

Gedung Longford School of English berdiri tenang di tengah deru kota, tertutup bayang pohon sycamore yang melindungi dari panas menyengat musim panas pertengahan Juli. Langit cerah dan tinggi, dan Marion kembali mengenakan blazer abu tipis dan celana kain krem yang nyaman, menyapa rekan kerja dan siswa-siswa internasional dengan senyum lembut seperti biasa.

Jam menunjukkan pukul 1 siang ketika ia berjalan menuju pantry bersama Ellie—ruang makan kecil namun terang di sisi timur kantor, dengan dinding putih bersih, rak-rak penuh cangkir keramik, dan meja panjang kayu ek yang tampak hangat di bawah cahaya matahari. Meja saji dipenuhi pilihan makanan yang menggoda, Caprese salad dengan tomat ceri segar, keju mozzarella, dan taburan basil yang harum. Cream of mushroom yang lembut dan sedikit smoky, disajikan dalam mangkuk porselen hangat. Untuk main coursenya ada Chicken tikka masala dengan nasi basmati beraroma kapulaga, Pasta aglio e olio dengan serpihan cabai dan keju parmesan, Vegetarian shepherd’s pie, dengan lapisan kentang tumbuk lembut dan sayuran panggang.

Tidak ketinggalan, dessert yang selalu menarik minat Ellie dan Yves, Lemon tart dengan crust renyah dan topping krim manis dan Pot kecil chocolate mousse yang dingin dan kaya rasa. Sementara itu, Marion lebih tertarik dengan jajaran minuman yang menghadirkan Iced elderflower lemonade, Teh hitam dingin dengan irisan jeruk dan Air infused dengan mentimun dan daun mint. Pantry dipenuhi suara piring beradu lembut, percakapan rendah dalam berbagai bahasa, dan desis mesin kopi di pojok. Aroma makanan menyatu dengan semilir angin dari jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma musim panas yang segar. Marion duduk di kursi biasa, menyendok lemon tart ke piringnya sambil mengusap keringat tipis di pelipis. Eliie duduk di seberangnya, mengenakan blus putih dengan lipstik merah menyala yang tak pernah berubah.

“Aku sudah lihat schedule minggu depan,” kata Eliie sambil menyeruput iced tea-nya. “Program kunjungan siswa ke Oxford dan Birmingham fix, ya. Lalu ada seminar dari perwakilan King’s College. Mereka akan presentasi soal jalur akselerasi akademik.”

Marion tertawa pelan, lalu menopang dagunya dengan ujung jari. “Aku baru balik dari liburan, Eliie. Masa langsung disambut dengan siksaan administratif?”

“Kau yang pilih liburan tiga hari penuh,” sahut Ellie sambil mengedip. “Nikmatin dulu sebelum tenggelam lagi.”

Marion mengangguk. Ia merasa tenang—anehnya. Padahal pikirannya masih sering kembali pada suara debur ombak, ciuman di balik tirai linen villa, dan cara Yuri memandangnya saat malam menelan waktu.

“Ngomong-ngomong...” Ellie menyuapkan sendok kecil mousse ke mulutnya, lalu menatap Marion penuh arti. “Gimana liburanmu sama Yuri?”

Marion hampir tersedak. Ia menoleh, lalu menunduk, menyembunyikan wajah yang mulai merah di balik tawa pelan.

“Kenapa, sih?” tanya Ellie sambil meringis, “Jangan bilang kalian berdua cuma... tidur sepanjang hari?”

“Ellie!” desis Marion setengah tertawa, setengah malu. Ia memotong chicken tikka masala-nya tanpa melihat ke arah sahabatnya, lalu menyesap elderflower lemonade seolah itu bisa menyembunyikan pipinya yang hangat.

Marion menikmati makan siangnya dengan perlahan, membiarkan rasa creamy dari sup jamur meresap ke lidah, mengimbanginya dengan segar lemon tart yang manis-asam. Angin dari jendela membuat helaian rambutnya bergoyang lembut, dan suara-suara di pantry menjadi latar yang menenangkan.

Ellie meletakkan gelasnya lalu menatap Marion sambil mengangkat alis. “By the way, ada kemungkinan kamu yang akan jadi moderator di seminar minggu depan. Yang dari King’s College.”

Marion menoleh cepat. “Aku?”

Ellie mengangguk sambil mengambil sepotong pasta. “Ya, katanya kamu yang paling cocok. Tenang, diplomatis, nggak gampang panik. Lagi pula, kamu student advisor—secara teknis kamu representatif.”

Marion mendesah, setengah tertawa. “Baiklah. Semoga aku tidak ketahuan ngos-ngosan.”

“Dan…” Ellie melanjutkan dengan nada lebih pelan, “jam tiga nanti ada perwakilan dari Westminster yang datang. James Hook katanya sudah deg-degan dari pagi.”

“Oh tidak,” Marion menutup wajahnya dengan tangan. “Kenapa aku merasa minggu depan akan penuh dengan keluhan dan kepala berat?”

“Karena memang begitu,” kata Ellie riang.

Mereka tertawa pelan bersama, lalu hening sejenak ketika Marion menatap sisa makan siangnya. Ia kemudian menoleh ke Ellie, dan dengan senyum kecil, menjawab pertanyaan yang sempat menggantung dari percakapan sebelumnya.

“Kami… melakukan liburan yang sangat romantis.”

Ellie membulatkan matanya, kemudian menyeringai. “Romantis?” Nadanya naik satu oktaf. “Marion yang lugu itu?”

Marion menyenggol lengan Ellie dengan siku sambil tertawa, pipinya mulai memerah, “Jangan lihat aku seperti itu.”

“Kau berubah,” gumam Ellie dramatis. “Cahayamu beda sekarang.”

“Aku tidak bisa menolaknya,” bisik Marion sambil tersenyum kecil, lebih kepada dirinya sendiri.

Ia jadi terdiam sejenak. Ingatannya ditarik mundur ke momen-momen yang masih tersisa hangat di kulitnya. Malam-malam di villa yang seperti di luar waktu—di mana jari Yuri tak pernah ragu mencari, menyentuh, dan membawa tubuhnya menyatu dengan hasrat yang tak terucap. Tidak hanya malam itu. Esok sorenya, mereka berenang di private pool dengan cahaya matahari sore yang membias di permukaan air. Marion tak sempat mengeringkan rambut ketika Yuri menariknya kembali ke ranjang, menyatukan mereka dalam gelombang yang datang bertubi—panas, intens, dan nyaris membuatnya menyerah.

Yuri mencintainya dengan tubuhnya, dengan matanya, dengan napas yang selalu memburu dan tidak memberi jeda lama. Hanya makan malam sebagai batas kecil, sebelum kembali lagi ke pelukan yang lebih tenang, tapi tetap membakar. Malam terakhir itu mereka habiskan seakan waktu akan runtuh begitu fajar tiba dan ketika Marion pulang ke London sore harinya, tubuhnya lunglai, dan ia tidur tanpa sempat mengganti bajunya. Esok pagi, ponselnya menunjukkan satu pesan,

“Already on board. Don’t forget to eat properly. Text me when you’re not too busy. – Y.”

Ia menatap layar ponsel itu cukup lama, sebelum akhirnya menarik napas panjang dan kembali menyalakan laptop kerjanya. Rutinitas menanti, seperti biasa.

Menjelang senja yang menggantung redup di langit London, langit jingga mencair perlahan di antara bayangan gedung-gedung tua Longford School of English. Di ruang pertemuan yang tenang, Marion baru saja menyudahi presentasinya. James Hook menyapanya dengan senyum bangga, lalu menjabat tangannya dengan hangat.

“Presentasimu sangat mengesankan, Marion. Perwakilan dari King’s College tampak sangat antusias dengan programnya.”

Ia mengangguk sopan, tetap dengan senyum profesional. “Terima kasih, Sir. Saya harap bisa segera kita tindak lanjuti bersama.” Sembari melangkah kembali ke ruang konsultasi, Marion menyusuri lorong kampus dengan napas ringan dan kepala penuh perhitungan. 

Ada banyak yang masih harus diselesaikan hari itu. Ia duduk kembali di meja kerjanya, membuka berkas-berkas yang sudah ia susun rapi sejak pagi. Matanya menyisir daftar nama mahasiswa, memastikan tidak ada yang terlewat dalam formulir konsultasi dan catatan peninjauan. Tangannya bekerja cekatan—efisien, tenang, terlatih.

Tapi ketenangan itu buyar dalam sekejap.

Ponselnya bergetar di atas meja. Nama Finn terpampang di layar, dan dalam benaknya yang terpaut pada angka dan jadwal, ia nyaris menolak panggilan itu. Namun sesuatu dari dalam dirinya membuatnya mengangkat.

Suara Finn terdengar serak dan terburu-buru.

“Marry, Ayah masuk rumah sakit.”

Waktu berhenti. Seluruh kerangka logis Marion runtuh dalam hening yang menggema. Jantungnya mencelos, seolah tubuhnya kehilangan poros untuk berdiri.

“Apa?”

“Ayah... pingsan. Tadi siang. Kami sudah bawa ke Briarhill.”

Marion menggigit bibir bawahnya, seakan rasa sakit fisik bisa menahan sesuatu yang jauh lebih nyeri dari itu.

“Dimana?”

“Briarhill Hospital.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya mengangguk, walau Finn tak bisa melihatnya. “Aku kesana.”

Telepon ditutup.

Ia bangkit dengan langkah cepat, hampir tanpa suara. Satu-satunya yang tersisa hanyalah bayangannya yang berlari di belakangnya, menyeberangi koridor menuju ruang akademik. Nafasnya terburu, tapi wajahnya tetap berusaha tenang. Ia mendatangi James Hook, meminta izin pulang lebih awal. Satu kalimat yang nyaris tercekat di tenggorokannya.

“Ayah saya dirawat di rumah sakit. Saya perlu ke sana sekarang.”

Dan tanpa menunggu waktu, ia pun melangkah pergi—meninggalkan dokumen, presentasi, ruang kerja, dan sisa sore yang telah berubah warna.

Briarhill General Hospital berdiri di ujung deretan bangunan bata merah tua yang mengelilingi kawasan tua di pinggiran barat laut London. Dari kejauhan, rumah sakit itu tidak tampak seperti gedung medis modern, melainkan lebih mirip sekolah lama yang direnovasi. Fasad depannya masih mempertahankan jendela-jendela tinggi bergaya Edwardian, dengan rangka baja berwarna hitam dan kaca buram di bagian atas. Bangunannya tiga lantai, memanjang seperti huruf L, dengan lorong-lorong yang mengarah ke taman kecil di bagian belakang. Tak banyak ornamen, tapi suasana yang ditampilkan bersih, praktis, dan terang.

Dekorasi dalam ruang tunggunya sederhana: bangku plastik berwarna pastel, papan informasi digital yang menyala tanpa henti, dan aroma disinfektan samar yang bercampur dengan aroma teh dari vending machine tua di sudut ruangan. Di dindingnya terpampang poster tentang cara mengelola tekanan darah dan himbauan untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan.

Marion mengingat semua itu sekarang, tapi perjalanannya ke sana nyaris kabur dalam ingatan, seolah ia hanya mengikuti naluri. Begitu keluar dari kantor, ia memanggil taksi lewat aplikasi. Lalu menunggu di bawah langit musim panas yang terasa menyengat dan menusuk kulit. Tangannya menggenggam ponsel, dan di layar, nama Yuri dan Juno silih berganti ia tekan. Tak satu pun menjawab. Mobil yang membawanya melewati ruas-ruas jalan kota yang mulai padat oleh lalu lintas sore. Sepanjang jalan, Marion memeluk tasnya erat-erat di pangkuan. Dadanya sesak. Pandangannya menatap lampu lalu lintas yang berganti merah, lalu hijau, lalu merah lagi—semua seperti terlalu lambat, padahal detak jantungnya terus berpacu.

Sesekali ia melirik ponsel, berharap layar menyala. Tapi tidak. Tidak satu pun pesan masuk.

Ia sampai di Briarhill sekitar dua puluh menit kemudian. Begitu turun dari mobil, langkahnya nyaris setengah berlari melewati gerbang kecil dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke gedung utama.

Di lobi darurat, ia langsung mengenali wajah ibunya.

Perempuan itu berdiri di dekat meja resepsionis, tubuhnya sedikit membungkuk, dengan tangan yang terus mengusap wajah. Tangisnya pecah begitu melihat Marion datang. “Nak... Ayahmu…”

Marion langsung memeluknya erat, mencoba menahan napas yang mulai bergetar. Finn berdiri tak jauh dari mereka, menatap Marion dengan wajah cemas.

“Ada apa? Kenapa?” tanya Marion buru-buru, setelah melepaskan pelukan.

Finn mengusap tengkuknya. “Kami habis belanja. Waktu sampai rumah, Ayah tiba-tiba jatuh di depan pintu. Pingsan begitu aja.” Suaranya gugup. “Kami panik. Nggak tahu harus ngapain. Untungnya ambulans datang cepat.”

Ia menunduk sejenak, lalu menambahkan, “Kata paramedis, tekanan darah Ayah tinggi banget. Mungkin itu yang bikin dia pingsan.”

Marion menggigit bibirnya. Ia memeluk ibunya lagi, kali ini lebih erat. Ibunya masih menangis pelan, bergumam hal-hal tak jelas di pundaknya. Marion hanya mengangguk-angguk pelan, meskipun hatinya sudah penuh sesak.

“Ayah sekarang di mana?” tanya Marion kemudian.

“Di ruang gawat darurat,” jawab ibunya. “Belum boleh masuk. Masih diperiksa dokter.”

Finn menambahkan, “Aku tadi udah selesai urus administrasi awal. Kita tinggal tunggu dokternya keluar.”

Marion mengangguk. Ia menatap jam dinding di atas loket. Setengah lima. Rasanya hari sudah begitu panjang, padahal matahari masih tinggi.

Saat itulah ponselnya berdering.

Nama Juno muncul di layar. Marion buru-buru mengangkatnya.

“Marion?” Suara Juno terdengar serak. “Maaf, aku baru aja mendarat. Ada apa?”

Marion menahan napas sejenak, mencoba agar suaranya tidak pecah. “Ayahku... masuk rumah sakit.”

“Di mana?” Suara Juno berubah tegang.

“Briarhill General Hospital,” jawab Marion lirih.

“Kamu sendirian?”

“Nggak. Ibu dan Finn juga di sini. Kita lagi nunggu hasil pemeriksaan.”

“Aku ke sana sekarang,” kata Juno cepat, lalu sambungan diputus.

Marion menatap ponselnya kosong sesaat, lalu menyimpannya dan menggandeng tangan ibunya. Ia mengajak duduk di bangku kosong yang masih tersisa di ruang tunggu. Suaranya lembut saat berkata, “Nggak apa-apa, Bu. Kita tunggu, ya... Ayah pasti baik-baik saja.”

Di luar, matahari musim panas mulai sedikit miring. Tapi di dalam ruang tunggu itu, waktu seperti berhenti. Detak jam terdengar terlalu jelas, dan setiap kali pintu ruang darurat terbuka, Marion menoleh dengan napas tertahan.

Pintu bercat abu-abu itu akhirnya terbuka. Seorang pria berseragam medis keluar, mengenakan jas putih dengan identitas tergantung di dada. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena sudah terlalu lama berdiri di ruang darurat. Wajahnya lelah, tapi nada suaranya tenang ketika menyapa mereka.

“Apakah Anda keluarga dari Tuan Lancewood?”

Marion berdiri paling pertama. “Iya... Saya anaknya. Ini ibu dan adik saya.”

Dokter mengangguk pelan. “Saya Dr. Havers. Kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Tuan Keating mengalami krisis hipertensi yang menyebabkan pingsan mendadak. Tekanan darahnya sangat tinggi saat tiba, dan setelah pemindaian cepat, kami menemukan penyempitan arteri koroner yang serius.”

Marion mengerutkan dahi. “Maksudnya...?”

“Dengan kata lain, ini bukan sekadar tekanan darah tinggi biasa. Ada gangguan pada pembuluh darah jantungnya. Jika dibiarkan, bisa berujung pada serangan jantung yang fatal. Kami menyarankan prosedur operasi secepatnya—angioplasti atau jika perlu, bypass.”

Marion seperti kehilangan keseimbangan sesaat. Ibunya langsung menangis, tangannya menutupi mulut seolah mencoba membendung suara yang tetap saja lolos. Finn duduk pelan di kursi, wajahnya kosong, jari-jarinya mengepal erat.

“Operasi...” gumam Marion. “Tapi... biayanya? Maksud saya... kami...”

Dr. Havers mengangguk dengan pengertian. “Saya mengerti. Untuk detail administrasi dan opsi pembiayaan, silakan diskusikan dengan staf kami di meja informasi. Kami akan bantu jelaskan langkah-langkah selanjutnya.”

Kepala Marion mengangguk, tapi tubuhnya justru melemah. Ia mundur setapak dan jatuh duduk. Tangannya gemetar, wajahnya pucat seperti kertas. Lututnya seakan tak lagi sanggup menopang beban yang tiba-tiba menjatuhi seluruh hidupnya. Ibunya masih menangis tersedu. Finn menunduk dalam diam, seolah semua ini terlalu berat untuk dihadapi bersama dalam satu sore.

Saat itulah langkah tergesa-gesa terdengar di lorong.

Juno muncul, masih dengan ransel besar di punggung dan kantung belanja plastik yang menggantung dari satu tangannya. Nafasnya terengah, rambutnya sedikit acak-acakan karena lari kecil dari halte. Matanya langsung menangkap Marion. Wajahnya berubah cemas saat melihat keadaan sekeliling.

“Marion?” panggilnya pelan, menghampiri dengan langkah cepat. “Apa yang terjadi?”

Marion menoleh. Suaranya pecah ketika menjawab, “Ayahku... perlu operasi. Dan... aku nggak tahu harus gimana...”

Nafasnya pendek-pendek, dan untuk sejenak, seolah kata-kata tak bisa keluar.

Juno langsung meletakkan kantung belanja di kursi terdekat, lalu menatap Marion dengan sungguh-sungguh. “Di mana dokter yang menangani Ayahmu?”

“Katanya... kami harus bicara dengan staf administrasi soal operasi...” gumam Marion pelan, nyaris tak terdengar.

Juno mengangguk cepat. “Tunggu di sini, ya.”

Ia menoleh pada Finn dan ibu Marion. “Saya bawakan makanan. Ini bisa dimakan kalau kalian lapar nanti.”

Finn hanya mengangguk tanpa suara. Ibunya Marion masih menggenggam tisu, matanya sembab.

Juno melangkah ke arah meja administrasi. Ranselnya masih di punggung, tapi langkahnya mantap. Marion menatap punggung itu dengan gemetar, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia tidak bisa mendengar jelas apa yang dibicarakan, tapi ekspresi Juno tegang, alisnya mengernyit, dan tangan kirinya sesekali menunjuk ke arah layar tablet yang dibuka oleh petugas. Waktu terasa melambat. Detik demi detik seperti hujan batu yang menimpa satu per satu harapannya. Marion menggigiti bibir bawahnya. Tubuhnya menggigil. Dunia seperti berubah menjadi suara dengung panjang yang kosong dan bergaung di dadanya.

Sampai akhirnya Juno kembali.

Wajahnya masih tegang, tapi nadanya ringan.

“Sudah beres,” katanya singkat.

Marion mengangkat wajahnya. “Apa?”

“Ayahmu akan dioperasi. Mereka sedang siapkan ruangannya. Nggak perlu khawatir soal administrasi.”

Finn ternganga. Ibunya menatap Juno dengan air mata yang mengalir makin deras, kali ini disertai ucapan pelan, “Ya Tuhan...”

Marion masih menatapnya, tidak percaya. “Kamu... bagaimana...”

Juno hanya menghela napas. “Kita berdoa saja sekarang. Itu yang paling penting. Semoga operasinya berjalan lancar.”

Untuk pertama kalinya dalam satu jam terakhir, Marion bisa menarik napas panjang. Tapi matanya justru semakin basah. Air mata itu jatuh tanpa peringatan, bukan karena sedih, melainkan karena ada seseorang yang datang tepat ketika semua terasa runtuh.

Hujan turun tipis di luar jendela ruang tunggu. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat dunia di luar tampak kelabu dan jauh. Bau antiseptik masih menusuk, bercampur dengan aroma teh kantung dari vending machine dan suara lembut monitor perawat di kejauhan. Marion duduk bersandar di kursi plastik biru, tubuhnya lelah, mata sembab, tapi akhirnya bisa bernapas sedikit lega. Ayahnya sudah selesai dioperasi. Kata dokter, operasi berjalan lancar dan sekarang beliau dipindahkan ke ruang pemulihan. Ia belum bisa ditemui, tapi sudah stabil. Juno duduk di sampingnya, diam. Ranselnya sudah disandarkan di pojok ruangan, dan ia kini hanya memegang segelas kopi hangat yang belum disentuh.

“Terima kasih...” suara Marion lirih, hampir seperti napas. “Aku... nggak tahu harus gimana tadi. Kayaknya aku cuma berdiri, gemetar, bodoh.”

Juno menggeleng perlahan, menatap ke depan. “Kamu nggak bodoh. Kamu anak yang panik karena ayahnya hampir kehilangan nyawa. Itu manusiawi.”

Marion menarik napas panjang. Wajahnya menunduk, lehernya terasa kaku. “Kalau kamu nggak datang… aku mungkin masih duduk di lantai itu. Nggak tahu harus minta tolong ke siapa. Yuri pun nggak bisa dihubungi. Dia masih di Bordeaux.”

Hening sejenak.

“Kenapa kamu selalu datang, Jun?”

Juno tak langsung menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya perlahan ke arah Marion. Hujan makin deras di luar. Lalu, dengan suara rendah yang nyaris tak terdengar, ia menjawab, “Karena kamu selalu sendirian. Dan aku... nggak suka kamu sendirian.”

Marion menoleh ke arahnya. Matanya basah tapi tidak menangis. Lelah, tapi hangat.

Juno menatapnya sebentar, lalu mengangkat tangannya, meraih tangan Marion yang gemetar dan menggenggamnya perlahan. Tidak erat. Tapi cukup untuk membuat Marion merasa ia tidak akan jatuh kali ini.

"Kalau kamu butuh aku... bahkan kalau cuma untuk duduk di sini sampai pagi. Aku tetap di sini."

Langit makin menggelap, menggantungkan mendung yang belum sepenuhnya reda. Udara malam terasa dingin bahkan di lorong rumah sakit, yang temaram oleh lampu neon pucat dan langkah-langkah perawat yang melintas dengan tergesa. Juno berdiri di meja administrasi, berbicara dengan suara rendah sambil melirik ke arah Marion yang masih duduk memeluk ibunya. Hujan ringan menggurat jendela di belakang mereka. Tangisan sang ibu masih tersengal—lelah, cemas, dan nyaris tak menyisakan tenaga untuk bertanya lebih jauh.

Marion menggenggam ponselnya erat ketika tiba-tiba layar menyala.

Nama Yuri terpampang di sana.

Dengan napas yang teratur tapi gemetar, ia mengangkatnya.

“Hallo?”

“Marry?” suara Yuri terdengar di ujung sana. “Kamu tadi telepon berkali-kali, kenapa?”

Marion menelan ludah. Suaranya hampir tak keluar.

“Ayahku… masuk rumah sakit. Aku panik tadi. Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa.”

Hening sejenak di sisi Yuri, lalu, “Rumah sakit mana?”

“Briarhill. Yuri… bisakah kamu datang?”

Suara di seberang tidak langsung menjawab. Tapi ketika terdengar kembali, musik dentum samar menyelinap masuk. Riuh suara orang-orang bersorak, seperti di klub atau acara pesta.

“Aku nggak bisa, Marry. Pekerjaanku… nggak bisa ditinggal.”

Marion terdiam. Tidak tahu apakah ia lebih terguncang oleh alasan itu… atau suara latar yang terdengar jelas.

“Oh… ya, baiklah,” katanya pelan.

“Aku harus pergi dulu, ya.”

Klik. Panggilan terputus.

Marion menunduk, memandangi layar kosong di ponselnya. Ujung lidahnya membasahi bibir bawahnya yang mulai bergetar. Ada sesuatu yang pecah di dadanya, diam-diam tapi tajam, seperti kaca.

Tanpa ia sadari, Juno sudah berdiri di hadapannya. Tatapannya menusuk, matanya gelap oleh amarah yang ditahan.

“Si brengsek itu bahkan nggak bisa pura-pura peduli,” gumam Juno dingin.

Marion menoleh, perlahan. Ada sesuatu yang ingin ia katakan—mungkin membela, mungkin menyangkal. Tapi tak ada kata yang keluar. Karena ia tahu, Juno tidak salah. Dan di balik kemarahan itu, ada luka yang juga ia rasakan.

“Aku udah tanya,” ujar Juno, suaranya kembali tenang. “Nggak ada ruang tunggu khusus buat pendamping. Tapi ada penginapan kecil dua blok dari sini. Aku bisa sewakan kamar buat Ibu dan Finn, biar mereka bisa tetap dekat dari rumah sakit.”

Marion mengerjap, pikirannya berkabut. “Aku…”

Juno menatapnya lembut, seperti bisa membaca apa yang belum bisa ia ucapkan.

“Aku tahu kamu nggak nyaman orang lain menginap di apartment-mu. Jadi biar aku bantu atur semuanya. Kamu harus kerja besok, kan?”

Finn, yang duduk tak jauh dari mereka, mengangguk. “Itu ide bagus, Kak. Aku bisa temani Ibu. Aku libur minggu ini, jadi bisa bantu jagain Ayah.”

Marion memandang adiknya, lalu ibunya yang masih sesekali menyeka air mata. Lalu ia menatap Juno. Pemuda itu berdiri tegak di depannya, ransel besar masih bersandar di dinding belakang, tapi suaranya—sikapnya—membuat Marion merasa dunia yang hancur ini punya pijakan yang masih bisa ia pegang.

“Terima kasih, Jun…” suaranya serak. “Aku… aku bener-bener nggak tahu harus bagaimana tanpamu malam ini.”

Juno tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berkata, “Kita urus satu per satu. Kamu nggak sendiri.”

Cahaya dari lampu dinding menyambutnya dengan kehangatan yang ironis—ruang ini terasa begitu sepi, terlalu tenang setelah hari yang terasa seperti ditarik dari kedalaman mimpi buruk. Ia meletakkan tasnya pelan di kursi dekat pintu, lalu duduk di lantai, tepat di bawah gantungan mantel. Punggungnya bersandar pada dinding, dan untuk pertama kalinya sejak sore tadi, ia membiarkan dirinya diam.

Tak ada suara selain detik jam.

Tak ada dering dari ponsel yang sudah ia letakkan menghadap ke bawah di meja kecil dan tak ada Yuri.

Suara-suara yang ia dengar dari panggilan telepon tadi—musik, dentum bass, tawa samar, suara Yuri yang jauh dan datar—masih menempel di gendang telinganya seperti bayangan yang enggan pergi. Bahkan sekarang pun, Marion merasa seperti masih mendengarnya di kepala.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Sudah pukul sebelas malam. Di waktu normal, Yuri akan mengirim pesan, menanyakan kabar, bercerita soal proyek kerja. Tapi sekarang... kosong.

Kecewa itu sunyi.

Bukan teriakan. Bukan tangisan. Tapi sunyi yang menggema di seluruh tubuh, membuat dada sesak, membuat napas tidak lagi hangat.

Air mata tak turun, tapi sakitnya seperti banjir yang ditahan tanggul yang retak.

Ia berjalan perlahan ke kamar, lalu duduk di sisi ranjangnya. Dari jendela, gemerlap lampu kota terlihat kabur di balik kaca yang sedikit buram. Ia membuka tirai sebagian, membiarkan cahaya lampu jalan menyusup ke dalam ruangan. Di meja samping tempat tidurnya, ada foto kecil dirinya bersama ayah dan Finn, diambil saat mereka masih tinggal di rumah lama. Ia memandangi wajah ayahnya—terlalu lama. Dan dalam sekejap, rasa takut kembali menyeruak. Ketakutan kehilangan. Ketakutan tidak cukup kuat. Ketakutan harus menghadapi semuanya sendiri. Kemudian, seakan tubuhnya bergerak sendiri, Marion mengambil ponsel dan membuka pesan. Jempolnya melayang, menulis sesuatu pada Yuri.

“Ayahku akan dioperasi besok pagi.”

Lalu… ia menghapusnya.

Ia mencoba menulis ulang.

“Tadi aku kira kamu akan datang.”

Tapi kalimat itu pun akhirnya lenyap sebelum dikirim.

Ia mematikan layar ponsel dan menaruhnya jauh-jauh ke dalam laci. Ia tak ingin menunggu balasan yang tak akan datang.

Malam itu, Marion tidak menangis. Ia hanya menatap langit-langit, dalam diam yang menggantung. Tapi rasa sesak itu mengendap perlahan, seperti hujan yang turun tanpa suara. Hingga akhirnya ia tertidur, masih dengan pakaian lengkap, dan jaket yang belum sempat dilepas dan di seberang kota, di penginapan kecil dua blok dari Briarhill, Juno duduk di kamar sempit bersama Finn dan Ibu Marion. Matanya tidak lepas dari layar ponsel, memastikan tidak ada pesan darurat dari Marion.

Namun yang paling lama ia lakukan malam itu adalah menuliskan pesan, lalu menghapusnya.

“Kalau kamu butuh sesuatu, aku bisa ke sana kapan saja.”

“Kamu nggak sendiri.”

“Aku di sini.”

Tapi seperti Marion, ia pun tak mengirimkan apa-apa.

Karena terkadang, yang terberat bukanlah kehilangan... melainkan menyadari siapa yang tidak benar-benar tinggal.

Langkah Marion terdengar cepat menyusuri lorong Longford School of English yang perlahan mulai sepi.

Langit di luar mulai menggelap, warna senja tertahan di antara gedung-gedung kaca dan bayangan pohon-pohon besar yang berdiri diam. Jaket kremnya tertarik angin, tetapi ia tidak peduli. Ada semacam panas yang tumbuh di dalam tubuhnya, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa ia redakan. Ia berjalan menuju halte depan kampus. Tak ada tujuan pasti, hanya ingin menjauh sebentar dari semuanya.

Hari itu terlalu panjang.

Kepala terlalu berat.

Dan Yuri…

Marion menggenggam ponselnya erat-erat. Ada lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sudah sangat ia kenal, juga beberapa pesan singkat. Tapi tak satu pun ia buka. Ia hanya melihat nama itu berulang kali di layar, lalu menguncinya lagi.

Yuri.

Biasanya hanya mendengar suara itu sudah membuatnya tenang. Tapi sekarang, yang ia dengar di kepalanya hanya suara musik bising dan dentuman tawa—malam kemarin, saat ia merasa sendirian dan dunia seperti hendak menelannya hidup-hidup.

Bagaimana bisa seseorang yang katanya mencintaimu… tidak ada saat kamu paling membutuhkan?

Bus datang. Marion naik. Duduk di dekat jendela.

Ia tidak tahu harus ke mana, mungkin nanti akan turun di depan rumah sakit. Atau…tidak.

Mungkin hanya akan berputar-putar sampai langit benar-benar gelap dan jalanan menjadi lebih kosong dari perasaannya. Kepalanya bersandar ke jendela dingin. Ia menutup mata sejenak. Dan untuk sesaat, ia ingin menangis. Tapi air mata seperti enggan keluar. Karena di balik marah, ada kecewa dan di balik kecewa, ada cinta yang perlahan mulai ragu.

“Kamu nggak sendiri.”

Itu yang semestinya Yuri ucapkan. Tapi bukan dia yang melakukannya. Bukan dia yang datang.

Yang datang… adalah Juno.

Dengan ransel besar dan kantung belanja di tangan. Dengan kalimat tenang dan tindakan nyata. Dengan keberadaan.

Marion menelan ludah. Dada terasa sesak. Ia ingin berhenti berpikir.

Tapi pikirannya tak bisa diam.

Apakah semuanya berubah? Ataukah… ia yang mulai melihat semuanya lebih jelas?

Bus berhenti. Ia turun begitu saja tanpa sadar ini halte mana. Tapi angin dingin menerpa wajahnya, dan langkahnya mulai membawanya berjalan—tanpa arah, tanpa jawaban.

Namun untuk pertama kalinya, ia sadar.

Sendiri tidak selalu berarti kesepian.

Dan bersama… tak selalu berarti ditemani.

Chapter Sebelumnya
Chapter 9 dari 9
Chapter Selanjutnya

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu

5,356 kata

GRATIS

Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai

6,073 kata

GRATIS

Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali

6,017 kata

GRATIS

Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji

5,340 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!